Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Perjuangan Agra


__ADS_3

Kinara sudah sampai di rumah dengan perasaan bahagia karena sudah memuntahkan makanan di baju mahal suaminya.


Kapan lagi dia bisa melakukan itu. Jika dulu, ketika masih bersama Dika. Jangankan muntah, bisa menyentuh baju mahal suaminya saja rasanya sangat menakutkan.


Pada akhirnya sidang mediasi pertama itu gagal terlaksana, pihak Kinara sebagai pihak penuntut jelas tidak ingin memperbaiki hubungan dengan suaminya. Namun, masih ada mediasi kedua.


Tentang mediasi kedua itu, apakah akan berakhir sama seperti mediasi pertama atau akan ada perubahan. Biarlah hanya Tuhan saja yang tahu.


Setelah membersihkan tubuhnya, berganti pakaian dengan daster, minum obat, dan susu ibu hamil. Kinara bergegas naik ke ranjang untuk istrirahat, tubuhnya mulai merayap turun dan menarik selimut tebal itu sampai bagian pinggang.


Ketika matanya akan terpajam, tidak sengaja kaki Kinara menyentuh sesuatu. “Apa ini?” gumamnya, lalu dia bangun setengah badan dan melihat kantung dari Dika yang dia letakan di atas kasur.


“Itu ...,” ucapnya terputus. Kinara mengingat kembali dari siapa kantung berwarna merah muda itu. “Oh, itu dari Ayahmu, Nak. Besok pagi saja lihatnya, Ibu sudah ngantuk."


Kinara tidak peduli, dia mendorong kasar kantung dari suaminya itu tanpa berpikir apa isi di dalamnya. Besok pagi dia akan terkejut begitu mengetahui isinya adalah satu set perhiasan yang didesain khusus untuknya dan memiliki harga yang fantastis. Bahkan nama Kinara pun terukir di tiap perhiasan itu.


Beruntung kotak perhiasan itu tertutup rapat, sehingga ketika Kinara mendorongnya kotak itu masih utuh dan isi di dalamnya tidak tercecer di lantai.


🍃Pagi hari rumah Kinara🍃


Kinara terbangun ketika mendengar suara keributan di dapur, mengkin bibi Ane sedang menyiapkan sarapan. Perlahan Kinara membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang


masuk ke matanya, menggerakan kepala ke kiri dan kanan sembari mengumpulkan kesadarannya. Kinara bangun, menyandarkan tubuh di kepala ranjang lalu menggeliat, menaikan kedua tangannya ke atas.


Kinara turun dari ranjang, ketika hendak berjalan ke pintu keluar kakinya menendang sesuatu. Kotak perhiasan dari Dika terdorong cukup jauh karena hentakan kaki Kinara. “Apa itu?” gumamnya sembari berjalan mendekati kotak itu. “Kotak apa ini?"


Setelah Kinara melihat isi di dalam kotak itu, kontan matanya membulat dengan ekspresi wajah tidak percaya. Satu set perhiasan itu luar biasa indah dengan detail yang jelas, apalagi ketika Kinara menyadari namanya terukir di sana. Wanita mana yang tidak akan luluh? Tidak tergoda dengan kilauan di depan matanya itu, mungkin sebagian wanita akan memilih berlari ke dalam pelukan Dika.


Sepertinya hanya Kinara saja yang tidak akan melakukan itu, karena sejak awal menikah dengan Dika tujuannya bukanlah harta. Dia menikah semata-mata demi amanat Ayahnya, dan setelah semuanya berakhir tidak ada lagi gairah di hatinya untuk memulai kembali tali kasih bersama Dika.


Tidak peduli Dika menyuguhkan setumpuk uang, seberapa banyak pun berlian yang Dika berikan, nyatanya semua itu tidak bisa mengobati luka di hati Kinara.


Kinara tidak akan tergoda, walaupun beberapa detik yang lalu dia sempat terpesona oleh keindahan perhiasan itu.


