Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Aku, Daun & Ranting Kering


__ADS_3

Di tengah keputusasaan, Kinara mencoba mengingat kembali nasihat ayahnya.


“Kinar,


tembikar yang kau lihat indah di toko besar seberang sana itu, yang harganya mahal, kau tahu bagaimana prosesnya? Dia dibuat dari jenis tanah yang baik, jenis tanah pilihan lalu dibentuk,


dijemur,


dibakar,


disempurnakan, dan dibakar lagi sampai benar-benar kuat.


Setelah semua proses yang melelahkan dan berat itu dilalui, tanah yang bukan apa-apa itu menjelma menjadi tembikar yang cantik dan kuat.


Begitupula manusia, setiap orang memiliki dukanya masing-masing.


Ada yang terlihat bahagia padahal di dalam hatinya sengsara.


Ada yang kaya harta, padahal hatinya melarat.


Ada yang hidup sederhana, tetapi jiwanya tenang.


Semua itu tergantung bagaimana cara kita memandang masalah,


Duka itu selalu ada, Nak, yang membedakan hanya cara kita menghadapi dan keluar dari duka itu.


Jika kebetulan dunia menempatkanmu pada duka yang berkepanjangan, seperti musim yang silih berganti, jangan lari, jangan sembunyi, kau lebih kuat dari orang lain memandangmu, nak.


Kau harus sabar menghadapi itu, tidak ada hati yang tidak luluh dengan kesabaran dan ketulusan jiwamu, Kinara.” Petuah berharga yang tidak akan pernah Kinara dengar lagi, seumur hidupnya.


Tanpa ba, bi, bu, air mata mengalir sejurus pandangan matanya. Bergulir begitu saja membasahi kedua pipi Kinara. Dia ingat betul bagaimana ayahnya yang begitu tegar dalam menerima takdir Tuhan ketika dirinya divonis menderita penyakit jantung koroner.


Sampai pada hari kematiannya sudah ada satu ring yang bersarang di jantungnya. Sebagai manusia Kinara sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk ayahnya, namun Tuhan lebih mencintainya.


Tidak tega dengan rasa sakit yang tidak jua berlalu, maka Tuhan memanggilnya.


Tapi aku bukan tembikar, ayah. Aku hanya daun kering di sisinya, daun yang beterbangan


tak tentu arah. Aku tak ubahnya ranting patah yang berserakan di kakinya, sungguh aku tidak berarti apa-apa di mata suamiku, ayah.


Kinara semakin terisak, bahkan ketika kelopak matanya tertutup rapat bulir bening tetap keluar dari sudut matanya.


Egoisnya kedua bola mata itu, mereka tiada henti mengobarkan perasaan sedih di hati Kinara.


Malam itu Kinara terlelap, tidak peduli lagi dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia nyalakan kipas angin kecil di kamarnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Meringkuk seperti ulat bulu yang bersembunyi di balik dedaunan.


***


“Apa saja yang dilakukan anak itu?!” melempar beberapa berkas yang dia pegang sampai berserakan di lantai.


“Dua hari ini nyonya terus berdiam diri di dalam kamar, tuan muda."


"Bagaimana dengan kuliahnya?"

__ADS_1


"Dua hari ini Nyonya juga membolos kuliah, tuan."


"Sudah bagus aku kuliahkan dia di kampus mahal dan bergengsi, dasar wanita sialan! Tidak tahu terima kasih!"


"Mungkin Nyonya sedang kurang enak badan, tuan muda."


“Aku tidak peduli, Ken."


kau harus peduli, tuan muda, karena kau adalah suaminya. Ken hanya menunduk, mencoba menarik napas di sela-sela ketakutannya.


"Jadi dia hanya keluar untuk makan?” menggebrak meja. “Sudah seperti benalu saja, makan tidur, makan tidur!"


“Selama ini nyonya tidak pernah makan makanan yang dibuat oleh, bibi Ane, tuan muda.”


Ken menunduk sopan, seketika Dika melayangkan pandangan sinis. Lanjutkan. Begitu


kurang lebih arti tatapan matanya. “Nyonya menggunakan uang dari hasil bekerja di mini market untuk membeli mie instans, makanan ringan, bahkan beras, tuan muda.”


“Cih, pantas saja belum ada tagihan di kartu yang aku berikan.” Bertopang dagu. “Lalu motor matic itu?!” kembali menatap tajam.


Apa Agra yang membelikan itu?!


“Tidak, tuan muda.” Sepertinya Ken mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Dika. Jika tidak segera diluruskan, Ken khawatir Dika akan berbuat semena-mena lagi kepada


Kinara.


Terakhir kali karena rasa cemburu yang tidak berdasar saja, Dika sudah membuat Kinara menderita sampai mengurung diri selama dua hari.


