
“Gosong lagi?!” Kinara meletakan piring berisi serabi buatan Dika di atas meja. Mengerucutkan bibirnya lalu menatap jengkel ke arah Dika. “Ini sudah yang ke sepuluh. Dan Mas masih belum berhasil membuatnya. Apa Mas tega aku makan serabi gosong begini? Bagaimana kalau aku sakit perut?” dengkusnya sembari menyandarkan kepala di kursi.
Dika melenguh panjang sembari memainkan jarinya.
"Kenapa, Mas mau menyerah?”
“Tentu saja tidak, Madam.” Dika tersenyum terpaksa dan berjalan mundur.
Sudah kembali ke tempat Ken.
“Apa kau mencatat semuanya dengan benar?” Dika memukul lengan Ken. “Ini sudah yang ke sepuluh. Mau sampai kapan kita berada di depan tungku sialan ini?!" Mengutuk tungku serabi.
“Aku mencatatnya dengan benar, Tuan Muda. Sungguh. Lihat ini.” Membuka buku catatan. Tanganku sampai keriting mencatat apa yang diucapkan penjual serabi tadi. Bahkan suara napasnya
saja
kucatat.” Ken menjelaskan dengan berapi-api. Sudah hampir dua jam dia berada di depan tungku serabi yang menyala, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai keinginan Kinara. Baju di badannya sampai basah karena keringat.
“Memang bagaimana suara napasnya?” Dika melongok, melihat tulisan Ken.
“Haaaah ... Seperti itu.” Ken memperagakan.
“Hahaha ... kau benar. Penjual serabi itu bahkan kelelahan karena kita bertanya terus-menerus, tetapi tidak bisa mengerti. Dia sampai marah dan bertanya ‘Apakah kalian tidak pernah makan bangku sekolahan?’.” Dika ikut menirukan suara si penjual serabi.
Ken tertawa ketika mengingat itu. Si penjual serabi benar-benar jengkel dengan otak Dika dan ken yang dia anggap hanya sebesar biji jagung. “Dia pikir kita rayap, Tuan Muda. Masa bangku sekolahan di makan.”
Keduanya tertawa terbahak sampai bahu mereka berguncang. Tanpa sadar serabi ke sebelas pun gosong lagi. “Ahhh ... gosong lagi!” Dika mendengkus kesal begitu melihat serabinya gosong lagi.
“Ahhh ... aku lelah." Ken berguling-guling di rerumputan. Dia tidak tahan lagi. Wajahnya sudah hitam karena asap dari tungku serabi.
Kerjaan Dika hanya menuang adonan serabi dan mengangkat serabi kalau sudah matang. Yang repot tentu saja Ken. Dia yang menyiapkan semuanya, dari menyalakan api pada tungku, mengaduk bahan
dasar serabi, sampai menjaga agar api di tungku tidak mati. Sementara, Kinara? Dia sedang duduk di kursi panjang. Menyandarkan tubuhnya dengan nyaman sembari membaca buku dongeng. Menikmati waktunya dengan santai.
“Ayo kita buat lagi!” Dika menekankan suaranya.
Ken merangkak mendekati Dika yang bersiap menuang adonan ke dua belas ke dalam cetakan. “Tuan Muda. Tolong kirim aku ke Afrika Selatan saja, aku akan beternak jerapah saja. Aku lebih optimis bisa mengembang biakan jerapah daripada membuat serabi.”
Dika tersenyum licik. “Untuk kali ini aku tidak akan mengirimu ke Afrika Selatan.” Menggoyangkan jari telunjuknya.
“Lalu?” Kening Ken berkerut.
“Aku akan langsung mengirimu menemui malaikat Izrail!” ucap Dika dengan mata membulat sempurna. Tangannya sudah memegang spatulla. Dia melakukan gerakan menyayat leher dengan spatulla itu.
Ken menelan kasar salivanya. “Ha ... ha ... ha ....” Tertawa dramatis. “Aku akan melakukannya, Tuan Muda. Sekalipun harus mengulang sampai ratusan kali. Aku akan membuat serabi yang sempurna.” Ken sudah duduk di depan tungku dengan tatapan merana.
“Bagus.” Dika mengacungkan jempolnya. Ken tertawa dramatis lagi sembari menuang adonan serabi ke dalam cetakan. Aku mohon, Tuhan. Yang ini harus berhasil.
“Berapa menit kita harus menunggunya?” tanya Dika.
__ADS_1
“Lihat catatannya, Tuan Muda.” Ken masih fokus pada tungkunya.
“Di sini tertulis dua menit.”
“Apa sudah dua menit?” tanya Ken.
Dika melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Bagaimana, Tuan?”
“Jam tanganku mati.” Dika tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.
“Arrrg ...!” Ken menjatuhkan tubuhnya lagi di atas rumput untuk yang kedua kali. “Aku tidak tahan lagi. Bagaimana mungkin jam mahal bisa mati, Tuan Muda?” tanya Ken kesal.
“Hey, manusia saja bisa mati. Masa jam tidak bisa.”
Itu ‘kan hanya pembelaanmu saja, Tuan Muda. “Kita angkat saja.” Ken membaca do’a semoga kali ini hasilnya memuaskan.
“Tusuk! Tusuk!” ucap Dika tiba-tiba yang membuat Ken terperanjat.
