Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Tiada Maaf Bagimu


__ADS_3

Dokter Amel menghentikan kalimatnya membuat semua yang hadir saling beradu tatap, sepersekian menit senyum tipis tersungging di wajahnya.


“Hasilnya adalah positif, selamat Bu Boss, anak yang ada di dalam perut Nyonya Kinara adalah cucu kandungmu. Dan dari hasil pemeriksaan Non Invasive Prenatal Test diketahui jenis kelamin cucu Bu Boss adalah laki-laki," ucap dokter Amel.


“Tunggu, siapa yang meminta tes itu dilakukan? Bukankah seharuanya hanya test DNA?” tanya Marta heran.


“Tuan Muda yang memintanya,” jawab dokter Amel diikuti senyum lebar.


Mendengar hasil tes DNA yang disampaikan oleh dokter Amel, kontan Kinara bangun dari sofa dan melakukan sujud syukur.


“Terima kasih ya Allah, Nak, kau adalah bukti jika kesucian Ibumu tidak pernah ternoda. Terjaga dan tidak pernah tersentuh tangan laki-laki lain selain Ayahmu. Mulai dari hari ini kita berdua bisa hidup dengan tenang, sayang. Rabbi habli minash sholihin, semoga kau menjadi anak yang soleh, Nak. Yang bisa menghargai, menghormati, dan melindungi istrimu kelak.” Bulir mening mengalir di wajah Kinara yang berakhir di lantai keramik.


Marta bangun dan berjalan mendekati Kinara, dia berjongkok dan menepuk lembut bahu Kinara seraya menenangkan. “Keyakinan Mamah tidak mungkin salah, Nak. Begitupun dengan pilihan almarhum Papahnya Dika yang memilihmu menjadi menantu keluarga Mahendra.” Membelai kepala Kinara.


Kinara bangun, memutar tubuhnya dan keduanya berpelukan. “Terima kasih karena telah memberi Mamah cucu laki-laki,” bisik Marta sembari mengelus punggung Kinara. Kinara hanya menganggukan kepala di dalam pelukan Marta.


Ada interval sekitar dua menit sampai tangis mereka mereda, dan keduanya saling melepaskan diri. Marta bangun dan menuntun Kinara untuk duduk di sampingnya.


Carissa sudah berdiri dan membuka lebar kedua tangannya, Kinara mengerti, dia segera berhambur ke dalam pelukan Carissa dan keduanya berpelukan.


“Maaf atas kebodohanku yang tidak tahu lebih awal jika kau adalah istrinya, sungguh aku sangat menyesal, Kinara,” bisik Carissa.


“Kau temanku, tidak ada permintaan maaf dan memaafkan untuk seorang seorang teman. Aku mengerti kondisimu, akulah wanita yang tiba-tiba datang dan merebut tempatmu, Carissa.”


“Tidak.” Menggelengkan kepalan. “Kau tidak merebut tempat siapa pun, ini adalah takdir kami yang harus berpisah.”


“Jangan bicara seperti itu, Carissa.”


“Tidak ada yang merebut tempatku, Kinara. Mungkin dari awal tempatku di hatinya hanya sebatas teman. Aku takut Dika tidak bisa membedakan perasaan cinta dan kasihan, karena kami sudah bersama sejak kecil. Dia selalu melindungi dan menjagaku, aku takut perasaan itu dia nggap perasaan cinta,” ucap Carissa pelan, bulir bening mengalir dari kedua matanya dan berakhir di pundak Kinara.


“Kau bicara apa?” Melepaskan pelukan. “Aku yang akan berpisah darinya,” ucap Kinara meninggikan suaranya agar Dika bisa mendengarnya.


“Jangan, Kinara! Aku yang seharusnya pergi, ikatan kalian sudah dibentuk sedemikian rupa.”


“Dan ikatan itu juga sudah hancur sedemikian rupa, Carissa. Tak berbentuk dan tak berjejak, lalu apalagi yang bisa aku pertahankan?” Tersenyum. “Bukankah aku pernah mengatakan padamu ketika kita pertama kali bertemu, hubungan hati itu seperti gelas yang isinya penuh dengan cinta. Lalu jika gelas itu sudah pecah ber keping-keping dan cinta di dalamnya ikut menghilang, apalagi yang bisa dipertahankan? Bahkan tidak ada jalan untuk memperbaiki gelas yang sudah pecah.” Menepuk pelan Bahu Carissa.


