
Kinara melanjutkan menyirami beberapa bunga yang belum sempat disiram karena Ken keburu datang. Saat ini menyiram tanaman adalah kegiatan rutinnya semenjak Kinara keluar dari minimarket dan cuti kuliah. Amplop pemberian Ken itu belum dia buka, hanya diletakan di atas meja. Tergeletak begitu saja seolah bukan sesuatu yang berharga.
“Nyonya,” seru bibi Ane dari mulut pintu. “Sudah jadwalnya.” Bibi Ane meletakan segelas susu ibu hamil di atas meja. Jadwal makan dan minum Kinara tidak pernah terlewat.
“Saatnya makan pagi, Sayang.” Kinara segera mematikan keran air lalu meraba perutnya. Mengelus lembut di sana. “Terima kasih, Bi.” Minum susu buatan bibi Ane. Kinara melirik sepiring nasi kuning yang sudah tertata rapi di samping gelas susu. Tiba-tiba perutnya mual dan keinginan untuk menyentuh nasi kuning itu sirna begitu saja.
“Kenapa, Nyah?” tanya bibi Ane yang melihat ekspresi Kinara.
“Kenapa nasi kuning, Bi?”
Bibi Ane nampak menggaruk kepala lalu berucap, “Semalam Nyonya yang bilang, pagi ini Nyonya ingin sarapan nasi kuning.”
Kinara mengingat kembali tentang kejadian semalam. Sepertinya benar dialah yang minta bibi Ane menyiapkan nasi kuning.
“Duh, iya ... aku sampai lupa.” Memukul keningnya. “Bagaimana dong, Bi? Rasanya aku mual melihat nasi kuning.” Kinara nampak merasa bersalah. Dia yang minta, tapi dia juga yang tiba-tiba berubah pikiran. Namun, mau bagaimana lagi. Jangankan untuk makan, melihatnya saja sudah membuat perut Kinara mual.
“Tidak apa-apa, Nyah. Lalu pagi ini Anda ingin sarapan apa?”
Kinara diam. Berpikir apa yang sebenarnya dia ingin makan sebagai menu pembuka di pagi hari ini. Dia mengelus perutnya, sembari membayangkan beberapa makanan yang mungkin menggugah selera. “Aku tiba-tiba ingin makan bubur ayam di pengkolan situ, Bi.” Kinara mengembuskan napas sembari mengeluh karena tidak ada yang bisa dimintai tolong.
Pak budi masih terluka, bagian tangannya terluka cukup parah karena terbuntur meja kaca ketika melawan orang-orang suruhan Roy. Tidak mungkin Kinara meminta pak Budi menyetir mobil di tengah kondisinya yang seperti itu. Sementara bibi Ane juga mengalami beberapa luka. Sudah jelas jika tidak mungkin baginya meminta dua orang itu untuk membeli bubur.
Bibi Ane sudah duduk di samping Kinara. Keduanya memang sangat dekat, lebih dari hubungan Nyonya dan pelayan. Bibi Ane lalu meletakan handphone yang sudah menyala di samping vas bunga hias. Sehingga Kinara tidak tahu jika bibi Ane sedang menghubungi seseorang.
🍃Di dalam mobil🍃
Handphone Ken berdering, ketika dia sedang sibuk memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai ramai. “Bibi Ane,” gumamnya dengan alis sedikit bertaut.
“Siapa, Ken?” tanya Dika yang duduk di kursi belakang.
“Bibi Ane, Tuan.”
“Berikan padaku!” titah Dika. Ken menyodorkan handphone yang segera diraih Dika. “Pelankan laju mobilnya,” imbuhnya.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Itu, setelah tersambung tolong Tuan jangan bersuara sedikitpun.”
Kening Dika berkerut mendengar permintaan Ken. Memangnya kenapa? Begitu Ken menjabarkan kerutan di kening Tuannya.
“Ini adalah cara bibi Ane untuk memberi tahu kita tentang keadaan Nyonya. Jika Tuan bersuara maka semuanya akan ketahuan.”
Tentu saja usaha bibi Ane akan sia-sia, sudah sih turuti saja apa yang aku katakan, batin Ken.
Bibi Ane memang secara diam-diam sering melaporkan keadaan Kinara pada Ken.
Dika mengerti. Pandangannya kembali fokus pada layar handphone yang menyala. Dika segera menggeser tombol hijau. Dan memang benar, begitu panggilan telepon itu terhubung tidak ada sapaan ‘hallo’ dan sebangsanya. Langsung terdengar percakapan bibi Ane dan Kinara yang jelas aneh.
