
“Aku dengar berita tentang pertunangan Agra dan Al ...,” Carissa diam. Nampak berpikir untuk mengingat nama Allen. “Al siapa yah?”
“Allen.”
“Ah, benar. Allen. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau tidak jadi bercerai dengan Kinara? Kau rujuk? Kinara dan Agra berakhir?”
Dika tersenyum ketika Carissa memberondong pertanyaan padanya. “Kau salah, Carissa. Agra dan Kinara tidak berakhir. Mereka akan segera bersama. Bahkan aku yang menuntut cerai dari Kinara.”
Kaget. “Apa kau gila?!" Carissa melotot. Matanya membulat sempurna. “Bukankah terakhir kali kau yang ngotot tidak ingin bercerai darinya?!”
Dika tertawa ringan. Pertanyaan Carissa dan Marta kenapa bisa sama begitu. Sepertinya memang semua orang sedang menyalahkan Dika, tanpa tahu bagaimana pahitnya perjuangannya.
“Dan sekarang kau malah tersenyum! Wah, aku rasa otakmu sedang rusak."
Carissa menggelengkan kepala tidak percaya. Bagaimana laki-laki keras kepala yang sedang duduk di depannya terlihat pasrah begitu saja? Sebelumnya Dika tidak pernah mengalah, dia pantang menyerah. Namun, bagaimana orang sepertinya bisa berakhir menyedihkan begini? Dari kecil, Dika adalah orang yang selalu berjuang sampai akhir. Kenapa untuk urusan yang satu ini dia justru memilih mengalah dan bertindak bodoh?
Ada banyak pertanyaan yang menghampiri hati Carissa. Karena terlalu banyak dia sampai tidak jadi bertanya.
“Aku sudah berusaha sekuat tenaga Rissa, tapi memang inilah hasil akhirnya."
Dengan santainya Dika meneguk kopi hitam buatan Ken. Wajahnya yang datar tetap berusaha memperlihatkan senyum tipis. "Ada yang pernah mengatakan padaku jika 'menyerah bukan berarti kalah'."
"Kau sedang berusaha menjadi orang bijak?!"
Carissa menggeram kesal. Dia sudah mengalah, melepaskan mimpinya untuk menikah dengan Dika. Carissa melakukan itu semata-mata agar Dika dan Kinara bisa bersama. Lalu ini apa? Hasilnya sungguh mengecewakan.
Aku rasa kalian berdua terlalu egois, ada banyak orang yang berkorban untuk hubungan kalian, dan kalian malah menyerah! batin Carissa.
"Bagi sebagian orang yang melihat, mungkin aku adalah laki-laki yang lemah. Mudah menyerah, dan lebih gilanya lagi aku yang membantu agar Kinara dan Agra bersatu." Dika berdiri, membawa cangkir kopi ke dekat jendela yang menghadap langsung ke jalan.
"Itu benar, kan?! Kau memang gila!" Carissa masih marah. Dia tidak percaya, ternyata pengorbanannya berakhir sia-sia.
Dika tertawa kecil ketika mendengar Carissa mengataikan dirinya gila. Ken juga mengatakan hal yang sama, Marta juga. Apa artinya dia benar-benar gila?
"Aku hanya ingin dia bahagia, Rissa. Jika bukan denganku, setidaknya aku yang membuka jalan untuknya mencapai kebahagiaan."
Carissa nampak memijat pangkal hidungnya. Kenapa Dika berubah jadi melankolis begitu? Bahkan ketika bersama dirinya sekalipun, Dika tidak pernah seromantis ini. Carissa yakin jika perasaan Dika ke Kinara begitu besar. Namun, kenapa akhirnya harus begini?
"Jangan terlalu banyak berpikir, Rissa. Sakitmu bisa kambuh."
"Apa kau masih punya waktu untuk mencemaskan orang lain? Kau harus mengasihani dirimu sendiri, Dika!" Carissa sampai mengetuk-ngetuk meja karena terlalu kesal dengan sikap Dika. "Apa kau tidak berusaha mendekati Kinara?"