“Tolong jangan menyerah, Kinara. Satu-satunya orang yang harus pergi dari kehidupan Dika adalah aku, bukan dirimu.” Carissa terisak sampai bahunya berguncang, tubuhnya sedikit bergetar, terlihat getaran di ujung jemarinya yang lentik.


Kinara meraih jemari Carissa yang gemetar dan berucap, “Aku sudah menyerah, jauh sebelum kau datang, Carissa. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri, bukan karena dirimu aku menyerah.” Melirik Dika yang masih mematung di atas sofa. “Tapi karena suamiku sendiri yang tidak pernah menghargai aku sebagai istrinya.


“Tidak, Kinara! Dia melakukan itu karena aku, semua karena aku yang memiliki penyakit ini. Aku ... aku juga sudah mengatur jadwal penerbangan, dua hari lagi aku akan kembali ke Inggris. Aku sudah tidak berharap lagi ...,” ucap Carissa pelan.


Lagipula aku datang untuk memastikan sesuatu, aku yakin ada cinta di hati Dika untukmu. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri, batin Carissa.


“Jika kau pikir kepergianmu akan membuat aku kembali pada Dika. Kau salah, Carissa. Aku tidak akan kembali padanya, maka kepergianmu akan sia- sia.” Tersenyum lembut.


“Tapi ...,” ucap Carissa.


Kinara hanya mengangguk diikuti kedipan mata dan senyum tipis di bibirnya.


Kinara berjalan mendekati Dika dan sudah berdiri di depan Dika yang sedang duduk. “Apa kau tidak mempersiapkan pulpen, Dika?”


Mendengar kalimat pertama yang terucap dari mulut Kinara sontak membuat Dika mendongakkan kepalanya dan menatap Kinara dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Ada hak apa kau menatapku seperti itu? Aku bukan lagi gadis desa yang sama yang dihari pertama datang sudah mendapatkan tamparan dan sudah merasakan dinginnya di siram air. Aku bukan lagi Kinara yang kau lihat dulu!”


Tatapan mata Dika berganti-ganti, dari marah, menyesal, dan sedih yang membuat Kinara bingung.


Bukankah ini yang kau inginkan, Dika? kenapa kau menatapku seperti orang yang minta dikasihani? Aku tidak akan memberimu belas kasih, walau sebesar butiran beras. Tidak akan! batin Kinara.


Kinara membuka tas dan mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya. “Ini.” Menyodorkan pulpen itu pada Dika. “Tanda tangani surat perceraian kita, setelah aku melahirkan kita resmi bercerai. Kita bukan lagi sepasang suami istri, dan hak asuh anak akan jatuh ke tanganku. Aku tidak akan meminta uangmu sepeser pun.”


Dika menatap tajam Kinara lalu tersenyum licik. “Jangan mimpi!" Dia bangun dan berjalan menjauh.


“Dikaaaa!” Berusaha mengejar. “Kau jangan seperti ini, kau tidak boleh ingkar janji.” Meraih tangan Dika.


Seketika Dika berbalik, keduanya saling beradu tatap.


Apa kau begitu ingin berpisah dariku? Lalu menikah dengan laki-laki sial*n itu? Tapi kenapa aku justru tidak ingin berpisah darimu, Kinar, kenapa? batin Dika.


“Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku hanya menagih janjimu, Dika.”


“Aku tidak akan menceraikanmu, Kinara!" serunya.


“Kau pembohong.” Memukul dada Dika. “Pembohong! Sampai kapan kau akan menyiksaku, aku tidak ingin hidup denganmu lagi.”


Carissa menatap lekat dua orang yang sedang terlibat adu mulut itu, lalu dia tersenyum getir dan menundukan kepala. Sepertinya dia sudah mendapatkan jawaban dari hal yang ingin dia pastikan.


Sejak kapan kau mencintai, Kinara? Sejak kapan aku hilang dari hatimu, Dika? Apa sebenarnya aku tidak pernah ada di sana? Di hatimu? Kenapa rasanya sangat menyakitkan, Tuhan ...., batin Carissa.


“Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku? Kau laki-laki pengecut, bahkan lebih buruk dari banci. Kau melarikan diri setelah kalah, kau jahat, Dika.” Kinara terus mengepalkan kedua tangannya dan menggunakan itu untuk memukul dada bidang suaminya.