Namun bukan berarti dia bersedia menerima dan mengenakan perhiasan itu, sama seperti kepada sang pemberi perhiasan. Kinara sudah memaafkan, tetapi bukan berarti Kinara bisa hidup bersama dengan Dika lagi.


Entahlah, untuk saat ini hati Kinara benar-benar tertutup rapat untuk dimasuki Dika. Sudah ada orang lain di sana, orang yang tidak mungkin Kinara usir dari hatinya. Karena, saat ini hatinya sudah dia berikan untuk Agra.


Tidak ingin berlama-lama, Kinara segera memasukan kembali kotak perhiasan itu ke dalam kantung, ketika membuka kantung itu di dalamnya ada sepucuk surat. “Surat? Dia mau membalas suratku, kah? Cih.” Kinara mencibir dan meletakan perhiasan dan surat itu di dalam lemari. Jangankan menerima perhiasan dari Dika, membaca surat darinya saja Kinara enggan.


Tring ... sebuah pesan chat masuk. Senyum tipis tersungging di wajahnya ketika melihat nama si pengirim pesan pada layar handphone.


Agra : Sudah bangun? ❤️


Begitu bunyi pesannya disertai simbol hati diakhir kalimat, akhir-akhir ini Agra memang sibuk dan jarang menemui Kinara.


Namun perhatian Agra pada Kinara tidak pernah berkurang sedikitpun, tidak berubah seperti pertama kali bertemu, bahkan setelah mengetahui Kinara hamil sikap protectifnya makin menjadi-jadi.


Setiap hari Agra akan bertanya sedang apa? Sudah makan? Mau makan apa? Mau ke mana? Ada yang dibutuhkan? Dan hal lainnya yang mengarah pada perhatian berlebih.


Kinara : Sudah. ❤️


Agra : Semalam tidurmu nyenyak?


Kinara : Hemmm ....


Agra : Heeem ? Hanya hemm?


Kinara : Kau masih sibuk, yah? Sebenarnya kau itu sibuk apa?

__ADS_1


Agra : Tidak terlalu sibuk. Hanya sedikit sibuk, tapi hari ini aku ada waktu luang. Ayo kita jalan-jalan.


Kinara : Sibuk apa, sih? Sampai harus bolos kuliah segala?


Agra : Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus.


Kinara : Memangnya pekerjaan apa? Pekerjaan dengan pacar-pacarmu? 🙄


Agra : Ngawur, bumil yang satu ini sensitif banget, sih. ❤️


Kinara : Kau sibuk, tapi tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Wajar jika aku mengira kau sibuk dengan pacarmu.


Agra : Hey, cantik. Sejak pertama kali mengenalmu aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain lagi. Kaukan tahu itu.


Benar, Kinara tahu semuanya. Setelah Agra mengatakan perasaannya pada Kinara, dia tidak pernah terlibat hubungan apa pun dengan perempuan lain.


Bukan hanya Kinara, seisi kampus juga sudah tahu jika Agra adalah playboy yang sudah insyaf. Hanya saja, Kinara sering kesal karena alasan kesibukan Agra yang tidak pernah dia ketahui.


Kinara : Akukan hanya penasaran, sebenarnya kau itu sibuk apa?


🍃Sementara itu di rumah Agra🍃


Agra sedang duduk di kursi kerjanya dengan tumpukan berkas di sisi kiri dan kanan. Sementara matanya fokus menatap layar komputer yang menyala, dan tangannya sibuk menekan keypad. Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya.


“Tuan, ini saya.” Suara Nathan di luar pintu.


“Masuk, Nath.”


Nathan sudah berdiri di samping Agra. “Apa itu pesan dari Nona?” tanya Nathan.


Agra mengangguk. “Iya, seperti biasanya. Kinara curiga aku sibuk dengan wanita lain. Lucu sekali.” Agra tertawa.


“Itu tidak perlu, Nath. Bagiku, apa yang aku kerjakan biarlah menjadi rahasiaku dan Tuhan.” Agra menerima berkas itu.


“Jika Nona semakin curiga bagaimana?”


