Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Terjebak Keadaan


__ADS_3

Kinara hanya bisa terisak di dalam pelukan Dika. Sesaat kemudian tarikan napasnya mulai membaik, bahunya berangsur-angsur turun. Dia mendorong tubuh Dika dengan kedua tangannya lalu bergerak mundur beberapa centi.


Bagaimana mungkin Kinara bisa berakhir di dalam pelukan laki-laki yang paling dia benci. Seemosional apa pun, seharusnya Kinara bisa menjaga jarak dari Dika.


"Kenapa kau datang?” tanya Kinara begitu suasana hatinya mulai membaik.


“Perasaanku tidak enak, aku takut terjadi sesuatu padamu. Dan memang benar, bukan? Kau sedang menangis tersedu.”


“Memangnya kau pikir karena siapa aku menangis?!" Suara Kinara mulai meninggi, tetapi masih ter putus-putus.


Dika memusatkan tatapan matanya pada Kinara, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada bekas goresan atau luka tertentu, tetapi Dika melihat tangan Kinara yang masih sedikit gemetar itu sedang memegang selembar surat darinya.


“Ini! Karena ini!” Kinara menodongkan surat dari Dika tepat di depan wajahnya. “Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada laki-laki sepertimu. Dengan percaya diri kau minta aku kembali ke sisimu setelah apa yang kau lakukan padaku! Apa kau yakin masih punya otak untuk berpikir?!"


“Apa salahnya, Kinara?” Dika menundukan kepalanya. “Jika Tuhan saja bisa memberikan hamba-Nya ampunan dan kesempatan kedua. Kenapa kau tidak bisa melakukan itu, Kinara?”


“Karena aku bukan Tuhan! Aku hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan dan minim keikhlasan.” Kinara bangun dari duduknya. “Kau salah jika berpikir aku memiliki kesabaran yang luas. Aku wanita yang tidak sabaran, lagi pula kesabaranku sudah habis ketika aku menemanimu lima bulan yang lalu. Saat kau uji aku dengan ujian yang maha berat!”


"Aku hanya butuh kesempatan darimu, Kinara. Setelah itu kau akan tahu dengan sendirinya. Bagaimana aku bisa memberimu kebahagiaan melebihi apa pun." Dika berusaha mendekati Kinara.


Kinara mundur, dia berjalan mendekati jendela, memegang erat teralis besi sembari menatap jauh ke depan. Lampu taman yang membeku karena udara dingin sama seperti hatinya untuk Dika yang juga membeku.


“Sungguh sangat disayangkan. Masaku bersamamu sudah habis, Dika. Aku ingin menghabiskan masa depanku dengan laki-laki yang bisa menghargaiku sebagai seorang wanita.” Kinara memutar tubuhnya dan menatap Dika. "Dan aku rasa laki-laki itu bukan dirimu."


Deg ...!


Ucapan Kinara sungguh tak terperi. Dika tidak habis pikir kenapa kalimat maha kejam itu bisa keluar dari mulut istrinya. Dika bangun dan berjalan mendekati Kinara. Namun, dia terpaksa harus berhenti ketika Kinara mengisyaratkan Dika untuk berhenti di tempat. Ada jarak bebrapa langkah antara Kinara dan Dika.


“Apakah aku pernah memiliki arti untukmu, Kinara?”


“Pernah, kita pernah menikah. Kau suamiku. Tentu saja kau sangat berarti untukku! Tapi itu dulu! Sekarang artimu dihudupku hanyalah sebagai Ayah dari anakku. Tidak kurang dan tidak lebih.”


“Tidakkah kekerasan di hatimu bisa melunak meski sedikit saja, Kinara?”


“Bukan aku yang memiliki hatiku, tetapi Tuhan. Jika kau ingin bertanya kenapa hatiku bisa sekeras ini padamu, sebaiknya kau tanyakan langsung hal itu pada Tuhan.”


“Bertanya pada Tuhan hanya memiliki dua cara, Kinara. Yang pertama, ketika aku berdo’a dan berharap Tuhan memberiku jawaban. Dan yang kedua ketika aku menghadap-Nya dan bisa bertanya langsung pada-Nya. Kau mau aku menggunakan cara yang mana untuk mendapat jawaban dari Tuhan?"


Deg ...!

__ADS_1


Kinara menundukan kepala. Dia memejamkan mata dan menarik napas dalam. Ada sekelumit perasaan menyesal, kenapa hubungan pernikahan yang dibangun atas nama orang tua harus berakhir seperti ini.


Janji suci yang disaksiskan langsung oleh Ayahnya nyatanya tidak bisa membut hati Kinara melunak.


“Aku tidak bisa memberimu saran apa pun, Dika. Maaf jika kau kecewa, tetapi cara apa pun yang kau pilih aku tidak peduli.”


“Kau yakin tidak peduli?!" Dika bergerak maju, dalam sekejap mata dia sudah berdiri di depan Kinara. “Kau peduli, Kinara. Kau peduli,” ucapnya meyakinkan diri sendiri jika masih ada sedikit harapan yang tersisa di hati Kinara untuknya. “Jika kau tidak peduli padaku, kau tidak akan menangis seperti itu.”


Kinara berjalan mundur, tetapi nahas tubuhnya sudah berada di ujung teralis jendela. “Minggir, Dika!" Intonasi Kinara terdengar penuh ancaman. “Aku sungguh tidak ingin dekat denganmu! Aku juga tidak peduli padamu!"


