Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Dika Yang Cemburu Buta


__ADS_3

Sebelum membaca, tolong bijaklah dalam menyikapi adegan kekerasan di novel ini.


Hanya hiburan semata dan tidak untuk dicontoh. 🙏


Happy Reading ❤️


Kinara turun dari ranjang dan berusaha melarikan diri dari amukan suaminya, sekali lagi Dika berhasil mencengkram tangan Kinara dan menjatuhkan tubuh Kinara di atas ranjang. “Tunjukkan padaku. Apa kau tidak mengerti?!”


Dika mulai menaikkan suaranya. Isakan Kinara benar-benar tidak bisa memadamkan bara amarah di hatinya.


Bara yang sudah berkobar dan siap melahap habis tubuh Kinara.


Dika berjalan mendekati sofa, meraih bantal sofa dan melemparkan bantal itu ke wajah Kinara.


Mungkin melempar tubuh Kinara ke sofa masih belum cukup untuk Dika, sampai-sampai bantal sofa pun dia jadikan sasaran kemarahannya.


"Kau bisu, Kinara?! Keluarkan kemampuan berdebatmu dan jawab pertanyaanku!"


Dika naik ke atas ranjang, Kinara mundur. Naas tubuhnya terbentur kepala ranjang, dalam sekejap Dika sudah berada di depannya. Dika kembali mencengkram leher Kinara sampai kepalanya mendongak ke atas, Kinara terbatuk.


Dika melepaskan cengkraman tangannya di leher Kinara, kali ini sasaran berikutnya adalah kedua pergelangan tangan Kinara, Dika mengangkat kedua tangan Kinara ke atas dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya berusaha melepaskan kaus rajut yang dikenakan Kinara.


"Keluarkan kemampuan merayumu, sayang! Keahlian di atas ranjangmu akan aku bayar lima kali lipat, lebih banyak dari Agra membayarmu!" masih berusaha melepaskan baju Kinara.


"Kau sa...lah, Dika.


Aku tidak, hiks... tidak melakukan apa pun dengan, Agra." Kinara berusaha membela diri, meski dengan suara yang hampir tenggelam karena napasnya yang semakin tersengal.


"Kau pikir aku ini bodoh, sayang?!" mencengkram lebih kuat lagi, Kinara bisa merasakan pergelangan tangannya hampir mati rasa.


Kata sayang biasanya terdengar sangat manis dan romantis, tetapi tidak untuk Kinara.


Kata sayang yang diucapkan suaminya seperti sedang merendahkan harga dirinya, kata sayang itu lebih seperti seorang laki-laki yang ingin meniduri ******* yang dibelinya.


Bukan kata sayang seperti itu yang Kinara harapkan. Bukan!!


Tetapi, dari awal pernikahan Kinara tahu hati Dika bukan untuknya, dan Kinara tidak pernah berharap lebih untuk dicintai suaminya.


Dan saat ini adalah bukti paling nyata jika Kinara tidak berarti apa-apa bagi suaminya.


Saat ini Kinara hanya berusaha menahan amarah suaminya.


Dia terus memberontak, memukulkan kaki ke tubuh suaminya berkali-kali, sekenananya. Namun kekuatan Kinara tidak sebanding dengan kekuatan suaminya.


Dika berhasil mengunci kedua kaki Kinara dengan kedua kakinya, mengapit erat sampai Kinara tidak dapat bergerak satu centi pun. Kinara hanya menangis tersedu. Air matanya meleleh bagai es yang tersiram air panas.


“Lepaskan aku, Dika... a...aku mohon, aku minta maaf, hikksss... aku mohon... hiksss...” Kinara mengiba, berkali-kali memohon belas kasih Dika, tetapi sepertinya benar dugaan Kinara jika Dika adalah manusia yang tidak memiliki hati dan perasaan.


Hati Dika tidak tersentuh sedikit pun ketika melihat lelehan air mata yang menganak sungai di wajah Kinara.


