
Malam mulai datang, saat ini waktu menunjukan pukul sembilan malam. Namun, dua bola mata berwarna hitam pekat, seperti dasar lautan yang kelam itu masih terjaga.
Bukan di depan tumpukan berkas untuk ditanda tangani atau di depan layar komputer yang menyala untuk memeriksa laporan kerja karyawannya. Bukan! Mata yang penuh penyesalan itu masih menyala di bawah cahaya temaram di taman belakang.
Dika sedang duduk di kursi panjang di taman belakang, tidak jauh dari tempatnya duduk pernah ada seorang gadis baik hati yang dia siram dengan sebotol air ketika kedua matanya sedang tertutup rapat karena kelelahan. Dengan congkaknya Dika menyiram air di tengah udara dingin yang mulai menyergap.
Dika menghela napas panjang, kaki jenjangnya lurus ke depan dengan ujung yang disilangkan, kedua lengannya terlipat di dada. Tidak ada yang dia lakukan, hanya diam sembari memandangi kolam ikan yang ditumbuhi bunga teratai yang mulai bermekaran.
Mungkin saat itu kau sedang melihat betapa indahnya bunga-bunga teratai yang bermekaran, tapi kenapa sekarang aku melihat bunga itu seperti duri tajam yang bisa melukaiku. Kinara ... maafkan aku, batin Dika.
Malam semakin gelap, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Namun tubuh Dika bergeming di kursi panjang itu, tak bergerak sedikitpun, hanya terdengar embusan napasnya yang berat dan sesak.
Angin mulai berembus semakin kencang, bulu halus di permukaan kulit putih Dika mulai berdiri menandakan jika hawa dingin mulai menyergapnya.
Gemerisik dedaunan membuat malam terasa semakin sunyi, Dika menggosok kedua lengannya itu untuk menghangatkan diri. Namun, tiba-tiba tangannya berhenti. Dia bangun, berjalan menjauh dari kursi panjang yang beberapa saat lalu sempat membuainya dalam hayal.
Dika berjalan ke sudut taman, menarik salah satu kursi dan menempatkannya di samping kursi pajang. Matanya berputar mencari botol air mineral yang sudah dia siapkan. Begitu botol itu ada dalam genggaman tangannya, dia duduk, membuka tutup botol dan menyiram dirinya sendiri dengan sebotol air. Air itu mengalir, bermula dari puncak kepala, merembas sampai ke tubuh dan kakinya.
Apa rasanya memang sedingin ini, Kinara? Apakah hari itu kau juga menggigil kedinginan sepertiku? Maafkan aku, Kinara, batin Dika.
Tak berapa lama tubuh Dika mulai gemetar, rasa dingin berangsur-angsur datang dan mencabik-cabiknya. Dia menggosok tangannya beberapa kali, tetapi air merembas dengan cepat di baju yang dikenanakannya dan sudah terlanjur membuatnya menggigil kedinginan.
Dika lalu berjalan menjauh dari taman dengan tubuh yang setengah basah. Ken yang sedari tadi berdiri di pintu belakang terkejut bukan main ketika melihat Dika masuk dalam keadaan basah.
Ken segera melepas jas hitam yang dikenanakannya dan menyodorkan pada Dika. “Tuan Muda, pakailah jasku. Mengapa anda bisa basah seperti ini?”
Ken memajukan kepalanya dan memperhatikan sekeliling taman belakang dari pintu yang terbuka lebar, kalau-kalau diluar sedang hujan. Nihil, Ken tidak mendapati apa pun, tidak ada setetes air pun yang dijatuhkan langit, lagipulan malam ini langit terlihat cukup cerah dan menurut perkiraan cuaca hari ini tidak akan turun hujan.
Ken bergegas mendekati Dika. “Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter? Saya takut Tuan Muda sakit.”
Dika diam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia terus berjalan menaiki anak tangga, lantai yang dipijaknya sampai berjejak karena tetesan air yang datang dari tubuhnya.
Tuan Muda, tolong jangan membuatku takut. Ini baru hari ke lima Nyonya meninggalkan mansion, bahkan belum genap satu minggu, tapi kenapa kalukan Tuan Muda semakin hari semakin mengkhawatirkan saja, batin Ken.
Ken tetap mengikuti langkah Dika dari belakang, dia sudah membawa selimut dan handuk yang diberikan oleh pelayan.
Kali ini Dika berhenti di depan pintu kamarnya, menatap dalam pintu itu. Ken pikir Tuannya itu akan masuk ke dalam kamar dan bergegas mandi.
Namun Ken salah, Dika justru memilih duduk di depan kamarnya sendiri, tubuhnya bersandar di tembok, menekuk dan memeluk kedua kakinya. Perlahan-lahan kepalanya mulai turun dan bertumpu di kedua tempurung kakinya.
Saat itu kau tertidur bukan? dengan baju yang basah seperti ini kau habiskan malam panjangmu di depan kamarku. Maafkan aku, Kinara, batin Dika.
