
Allen Caitlin adalah salah satu bintang kampus yang digilai banyak laki-laki, tidak hanya berparas cantik Allen juga cerdas dan yang pasti kaya raya.
Meskipun ada banyak laki-laki mapan dan tampan yang jatuh hati padanya, tetapi Allen hanya mencintai satu orang, yaitu Agra Grissham.
Agra dan Allen sudah berteman cukup lama, mereka menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama di sekolah yang sama.
Lagi-lagi keduanya belajar di sekolah milik keluarga Grissham yang juga didanai oleh keluarga Caitlin.
Orang tua Agra dan Allen cukup dekat, keduanya sering terlibat jamuan makan malam bersama. Allen jelas menampakkan ketertarikan kepada Agra, tetapi Agra justru sebaliknya.
Laki-laki itu malah asik dengan sikap menjelajahnya, berganti wanita hampir melekat dengan citra dirinya. Sebutan playboy kelas kakap pun bersemat padanya.
Hal ini juga yang mendasari Allen menyimpan bara kebencian kepada Kinara, gadis kampung yang tiba-tiba datang dan mencuri perhatian Agra.
Memangnya siapa Kinara? Hanya seorang mahasiswi beasiswa yang tubuhnya dibalut pakaian murahan.
Jelas tidak bisa dibandingkan dengan Allen yang sudah kaya sejak pertama kali dia membuka mata dan melihat dunia.
Segala fasilitas dan kemewahan hidup sudah menjadi teman Allen sejak dia masih kecil, dimanjakan, bermandikan uang, apa yang dia inginkan tinggal tunjuk. Dan itu akan segera menjadi miliknya.
Siapa yang tidak takluk dengan pesonanya, kecuali Agra Grissham.
Allen tidak bisa menunjuk Agra dan setelah itu Agra menjadi miliknya, Agra manusia bukan barang yang bisa dia beli.
***
“Selamat pagi anak-anak.” Dosen killer yang membuat Kinara harus keluar dari persembunyian sudah datang.
“Pagi, pak,” jawab mereka serentak.
“Buka halaman 95, kita lanjutkan materi sebelumnya.”
"Baik, pak."
Beberapa jam kemudian ...
“Baiklah, sampai jumpa minggu depan.”
Kelas pun selesai, Kinara dan Alisa segera keluar.
***
“Hari ini kerja 'kan? Nggak bolos lagi 'kan? Aku sudah tidak punya alasan sama bos.” Wajah Alisa memelas, keduanya sedang berjalan menuju parkiran.
“Iya, deh, iya. Kita langsung ke mini market. Alamat kena damprat nih.” Kinara menepak jidat. “Sudah gaji dipotong, kena omelan pula. Ckkk ...” Menggeleng kepala.
“Aku bilang kau sakit, kok. Sepertinya bos juga mengerti, dan aku harap gajimu tidak dipotong banyak.”
Mereka segera mengangkat kedua tangan ke atas. “Aamiin.” Serentak keduanya menyapukan telapak tangan ke wajah sembari diiringi tawa.
“Duh, duh, duh. Siapa sih yang musim panas seperti ini pake syal, ups ... sorry, sepertinya itu bukan syal. Hanya kain lusuh yang disulap menjadi syal, cih ...” Allen datang dari belakang.
"Kinar, mereka ma ... mau apa?" Alisa mulai panik, terlihat dari cara bicaranya yang mulai terbata.
"Sudah, tidak usah pedulikan mereka. Kita jalan terus." Kinara menggenggam erat tangan Alisa. Kinara tidak peduli, dia terus melangkah menjauhi Allen, kondisinya saat ini jelas tidak menguntungkan jika dia harus berhadapan dengan Allen.
__ADS_1
Tiba-tiba Allen menarik tangan Kinara. “kenapa buru-buru, sih, Kinar?"
Kinara mencoba melepaskan cengkraman tangan Allen. “Apa maumu, Allen?”
“Hahaha ... “ Allen terbahak. “Tentu saja aku mau tahu kenapa ada orang yang datang ke kampus memakai pakaian super tertutup di tengah terik matahari seperti ini,” Allen tersenyum licik.
“Itu bukan urusanmu, Allen! Sejak kapan orang lain bisa ikut campur cara berpakaian seseorang? Lagipula ini tidak merugikanmu, bukan?”
“Tidak sih.” melipat kedua tangannya. “Tapi aku penasaran, gimana dong?” di belakang Allen sudah berdiri kroco-kroconya, kurang lebih empat orang termasuk Marry.
Seperti itulah Allen, selalu mengandalkan kekuasaan orang tuanya untuk menekan orang lain.
“Aku bukan objek pemuas rasa penasaranmu, Allen." Kinara berbalik badan. “Ayo Alisa.” menarik tangan Alisa.
“Eh, apa-apaan ini!" Dua orang sudah memegangi tangan Kinara, sisanya memegang tangan Alisa.
“Le ... lepaskan, Allen. Ka-kau keterla-luan," ucap Alisa terbata.
Allen mendekati Alisa, menekan kedua pipi Alisa sampai kacamata besar itu hampir terlepas dari wajahnya. “Bicara yang benar, baru protes. Dasar cupu!"
“Lepaskan, Alisa, Allen. Ini urusan kita berdua, dia tidak tahu apa-apa.”
“Ck ... ck ... ck ... ” Allen berjalan mendekati Kinara. “Apa kau sedang bertindak sebagai pahlawan kesiangan, Kinar?” Allen sudah memegang ujung syal Kinara.
