
Kinara sudah kembali ke dalam kamar dengan segelas air mineral miliknya dan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya. “Bangunlah, aku membuatkan kopi untukmu.” Meletakan gelas di nakas.
“Kau tidak mau bangun?” Sudah duduk di tepi ranjang. Apa dia tidur? Yang benar saja, baru kutinggal beberapa menit dia sudah tidur lelap begitu.
“Bangunlah. Tidak perlu pura-pura begitu. Aku membuatkan kopi kesukaanmu.” Melepaskan bantal dari wajah Dika.
“Eh, kau benar-benar tidur?” Kinara mengambil kesimpulan sendiri setelah melihat kedua mata Dika tertutup rapat. Terdengar suara dengkuran halus yang datang dari mulutnya. “Rupanya tidurmu juga mendengkur. Orang tampan pun memiliki kelemahan juga. Aku pikir tidur orang tampan berbeda.” Kinara sudah berbaring di samping Dika, menatap wajah suaminya yang sedang tidur. Atau sedang pura-pura tidur? Entahlah.
“Hidungmu mancung sekali.” Memainkan ujung hidung Dika. “Bibirmu juga terlihat pas. Kenapa Tuhan memberi wajah setampan ini padamu? Apa ketika Tuhan sedang membagikan wajah tampan kau antre paling depan?” Kinara tertawa pelan. Dia geli sendiri mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.
Kinara menelan salivanya melihat ketampanan Dika tepat di depan matanya. “Aku penasaran, anak kita kelak akan setampan apa.”
“Sudah lama aku ingin mengacak-acak rambutmu. Mungkin kau akan terlihat lebih tampan ketika rambutmu acak-acakan, mumpung kau sedang tidur.” Tangan Kinara sudah berada di atas kepala Dika. Sedikit lagi tangannya mendarat di kepala Dika. Tiba-tiba Dika membuka matanya dan menggenggam pergelangan tangan Kinara.
“Apa yang ingin kau lakukan pada rambutku? Kau ingin mengacak-acaknya, begitu?” Dika mencubit pipi Kinara. “Dasar bakpau,” ucapnya dengan ekspresi gemas. (Geregetan banget ya, Bang)
“Le-lepaskan. Ka-kau tidak tidur? Kau sedang mengerjai aku?” Berusaha menarik tangannya, tetapi sulit. Akhirnya Kinara menggunakan tangan satunya untuk memberontak. Namun, yang terjadi justru kedua tangannya di tangkap oleh Dika dan tubuh Kinara berakhir di dalam dada Dika.
“Kau ingin melihat wajahku, kan? Tatap wajahku semaumu, ini milikmu.”
“A-aku tidak.” Memalingkan wajahnya. “Lepaskan aku!”
“Tidak mau.”
“Aku mohon, yah.” Kinara memperlihatkan ekspresi menyedihkan. Sepertinya tidak berpengaruh, terbukti karena Dika hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepala.
“Tidak mau.”
Baiklah ini senjata terakhir. “Suamiku ... aku mohon lepaskan aku.”
Dika tersenyum malu-malu, matanya sampai berkedip-kedip ketika mendengar kata ‘suamiku’ keluar dari mulut kinara. Kakinya menghentak-hentak di atas kasur. “Yah, lepaskan aku.” Mengerucutkan bibirnya.
Ah, dia lucu sekali . Tidak, aku tidak boleh tergoda, “Tidak mau. Aku akan melepaskanmu, tetapi dengan syarat.”
“Cih,” sepertinya dia mau balas dendam karena aku marah tadi, “Jadi apa maumu?”
“Kau harus berjanji dulu akan melakukan apa pun yang aku katakan.”
__ADS_1
“Tidak mau.” Kali ini Kinara yang menolak. “Bisa saja kau memintaku melepas semua pakaian yang aku kenakan.” Memalingkan wajah dengan bibir mengerucut ke depan.
“Hey, Cantik, tanpa meminta pun aku bisa melepas seluruh pakaianmu.”
“A-apa sih.” Kinara salah tingkah. “Pokoknya aku tidak mau berjanji.”
“Yasudah, kau terus saja dalam posisi seperti itu sampai pagi.”
“Yang benar saja, pinggangku bisa sakit.”