Ken mengernyitkan dahi dengan mulut yang sedikit terbuka, sesekali Ken memijat pangkal hidungnya karena tidak tahu harus berbuat apa. Pelan sekali Ken mengeluarkan handphone, mematikan suara dan cahaya lalu merekam Dika yang duduk seperti patung dalam keadaan menyedihkan.
“Tu ... Tuan Muda, tubuhmu basah, aku akan menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuhmu. Setelah itu aku akan memanggil dokter, aku takut Tuan Muda jatuh sakit jika tidak segera berganti pakaian.” Ken berjalan mendekat, dia memeberanikan diri untuk duduk di samping Dika. Ada jarak beberapa centi di antara mereka.
“Tuan Mu ...Muda, aku mohon, berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Aku rasa hal yang Tuan Muda lakukan sekarang ini tidak ada gunanya,” ucap Ken pelan.
Mendengar ucapan Ken, seketika Dika menaikan kepalanya. “Berapa lama?” tanya Dika dengan raut wajah rumit. Ken tidak bisa mengartikan ekspresi wajah Tuannya itu.
Ken membuka matanya, tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilayangkan Dika.
“A ... apanya yang berapa lama, Tuan Muda?” Ken balik bertanya dengan suara terputus-putus.
“Berapa lama bajuku akan kering dengan sendirinya, jika aku tidak mandi dan tidak menggantinya.”
Ken memijat dahinya, melakukan lebih intens. Sepertinya Ken butuh pereda sakit kepala. Ken mulai mengerti, dia bisa melihat benang merah dari semua kelakuan aneh Dika belakangan ini.
Sepertinya Dika sedang mereka ulang adegan di mana ketika dirinya menyiram air ke tubuh Kinara dan membiarkan Kinara tertidur di depan kamarnya sampai baju Kinara kering.
Diam-diam Ken mengeluarkan Handphonenya dan melakukan panggilan telepon dengan Kinara lalu meletakan handphone itu di sampingnya.
__ADS_1
🍃Rumah Kinara🍃
Kinara baru saja memajamkan matanya sampai dering handphone terpaksa membuatnya terbangun. Dengan mata sedikit terbuka Kinara meraba sekeliling untuk mencari benda tipis persegi panjang itu.
“Ken? Ada apa malam-malam begini dia menghubungiku? Apa mau bertanya soal cara memasak mie instans lagi? Yang benar saja,” gerutunya sembari menggeser layar handphone.
“Hallo, Ken, astaga kau pikir pukul berapa sekarang ini?” sambut Kinara begitu sambungan telepon itu terhubung.
Tadak ada jawaban apa pun dari Ken, bahkan tidak terdengar suara siapa pun di ujung sana. Kinara menggeser handphonennya dan melihat layar. Sambungan telepon itu masih terhubung.
“Ken? Kau masih di ....”
Kalimatanya terputus, samar Kinara bisa mendengar suara Ken.
“Tuan, tolong jangan lakukan ini. Bibirmu sudah terlihat bergetar, bagaimana bisa kau menyiram dirimu sendiri. Saya akan menyiapkan air hangat. Berikan kuncinya, saya akan masuk ke kamarmu”
“Jangan, Ken! Jangan berani masuk ke dalam kamarku! Kamar itu hanya boleh di masuki oleh satu orang, dan orang itu adalah Kinara.”
Deg ... Kinara membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, sebenci apa pun Kinara pada Dika. Namun dia masih bisa mengenali suara suaminya, itu jelas suara Dika. Kinara segera memutus sambungan telepon itu dan menonaktifakn handphonenya.
“Saat ini hatiku sudah bukan milikmu lagi, Dika. Sejak kau melempar tanggung jawab pada Ken demi menutupi statusku di depan Carissa. Sudah sangat terlambat jika kau berusaha membuatku berjalan kembali ke arahmu.” Kinara menarik selimut dan memejamkan matanya. “Sudah sangat terlambat,” lirihnya.
🍃Mansion Dika🍃
Ken melirik handphone yang tergeletak itu, dia mengembuskan napas panjang ketika mendapati sambungan teleponnya dengan Kinara sudah terputus.
Tidak adakah sedikit saja maaf yang tersisa di hatimu, Nyonya? Batin Ken.
“Tuan, saya mohon. Sekarang kita pergi untuk membersihkan tubuhmu terlebih dahulu, setelah itu mari kita bicara soal yang lainnya.”
Dika mendongakan kepala, tatapan matanya sudah beralih seperti elang pemangsa. Ken menghela napas panjang, sejahat apa pun Dika, dia tidak akan menyakiti Ken. Keduanya sudah tumbuh besar bersama sejak mereka menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama.
“Ckkk ...,” Dika berdecak lalu menepis kasar tangan Ken.
Apa aku harus menyeretmu, Tuan? Jika diperlukan aku akan melakukannya, batin Ken.
