
Agra sedang memandangi kolam ikan yang berada di samping rumahnya. Rumah besar dengan parabot mewah dan mahal itu tidak bisa mengisi kekosongan di hatinya. Agra hanya termenung, duduk di ujung kolam. Matanya bergerak ke sana kemari mengikuti gerakan ikan di depanya.
Ikan-ikan itu sudah kenyang, jadwal makan mereka teratur dan tidak pernah sekalipun terlewat.
Agra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kepalanya menunduk dalam sampai suara seorang wanita mengagetkannya.
"Hai Agra." Allen menepuk bahu Agra dari belakang.
Agra tekesiap, dia berjingkat dan bergeser menjauh dari Allen.
"Kenapa? Seperti lihat setan saja." Allen menundukan kepala. "Aku datang ke sini karena diundang Tante," ucapnya memberi tahu Agra tentang alasan keberadaannya, bahkan sebelum Agra bertanya.
"Acara arisan lagi?" Agra menebak dengan kerutan di keningnya.
Ibu Allen dan Ibu Agra memang sudah akrab sejak dulu. Pasalnya mereka berdua adalah teman satu universitas. Dan mereka sering mengadakan acara arisan atau berlibur bersama.
"Bukan." Allen menggelengkan kepala. "Katanya kali ini lebih penting dari arisan, tapi aku sendiri tidak tahu urusan apa yang mereka maksud." Allen tertawa senang.
"Kau ... terlihat begitu bahagia?" Agra tersenyum sarkas.
Allen mengigit bibir bawahnya. "Apa aku tidak boleh terlihat bahagia?"
Aku hanya senang karena bisa bertemu denganmu, Agra. Aku tidak peduli mau itu acara arisan atau liburan, asalkan bisa melihat wajahmu. Aku bahagia, batin Allen.
"Tentu saja kau boleh bahagia, itu 'kan hak siapa pun. Termasuk dirimu." Agra tidak memberikan tanggapan yang berlebihan. Namun, hatinya tetap bertanya-tanya.
Memangnya apa lagi yang lebih penting dari arisan? Apa rencana jalan-jalan? batin Agra.
"Emmm ... karena aku tidak mengerti tentang obrolan mereka. Apa aku boleh tetap di sini? Setidaknya sampai acara Mamah dan Tante selesai." Allen bersuara rendah, berusaha mengambil simpati Agra.
“Terserah kau saja, Len. Lagi pula aku tidak peduli. Kau di sini atau di dalam, itu bukan urusanku.” Agra berjalan menjauh mendekati kursi panjang yang langsung menghadap kolam. Dia merebahkan tubuh sembari menutup matanya dengan lengan tangan.
“Kenapa kau tidak pernah melihatku ke arahku, Agra?” tanya Allen begitu dia duduk di kursi yang satunya. "Apalagi yang kurang dariku?"
“Melihatmu bagaimana?” Agra balik bertanya.
“Kau tidak usah pura-pura, jelas-jelas kau tahu tentang perasaanku. Kau tahu aku mencintaimu, tetapi kau selalu menghindar. Bahkan tidak pernah menganggapku ada.”
“Kau ‘kan sudah tahu jika aku tidak pernah tertarik padamu, Allen."
“Kenapa?”
“Entah.”
“Karena aku tidak sebaik Kinara?”
__ADS_1
“Mungkin itu salah satu alasannya. Namun, yang pasti karena hatiku tidak pernah mersakan sesuatu yang spesial ketika dekat denganmu. Hatiku tidak pernah berdebar ketika berada di sampingmu."
"Itu karena kau tidak pernah mencobanya!" Allen berteriak.
"Mencobanya?" tanya Agra tanpa mengubah posisi.
"Iya. Kau tidak pernah mencoba membuka hatimu untukku."
Sekali lagi Agra tersenyum sinis. "Kau pikir hubungan itu seperti makanan? Coba-coba, lalu jika tidak sesuai selera tinggal buang."
"Aku tidak masalah jika harus menjadi salah satu dari mereka! Yang kau tinggalkan setelah kau bosan. Kenapa? Kenapa kau bisa bermain dengan banyak wanita, tetapi tidak denganku."
"Kenapa?" Agra bergumam, "Benar juga. Bukankah seharusnya kau senang karena tidak menjadi wanita yang aku campakan?" Agra memindahkan tangan dari wajahnya ke lengan kursi, lalu menoleh dan berucap, "Apa kau ingin seperti mereka. Setelah aku puas bermain, mereka terlihat seperti orang asing untukku."
"Apa aku terlihat menyedihkan di matamu?" Allen menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku hanya ingin memilikimu, merasakan dicintai olehmu. Aku tidak pernah membuka hatiku untuk laki-laki lain."
Agra diam untuk beberapa saat.
Meskipun Allen dan Agra sudah berteman sejak lama. Namun, entah karena alasan apa Agra tidak punya keinginan untuk mengencani Allen. Agra selalu menolak Allen, wanita cantik yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Atau karena tidak ingin menjadikan Allen sebagai salah satu bekasnya.
Pada dasarnya Agra sendiri hanya bermain-main dengan banyak wanita, menjadikannya sebagai kekasih. Tidak lebih! Bahkan dia tidak pernah sekalipun meniduri salah satu kekasihnya.