Hatinya seperti tertutup rapat oleh amarah, oleh kecemburuannya.


Apa kau melakukannya karena cemburu? Bukankah kau tidak mencintaiku, Dika? Seharusnya kau tidak melakukan ini padaku, kau menyakiti aku. hiksss...


Ibu, Manda, tolong aku..... Aku sendirian dan aku ketakutan. Hikss....


Batin Kinara.


Dika kembali menggeram. “Bagaimana dia memangsamu, hah?!” Dika berhasil manarik kaus rajut dari tubuh Kinara, melemparkan begitu saja.


teronggok di lantai.


Untung Kinara masih menggunakan kaus pelapis, meskipun tipis tetapi cukup untuk mengulur waktu.

__ADS_1


“Berikan aku kesem...pat..an untuk bicara, Dika. Hikss... aku akan menjelaskan semuanya pada...mu." Kinara mengiba, memohon ampunan Dika.


"Hahahaha..." Dika hanya tertawa terbahak, sampai kedua bahunya berguncang. Kinara merasa usahanya sia-sia, Dika seperti tidak peduli dengan permohonanya.


Itu terbukti ketika tatapan memangsa kembali menyala di mata Dika.


"Aku tidak butuh penjelasanmu, aku butuh bukti, sayang!" berbisik di telinga Kinara, dan menyapukan lidahnya di sana.


"Aku... ak...u aka...n membuktikannya. Kau boleh bertanya apa pun padaku. Aku bersumpah demi nama Tuhan, aku tidak akan berbohong padamu. Hiksss..." berusaha menggeliat, menggerakkan tubuhnya untuk menjauhi Dika.


"Bukan dengan cara itu kau membuktikannya, sayang!" menyeringai licik, hawa membunuh menyelimuti Dika.


Kinara tidak bisa mengimbangi kekuatan intimidasi yang dilakukan Dika.


Tubuhnya menggigil seperti dihujani bongkahan es, ngeri. Iya, saat ini Dika terlihat mengerikan.


"Kau ingin tahu bagaimana caramu membuktikannya?!" mencium kening Kinara.


Kinara menggeleng, keinginan untuk membuktikan pada Dika musnah sudah.


Awalnya Kinara mengira bisa bicara dari hati ke hati dengan suaminya.


Ternyata dia salah.


"Tidak."


menggeleng lagi. Sebagai wanita dewasa Kinara bisa mengerti maksud dari perkataan suaminya.


"Kenapa menggeleng, sayang?! Kau bilang ingin membuktikannya, bukan?" meraih dagu Kinara. "Buktikan padaku. Jika kau sudah tidak suci lagi, aku akan membuangmu seperti sampah yang tidak berharga!" menciumi pipi Kinara, terus bergerak mendekati telinga Kinara dan berbisik lirih di telinganya. "Buktikan dengan tubuhmu, sayang!"


Kinara tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya terisak dan mengegelengkan kepala.


Jika saja Dika bisa melihat ke dalam tatapan mata Kinara,


Dia masih gadis suci, gadis bersih yang dinikahinya.


Tidak pernah tersentuh oleh laki-laki lain.


Dika menarik kaus pelapis yang menjadi salah satu pertahanan Kinara.


Menarik paksa tanpa peduli kesakitan yang dirasakan Kinara.


"Dika. Aku mohon....hiksss... Jangan lakukan itu, aku masih suci. Aku masih bersih Dika, aku tidak tersentuh laki-laki manapun selain dirimu.” Kinara memohon diiringi deraian air mata.


menyatukan kedua tangannya di depan wajah Dika. Mengiba, mengharap belas kasih suaminya.


Meskipun Kinara tahu, Dika tidak akan mendengar permohonanannya.


"Maka buktikanlah, sayang. Layani suamimu ini!" mencium paksa bibir ranum Kinara.


Itu ciuman pertamku, Dika. Kau bahkan mencurinya dengan cara tidak baik.


Batin Kinara pedih.


