Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Operasi Sesar


__ADS_3

Rumah Sakit Keluarga Mahendra.


“Anda sudah datang, Tuan Muda.” Dokter Amel membungkuk sopan. Dia harus berlari keluar dari dalam ruangan demi menyambut kedatangan Dika dan Kinara.


Dika hanya tersenyum tipis. Dia sedang sibuk merangkul bahu Kinara. Sepanjang perjalanan tadi orang-orang sampai memperhatikan Kinara dan Dika. Dia heboh sendiri, bahkan sempat berteriak agar salah seorang perawat membawa kursi roda dan bersikeras untuk menggendong Kinara.


Ken yang berdiri di belakang keduanya hanya bisa tersenyum lebar seperti kuda. Dalam hal ini Ken dan Kinara adalah korban yang merasa malu dengan kelakuan Dika. Jika bukan anak dari pemilik rumah sakit sudah pasti dia menjadi bahan ghibah.


“Silakan masuk, Tuan Muda.” Dokter Amel membuka pintu dengan sopan. Jantungnya sudah berdegup kencang. Dia sudah siap menerima kuliah dari Dika.


Sudah masuk ke ruangan.


“Kenapa tidak ada sofa?!” Dika berteriak, membuat Kinara harus menjauhkan kepalanya. “Sofa yang biasanya ke mana?"


Karena Anda datang mendadak kami belum sempat memindahkan sofa. Dokter Amel membatin sembari menelan salivanya.


Biasanya Dika dan Kinara membuat janji terlebih dahulu sehingga dokter Amel bisa memindahkan sofa di ruang rawat inap vvip ke ruangannya. Khusus untuk manusia kutub yang sedang bucin akut itu.


“Mas, ayolah. Kita sedang di rumah sakit, bukan di hotel. Lagi pula ini ruang konsultasi, bukan ruang rawat inap. Untuk apa rumah sakit menyediakan sofa?”


“Biasanya juga ada! Apa rumah sakitku mengalami defisit? Apa sudah mau bangkrut?! Bicaralah Amel!"


Biasanya tidak pernah ada, Tuan. Kami mengada-adakan demi Anda, batin Dokter Amel.


"Sudahlah, Mas. Jangan marah-marah." Kinara memeluk pinggang suaminya. Berharap emosi suaminya mereda.


"Bagaimana aku tidak marah! Apa kau akan duduk du kursi kayu yang kasar begitu?!"


“Bukan begitu Mas.” Kinara menggaruk kepalanya. Tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada manusia satu ini. Sementara dokter Amel hanya menundukkan kepalanya. Dan Ken, tentu saja dia sedang menikmati pertunjukan.


“Mas ayolah.” Kinara meraba perut Dika, memutari permukaannya. Menulis namanya di sana. “Marah-marah terus juga tidak baik, loh. Nanti roti sobekmu berubah jadi roti bantal. Mau?”


“Apa hubungannya marah dengan roti sobek? Kau sedang membodohi aku.” Menyentil dahi Kinara.


Mengelus keningnya. “Ih, kenapa sih mau periksa saja harus repot begini?” Tangannya sudah pindah. Bermain di dagu Dika.


“Pokoknya sediakan sofa sekarang juga!” Dika membimbing Kinara untuk duduk. “Duduk dulu, Sayang. Kau pasti lelah.”


Raut wajah dokter Amel sudah terlihat tertekan. Bahkan keningya sudah berkeringat. Memang akan sedikit sulit untuk menyediakan sofa dalam waktu cepat. Namun, jika sangat terpaksa dia bisa minta kursi di ruang vvip dipindahkan. Seperti biasanya, tetapi masalahnya apakah setelah itu semuanya akan baik-baik saja? Dokter Amel yakin akan ada saja yang dipermasalahkan manusia kutub yang satu itu.