Nampaknya pukulan Kinara itu tidak berarti apa-apa bagi tubuh Dika, tubuhnya tetap kaku berdiri tanpa bergeser satu centi pun. Dika menangkap kedua tangan Kinara dan menundukan kepalanya, dua manik hitam itu kembali beradu tatap.


“Bisakah kita tidak bercerai?” Dika berbisik lirih, suaranya hampir tidak terdengar bahkan oleh Kinara yang berdiri tepat di depannya. Namun gerak bibirnya cukup jelas.


Kinara tertawa terbahak sembari melepaskan genggaman tangan Dika. “Kau? Apa kau menyesal, Dika? Aku sudah bilang, jangan meminta maaf dan jangan menyesal karena itu sudah sangat terlambat. Luka di hatiku, sudah kering dan berbekas.” Menekan dadanya sendiri dengan kuat. “Aku tidak akan pernah kembali padamu.”


“Apa kau harus seangkuh itu, Kinara? Tuhan saja masih menyisakan maaf untuk hamba-Nya yang berdosa, kenapa kau melakukan lebih dari Tuhan?!”


“Siapa bilang?” Mendongakan kepala. “Siapa bilang aku bertindak lebih dari Tuhan? Aku bukan tidak memafkanmu, ingat baik-baik apa yang aku katakan, Dika.” Menarik napas panjang sampai bahunya ikut naik turun. “Aku sudah memaafkanmu, tapi memafkanmu bukan berarti aku bersedia kembali padamu. Di hatiku masih ada maaf untukmu, tapi sudah tidak ada cinta dan tempat yang tersisa. Semuanya sudah habis, tepat ketika kau tidak menghargai aku sebagai istrimu.”


Carissa hanya bisa menelan salivanya ketika menyadari benih cinta untuk Kinara sudah tumbuh di hati Dika, dia sudah kalah. Mungkin sejak lama, tapi baru hari ini Carissa melihatnya dengan jelas.


Sementara Marta lebih memilih diam karena merasa ini adalah urusan pribadi anak dan menantunya. Selama Dika tidak melakukan kekerasan fisik pada Kinara, maka Marta hanya akan menjadi penonton yang baik.


Dika memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Kinara. Kinara ikut berjalan cepat dan mengejar Dika. Marta bersiap bangun sampai Carissa menggeleng.


“Jangan, Mah, biarkan dua orang itu menghabisi perasaan benci mereka. Aku yakin Dika tidak akan menyakiti Kinara,” ucap Carissa yang dijawab anggukan kepala oleh Marta.


Dika terus memacu langkahnya sampai kakinya sudah berada di mulut tangga. Namun Kinara berhasil mengejar dan menarik paksa tangan Dika. “Kau tidak bisa lari dari tanggung jawab, Dika. tanda tangani dulu surat perceraian kita, setelah itu urusan di antara kita berdua selesai,” pekik Kinara keras membuat Dika membulatkan tatapan matanya.


“Aku tidak berniat dan tidak akan pernah melepaskanmu, Kinara!” Dika berteriak tak kalah kencang dari Kinara.


“Kenapa, Dika? Kenapa?” Kinara terisak.


Jangan menangis, aku mohon ... jangan menangis, Kinara, batin Dika.

__ADS_1


Tangannya ingin bergerak mengusap lembut pipi Kinara, menghilangkan kesedihan di hati istrinya. Namun dia sadar, jika semua kesedihan itu disebabkan olehnya. Urung, Dika menurunkan kembali tangannya.


“Katakan padaku, Dika. Kenapa?” Mengguncang tangan Dika.


“Karena ...,” ucap Dika lalu terdiam. Batin Dika


“Kenapa? Katakan kenapa? Apa lagi yang kau mau, aku sudah berjuang menahan sakitnya penderitaan dituduh berselingkuh, dan aku sudah membuktikan padamu jika ini anakmu. Lalu apa lagi yang kau mau? Katakan, Dika! katakan!” Menarik kerah baju Dika.


Apa lagi yang aku mau? Benar, memangnya apa lagi yang aku mau. Setelah berpisah dari Kinara bukankah aku bisa menikah dengan Carissa, kenapa hatiku terasa sakit ketika mendengar Kinara meminta bercerai, batin Dika.