“Lalu, kenapa harus Kinara? Kenapa harus wanita yang baru datang tapi sudah membuatmu tergila-gila? Kenapa bukan aku?"
Agra tersadar dari lamunannya begitu nama Kinara disebut.
Mendengar kalimat yang diucapkan Agra mata Allen langsung berkaca-kaca.
“Kenapa kau harus sejahat ini padaku?” bulir bening menetes dari sudut matanya dan berakhir di punggung tangan Allen yang gemetar.
“Kenapa kau harus sekeras kepala itu mengejarku?” Agra malah balik bertanya dan kalimat itu jelas membuat hati Allen semakin sakit.
Allen diam, hanya terdengar tarikan napas yang cukup berat. Tiba-tiba terdengar suara derap langkah mendekat dan langsung menghampiri Agra. “Tuan.” Nathan berjongkok di samping tubuh Agra.
“Kenapa?”
Raut wajah Nathan terlihat serius, itu artinya ada yang tidak beres. Agra takut rencana bisnisnya untuk mengamankan 10 % saham keluarga Grissham itu berantakan.
"Apa soal saham?" tanya Agra cemas.
Nathan langsung menggeleng. "10% saham itu sudah menjadi milik Tuan dan sudah saya amankan," ucap Nathan membuat Agra menghela napas lega.
Sejak berencana serius dengan Kinara, dia mulai berencana memasuki dunia bisnis keluarga Grissham. Meski tanpa embel-embel warisan dari orang tuanya. Agra tetap bisa masuk ke dalam perusahaan. Kenyataan jika Agra memiliki 10% saham pemberian kakeknya bisa membuat Agra bernapas lega.
"Lalu?"
__ADS_1
Nathan melirik Allen, lalu mendekat dan berbisik di telinga Agra.
“Allen ...!” Tiba-tiba Agra berteriak begitu Nathan selesai berbisik. “Sebenarnya apa tujuanmu datang ke rumahku?!”
Allen gelagapan. “De ... demi Tuhan aku tidak tahu apa pun. Mamah hanya memintaku untuk ikut ke rumahmu karena Tante yang mengundang kami.”
“Aku tidak suka dibohongi. Katakan yang sebenarnya, Allen. Apa yang sedang kau dan Ibumu rencanakan?”
"Demi Tuhan aku tidak tahu." Allen menangis sesenggukan. Meremas ujung kaus rajut yang dikenakannya.
Agra sudah berdiri di depan Allen. "Jangan pura-pura, Allen. Kau tadi terlihat senang, bukan? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?"
"Sungguh, Agra. Aku tidak tahu apa-apa, aku senang karena aku ingin bertemu denganmu. Aku tidak tahu tujuan Tante mengundang kami ke sini itu apa." Allen bergerak mundur dan menjatuhkan tubuhnya di lantai. "Sebenci apa pun kau padaku, aku tetap mencintaimu. Dari dulu. Aku tidak pernah berbuat jahat padamu. Aku sungguh tidak tahu. Sebenarnya kabar apa yang dibawa Nathan?" Allen terisak.
"Arrrgggh ...!" Agra berteriak sembari mengusap kasar wajahnya.
🍃Rumah Kinara🍃
Kinara sedang menikmati semangkuk bubur kacang hijau sembari menonton televisi. Akhir-akhir ini Kinara suka menonton drama keluarga yang sedang booming di salah satu stasiun televisi. Drama yang berjudul 'Suara Hati Suami' itu berhasil menarik perhatian Kinara. Drama yang 90 % bercerita tentang suami yang tersakiti, diselingkuhi, atau direbut hartanya, lalu berakhir dengan si istri yang kena Azab.
Ketika sedang asik menyendok bubur ditemani soundtrack lagu yang menyayat hati tiba-tiba handphonenya berdering.
"Hallo, Sa," sambutnya begitu sambungan telepon itu terhubung.
Di seberang sana Alisa nampak menarik napas dalam lalu berucap, "Sudah cek berita kampus sore ini?"
"Eh berita kampus?" Kinara mengecilkan suara televisi. "Berita tentang apa? Aku 'kan sedang cuti."
"Cek saja dulu," ucap Alisa membuat Kinara penasaran.
"Ok, aku cek. Sudah dulu, yah. Bye." Kinara segera mematikan sambungan telepon dan masuk ke dalam forum resmi milik kampus Royal.
Ketika melihat gambar dan deretan kata di forum kampusnya, mulut Kinara menganga. Seketika handphone itu terjatuh ke lantai, bulir bening tiba-tiba meluncur dari kelopak matanya.
Kinara membungkuk dan meraih kembali handphonenya dengan tangan bergetar. Degup jantungnya berpacu lebih cepat. Berkali-kali lipat dari biasanya. Kinara mulai membaca ulang kalimat di sana. Takut jika matanya bermasalah dan salah baca. Namun, yang dilihatnya saat ini adalah sebuah kenyataan. "Ini ...."
Bersambung....
.
.
Cieee gantung cieee, itu lanjutannya. "Ini ibu Budi" 😜
.
__ADS_1
.
Vote yang kenceng. Masuk 10besar emak up lagi malemnya 😊🤣 Berusaha keraslah nakanak, jika tidak kalian akan mati penasaran 😜