🍃Di rumah Kinara🍃
Kinara yang tidak tahu jika percakapannya dengan bibi Ane dicuri dengar oleh Dika, dengan santainya dia mengeluh.
“Duh, aku benar-benar ingin makan bubur ayam di situ, Bi.”
“Oh, Nyonya ingin makan bubur ayam yang ada di perempatan pasar itu, yah?” Bibi Ane mengeraskan volume suaranya. Kinara menatap heran, saat ini mereka sedang duduk bersebelahan. Untuk apa bibi Ane berteriak seperti itu? pikirnya.
“Iya, Bi. Bibi ‘kan sudah tahu alamat penjual bubur ayam langgananku, untuk apa memperjelasnya?”
Bibi Ane tertawa kecil. “Itu ... Bibi hanya mengingatkan saja, Nyonya.”
“Apa aku pesan online saja yah, Bi.” Mengeluarkan handphone dari kantung dasternya. “Tapi dokter Amel selalu mewanti-wanti agar aku tidak sembarangan pesan makanan.” Dia ragu.
Apalagi pedagang bubur itu tidak menjajakan dagangannya di media sosial, jelas susah bagi Kinara untuk memesan makanan yang tidak bekerja sama dengan aplikasi online. Bubur ayam di situ aman, perutnya tidak pernah bereaksi ketika makan bubur itu.
“Iya, yah. Sayang sekali.” Bibi Ane sedikit berdecak. Dia berharap orang di balik panggilan teleponnya bisa merasakan betapa kecewanya Kinara jika tidak bisa makan bubur ayam itu.
“Yasudah, Bi, ambilkan saya buah saja.” Kinara memilih untuk menahan keinginannya, mau bagaimana lagi. Sepertinya dia bisa membeli lain waktu.
🍃Di dalam mobil🍃
__ADS_1
“Ken, kau tahu tempat penjual bubur ayam yang dimaksud Bibi Ane?” tanya Dika setelah sambungan teleponnya terputus.
“Tahu, Tuan. Itu adalah tempat langganan Nyonya.”
“Antarkan aku ke sana.” Segaris senyum nampak terukir di wajah datar Dika. Ini adalah kesempatannya untuk memberi Kinara perhatian.
“Tapi, Tuan ....” Ken bingung harus menuruti permintaan Dika atau tidak. Dia sedang dikejar waktu, sebentar lagi ada pertemuan penting dengan perusahaan lain guna membicarakan kontrak kerja sama. “Tempatnya sangat ramai, Tuan. Antreannya mungkin cukup panjang, sementara sekarang ...." Ken mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk melihat pukul berapa sekarang ini.
Hanya tersisa 15 menit lagi sebelum rapat dimulai, jika tidak putar arah seharusnya 10 menit pun mereka akan sampai di perusahaan, pikir Ken.
“Telepon pihak kantor, Ken! Minta mereka menunda waktu rapat! Jika perusahaan itu menolak, batalkan saja kontrak kerja samanya.” Ada penekanan dari suara yang dikeluarkan Dika.
Membatalkan kontrak kerja sama artinya siap kehilangan uang, karena perusahaan Mahendra harus mengganti rugi atas pemutusan secara sepihak itu. Namun, sepertinya saat ini uang bukan lagi hal yang berharga dihidup Dika.
“Dengar tidak?!” serunya yang membuat Ken terperanjat.
Ken tidak mungkin mendebat Tuannya. Itu sudah keputusan akhir.
“Baik, Tuan.”
Ken segera memutar haluan dan memacu mobilnya menuju pasar tradisional. Beberapa saat, setelah Ken berhasil salip kiri dan kanan tibalah mereka di tempat tujuan.
🍃Tempat penjual bubur🍃
“Ini tempatnya, Tuan.”
Mobil sudah berhenti di depan pasar, ada kerumunan orang yang sedang mengantre, mengerubungi sebuah gerobak bubur dengan kursi dan meja ala kadarnya. Samar-samar Dika membaca tulisan di gerobak itu, tulisannya seperti yang bibi Ane bilang ‘Tukang Bubur Sudah Naik Haji’ Seketika senyumnya mengembang. Syukurlah, ternyata penjual bubur itu sudah naik haji. Pikirnya.
Bersambung....
.
.
__ADS_1
Ok kita santuy dulu sebelum memasuki kebun bawang 🤣 Buruan bayar emak pake like, komentar, rate bintang lima, dan Vote yang banyak tentunya. Yang sabar nunggu up novel ini, dan tetep Vote. Terima kasih, kalian warbyaasaaah.