“Begini, Tuan ....” Dokter Amel berjalan mendekat. Merendahkan suaranya agar tidak memantik kemarahan Dika. “Saya akan minta seseorang membawa kursi dari ruang vvip.” Mati sudah. Kursi itu ada di lantai paling atas. Kita semua akan kesusahan membawanya.


Kinara menggelengkan kepala pelan. Pelan sekali agar Dika tidak melihatnya. Seketika senyum di wajah dokter Amel pun terlihat. Dia yakin jika Kinara yang membujuk, manusia kutub itu akan menurut.


“Sayang, untuk memindahkan sofa dari ruang vvip ke ruangan dokter Amel ‘kan membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku sudah tidak sabar ingin pulang. Sudah ya, pakai kursi yang ada saja. Untuk sementara.” Kinara menyandarkan kepalanya di dada bidang Dika. Dasar manusia kutub, kenapa tidak sekalian kau pindahkan kasur besarmu ke rumah sakit ini?


“Uuhh ... kau lucu sekali, Sayang. Kau terlihat menggemaskan." Membelai puncak kepala Kinara. “Apa sekarang kau sedang menggodaku?”


Aku sedang memberi tahu dirimu untuk bersikap lebih masuk akal. Untuk apa aku menggodamu, “Hahaha ... bukan begitu, Sayang. Ayolah kita percepat saja semuanya. aku ingin merebahkan tubuhku, kau tahu ‘kan jika akhir-akhir ini tidurku tidak pernah nyenyak dan aku mudah lelah?"


Diam sejenak. Berpikir keras sampai keningnya berkerut.


Ayolah. Kenapa kau harus merepotkan orang lain dengan ketakutanmu sendiri? Apa masalahnya jika aku duduk di kursi? Toh sama saja ‘kan, batin Kinara.

__ADS_1


"Yah ... yah. Pakai kursi ini saja." Kinara mendongakkan kepalanya sambil mengedipkan mata. Seharusnya ini berhasil.


“Baiklah, baiklah. Hentikan itu. Kau terlihat seperti orang yang sedang cacingan.”


Cih, padahal aku melakukannya agar terlihat imut. Kinara mengerucutkan bibirnya mendengar Dika menyebutnya cacingan.


***


Setelah selesai melakukan pemeriksaan. Dika dan Kinara sudah duduk, dokter Amel kembali dengan raut wajah yang mencurigakan.


“Kenapa? Tidak bisakah wajahmu biasa saja?!" seru Dika.


Mati aku. Bagaimana aku harus mengatakannya. Oh Tuhan, tolong aku. Dokter Amel memegang hasil pemeriksaan Kinara.


“Duduklah dokter Amel. Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?” tanya Kinara.


Baiklah. Aku harus tetap mengatakan ini. “Begini, Nyonya, Tuan Muda.” Dokter Amel menelan salivanya dengan susah payah.


“Amel! Ku dengar kau sedang memeriksa menantuku.” Tiba-tiba Marta datang. Langsung masuk ke ruangan dokter Amel tanpa mengetuk terlebih dahulu. Biarkan saja. Dia Bossnya.


Terima kasih Tuhan, mungkin ini pertolongan dari-Mu.


“Loh, Mamah? Sedang apa di rumah sakit?” Kinara bangun dari kursi.


“Hari ini Mamah ada jadwal periksa kesehatan. Terus di depan ruangan ketemu Ken."


"Mamah sakit lagi?"


“Mamah salah makan apa lagi?” Kinara bertanya penuh selidik.


“Tidak.” Marta memalingkan wajahnya berusaha menahan tawa.


“Mamah! Mamah makan daging kambing lagi?!” Kinara tahu makanan kesukaan mertuanya, sate daging kambing. Itulah kenapa Marta tidak pernah mau tinggal di mansion Dika karena dia tidak akan bebas makan makanan kesukaannya.


“Tidak.” Masih menahan tawa.


“Mamah makan berapa tusuk?!” kali ini Dika yang marah.


“Sedikit. Yah, hanya 15 tusuk.”


