Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kinara, Permata Hatiku


__ADS_3

Isi surat dari Dika ini sangat panjang. Sepanjang jalan kenangan, eeea 😅


So, silakan diresapi dan dihayati 🙄😅


Duhai Kinaraku, istriku tercinta ... melalui surat ini aku sampaikan rindu yang teramat dalam padamu.


Kerinduan yang tidak bisa aku utarakan dengan kata-kata indah. Tidak bisa aku jelaskan dengan ribuan bahasa. Kerinduan yang mulai tumbuh sejak kau pergi dari sisiku, dan kerinduan itu kian hari semakin tumbuh hingga berakar dan menyiksaku.


Sayang ... tidakkah kau tahu bagaimana aku menghabiskan malam sepiku tanpamu. Perasaan rindu ini selalu menyiksa malamku. Aku tidak bisa mendengar suaramu, melihat senyummu, malamku hanya bertemankan sepi dan selembar fotomu yang selalu kutatap penuh cinta.


Kuhabiskan malam di dalam kamar sempitmu, bagiku itu adalah surga. Kau tahu kenapa, sayang? Karena kau pernah tinggal di dalamnya. Tempat di mana ada dirimu di situlah ada surga untukku.


Setiap malam kuraba kasur yang kau gunakan, kasur itu memang jauh dari kata nyaman. Namun di kasur itu aku bisa merasakan kau ada. Tidak peduli sekalipun itu bara api yang menyala, selama aku bisa merasakan keberadaanmu. Aku akan tetap tinggal di dalamnya.


Kinara, seing kusentuh semua barang yang ada di kamarmu, kurasakan duka yang telah kuberikan padamu. Duka itulah yang memisahkan kita berdua terlalu jauh. Seandainya aku bisa memintamu, bisakah duka itu kita lebur bersama? Kita akhiri. Seperti mengakhiri sebuah cerita sedih.


Kinara, permata hatiku.


Rumah mewah yang aku tinggali, kekayaan berlimpah yang aku milikki. Sungguh tidak berarti apa pun lagi tanpa adanya kau di sisiku. Bangunan megah nan kokoh itu tak ubahnya kuburan yang sunyi dan sepi bagiku. Hanya ada satu bagian yang bisa membuatku hidup. Kamarmu. Tempat paling kecil di rumahku, tetapi berarti besar untukku. Tempat di mana kau tuangkan segala lara. Aku ingin menuangkan dukaku juga.


Kinara, kakasihku ... aku mungkin sudah menoreh luka yang teramat dalam di hatimu hingga namaku saja mungkin sudah terlupa dari ingatanmu. Aku mungkin telah membuatmu jatuh dalam dasar jurang yang sangat gelap. Hingga pintu maaf untukku kau tutup rapat.


Namun, jika aku mengulurkan tanganku padamu. Meminta maafmu, mengharap ikhlasmu, dapatkah kau menyambutnya? Dapatkah kesalahan yang sudah aku perbuat kau tinggalkan di dasar jurang, dan kita bisa naik bersama untuk menata masa depan.


Kinara, bisakah kau heningkan kebencian di hatimu? Kau buka sedikit saja pintu maafmu untukku, biarkan aku masuk ke dalamnya. Agar aku bisa tinggal dan memberimu bukti jika hatiku sudah menjadi milikmu. Sepenuhnya. Seutuhnya.


Kinaraku ... bisakah kau buang jauh segala dendam yang mendarah daging, sambutlah uluran tanganku dan mari kita berjalan bersama. Bergandengan, beriringan, satu jalan sampai maut yang memisahkan.


Kinara, istriku ... padamu kugantungkan harapan untuk bisa melihat betapa indahnya dunia. Karena tanpa hadirmu duniaku seperti berhenti. Aku hidup seperti mati, aku tersenyum dan tetap terluka, aku terpuruk dan tetap harus berdiri. Tanpamu, aku hidup tetapi tidak bernapas.


Bukankah kabut tak selamanya gelap, selalu ada angin yang datang dan meniupnya menjauh.

__ADS_1


Bukankah hujan tak selamanya deras, selalu ada reda dan pelangi sesudahnya. Jika luka yang aku lukis di hatimu seperti kemarau panjang.


Biar aku menjadi hujan. Jika duka yang aku berikan padamu seperti teriknya matahari, biar aku yang menjadi awan. Pun jika kesakitan yang kuberikan padamu seperti racun, biar aku yang menjadi penawarnya.


Kinara ... ketahuilah, lukamu akan sembuh hanya jika kau mau menerima uluran tanganku. Aku yang membuat dinding pemisah di antara kita berdua, maka aku jugalah yang bisa mendakinya.


Kinara, buka pintu maaf untukku. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhan ini. lapangkan hatimu untuk memberiku maklum, setelah itu kau akan tahu bagaimana hatiku hanya terpaut padamu. Luaskan ikhlasmu untuk melupakan kesalahanku, setelah itu kau akan tahu seindah apa surga yang aku buatkan untukmu.


Kau tahu, sayang. Kita berdua sedang berlayar dalam satu perahu. Karamnya perahu yang kita naiki, akan menjadi pertanda karam pula cinta di hati kita berdua. Kau tidak akan bisa memberi perasaan cinta seperti yang kau berikan padaku kepada orang lain lagi. Cinta yang kau miliki sudah kau habiskan untukku.


Kinara, mari kita duduk bersama. Kita bercerita bahwa hidup tidak selalu indah. Kita berbagi bahwa hidup tidak hanya memiliki sisi manis saja. Aku yang penuh dosa ini masih terus berharap sedikit saja maaf darimu.