“Jangan diam saja, Dika. Aku mohon, cukup sudah kau sakiti hatiku. Jangan siksa aku lagi, aku tidak sanggup hidup denganmu! tolong ... tolong biarkan aku dan anakku hidup tenang.”


“Lalu kau bisa menikah dengan laki-laki lain, begitu? Cih ....” Tersenyum sarkas.


“Iya, memangnya kenapa? Apa setelah kita berpisah kau mau aku menjanda seumur hidupku? Aku menikah dan kau juga bisa menikah lagi, apa masalahmu? Carissa, kau bisa menikahinya sekarang juga.”


“Tidak! Aku tidak akan menikah lagi!” ucap Dika yang membuat Kinara tertegun.


“Apa ... apa maumu, Dika? Bukankah kau yang memaksa ingin menikahi Carissa? Apa kau tidak mencintainya?”


Apa aku tidak mencintai, Carissa? Benarkah rasa cinta di hatiku untuknya sudah hilang, atau aku yang tidak bisa membedakan perasaan cinta dan kasihan? Lalu sebenarnya siapa yang aku cintai? Batin Dika.


“Kenapa kau selalu diam? Lepaskan aku, dan kita bisa hidup dengan tenang. Tidak saling menyakiti lagi. Anak ini juga butuh Ayah, dan kau tidak perlu cemas. Aku akan memastikan dia mendapatkan Ayah yang baik dan pantas.” Mengelus perut.


Menangkap tangan Kinara. “Aku Ayahnya! Aku Ayah dari anakmu! Kenapa kau harus mencari Ayah lain?!”


“Kau gila, Dika.” Berjalan mundur dua langkah. “Aku tanya, apa kau mau menanda tangani surat perceraian kita atau tidak?”


“Tidak akan pernah!" jawab Dika tegas dengan rahang yang mengerang dan urat leher yang menegang.


“Kalau begitu, sampai bertemu di pengadilan.” Kinara melempar pulpen yang sempat dia sodorkan pada Dika, pulpen itu menggelinding dan berhenti tepat di sepatu mahal milik suaminya.


"Itu untukmu, barangkali kau berubah pikiran. Kau bisa menggunakan pulpen itu untuk menanda tangani surat perceraian kita, jika tidak kita berempat akan bertemu di meja hijau. Aku, kau, Carissa, dan Agra. Mari kita sama-sama menghabisi kebencian di sana.”


“Aku tidak akan melakukan itu! Tidak akan pernah mengambil pulpen untuk memberimu kebebasan!"


“Terserah! Itu pilihanmu, Dika. Aku hanya bisa memberimu sedikit kata mutiara, setelah ini masuklah ke dalam kamarku, pandanglah tiap sudut kamar istri yang telah kau sia-siakan itu. Raba kasurnya, di sanalah istrimu menghabiskan malam yang panjang. Buka kamar mandinya, di kamar mandi itulah istrimu mennagis tersedu. Setelah itu kau bisa mendapati fotoku di dalam laci. Fotoku mungkin bisa menemanimu menghabiskan malam dengan perasaan menyesal dan sakitnya kehilangan.” Kinara mengusap kasar air matanya dengan tangan bergetar.


Kinara memutar tubuhnya dan tersenyum sinis.


Selamat tinggal, Dika, selamat tinggal. Kau yang membuatku pergi, dan kau tidak akan bisa manarikku kembali. Semuanya sudah terlambat, luka di hatiku seperti hujan deras yang mengalir lalu hilang terserap tanah tandus, tidak akan pernah terobati! batin Kinara.


Kinara berjalan menjauh meninggalkan Dika. Begitu melewati Marta dan Carissa yang masih duduk di ruang keluarga, Kinara menyempatkan diri untuk tersenyum dan membungkuk sopan.


Pak Budi sudah berada di depan mansion sembari membuka pintu mobil, Kinara tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


Dika berlari naik ke atas kamarnya seperti orang kesetanan, lalu dia mendekati jendela dan membuka gorden dengan tergesa. Dia melihat mobil yang dinaiki Kinara perlahan-lahan menghilang.


“Argggh ...!” Dika mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya, Dika tersungkur. Duduk sembari menyandarkan tubuhnya di tembok.


Bersambung....


Hey Dika, dapat salam dari Babang Agra 😁

__ADS_1



__ADS_2