"Sudah, tetapi hati Kinara lebih keras dari batu. Lebih dalam dari lautan. Aku tidak memiliki kekuatan lebih untuk menyelami hatinya. Dia sendiri yang membentengi hatinya. Kinara selalu menolak apa pun yang ingin aku buktikan." Dika menarik napas panjang. "Lalu aku harus apa? Aku tidak sampai hati untuk memaksanya agar tetap bersamaku."
Ya Tuhan, kenapa keadaan jadi serumit ini? Apa yang salah dengan mereka berdua? batin Carissa.
"Mau bagaimana lagi, ini memang jalan yang harus aku lalui." Kembali duduk.
“Lalu ... jika kau dan Kinara tetap bercerai, kenapa Agra justru bertunangan dengan Allen? Apa artinya Kinara tidak memilih kalian berdua?” Carissa menebak.
__ADS_1
“Kau salah lagi.” Menggoyangkan jari telunjuknya.
Oh, Tuhan ... kenapa tingkah laki-laki ini jadi berubah? Apa dia masih Dika yang sama? batin Carissa.
Carissa masih menunggu jawaban dari Dika. Setelah menyesap habis kopi hitamnya dia baru membuka mulutnya. "Pertunangan Agra dan Allen akan dibatalkan. Itu yang akan terjadi. Agra dan Kinara harus bersama, aku sendiri yang akan memastikannya."
Kaget. "Batal?! Yang benar saja, baru beberapa hari yang lalu berita pertunangan mereka tersebar ke seluruh pelosok negri."
Dika mengangguk. "Emm ... batal."
"Apa ...." Carissa menggelengkan kepala. Berusaha meyakinkan dirinya jika dugaannya tidak benar. "Apa kau yang melakukannya? Kau mengancam keluarga Agra?"
Dika mengangguk.
Tanpa dijelaskan lebih rinci Carissa bisa menarik kesimpulan dari kalimat Dika.
Ya Tuhan ... lalu bagaimana dengan nasib gadis itu? Gagal bertunangan, padahal hampir seluruh masyarakat tahu berita pertuanangannya. Ah, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa rasa malu yang ditanggungnya, batin Carissa.
"Apa yang kau pikirkan?"
Carissa tersadar dari lamunannya begitu mendengr suara Dika.
"Kenapa malah melamun?"
Carissa menundukan kepala. Kedua jemarinya saling merem*s. Bahkan kukunya saling menancap satu sama lain. "Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Allen. Jika aku jadi dia, aku mungkin akan bersembunyi seumur hidupku."
Dika mengerutkan dahi, alisnya sampai bertaut. Tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan Carissa.
Carissa bisa merasakan ketakutan yang akan dialami Allen jika pertuanangannya dan Agra dibatalkan. Ini lebih besar dari yang dialaminya.
"Aku akan membungkamnya. Seluruh awak media."
"Sampai kapan, Dika? Seumur hidupmu? Apa kau yakin bisa mengatasi semuanya? Serapat apa pun kau sembunyikan bangkai, pada akhirnya baunya akan tercium juga." Carissa menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Harga diri seorang wanita tidak boleh hancur! Jika sampai hancur, hidupnya juga akan hancur."
Deg ...!
Dika bangun dengan tergesa. Meraih gagang telepon untuk menghubungi Ken. Tak berapa lama Ken datang.
"Ada apa Tuan Muda?" Sudah berdiri di depan Dika.
"Kapan jumpa pers keluarga Grissham dan Caitlin dilaksanakan?"
Ken melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jika tidak ada kendala seharusnya sekitar tiga jam lagi, Tuan Muda."
"Berapa awak media yang diundang."
Ken membuka handphonen untuk memeriksa. "Hampir seluruh media, baik televisi, cetak, maupun jejaring sosial."
