
“Sepagi ini Nyonya sudah rapi. Mau ke kampus?” Tanya Ken.
“Entahlah. Aku sudah terbangun dan mataku tidak mau terpejam lagi. Oh, aku ingin bertanya, kau tahu apa yang terjadi denganku semalam?” Kinar benar-benar ingin menuntaskan rasa penasarannya. Bagaimana dirinya bisa berakhir di atas ranjang dengan pakaian yang sudah di ganti.
“Nyonya pingsan di dalam kamar Tuan, lalu Tuan membawa Nyonya kembali ke kamar Nyonya.” Ken menjelaskan sopan.
“Tuanmu yang menggendongku? Kau yakin?” Kinar menatap penuh selidik, seperti tidak percaya. Sementara Ken hanya mengangguk diiringi senyum simpul di sudut bibirnya.
“Lalu yang mengganti pakaianku?” Tanya Kinar.
“Bibi Ane yang melakukannya.” Jawab Ken.
“Ah, syukurlah” Kinar mengelus dadanya seperti mempertegas bahwa dirinya benar-benar merasa lega.
Aku justru berharap Tuan yang melakukannya. Batin Ken.
“Hmmm... Ken” Kinar melempar pandangan matanya ke bawah, tangannya memainkan tas yang menggembung itu. “Malam itu, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah bingkai foto seorang wanita.” Kinar terdiam, sepersekian detik ia kembali membuka mulutnya. “Setelah itu Tuan terus menghujaniku dengan caci maki yang teramat perih, sebenarnya siapa wanita dalam foto itu?”
Haaah.. lenguhan napas Ken terdengar cukup jelas di telinga Kinar, nampaknya Kinar tidak akan mendapatkan jawaban apa pun dari pertanyaanya.
“Masalah ini, saya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun pada Nyonya, yang pasti Ruang Musik yang pernah Nyonya lihat dan foto wanita dalam bingkai itu, keduanya saling berkaitan. Saya sarankan Nyonya tidak pernah menyinggung dua hal itu kepada Tuan.” Ken tertunduk, lalu kembali menatap Kinar dan tersenyum. “Ini demi kebaikkan Nyonya sendiri.”
“Baiklah Ken, aku juga tidak ingin tahu terlalu banyak. Terima kasih karena kau masih memikirkan kebaikkanku. Oh, apa aku harus pamit dengannya ketika akan berangkat ke kampus?” Kinar mengangkat tangan kirinya dan melirik jam tangan berwarna coklat yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi.
“Aku bertanya karena tidak ada di dalam point peraturan.” Kinar meyakinkan.
Ken kembali tersenyum. “Tidak perlu Nyonya, selama Nyonya di antar oleh Pak Budi semua jadwal dan kegiatan Nyonya akan dilaporkan secara berkala kepada Tuan. Nyonya bisa berangkat ke kampus tanpa berpamitan dengan Tuan, kecuali...” Ken menghentikan kalimatnya, Kinar benci jika ada seseorang yang menggantung kalimat. Itu hanya akan membuatnya mati penasaran.
“Kecuali apa Ken?” Tanya Kinar.
__ADS_1
“Kecuali Tuan sudah ada di rumah dan sudah bangun.” Ken menjelaskan, Kinar hanya menganggukkan kepala memberi isyarat jika dirinya paham dengan kalimat yang diucapkan Ken.
“Oh, semalam saya sudah bertanya pada Tuan perihal keinginan Nyonya untuk bekerja. Mari ikuti saya.” Ken memimpin langkah yang diikuti Kinar dari belakang.
Ken membawa Kinar melewati beberapa ruangan, ia terus mengayun langkahnya sampai berhenti di ruang keluarga yang memiliki ukuran puluhan kali lipat dari ruang keluarga di rumahnya. Nampak seorang laki-laki sedang duduk di atas sofa, memegang secangkir kopi dan menyesapnya sampai habis. Menyadari derap langkah yang datang, tanpa basa-basi laki-laki itu langsung mempersilakan Kinar untuk duduk. Ya, laki-laki itu adalah Dika Mahendra.
“Duduklah.” Pinta Dika.
Kinar diam, tidak bersuara. Dia hanya melangkah mendekat dan membawa tubuhnya untuk duduk di depan Dika. Dika menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, sikunya bertumpu pada lengan sofa. Laki-laki dengan tatapan dingin itu menatap tajam ke arah Kinar seolah menelanjangi. Kinar hanya mematung, memainkan kukunya untuk mengatur perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
“Kau ingin bekerja?” Pertanyaan Dika sontak membuyarkan lamunan Kinar.
“Iya Tuan.” Jawab Kinar tegas.
“Apa kartu tanpa limit yang aku berikan untukmu tidak cukup?” Tanya Dika.
“Tidak Tuan, bukan seperti itu. hanya saja...” Kinar terdiam, otaknya berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat.