"Kau peduli, Kinara! Kau masih cinta padaku! Perasaan itu masih ada di hatimu." Suara Dika mulai meninggi. Tatapan matanya berganti-ganti antara marah dan sedih.


"Tidaaaak! Aku tidak mencintaimu lagi, Dika! Harus berapa kali aku katakan, aku tidak mencintaimu lagi." Kinara terisak. Dia meletakan kedua telapak tangannya di dada Dika. Menggunakan itu untuk menahan tubuh Dika agar tidak terlalu dekat dengan tubuhnya.


"Lihat aku." Dika mendongakan wajah Kinara. Memegang kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. "Tatap mataku, Kinara. Jika kau bisa menatap mataku dan hatimu tidak bergetar sedikit pun. Mungkin kau memang tidak mencintaiku. Tatap mataku, Kinara." Dika memajukan tubuhnya. Memepet tubuh Kinara sampai tarikan napas Kinara saja terdengar di telinganya.


"Tidak!" Kinara memukul dada Dika dengan kedua tangannya. "Tidak ada lagi yang tersisa!" Kinara terisak. Lelehan air matanya bahkan berakhir di pergelangan tangan Dika. "Lepaskan aku, Dika! Lepaskan!"


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau melihat ke dalam mataku. Yakinkan aku jika kau tidak mencintai aku lagi, Kinara!"


"Dikaaa!"


Tiba-tiba Agra datang, berlari masuk ke dalam kamar Kinara dan melayangkan satu pukulan yang jatuh tepat di wajah Dika.


Dika tesungkur di atas lantai. Darah segar menetes dari sudut bibirnya dan berakhir di lantai kamar Kinara.


"Aku memberimu banyak kesempatan, tetapi bukan seperti ini caranya!" Agra berjongkok, menarik kerah baju Dika dan berdesis tepat di telinga Dika, "Kau justru membuatnya ketakutan. Masih ada banyak waktu, Dika. Aku tidak akan menghalangi usahamu untuk mendapatkan cintanya lagi, jika memang dia masih mencintaimu."


Dika tersenyum getir. Mengusap bekas darah dari bibirnya yang seketika berpindah di punggung tangannya. "Aku kehabisan kata-kata. Tidak tahu lagi harus bagaimana memohon padanya agar dia memberiku kesempatan."


"Kau melukai Kinara selama lima bulan. Kau siksa lahir bathin istrimu sekian lamanya. Lalu, baru beberapa kali usahamu tidak membuahkan hasil dan kau menyerah?! Aku sungguh kecewa, apa usahamu hanya sebatas ini?" Agra menggeram kuat.


Dika hanya terdiam, dia tidak mampu mengeluarkan kalimat apa pun lagi.


“Arrrgh ....” Tiba-tiba Kinara mengerang sembari memegangi perutnya. Tubuhnya berangsur-angsur turun ke bawah sampai menyentuh lantai. "Ahhh ... sakit!" rintihnya.


Kontan hal itu membuat Dika dan Agra panik. Keduanya bergerak mendekati Kinara.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Agra.

__ADS_1


"Pe ... perutku sakit, Agra." Kinara memegang kuat lengan Agra. "Sakit ...." Air matanya mengalir deras.


“Kita ke rumah sakit.” Dika melirik Agra, dan Agra mengangguk. Dika berniat memapah tubuh Kinara, tetapi Kinara memalingkan wajahnya dari Dika. Dia justru mencengkram kuat lengan Agra sampai meninggalkan jejak kuku di sana.


"Kinara! Kau sedang ...."


Dika tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika melihat Agra menggelengkan kepala.


"Kinara ...," ucap Agra lembut, " Dia suamimu. Ayah dari anak yang ada di dalam perutmu. Biarkan dia bertanggung jawab dan menjadi Ayah yang baik untuk putramu." Agra tersenyum.


Kinara hanya diam. Menatap Dika dan Agra secara bergantian.


Agra menganggukkan kepala ke arah Dika.


Dika mengerti, dia segera menyelipkan tangan di kaki dan punggung Kinara lalu memapahnya keluar kamar.


Jalan mereka sedikit susah karena Kinara tidak mau melepaskan genggaman tangannya di lengan Agra.


Dika dan Agra tidak bisa memaksa Kinara untuk melepaskan genggaman tangannya karena kondisi Kinara sedang tidak stabil.


"Jangan membuatku khawatir, sayang.” Refleks kata sayang itu terucap dari mulut Dika.


Agra hanya tersenyum getir.


Agra dan Dika berlari seperti orang kesetanan. Pak Budi sudah bersiap di depan mobil. Kinara, Agra, dan Dika duduk di kursi penumpang.


Dika memeluk erat tubuh Kinara, tetapi Kinara memegang erat lengan Agra.


\=\=\=>Bersambung....


.


.


Hy nakanak emak, rindukah kalian dengan emak? Maaf beberapa hari lalu emak sibuk, ada urusan keluarga yang tidak bisa emak tinggalkan. Kenapa TCTM tetep up mak? Karena file TCTM sudah ada sebelum emak sibuk 😂


.


.

__ADS_1


Btw bantu masuk rank 20 besar lagi yah nakanak. Kalau masuk 20 besar Maleman emak up lagi 😂


__ADS_2