
Pagi itu hujan masih belum reda, setelah drama pelukan yang cukup dramatis yang terjadi di tempat tidak umum yaitu pemakaman. Ah, sungguh luar biasa. Mereka memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Mirna. Menunda jadwal kepulangan ke kota.
Tin tin ....
Ken membunyikan klakson mobil dengan penuh semangat. Di tengah hujan yang sangat lebat itu Dika segera keluar dari dalam mobil bahkan sebelum Ken sempat membukakan pintu mobil. “Tidak apa-apa, Ken. Aku saja, dia istriku.” Begitu kalimat yang Dika ucapkan diikuti senyum lebar.
“Silakan keluar Istriku.” Membuka pintu mobil sembari membungkukkan setengah badan. Seolah Kinara adalah seorang putri raja yang sedang dihormati.
Kinara hanya bisa tersenyum dengan kedua pipi bersemu merah. “Seharusnya kau tidak perlu melakukannya.”
“Sudah kewajibanku untuk melindungi istriku dari hujan.” Mengulurkan tangan.
Kinara menerima uluran tangan Dika, lalu menurunkan kakinya perlahan. Ken sudah berdiri di samping Dika untuk segera memayungi Kinara. Namun, tiba-tiba Dika berjongkok.
“Tunggu, kau sedang apa?” Kinara menarik kembali kakinya ke dalam mobil.
“Aku rasa tanahnya licin, aku takut kau jatuh. Benar ‘kan Ken ini licin?” Dika mendongakan kepalanya sembari menaikan satu alisnya.
Ini bukan tanah, Tuan Muda. Ini aspal, sejak kapan aspal licin? “Tentu saja, auuuh, tanahnya benar-benar licin.” Ken menjawab sembari menggosok-gosokan kakinya ke aspal seolah aspal itu memang licin, lalu mengusap wajahnya yang basah karena air hujan. Payung yang dia pegang khusus untuk melindungi Dika dan Kinara.
“Kau dengar yang diucapkan Ken? Tanahnya licin.” Dika manggut-manggut membenarkan pendapatnya sendiri.
“Ini bukan tanah, Suamiku. Tapi aspal ... tidak mungkin licin.” Kinara sampai menekankan kata ‘Suamiku’ agar Dika mengerti.
“Tetap saja, aku takut istriku jatuh.”
“La-lalu? Apa yang ingin kau lakukan?”
“Kemarilah, mendekat padaku. Ayolah, aku lelah terus berjongkok seperti ini.” Dika melambaikan tangannya.
Kan tidak ada yang memintamu untuk berjongkok juga, batin Kinara.
Perlahan Kinara mendekati Dika. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan, sih?
Begitu tubuh Kinara sudah berada dalam jangkaun tangannya. Dika langsung menyelipkan tangannya di kaki dan bahu Kinara. “Biar aku gendong sampai ke dalam rumah.”
“Tunggu ... aku bisa jalan sendiri.”
“Sttt ....” Dika menggelengkan kepala. “Jalanan licin.” Entah untuk keberapa kalinya Dika membenarkan fantasinya sendiri tentang jalanan yang licin.
Sudah kubilang ini tidak licin, batin Kinara.
Ken hanya tersenyum sembari berdiri di belakang untuk memayungi Dika yang sedang menggendong Kinara.
Mirna dan Amanda heboh sendiri melihat kemesraan Kinara dan Dika. Mereka sampai mengacungkan kedua jempol pada Dika. Kinara yang menahan malu hanya bisa membenamkan wajahnya di dalam dada bidang suaminya. Aku malu setengah mati, Tuhan, kenapa suamiku keras kepala begini?
Mirna sudah berdiri di depan pintu sembari menyiapkan handuk kering, sementara Amanda sudah meletakan tiga gelas teh hangat di atas meja. Dia memilih kembali ke dapur untuk membuat singkong goreng. Hujan-hujan begini memang paling nikmat menikmati segelas teh hangat dan singkong goreng.
“Masya Allah, ini bagaimana ceritanya kalian bisa kehujanan?” Mirna menyodorkan handuk pada Ken dan Dika yang sudah dalam keadaan basah kuyup, sedangkan Kinara sendiri tidak terlalu basah.
“Sebaiknya kalian langsung mandi. Ganti baju dan kita ngobrol, ada banyak hal yang ingin ibu tanyakan pada kalian.” Mirna mendorong Kinara untuk mandi lebih dulu.
***
“Serius? Jadi Kakak sama Mas Dika sudah rujuk?” Amanda berlari ke ruang keluarga sembari membawa spatulla begitu mendengar pembicaraan Ibunya dan Ken perihal rujuknya Kinara dan Dika.
__ADS_1
“Iya, Sayang.” Dika keluar dari dalam kamar. Menghampiri Amanda dan mengelus puncak kepala Amanda. “Selesaikan dulu goreng singkongnya, nanti baru ngobrol lagi.”
“Hehehe ... iya, Mas. Itu baru bagus, Mas. Manda bilang juga apa, usaha tidak akan menghianati hasil.”
“Kapan Manda bilang seperti itu?” Dika menggaruk kepalanya.
“Barusan.” Manda tertawa renyah sembari berlalu, kembali ke dapur. Sementara Ken yang melihat tingkah absurd Amanda semakin jatuh hati padanya.
“Dasar, Bocah.” Dika tertawa.
“Bu, bisa bantu Kinar tidak?” Kinara berteriak dari dalam kamarnya.