“Mamah!” seru keduanya bersamaan.


“Pokoknya aku tidak mau tahu. Malam ini Mamah harus pindah ke mansion!” Dika melihat keberatan di wajah Mamahnya. “Titik!”


Marta mengembuskan napas panjang. Tidak ada yang bisa melawan keputusan Dika.


“Baiklah!” dengan sangat terpaksa Marta menerima.


“Kau belum menyampaikan hasil pemeriksaanmu, Amel!”


"Iya, Tuan."


"Sekarang jelaskan padaku bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


Sebelum bicara dokter Amel sempat mengembuskan napas panjang. Membuat tiga orang di depannya saling tatap dengan kening berkerut.


"Silakan kalian duduk. Saya akan menjelaskan hasilnya."


Sudah duduk. Siap jadi pendengar yang baik.


“Begini, Tuan Muda. Dari awal kehamilan, kandungan Nyonya memang lemah. Faktor lemahnya kandungan Nyonya sudah saya sampaikan sejak awal. Tuan Muda dan Nyonya pasti masih ingat."


Dika meremas tangannya sendiri. Penyebabnya bukan lain adalah dirinya sendiri yang bersikap lalai selama menjadi suami Kinara.


Kinar meraih tangan suaminya. Meraba lembut punggung tangannya dan tersenyum hangat.


Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan semuanya. Ini bukan salahmu. Seolah itulah yang ingin Kinara sampaikan melalui senyumnya.


"Lalu?" tanya Kinara.


"Dari hasil pemeriksaan. Posisi putra Anda tidak memungkinkan untuk Anda melahirkan secara normal. Itu ... kemungkinan Anda harus menjalani operasi sesar."


Deg!


Dika dan Kinara hanya membeku di tempat duduknya. Keduanya memiliki kekhawatiran berbeda.


Dika tidak bisa membayangakan betapa sakitnya operasi itu. Dia tidak mau Kinara merasakan sakit. Apalagi semua karena salahnya.


Sedangkan Kinara sendiri. Dia takut akan dianggap bukan seorang Ibu yang sesungguhnya karena tidak bisa melahirkan secara normal, melainkan harus dengan cara sesar.


"Kinara, Sayang. Apa yang kau takutkan?" Marta sudah berdiri di belakang Kinara sembari merangkul pundak menantunya.


"Bagaimana jika orang-orang mengatakan aku bukanlah seorang Ibu yang sempurna, Mah. Karena aku melahirkan bukan seperti wanita pada umumnya." Kinara terisak.


"Apa kau menginginkannya?"


"Tidak! Tentu saja tidak! Tetapi keadaan membuatku harus melakukan operasi."


"Kalau begitu jangan dengarkan omongan orang lain, Nak. Omong kosong macam apa yang menyebut wanita harus melahirkan normal! Baru bisa disebut sempurna. Kau tetap seorang ibu, Kinara. Dengan atau tanpa operasi sesar. Kau tetap seorang wanita yang luar biasa, mengandung dan menjaga putramu tanpa lelah. Segala letih kau tanggung sendiri. Kau tetap seorang istri dan ibu yang hebat. Kemari, Sayang." Memeluk Kinara.


Bersambung...


.


.


Dear tetangga dan makemak yang suka nyinyir. Mulutnya julid, apa aja dikomentari. Terkadang kita tidak tahu apa yang dialami orang lain, tapi kita pura-pura sok tahu dan menghakimi seenak jidat.


Plis berhenti berpikir sempit! Seorang Ibu, tetaplah seorang Ibu. Bagaimanapun cara melahirkannya. Sakit dan perjuangannya tetap sama. Taruhannya sama2 nyawa.


Berhentilah merasa diri paling benar dan mengeluarkan komentar jahat. Daripada bicara yang menyikiti hati orang lain. lebih baik diam.


.


.


VOTE UNTUK DIKI LOVERSNYA JANGAN LUPA, yah 😘

__ADS_1


__ADS_2