“Aku hanya akan bergerak sampai baju di tubuhku ini kering,” desisnya tidak suka.
“Itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama, Tuan.”
“Aku tidak peduli.” Dika bersikeras.
“Kau tidak bisa seperti ini terus, Tuan Muda. Jika kau memang menyesal, datang dan minta maaflah pada Nyonya. Itu akan lebih baik daripada kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini!”
“Aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengannya, Ken. Terlalu banyak kesedihan yang aku berikan untuk Kinara, luka yang kutorehkan padanya mungkin sangat dalam, Ken. Aku ... aku tidak bisa menatap ke dalam matanya yang penuh kebencian itu.” Dika menundukan kepalanya, kembali bertumpu pada kedua tempurung kakinya.
“Lalu apa maumu, Tuan Muda? Menyiksa dirimu sendiri sampai mati, begitu? Setelah itu Nyonya akan menikah dengan laki-laki lain, hidup bahagia membesarkan anak laki-lakimu?” cecar Ken berapi-api.
Dika mengepalkan tangannya, memukulkan pada tembok. Melakukan itu berkali-kali sampai darah mulai merembas keluar dari pori-pori kulitnya. Ken tidak menghentikan, Ken mengerti, Dika memang butuh pelampiasan. “Kau benar, Ken. Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Dika tiba-tiba.
“Haaah ... sebelumnya ada yang ingin saya pastikan, Tuan Muda.”
“Katakan.”
Iya, aku juga akan mengatakannya. Apa gunanya mulutku ini jika aku hanya diam, kau pikir aku seperti dirimu yang hanya bisa merenung seperti orang gila. Karena terlalu kesal Ken sampai mengumpati Dika di dalam hati.
“Sejak kapan Tuan jatuh cinta pada Nyonya?”
“Aku tidak jatuh cinta padanya!” Dika masih dengan angkuhnya mengingkari perasaan cintanya pada Kinara yang mulai datang.
“Jika kau tidak mencintainya, untuk apa kau makan mie instans kesukaan Nyonya? Sering melamun selepas kepergian Nyonya, dan lebih parahnya kau menyiram dirimu sendiri dengan air untuk merasakan apa yang pernah Nyonya rasakan ketika kau melakukan hal yang sama padanya. Memangnya untuk apa semua itu?!” Ken sedikit menaikan volume suaranya.
__ADS_1
“Itu bukan urusanmu, Ken. Kau terlalu banyak bicara!”
Asataga, orang ini benar-benar memiliki gengsi setinggi gunung Everest, batin Ken.
“Baiklah, jika Tuan Muda tidak mencintainya. Saya tidak bisa mmeberikan banyak saran.”
“Kenapa?” Alis Dika sedikit terangkat.
“Yah, karena Tuan Muda tidak mencintai, Nyonya.” Mengangkat bahunya. “Saya hanya bisa memberi saran agar Tuan Muda pergi ke dokter dan melakukan konsultasi.”
Mata Dika membulat sempurna, semerutuk giginya sampai terdengar di telinga Ken. “Kau mau mati?!”
Siapa yang mau mati? Aku? Aku masih ingin hidup, aku bahkan belum menikah, batin Ken.
“Lalu aku harus apa?” Kali ini Ken sampai mengangkat tangan dan bahunya bersamaan. “Akan lain ceritanya jika Tuan Muda mengatakan sudah jatuh cinta pada Nyonya.” Ken menjebak.
“Katakanlah aku memang sudah jatuh cinta padanya, lalu apa yang bisa aku lakukan?”
Astaga, kau masih saja gengsi, batin Ken.
“Kau harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kembali hati Nyonya.”
“Aku tidak tahu bagaimana caranya.”
“Nanti kita pikirkan itu, yang terpenting sekarang Tuan bersihkan dulu tubuh Tuan Muda.”
“Tidak, Ken. Biarkan aku seperti ini.” Mengibaskan tangan, Dika kembali memeluk kedua kaki dan menedaratkan kepalanya di lutut.
Aku minta maaf, Kinara. Atas keegoisanku, atas khilafku, atas kebodohanku. Masih adakah aku di hatimu, Kinara, batin Dika.
Bersambung...
.
.
Emak mau nyanyi ah...
Sekarang lo nyesel kan?
Keselkan mutusin gue?
Lo yang ambil keputusan
waktu menikah tuk ceraian gue.
.
.
Hahahaha... 🤣😅 Ingat, Emak butuh LIKE, KOMEN, DAN VOTE dari kalian. Jangan Cuma baca tapi nggak mua LIKE, KOMEN DAN VOTE.
.
.
Yang belum follow Ig emak, cuus di follow : @roseelily16
Yang nggak punya Ig bisa add Fb : RoseeLily
Yang belum follow akun emak yg ini, buruan di follow. Kalian bisa klik profil emak dan klik tulisan IKUTI, ok ❤️
__ADS_1