Oh, Tuhan ... beban apa yang Kau titipkan di pundakku? Kenapa begitu sulit untukku memberi Kinara kebahagiaan? Aku baru bisa bernapas lega, dan sekarang aku harus menjaga nama baik gadis lain? batin Dik.
__ADS_1
Brak! Menggebrak meja. Dika mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya.
"Ada apa Tuan Muda?" Ken memberanikan diri untuk bertanya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan acara jumpa pers itu. pikir Ken.
"Apa yang harus aku lukakan, Ken? Arrrgh ...!"
Carissa terlihat bingung. Dia merasa bersalah sudah membuat hati Dika bimbang, karena membandingkan nasibnya dan Allen. "A ... aku minta maaf, Dika. Aku sungguh tidak bermaksud membuatmu bingung." Sudah berdiri di dekat Ken. Tangannya meremas tas yang melingkar di tubuhnya. "Aku spontan mengatakannya." Kepalanya menunduk.
Melihat ekspresi Carissa, sesegera mungkin Dika mengatur ekspresi wajahnya. Dia merapikan tatanan rambutnya. Menampilkan senyum lebar dan berjalan mendekati Carissa.
"Ini bukan salahmu, Carissa. Percayalah. Aku hanya panik, tidak ada hubungannya denganmu."
Carissa mengangguk. Setidaknya ucapan Dika bisa membuatnya lebih tenang. Setelah perasaannya tenang Carissa memilih untuk pamit. Lagi pula ada banyak hal yang harus Dika kerjakan.
***
Selepas Carissa pergi. Dika terus menghubungi Agra, tetapi nomor teleponnya tidak aktif. Ken juga sangat sibuk, dia sedang melobby semua media untuk menunda jam jumpa pers. Itu keputusan Dika. Dika belum bisa memastikan tindakan apa yang harus dia ambil. Menunda waktu jumpa pers adalah pilihan terbaiik. Untuk saat ini.
"Kennn!" Dika berteriak dari dalam ruangan. Beruntung Ken mendengar. Dia segera berlari dan menghampiri Dika.
"Bagaimana?"
Ken mengangguk. "Kita hanya bisa menunda sampai jam 5 sore, Tuan Muda. Selebihnya kita harus memutuskan apakah jumpa pers akan berlanjut atau tidak."
"Bagaimana dengan Roy dan keluarga Caitlin?"
"Mereka masih menunggu keputusan kita, Tuan Muda. Mereka tidak akan berani mengambil tindakan apa pun."
Tuhan, tolong bantu aku. Apa yang harus aku lakukan? Melanjutkan pertunangan Agra dan Allen akan membuat Kinara terluka, tetapi membatalkannya pun akan membuat harg diri Allen hancur. Padahal Allen tidak bersalah dalam hal ini, dia hanya korban, batin Dika.
"Apa yang harus aku lakukan, Ken?"
Entah sudah berapa kali kalimat itu Dika ucapkan.
"Aku hanya ingin membuat Kinara bahagia, tetapi aku juga tidak mungkin menghancurkan harga diri wanita lain. Cukup sekali aku melakukan kebodohan itu."
Dika teringat bagaimana jahatnya dia, ketika dia menghancurkan harga diri Kinara. Menyebut Kinara sebagai simpanan dihadapan banyak orang adalah hal yang sangat dia sesali. Hingga detik ini.
Kinara, berat sekali jalan yang harus aku lalui agar jalanmu terbuka. Apakah aku masih belum layak untuk dicintai? Aku lelah dan nyaris menyerah, tetapi tidak ada seorangpun yang mau berbagi denganku. Bahkan kau pun tidak. Jika bukan karena dirimu, beban berat ini tidak akan rela kupikul. Namun, karena itu dirimu. Aku ikhlas, batin Dika.
Bersambung...
.
.
😭😭 Sabar ya bang Dika 😭
.
__ADS_1
.
Like, Komentar, Vote yang banyak. Masuk 10 besar, maleman emak up lagi. Nemenin malam minggu kaleeean 🤣