“Dia bukan wanita seperti itu, Nath. Sepertinya kehamilan mempengaruhi perasaan Kinara sampai menuduh yang bukan-bukan.” Agra membaca deretan angka dan tulisan dari berkas yang diberikan Nathan.


“Jika saja Nona tahu apa yang sedang kau lakukan, Tuan Muda.” Nathan menundukan kepala.


“Dia tidak perlu tahu, Nath. Bagiku perjuang ini biarlah menjadi beban untuk diriku sendiri. Aku tidak mungkin terus bergantung dengan fasilitas dan aset yang diberikan keluarga Grissham, Nath.” Agra tersenyum. “Aku juga harus berjuang dengan tangan dan kemampuanku sendiri, untuk bisa menghidupi Kinara dengan layak.”


“Kenapa kau harus bertindak sejauh ini, Tuan Muda?”


Melepaskan gelar putra tunggal dan pewaris kekayaan keluarga Grissham demi Nona, apakah ini sepadan? Batin Nathan.


Agra menarik napas panjang, lalu memijat dahinya. “Karena aku tidak yakin Mamah dan Papah bisa menerima Kinara, Nath. Status sosial dan status janda Kinara, adalah hal yang tidak mungkin diterima mereka.”


“Lalu jika mereka benar-benar menentang hubungan kalian berdua bagaimana, Tuan Muda? Aku tidak ingin kau terluka.”


Dika tertawa kecil, dia yang sedang bekerja keras kenapa Nathan yang terlihat lebih khawatir. “Bagaimana apanya? Kau pikir aku akan menyerah begitu saja, Nath? Selama aku masih bisa berdiri dan berlari ke arah Kinara, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghentika aku. Aku tidak akan pernah menyerah, Nath.”


“Apa kau sangat mencintai Nona, Tuan Muda?”


Agra mendongakan kepala, menatap Nathan dengan tatapan serius. “Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan bertindak sejauh ini, Nath! Apa ada seorang anak yang mempersiapkan diri untuk berperang dengan orang tuanya sendiri? Jika bukan karena keyakinan luar biasa yang aku miliku demi hidup bersama Kinara.”


Nathan menggeleng. Rasanya tidak ada jawaban yang bisa Nathan keluarkan lagi, semua perasaan cinta dan ketulusan yang dimiliki Agra itu terlihat jelas di sorot matanya.


Agra tersenyum. “Aku mencintai Kinara lebih dari yang kau pikirkan, Nath. Aku rela kehilangan apa pun yang aku miliki, asal tidak kehilangan Kinara. Bagiku, sekeras dan sehitam apa pun dunia yang aku jalanai, selama ada Kinara di sampingku dunia akan tetap terlihat indah dengan bunga dan pelangi di dalamnya.”

__ADS_1


Glek ... Nathan kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa menelan salivanya.


“Bahkan jika kau harus kehilangan semua aset keluarga Grissham, Tuan Muda?” Meskipun ragu, pada akhirnya Nathan bertanya sesuatu yang cukup sensitif untuk ditanyakan.


Agra nampak diam, meletakan kembali berkas-berkas yang diberikan Nathan itu ke atas meja. “Aku tidak tergiur dengan kilauan harta yang disuguhkan orang tuaku, Nath. Bagiku ... permata yang paling berharga dan tak ternilai di dunia ini hanya satu. Yaitu Kinara.”


Nathan menelan salivanya lagi, entah sudah berapa kali. Meskipun terkenal suka bergonta-ganti pasangan, tetapi tak pernah sekalipun Agra tidur dengan perempuan yang dia kencani.


Dia tetap menjaga kesuciannya hanya untuk orang yang tepat, dan sepertinya orang itu adalah Kinara. Nathan bisa mematika hal itu karena Nathan lah yang mengatur jadwal kencan Tuannya. Dan Nathan selalu ada di sana ketika Agra berkencan.


“Kenapa, Tuan?” tanya Nathan penuh selidik. Airmuka Agra tiba-tiba berubah. “Apa Tuan memikirkan tentang anak Nona?”