“Jawab, Kinara. Bagaimana dia menghabisimu?! Apa seperti ini?!” Dika memegang kuat dagu Kinara, mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibir Kinara, lidahnya berusaha menerobos masuk, namun gagal karena Kinara menutup rapat mulutnya,


Dika geram, dia menggigit kasar bibir Kinara sampai berdarah. Tetapi Kinara tetap menutup rapat mulutnya.


Kinara memukulkan tangannya ke tubuh Dika.


Hal ini semakin menyulut amarah suaminya, Dika kembali mencengkram kuat pergelangan tangan Kinara dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya melepaskan dasi yang melilit di lehernya.


Kinara melotot, sepertinya dia sudah mengetahui mksud dari tindakan Dika.

__ADS_1


"Jangan, Dika. Aku mohon, hiksss..." Kinara kembali memohon.


Benar dugaan Kinara, Dika menggunakan dasi itu untuk mengikat kedua tangan Kinara.


Membuat Kinara tidak bisa berkutik. Kinara sudah dilumpuhkan, berada di bawah kendali Dika, sepenuhnya.


Dia kembali mendekati Kinara, mendaratkan ciuman di bibir Kinara.


Menyesap dan menggigit kasar bibir istrinya.


Darah segar mulai mengalir dari sudut bibir Kinara. Kinara hanya bisa terisak, Dika tidak memberikan kesempatan kepada Kinara untuk menjelaskan.


Dia hanya butuh bukti bukan penjelasan.


Dika melepaskan ciumannya, mengusap kasar darah Kinara yang menempel di bibirnya. “Cih, apa aku tidak lebih tampan dari laki-laki itu? Buka mulutmu, Kinara! Aku bilang buka!!” Dika memaksa, Kinara menggeleng, tenaga Kinara benar-benar terkuras habis, bahkan dia tidak mampu untuk mengatakan ‘tidak mau’.


Melihat gelengan kepala Kinara sontak membuat Dika naik pitam.


Jelas-jelas aku ini suamimu.


Kenapa kau menolak ciumanku?


Seharusnya kau ikuti permainanku, buktikan padaku. Kinara.


Batin Dika.


"Buka mulutmu!!" berteriak lagi, lebih keras dari teriakan sebelumnya.


Aku tidak mau, kau laki-laki kurang ajar. Aku tidak mau dicium olehmu,


Lebih baik aku mati daripada harus melayani napsu bejadmu.


Kinara hanya bisa membatin, ingin sekali Kinara mengucapkan makian itu dengan suara lantang,


Tetapi tenaganya sudah terkuras habis, bahkan bibirnya tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Akhirnya Kinara hanya bisa menggelengkan kepala sebagai bentuk pertahanan terakhirnya.


Melihat istrinya terus menggelengkan kepala, Dika semakin geram.


Dia menekan kuat kedua pipi Kinara sampai mulutnya terbuka, begitu mulut Kinara terbuka Dika langsung menyerangnya.


Seperti predator yang kehilangan kendali, menyesap bibir Kinara, melumatnya tanpa ampun.


Lidahnya terus merangsek masuk, membelit lidah Kinara sampai Kinara merasakan napasnya mulai tersengal.


Begitu menyadari Kinara mulai kesulitan bernapas.


Dika melepaskan ciumannya. “Cih...” Dika mecibir.


\=\=\=\=> Bersambung.....


Hallo pembaca setia TCK, mulai besok TCK akan update lagi.


Alhamdulillaah keadaan Author sudah membaik sehingga bisa membagi waktu untuk melanjutkan novel TCK.


Author akan up dari hari senin-sabtu yah..


Jangan lupa dukungan kalian..


KLIK LIKE, FAVORIT, RATE BINTANG 5 DAN VOTE YANG BANYAK.


makasih, stay at home, jaga kesehatan dan tetap berdoa untuk keselamatan kita semua ❤️🙏 Salam sayang, Author A.L

__ADS_1


__ADS_2