“Motor matic itu dibeli nyonya dengan uang tabungannya sendiri, tuan muda.”


“Nyonya yang mengatakannya, tuan muda.”


“Kenapa dia bercerita padamu, tetapi tidak pernah berkata baik kepadaku? Jelas-jelas aku ini suaminya dan kau hanya seorang asisten!"


Apa tuan muda cemburu padaku? Bukankah tuan muda tidak memiliki perasaan pada Nyonya, bahkan tuan muda selalu mencari-cari masalah agar nyonya menyerah dan meminta berpisah.


“Jawab, Ken!" Ekspresi wajahnya mulai berubah, mulai disetel ke mode mengancam.


“Itu, saya juga tidak tahu, tuan muda.”


“Dasar tidak becus!" melempar beberapa berkas ke arah Ken sampai mengenai lengan Ken.


Ken tetap pada posisinya, berdiri tegak tanpa bergeser satu incipun.


“Maafkan saya, tuan muda.” Ken menunduk lagi.


****


Setelah melarikan diri selama dua hari Kinara mulai menanggalkan selimut tebal yang mengungkung dirinya. Terpenjara di bawah kehangatan selimut bermotif bunga itu membuat Kinara muak, dia melempar selimut itu sembarang.


Meraba sekitar untuk mencari benda tipis persegi panjang yang sudah diabaikannya selama dua hari ini.


Begitu handphone menyala beberapa notif media sosial dan pesan chat dari Alisa dan Dika memenuhi handphone nya.


Termasuk pesan dari Amanda, adik kesayangannya.

__ADS_1


Ketika handphone Kinara aktif itu artinya semua pesan dan notifikasi langsung tersambung ke handphone suaminya.


Termasuk sms dari Agra yang menunjukkan kekhawatiran dan kepedulian berlebih.


Drrrt....


“Siapa sih telepon tidak lihat situasi dan kondisi!” Kinara menggerutu, baru juga handphone itu aktif sudah ada panggilan masuk saja.


Agra.


Kinara bangun, menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang. Menarik napas beberapa kali, akan sangat merepotkan jika Agra mendengar suaranya yang serak karena pertengkaran beberapa hari lalu.


“Cek, cek, heem... satu, satu, cek. Ok.” Setelah memastikan suaranya sudah membaik dia segera mengangkat telepon dari Agra.


“Ha-halo.” Sambut Kinara.


Semoga aman, harusnya sih sudah aman kan?


“Ya Tuhan Kinara, ke mana saja kau? Dua hari ini aku mencoba menghubungimu, kau sakit?”


“Tidak.”


“Alisa juga menghubungimu, tapi handphone mu tidak aktif. Apa terjadi sesuatu?


“Tidak.”


“Tidak, tidak, terus. Apa tidak ada jawaban lain?”


“Hem...”


“Hem...? hanya hem...? Kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu? Kau baik-baik saja, Kinara? Beberapa hari ini firasatku tidak enak, aku sampai menelepon Alisa. Takut kau kenapa-napa.” Sambarnya dari seberang sana.


Aku memang sakit, Agra.


Aku tidak baik-baik saja, Agra.


Aku menderita sekali, aku sudah diperko*sa oleh suamiku sendiri. Dan aku memilih untuk melarikan diri seperti seorang pengecut. Apakah jika aku berkata seperti itu kau akan mengerti posisiku, Agra? Kau akan tetap menerimaku?


“Iya, aku baik-baik saja, Agra.”


Biarlah, kau tidak perlu tahu kondisiku. Dukaku tidak untuk dibagi dengan siap pun.


“Syukurlah. Kau sudah bolos kuliah selama dua hari........” mulai lagi kuliah panjang kali lebar dari Agra karena Kinara bolos kuliah. Saat ini Agra terdengar seperti ayahnya, bukan lagi seperti seorang teman. “Tapi kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyalin semua materi untukmu.” Terkekeh.


“Kau atau Alisa.” Bertanya penuh selidik.


"Alisa, lah.” Keduanya tertawa.


Kau bahkan bisa membuatku tertawa, Agra. Kau membawa pelangi di tengah badai, membawa semilir angin diterik panas. Apakah aku lari denganmu saja? Apa kau bisa menerima semua kebohonganku? Apa aku bisa egois satu kali saja.


Apa aku boleh melakukan dosa ini?


\=\=\=\=\=> Bersambung.....


Jangan lupa klik LIKE, FAVORITE, RATE BINTANG5, KOMENTAR DAN VOTE YANG BANYAK ❤️

__ADS_1


Mampir yuk di Novel \=\=> Reinkarnasi Dua Bintang oleh AGUS PRIATNA 🙏❤️


__ADS_2