Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Terlalu Kasar Padaku


__ADS_3

Dika terbelalak, matanya benar-benar membulat sempurna dengan wajah merah padam. “Kau benar-benar diluar dugaanku, Kinara. Kau wanita yang cukup tangguh, lumayan. Tetapi aku peringatkan, awas saja jika kau sakit dan menyusahkan aku. Ciiih...” Dika mencibir, menendang salah satu kursi di depannya berlalu pergi meninggalkan Kinar di meja makan.


“Seharusnya ku lemparkan saja mie instans ini ke wajahnya. Kenapa wajah dan kalimat yang di ucapkannya tidak pernah sesuai? Ternyata benar pepatah yang mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya. Dika adalah contoh yang paling nyata dari pepatah itu.” Kinar kembali mengaduk mie instans dan menggerutu. “Gara-gara dia mie instannya jadi bengkak. Memang tidak ada yang bagus dari orang itu. Menyebalkan, arogan, berhati batu, aih benar-benar tidak ada bagus-bagusnya.” Kinar memasukkan mie instans ke dalam mulutnya dan mengunyah cepat.


Kinar masih melanjutkan makan sementara Dika menggerutu sepanjang perjalanan menuju kamar. “Seharusnya Kinara yang menyiapkan air untuk aku mandi, tapi melihat wajahnya saja sudah membuat aku muak. Sudahlah, dari dulu juga aku selalu menyiapkan air sendiri.” Dika terus menggerutu, bahkan ketika menanggalkan seluruh pakaiannya.


Sementara itu di meja makan.


“Ah mie instans yang sudah membengkak memang tidak enak, semua ini gara-gara orang itu.” Kinar bangkit dari kursi, membawa panci dan matanya kembali berkeliling mencari tempat cuci piring.


“Astaga, tempat cuci piringnya jauh sekali. Kenapa juga harus berdiri, aku kok lebih nyaman cuci piring sembari duduk yah... hahaha... Upik abu tetap saja upik abu...” Kinar kembali menggerutu, terkadang berganti dengan tawa. Dia menertawakan dirinya sendiri, seorang upik abu yang terdampar di istana tetapi tetap kembali menjadi upik abu. Awalnya Kinar mengira akan dicintai dan dikasihi oleh suaminya. Ternyata hal itu hanya sebatas mimpi, bukannya cinta kasih yang didapatkan Kinar melainkan penghinaan yang tiada habisnya.


Kinar meletakkan kembali panci ke tempatnya. Langkahnya mulai terayun sembari berpikir keras. “Mandi dulu atau membersihkan kamar laki-laki itu, yah? Dia bilang sebelum jam delapan malam kamarnya harus sudah rapi, bukan? Aku heran, bukankah ada banyak pelayan di mansion ini? Kenapa dia harus repot-repot membersihkan kamarnya sendiri, aku benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki sepertinya.” Kinar memacu langkahnya, menaikki satu persatu anak tangga dan sudah berdiri di depan pintu kamar Dika. Perlahan tangannya mulai menekan handle pintu dan tubuhnya menghilang di balik pintu kamar.


“Waaah.. Lihatlah, kamarnya besar sekali. Bahkan kamar mandinya lebih besar dari kamarku, apa dia benar-benar manusia yang punya hati? Aku khawatir Tuhan lupa memberikan hati nurani padanya.” Kinar mulai memungut satu persatu pakaian yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Ceklaaak...


“Apa kau terbiasa menggerutu di belakangku, Kinar?” Dika keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang masih basah, dari ujung rambutnya menetes air jatuh satu persatu di pundaknya. Sementara tubunya yang kekar hanya dibalut handuk yang melingkar dari pinggang sampai bagian atas lutut.


“Oh ya Tuhan, kaget aku." Kinar memutar tubuhnya dan mencari sumber suara. Ketika mendapati Dika sudah berdiri di depannya tentu membuat Kinar terkejut. "Ap...apa yang kau lakukan? Bertelanjang dada seperti itu, kau pikir aku akan tergoda melihat tubuhmu?” Kinar menelan ludah, tergesa memalingkan wajahnya.


“Aku juga tidak ingin mempertontonkan keindahan tubuhku padamu, ini adalah maha karya Tuhan yang memberikan tubuh sedemikian rupa untukku. Tidak seharusnya kau melihatnya.” Dika meraih handuk kecil yang tergantung sempurna di stand hanger dan menggunakan handuk itu untuk mengeringkan rambutnya.


Tuhan memang begitu baik menciptakanmu dengan keindahan wajah dan tubuhmu, tetapi sayangnya Dia tidak memberimu belas kasih. Kinara membatin.


“Aku juga tidak ingin melihatnya.” Kinar mendesis.


“Apa kau pikir aku senang berada di dalam kamarmu? Jika bukan karena tugasku untuk membersihkan kamarmu, untuk apa aku ada di sini? Kau pikir aku ingin tidur di dalam kamarmu? Jangan mimpi. Aku lebih baik tidur di dapur daripada harus tidur satu ruangan denganmu.” Kinar menaikkan volume suaranya.


Hal ini tentu membuat Dika marah bukan kepalang. Tangannya sudah terayun tinggi menunjuk pintu keluar. “Keluar dari kamarku. Aku bisa terkena serangan jantung jika terus berdebat denganmu.”

__ADS_1


Kinar mencibir. “Aku keluar, setelah kau selesai berpakaian kau bisa memanggilku. Aku akan menunggu di luar, lebih cepat kau memenggilku akan lebih baik bagiku.” Kinar menghentakkan kakinya keras-keras, menekan handle pintu dan menghilang di balik pintu.


“Astaga, bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya. Sikap Kinara tidak ada lembut-lembutnya, jauh berbeda dengan Carissa.” Dika duduk di tepi ranjang, mencengkram kuat rambutnya. “Bagaimana aku harus menjelaskan pernikahan ini pada Carissa, jika saja bukan karena ini keinginan terakhir ayah. Aku harus membuat Kinar mundur dari pernikahan ini, hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa kembali ke sisi Carissa.”


Dika bangkit dari ranjang, berjalan ke lemari, membuka dan memilih pakaian yang akan di kenakannya. Dika memilih pakaian santai, hanya kaus berlengan panjang berwarna coklat muda yang lengannya dinaikkan setengah sampai di bawah siku, dipadu dengan celana jeans berwarna biru tua. Tak lupa Dika melingkarkan jam di pergelangan tangannya. Ia berjalan ke depan kaca besar, nampak pantulan tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tangannya mulai menyisir rambut yang masih setengah basah, lalu manggut-manggut seperti memberi isyarat kepada dirinya sendiri jika penampilannya sudah cukup bagus. Sebelum membuka pintu kamar, Dika mengenakan sepasang sneakers berwarna senada dengan kaus yang di kenakannya.


Ceklak....


Dika membuka pintu kamar dan mendapati Kinar yang sedang duduk di depan kamarnya, bertelanjang kaki, memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di antara kedua tempurung kakinya.


“Bangun...” Dika menendang kasar ujung kaki Kinar sampai membuatnya berwarna kemerahan. Kinar terkesiap, ia mendongakkan wajahnya dan mendapati Dika yang sudah berdiri di depannya dengan kedua tangannya terlipat di bagian dada dan tak tertinggal senyum sinis yang terlihat jelas di wajahnya.


"Apa seperti ini caramu membangunkan aku, Dika?" Kinar mengelus ujung kakinya yang memerah.


\=\=\=>Bersambung 💕💕

__ADS_1


Ingat VOTE yah.. jangan cuma minta up tapi gak kasih VOTE, ok.


Please, Klik Like.. Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺


__ADS_2