“Apanya yang ditusuk?” Ken mengernyitkan keningnya. Kau pikir ini balon?
“Kau yang menulis di sini. Apa maksudmu dengan kata tusuk?” Dika menunjukan tulisan ‘tusuk’ yang ditulis Ken.
“Ah, aku baru ingat. Kita tusuk adonannya, kalau tidak menempel artinya sudah matang.” Ken memutar kepalanya mencari apa pun yang bisa dia gunakan untuk menusuk serabi. “Ketemu.” Dia langsung menusuk dengan garpu. “Lihat.” Menunjukan pada Dika.
Ken bergeser. Dika bersiap dengan spatullanya, dan ... “Ahhh ... gosong lagi. Kenapa kau mengajakku bicara, ini sudah lewat dari dua menit.” Dika memaki Ken. Yang dimaki hanya bisa meremas rumput dengan wajah putus asa.
Padahal ‘kan kau yang mengajakku bicara, apa hanya aku yang tersiksa di sini? Sebenarnya siapa suami Nyonya? Aku atau kau, Tuan Muda? batin Ken.
“Sekarang bagaimana?” Dika melempar serabi ke dua belas yang gosong. “Bahkan kucing saja tidak mau memakan ini, apa lagi putraku!” gerutunya, “Ini bukan serabi, tapi kayu bakar. Ahhh ....” Dika mengusap kasar wajahnya, permukaan tangannya yang hitam karena serabi berpindah ke wajah.
“Tuan, wajahmu hitam.” Ken memegangi perutnya untuk menahan tawa. Bisa bahaya jika Dika menyadari Ken sedang mengolok-oloknya.
Dika kesal, dia menggosok serabi yang gosong dengan telapak tangannya dan menempelkan di wajah Ken. “Rasakan itu. Seharusnya aku gosokan tungku ini ke wajahmu!"
“A-api, apinya mati!” Ken histeris. Dia bergerak cepat meniup tungku yang apinya nyaris padam, Ken sampai terbatuk.
“Ah, aku kesal sekali!” Dika bangun. Mengacak-acak rambutnya. “Sepertinya aku harus olahraga agar kemarahan di hatiku berkurang. Satu, dua, satu, dua.” Berlari di tempat.
“Bagaimana dengan apinya, Tuan?” Ken menunjuk tungku. “Sudah mati sempurna,” imbuhnya. Ken melempar sandal yang dikenakannya. “Aku frustrasi!”
Dika tidak peduli, dia tetap lari di tempat sampai bulir keringat memenuhi wajahnya yang tampan.
“Tuan, bagaimana dengan ini?” Ken menunjukan dua buah serabi yang mereka buat. “Sepertinya yang ini tidak terlalu gosong!”
“Kau ingin memberi itu untuk istri dan anakku?” Dika melotot.
“Tidak!”
__ADS_1
“Kau harus mencobanya biar kau tahu rasanya.” Mengambil paksa serabi dari tangan Ken. “Buka mulutmu!”
Ken menggeleng dengan tatapan nelangsa.
“Kubilang buka, atau kupanggilkan malaikat Izrail untuk menemuimu.”
Dengan sangat terpaksa Ken membuka mulutnya.
“Yang lebar.”
Ini sudah lebar. Kau mau selebar apa lagi? Apakah aku adalah anak tiri? Apakah kalian ayah dan ibu tiri yang kejam? Ken membuka mulutnya semakin lebar. Dika memasukan serabi gosong yang dibuatnya.
“Bagaimana?”
Ken menyetel ekspresi menderita. “Pahit, Tuan Muda,” katanya.
Bukannya kasihan, Dika malah tertawa terbahak-bahak.
“Apa kalian akan terus bercanda seperti itu? Kalau klaian bertingkah seperti anak kecil. Kapan serabi manisnya jadi?”
Ken segera bangun. Berdiri di samping Dika. “Sebentar lagi, Nyonya,” ucap Ken dan Dika bersamaan. Dika bahkan sampai membungkukkan tubuhnya mengikuti Ken.
Keduanya sudah duduk di depan tungku. Ken berhasil menyalakan api dengan usaha yang luar biasa.
“Tuan kenapa Anda ikut memanggil dengan sebutan Nyonya? Kau ‘kan suaminya.”
“Entahlah. Mungkin otakku sudah terlalu lelah, aku takut hanya karena serabi kita bisa masuk rumah sakit,” ucap Dika sembari menyeka keringat di wajahnya.
"Itu bisa saja terjadi, Tuan. Aku bahkan merasa kakiku melayang."
"Benar! Aku juga. Sepertinya kepalaku tidak menempel di leherku."
Ketika dua orang laki-laki sedang tersiksa Kinara justru sedang tertawa ketika membaca dongeng pinokio.
"Istriku begitu bahagia. Sementara kita sedang menderita," ucap Dika.
"Mungkin sudah suratan takdir, Tuan Muda." Ken menimpali.
"Sudah. Kita lanjutkan memasak lagi."
Dan hari minggu yang melelahkan itu berakhir setelah serabi ke 30 berhasil dibuat oleh Dika.
Bersambung....
.
.
Emak cuma minta kalian LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE. Emak kasih cerita, kalian kasih Vote
__ADS_1