“Maafkan aku Tuan. Sejak kecil aku tidak suka merepotkan orang lain, jadi daripada aku hanya merepotkan Tuan dan menghabiskan uangmu. Ada baiknya aku bekerja untuk mengisi waktu luangku.” Ragu, Kinar mencoba menjelaskan.
“Baiklah, kau boleh bekerja. Cukup taati aturan yang aku berikan. Jangan terlibat perasaan dengan laki-laki lain. Karena aku tidak suka barang bekas.” Dika mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun. Di sudut lain, Kinar hanya menundukkan kepala dan meremas ujung gaunnya.
Aku mungkin bukan wanita yang kau cintai, dan aku tidak peduli dengan hal itu. Aku pun tidak butuh cintamu, tetapi setidaknya anggaplah aku sebagaimana takdirku, aku ini manusia bukan barang milikmu. Kinar hanya mampu membatin tanpa bisa menyuarakannya.
“Baik. Aku akan mengingatnya.” Kinar hanya tersenyum diiringi anganggukkan kepala.
“Kau bisa menggunakan kartu tanpa limit itu sesuka hatimu. Bukankah, ini kemewahan hidup yang kau inginkan?” Lagi, kalimat yang terlontar dari mulut Dika benar-benar tidak ada baiknya.
Apa kau pikir aku ini wanita mata duitan? Bahkan jika kau memberiku sepuluh kartu tanpa limit, belum tentu aku sudi untuk menggunakan uangmu. Batin Kinar.
__ADS_1
“Tuan tidak perlu khawatir, aku adalah wanita yang pandai dalam urusan menghabiskan uang.” Kinar tersenyum getir. Entah mengapa jawaban Kinar justru membuat Dika merasa kesal.
“Satu lagi, mulai sekarang kau harus membersihkan kamar tidurku. Kau boleh melakukan apa pun selama tidak menyalahi point peraturan yang berlaku, tetapi perlu kau ingat. Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu kau sentuh. Aku tidak ingin...” Dika terdiam sejenak, semalam dirinya sudah menghujani wanita yang sedang duduk di depannya itu dengan caci maki yang bertubi-tubi. Urung, Dika tidak melanjutkan kalimatnya.
“Baik Tuan, setiap Tuan tidak ada di rumah maka aku akan membersihkan kamar Tuan dan tidak akan menyentuh barang-barang berharga milik Tuan dengan tangan kotorku ini.” Kinar masih menunduk, namun jelas tidak ada air mata di wajahnya, tangannya tidak bergetar, terlihat tenang sekali. Jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu, ketika Kinar pertama kali datang ke mansion milik Dika. Hanya ada seutas senyum yang justru membuat Dika heran. Baru satu hari wanita yang di nikahinya tinggal di mansion ini, kemarin wajahnya di penuhi dengan bulir-bulir air mata. Tetapi hari ini hanya ada senyuman di wajahnya, kekuatan macam apa yang dimiliki wanita itu. seperti itulah batin Dika bergejolak.
“Ada lagi, Tuan?”
Pertanyaan Kinar sontak membangunkan Dika dari lamunannya.
Ada lagi? Apakah beberapa kalimat yang ku ucapkan masih belum cukup untuk membuatmu menyerah? Batin Dika.
“Jangan katakan kepada siapa pun jika kau sudah menikah, tutupi tentang pernikahan kita serapat mungkin.” Pinta Dika tanpa basa-basi.
Bagaimana mungkin? Bahkan kartu tanda penduduk milikku sudah berubah status, bagaimana bisa aku menutupinya?. Batin Kinar.
Braaak...
Dika melemparkan map coklat di atas meja, menggerakkan tangannya seperti memberi isyarat agar Kinar segera melihat isinya. Kinar meraih amplop coklat itu, membuka tali pengaitnya dan mengeluarkan isi dari dalamnya. Matanya membulat, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selembar kertas tentang perjanjian perceraian yang harus di tandatangani oleh Kinar.
“Apa maksudnya?” tanya Kinar.
“Anggap saja tidak pernah terjadi pernikahan di antara kita. Aku sudah mengurus semuanya, kau tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang pernikahan kita.” Dengan entengnya Dika melontarkan kalimat yang mengguncang seisi langit.
“Bagaimana bisa kau melakukan hal ini? Pernikahan kita disaksikan langsung oleh orang tuaku dan orang tuamu. Bagiamana kau bisa menganggap tidak ada pernikahan di antara kita.” Kinar meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang tiada habisnya.
“Apa kompensasinya tidak cukup? Jika masih kurang, kau bisa menambahkan angka nol di belakangnya.” Dika memajukan tubuhnya, mengeratkan kedua jemari tangannya, menatap tajam searah tatapan mata Kinar.
“Jadi, maksudmu kau ingin membayarku dengan menceraikan aku?” tanya Kinar.
__ADS_1
\=\=\=\=>Bersambung 💕💕
🌹Jangan lupa klik Like 🖒 Klik Fvirit ❤ Tinggalkan komentar 💬 Beri vote bintang 5, Beri vote yang banyak dan bagi tip, Follow author. Makasih 🤗🤗🌹