“Terserah. Pilihan ada di tanganmu, Cantik.” Mencubit hidung Kinara.
“Anakmu akan kelelahan nantinya.” Kinara pikir menggunakan anak adalah senjata paling ampuh. Seharusnya Dika langsung melepaskannya.
Dika memang nyaris melunak, tetapi dia tidak mau mengalah. Dika bangun, merebahkan tubuh Kinara dengan sangat hati-hati menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang tangan Kinara. “Bagiamana? Sekarang tidak mungkin kelelahan ‘kan?”
Kenapa dia keras kepala sekali? Tidak bisakah dia melepaskan aku saja? Sebenarnya apa sih yang dia inginkan? batin Kinara.
“Baiklah, apa maumu?” Kinara menyerah. Mengembuskan napas kasar.
“Janji dulu.” Ada seringai licik di wajah Dika. “Setelah itu aku akan melepasmu.”
“Hanya emmm? Emmm tidak menjamin kau akan menepati janjimu.”
Kinara tersipu malu mendengar Dika menirukan gayanya ketika mengucapkan ‘Emmm’.
“Yasudah iya, aku janji akan mengikuti apa pun maumu.”
“Itu baru wanitaku.” Dika tersenyum puas. Sudah melepaskan genggaman tangannya.
“Sekarang apa maumu?”
“Berbaring menghadapku.”
Kinara langsung memiringkan tubuhnya. Dia langsung di sambut tubuh Dika. Kedua manik hitam mereka saling bertemu. Kinara berniat memalingkan wajahnya sampai tangan Dika menangkap wajahnya. “Jangan berpaling dariku. Bukankah kau mengagumi ketampanan suamimu ini?
“Ka-kau terlalu percaya diri.”
__ADS_1
Dia mengelak tapi tersipu malu begitu, batin Dika.
“Apa hanya ini yang kau inginkan? Aku berbaring di sampingmu?”
“Tentu saja tidak.” Seringai licik keluar lagi di wajahnya. “Berikan tanganmu.”
“Ini.” Menyodorkan tangan.
Cepat sekali. Dika meraih tangan Kinara menuntunnya untuk meraba permukaan wajahnya.
“A-apa yang kau lakukan?”
“Diamlah. Ini adalah wajah suamimu, kau harus merabanya dengan benar. Agar setiap inci wajahku tersimpan dalam ingatanmu,” ucap Dika. Lalu dia memindahkan tangan Kinara ke matanya. “Rabalah. Ini mataku. Mata yang hanya akan melihat ke arahmu.” Dia menuntun lagi tangan Kinara sampai ke bibirnya. “Dan ini bibirku, bibir yang akan selalu mengucapkan kata cinta padamu. Semua yang ada dalam diriku adalah milikmu.”
Kinara diam, tetapi degup jantungnya berpacu lebih cepat.
“Mulai sekarang kau tidak perlu mencuri pandang hanya untuk melihat wajahku. Kau boleh menikmatinya kapanpun kau mau.” Tersenyum.
“Baiklah. Sekarang lepaskan aku.”
“Tidak akan.” Dika menarik tubuh Kinara ke dalam pelukannya. Menarik selimut dan melingkarkan tangan di pinggang Kinara. “Dan ini aroma tubuhku.” Mendorong kepala Kinara sampai wajahnya tenggelam di dada Dika. “Hiruplah sepuasmu. Seumur hidupmu kau hanya boleh mengenali aroma tubuhku.” Dika tertawa terbahak.
Terserah kau saja, aku hanya ingin malam ini cepat berlalu, batin Kinara.
Jarak keduanya benar-benar rapat. Keduanya tidur saling berhadapan. Kinara menggunakan lengan Dika sebagai sandaran kepalanya. Perlahan keduanya memejamkan mata.
Bersambung....
.
.
Alhamdulillah, bisa up TCK juga. maaf kalau kalian bacanya cepet. Emak nggak bisa konsen dikondisi seperti ini. Harus ngetik di RS tuh susah dapetin moodnya. Emak Cuma berusaha tetap up, semoga bisa mengobati kerinduan kalian dengan keuwuuuan Dika.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, KOMENTAR, DAN VOTENYA YAH. Bantu TCK masuk 10besar yah.