Agra menggelang. “Tidak! Bukan itu.” Mengeratkan kedua jemarinya dan bertumpu di atas meja. “Aku sungguh menyayangi dan mencintai Kinara apa adanya, tidak peduli dia masih gadis atu sudah janda. Tidak peduli juga ada berapa anak yang dia punya, akan kupastikan mencintai keduanya dengan sepenuh hati. Keduanya tidak akan kekurangan kasih sayang dariku.”


“Lalu apa yang membuatmu terlihat risau, Tuan Muda?”


Agra melepaskan kacamata yang dikenakannya. “Aku takut tidak bisa memberikan kehidupan yang mewah untuk Kinara, Nath. Jika keluarga Grissham tidak setuju dengan hubungan kami, itu artinya aku harus bersiap untuk keluar dari keluarga Grissham.”


“Aku rasa Nona bukan perempuan yang memikirkan kemewahan, Tuan Muda.”


“Aku yakin untuk itu, tapi aku tetap ingin memberikan yang terbaik untuk Kinara dan calon anakku, Nath,” ucap Agra dengan suara datar.


“Apa itu yang sejak tadi kau takutkan, Tuan Muda?” tanya Nathan yang dijawab anggukan kepala oleh Agra.


“Aku hanya takut tidak bisa memberi kehidupan yang layak untuk Kinara, itulah kenapa aku berusaha sangat keras untuk megerti dunia bisnis.” Agra menunduk. “Aku ingin memanjakan Kinara dengan semua yang aku miliki.”


“Tuan, boleh saya memberimu sedikit saran?” tanya Nathan.


“Tentu saja, katakan,” jawab Agra.


“Terkadang kita perlu melepaskan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang lain. Keyakinan di dalam hati tidak bisa digantikan dengan kecemasan yang belum pasti terjadi. Saat ini tugas Tuan Muda hanya berusaha. Selebihnya biarkan Allah yang memberi jalan keluar untuk Nona dan Tuan Muda.”


Agra tersenyum mendengar nasihat Nathan. “kau benar, setidaknya aku sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk Kinara.”


“Selesaikan semuanya, Nath. Aku ingin bertemu Kinaraku, perasaan rindu ini sudah tidak bisa dibendung lagi.” Agra bangun dari kursi. “Mau titip salam untuk Alisa, Nath?” Menekan bahu Nathan.


“A ... apa maksudmu, Tuan Muda.” Nathan gelagapan sampai harus mengusap keningnya, Agra justru tertawa terbahak melihat reaksi Nathan.


🍃Di dalam mobil🍃


Sebelum memacu mobilnya, Agra menyempatkan diri untuk membalas pesan dari Kinara. Jika tidak, ibu hamil yang satu itu akan terus curiga.


Agra : Aku memang sibuk. Sibuk mempersiapkan kebahagiaan untukmu dan anak kita, Kinara. ❤️


Tidak mungkin bagi Agra untuk mengatakan alasan yang sebenarnya pada Kinara. Setiap hari Agra hanya bisa memjamkan mata untuk tidur selama dua sampai tiga jam demi mempelajari semua hal yang berkaitan dengan perusahaan.


Dia sampai kehilangan beberapa kilo berat badannya karena jam makannya yang mulai berantakan, beberapa kali kepala Agra juga terasa sangat sakit. Namun semua itu tidak perlu diceritakan pada Kinara. Segala kesulitan dan kepahitan yang Agra alami biarlah dia yang menanggungnya. Kinara cukup menerima dan merasakan manisnya saja.


Bersambung...


.


.


Ciie yang oleh lagi... cieee... 🤣😜😅 emak akan membuat kapal kalian terombang ambing di tengah lautan antara Agra dan Dika ... bersiaplah 😅 itu buat netizen yang sok tau, tolong diajak ngopi... kasih sianida di kopinya. 🤣😅


.


.

__ADS_1


LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE... yang kencenng... kalau ranknya naik terus, sore emak up lagi... Kalau naik loh ya 🤣😅


__ADS_2