“Mari kita lihat, sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan.” Membuka lilitan pertama. “Jika dugaanku benar, seharusnya kau sedang berusaha menutupi sesuatu.” Allen berbisik di telinga Kinara.
Beberapa mahasiswa sudah berkumpul. Mengelilingi mereka seperti koloni semut yang sedang menikmati betapa manisnya gula, mereka sudah siap dengan berbagai prasangka untuk dikembangkan menjadi gosip murahan.
Disebar besar-besaran oleh orang sok tahu dan di telan mentah-mentah oleh orang-orang bodoh yang tidak peduli kebenaran.
Tuhan, apa belum cukup rasa malu yang aku terima dari Dika? Jika mereka melihat kedaanku yang sekarang, bukan hanya harga diriku yang jatuh sampai ke dasar. Mungkin aku tidak akan memiliki keberanian lagi untuk menginjakkan kaki di kampus ini, batin Kinara.
“Kita selesaikan masalah kita baik-baik, Allen, tidak perlu seperti ini.” Kinara berusaha memberontak. Namun tenaganya kalah kuat dari dua orang itu. “Aku yakin kau bukan orang seperti itu, Allen.”
“Memangnya kau pikir aku orang seperti apa, sayang?"
Allen menyeringai.
"Kau tahu apa tentangku? Jika itu mengenai Agra, aku akan melakukan cara apa pun. Termasuk mempermalukanmu!” Allen sudah membuka lilitan kedua, satu lilitan lagi kain punutup itu akan tertanggal dari leher Kinara.
“Wah ...." Sudah terlepas, kain penutup itu teronggok di bawah. Seperti bangkai yang tidak berdaya.
Saat ini semua mata tertuju pada Kinara, beberapa bahkan berani mendekat untuk memastikan apa yang mereka lihat. Memangnya untuk apa lagi jika bukan untuk mencibir dan menjadikan Kinara sebagai bahan gunjingan. Dan benar saja.
“Cih, wanita murahan!”
“Wah ternyata ini yang dia tutupi.”
“Peliharaan siapa ini?”
“Om-om yah?”
“Atau laki-laki beristri.”
“Dasar munafik, diluar keliahatan baik, tetapi di dalamnya. Busuk, cuih ... ”
__ADS_1
"Lihat ada berapa bekasnya."
Ini baru sebagian kecil hinaan yang Kinara dapat, setelah ini masih ada hinaan yang lebih besar yang akan menunggunya.
Sabar Kinara, Ya Tuhan, mohon kuatkan hati hamba. Kinara nenyemangati dirinya sendiri.
“Kau sudah puas, Allen? Sekarang lepaskan aku dan Alisa," ucap Kinara.
“Belum cukup, Kinara.” Allen meraih kerah baju Kinara. “Di dalam sini pasti ada lebih banyak lagi.”
“Jangan keterlaluan, Allen!!" Kinara memberontak. “Ini tindakan kriminal, kau bisa aku tuntut karena melakukan pelecehan.”
"Kenapa kalian diam saja? Tidak adakah dari kalian yang masih memiliki kewarasan? Apa kalian senang melihat orang lain menjadi bahan bullyan?" Kinara berteriak, tetapi teriakan itu justru dibalas hinaan oleh mahasiswi lain.
“Hahaha...” Allen terbahak. “Sekian banyak mahasiswa yang menonton saja tidak ada yang berani membelamu, apa lagi hanya badan hukum yang bisa aku lempari uang.” Menyapu bahu Kinara. “Ternyata kau diluar dugaanku, Kinara. Kau lebih menjijikan dari p*lacur yang terang-terangan, kau pura-pura alim padahal ....” Allen membuang ludah. “Cuih ....”
Ramai, semua bersorak sorai. Bahkan beberapa mahasiswa sudah siap dengan handphone masing-masing dan kamera menyala. Entah ingin mengabadikan gambar atau membuat video, yang jelas semuanya tidak memiliki niat baik.
Terbukti karena tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba membela Kinara dan Alisa.
Ya Tuhan, apakah semuanya akan berakhir? Hanya pendidikan ini satu-satunya harapanku untuk meraih kesuksesan, niatku hanya satu. Membahagiakan ibu, dan adikku.
Jika niat itu pun harus berakhir. Aku ikhlas.
Kinara memejamkan matanya. Ini adalah titik akhir, dia pasrah. Ketika segala upaya sudah dia lakukan, lalu keadaan tidak berpihak padanya. Apa lagi yang bisa Kinara lakukan selain berdoa dan pasrah.
Aku pasrahkan semuanya pada-Mu, ya Tuhan.
Sampai detik terakhir Kinara tidak menangis, air matanya terlalu berharga jika dibuang demi kelakuan jahat Allen.
“Lets start the game.” Allen tersenyum lebar. Bersiap menarik kaus Kinara, kus yang menjadi pertahanan terakhirnya.
“Cukup!!”
Suara itu, itu suara laki-laki. mungkinkah Agra? batin Kinara
\=\=\=\=> Bersambung....
.
.
.
.
Yuhhhuuu... siapakah yang datang?
Klau mau tau Like dan Vote dulu dong 😜🤣
Buat pembaca baru yang belum terbiasa dengan kecablakan emak, selamat kalin masih polos.
Author kece yang suka ceplas ceplos, suka minta ini itu, dan yang pasti ngeselin, kalau yang udah tau mah pasti fine2 ajah yah nakanak ❤️🤭
Nah yg belum tau ini yg kadang suka baper 😜😜 emak kok dibaperin 🤣🤣
__ADS_1
Ya beginilah emak.