Duduklah, sayang ... mari kita pandangi langit yang tidak selalu cerah. Berbaringlah, sayang ... Lepaskan segala beban di hatimu dan nikmatilah angin yang menyentuh permukaan kulitmu. Lalu biarkan angin membawa dukamu, menghempaskan jauh ke negeri antah berantah.


Kinara ... aku mohon, lepaskan dukamu, bebaskan laramu, lapangkan hatimu, maafkan aku dan terima aku kembali. Kita habisi segala kebencian yang sudah mengakar, kita sudahi segala kesalah pahaman, genggam tanganku, rengkuh pundaku, dan kau akan tahu bahwa hidupmu akan berwarna ketika bersama denganku.


Akhir kata, kusampaikan maaf yang tak terhitung banyaknya. Kulirihkan do’a yang tak pernah lelah kupinta. Demi Tuhan, namamulah yang selalu aku sebut dalam doa’aku.


Jika aku tidak beristrikan engkau, biarkan aku menikmati kesendirian ini. Aku hanya akan menunggu maut datang padaku, dan aku bisa pergi dengan tenang di dalam kesendirian ini. Tidak akan aku biarkan hatiku dimasuki siapa pun lagi, tidak akan pernah. Kecuali engkau.


Kinara ... aku hanya berharap Tuhan memberiku kesempatan untuk bersama denganmu lagi, jika dikehidupan ini aku tidak bisa memiliki cintamu. Semoga dikehidupan setelah kematian aku bisa mendapatkannya. Memiliki hatimu sepenuhnya.


Dari yang selalu mencintaimu, Dika.


Kinara terisak, air matanya mengalir seperti hujan. Meluncur dari sudut matanya dan berakhir di punggung tangannya yang bergetar. Tangannya mengepal, dipukulnya bagian dada sebelah kiri. Dia tersungkur, terpuruk dalam kerumitan hidup yang terjadi antara dia dan Dika.


Hatinya tidak boleh bimbang, bahwa siapa pun yang dia pilih nyatanya akan ada salah satu hati yang terluka. Tersakiti, hingga mungkin tak ada kata maaf lagi.


“Kenapa baru sekarang kau utarakan maaf? Kenapa?” rintihnya.


“Kenapa kau harus datang disaat aku memutuskan untuk pergi? Kenapa kau harus kembali disaat tidak ada lagi yang tersisa di antara kita? Kenapa, Dika? Kenapa?” Kinara semakin terisak.

__ADS_1


“Kau sudah membuatku melangkah sejauh ini, dan kau memintaku kembali lagi? Kau buang aku ke dasar jurang, dan kau ulurkan tangan! Kau hinakan aku lalu kau minta aku memberimu maklum?! kenapa kau jahat sekali, Dika. Kenapa? Argghhhh!” Kali ini emosi Kinara semakin meluap. Dia genggam erat surat dari Dika.


30 menit sebelumnya.


Ketika tanpa sengaja bibi Ane melihat Kinara sedang menangis di depan jendela kamarnya. Pintu kamar yang terbuka itu membuat bibi Ane bisa melihat dengan jelas suara tangis Kinara. Melihat itu bibi Ane segera menghubungi Dika.


Dan saat ini, di sinilah Dika berakhir. Di rumah Kinara.


“Alasan apa yang membuatku harus memaafkanmu? Kau sudah membuat hatiku lebih keras dari batu, kau telah membuat perasaanku lebih dingin dari es. Lalu, alasan apa yang bisa membuatku luluh dan memberimu kesempatan.” Kinara memukul dadanya berkali-kali. Entah kenapa membaca surat dari Dika membuatnya merasakan perasaan berbeda.


“Kinara, apa yang sedang kau lakukan?” Dika berhambur menghampiri Kinara begitu dia sampai. Dia ikut duduk di lantai, ditatapnya lekat wajah Kinara yang basah. Tangan Kinara yang gemetar itu sedang memegang selembar surat darinya.


“Kenapa kau ada di sini, Dika? Pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Pergi!” Kinara berteriak sampai urat dilehernya terlihat. Sorot matanya penuh dengan kebencian.


“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Kinara memukul dada Dika. “Kau sudah membuangku, kenapa kau pungut aku lagi.” Memukul semakin keras.


“Kinara ....” Dika berbisik di telinga Kinara. “Maafkan aku, sayang. Tidak bisakah kita buang semua kekecewaan ini. Demi Tuhan aku cinta padamu, demi Tuhan hanya ada kau di hatiku.” Tangannya bergerak perlahan. Dika rengkuh pundak kecil Kinara dan menenggelamkan kepala Kinara di dalam pelukannya. “Maafkan aku, sayang. Sambut uluran tanganku, maafkan aku, lupakan semua kesakitan ini, percayalah ... aku akan memberimu kebahagiaan yang tidak pernah aku berikan kepada siapa pun. Bahkan kepada Carissa.”


Kinara menggelengkan kepala di dalam pelukan Dika, bahunya naik turun seirama tarikan napasnya yang putus-putus. Sementara kedua tangannya yang mengepal itu dia gunakan untuk memukul punggung Dika.


“Pukul aku sepuas hatimu, kau bisa membunuhku sekalipun jika itu bisa memuaskan hatimu. Aku rela, sayang. Demi dirimu, apa pun akan aku lakukan. Berikan aku kesempatan, satu kali saja dan aku akan memberimu kebahagiaan ribuan kali. Tidak akan terputus bahkan sampai aku menutup mataku.” Dika meraih puncak kepala Kinara, mengelusnya pelan lalu menjatuhkan sebuah kecupan di sana.


Bersambung...


.


.


Maafkan emak telat up yah nakanak, ada sesuatu yang perlu emak urus. Yang penting emak up yekan.


.

__ADS_1


.


Dilarang bapeeer. Jangan lupa like dan vote ok ❤️😊


__ADS_2