Kamar Kinara dan ruang keluarga memang berdekatan, jadi ketika Kinara berteriak orang yang sedang berada di ruang keluarga bisa mendengar dengan jelas.
“Bantu apa? Ibu lagi repot.” Mirna berteriak sembari menahan tawa. Padahal dia tidak sibuk. Sepertinya Mirna bisa menebak bantuan seperti apa yang dibutuhkan Kinara.
“Ini loh, ritsletingnya susah.” Kinara berteriak tanpa tahu di ruang keluarga ada Dika dan Ken.
Mirna tersenyum licik, benar apa yang dia kira. Dari Kecil Kinara memang sedikit kesulitan menggunakan baju dengan ritsleting belakang. Dia sering meminta bantuan Mirna ataupun Amanda untuk menarik retsleting itu.
“Yasudah.” Mirna melambaikan tangannya, melakukan gerakan isyarat agar Dika yang masuk ke dalam kamar Kinara.
Dika tersipu malu sembari memalingkan wajahnya, tetapi siapa juga yang mau menolak kesempatan langka ini? Dadanya berdebar hebat begitu hendak menekan gagang pintu. Kenapa? Ada apa dengan jantungu? Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Klak! Pintu kamar terbuka. Kinara nampak berdiri membelakangi pintu, begitu Dika masuk dia sudah disambut dengan punggung Kinara yang terekspos setengahnya karena ritsletingnya belum tertutup. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan tergerai. Beberapa helai masih meneteskan air dari ujung rambutnya. Dika berjalan mendekati Kinara sembari menelan salivanya.
Dia meletakan kedua tangannya yang gemetar di ujung pengait ritsleting. Disibaknya rambut Kinara ke sisi Kiri sampai menampakan leher jenjangnya. Dika menelan saliva lagi, entahlah sudah berapa kali dia menelan salivanya.
Aneh, kenapa tangan Ibu terasa berbeda, batin Kinar.
“Bu, cepat.” Perintahnya. Kinara tidak tahu yang berdiri di belakangnya bukan Mirna melainkan Dika, padahal dia sudah curiga.
Kinara terkejut, dia melonjak dan langsung memutar tubuhnya. “Dikaaaa!” Teriakannya tertahan ketika melihat Dika sudah berdiri di depannya sembari tersenyum licik. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Kinara berjalan mundur, tetapi kalah cepat dengan gerakan tangan Dika yang sudah mengunci pinggang Kinara.
“Lepaskan aku.” Masih berusaha memberontak. “Bagaimana jika ada yang melihatnya.”
“Hey, ini di dalam kamar. Siapa yang berani masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu? Lagi pula, apa kau lupa. Aku ini ‘kan suamimu, Sayang.”
Aku tahu kau suamiku, tetapi aku belum terbiasa menerima perlakuan semacam suami istri begini. “Iya, aku tidak lupa, tapi ada Ibu dan Asistenmu di luar.”
“Memangnya kenapa? Mereka juga akan mengerti, kita ‘kan suami istri..” Bukannya melepaskan Dika malah mempererat pelukannya.
Bisakah kau berhenti mengatakan kalimat ‘Suami Istri’ yang membuat jantungku berdebar begini? Batin Kinara.
“Aku sangat merindukanmu, Istriku. Bisakah aku memelukmu seharian ini?”
I-istriku? Kenapa aku merinding mendengar kalimat itu setelah diucapkan olehnya? “Tidak bisa!” Menggeliat. “Ini rumah Ibu.”
“Berarti kalau di rumah kita bisa? Ayolah kita pulang.”
Kinara memijat pelipisnya.
“Sebentar saja, tunggu sebentar.” Dika memutar tubuh Kinara agar kembali membelakanginya lalu dia memeluk Kinara dari belakang. Menyandarkan kepalanya di perpotongan bahu Kinara. “Kau harum sekali, istriku.” Mencium leher lagi. Semua ini gara-gara ritsleting sialan itu! Aku sampai tidak bisa menahan diri. Kalau saja aku tidak melihat punggungnya yang terbuka.
“Ok, cukup. Kita harus keluar sekarang.” Mencoba melepaskan pelukan Dika.
__ADS_1
“Tapi aku masih ingin berduaan denganmu, istriiiku ...,”
Apa tadi? Kenapa suaranya terdengar seperti itu? Apa ini mode manja ala Tuan Muda? Kenapa terdengar menggelikan di telingaku, batin Kinara.
“Tidak bisa. Kita harus segera keluar, ingat di rumah ini ada Amanda yang masih polos. Kau tidak ingat kejadian di kebun? Dia sampai uring-uringan dan memarahiku, katanya mata polosnya sudah ternoda.” Kinara mencoba berlindung di balik nama Amanda.
Bayangan gadis kecil dengan senyum lebarnya yang berlari malu ketika kejadian di kebun berkelebat di kepala Dika. “Baiklah, ayo keluar.”
“Kau keluar dulu. Aku harus mengeringkan rambut sebelum memakai kerudung.”
“Tidak mau!”
Apa lagi? Kenapa tidak mau?
“Aku mau membantumu mengeringkan rambut.” Langsung duduk di tepi ranjang.
“Tidak ...,” Kinara memutus kalimatnya begitu melihat Dika sudah menepuk ruang kosong di sampingnya. Sudahlah, berkata tidak usah pun akan percuma.
“Mana?” Dika menyodorkan tangannya.
“Apa?”
“Hairdrayer.” Dika sudah bergerak ke tengah ranjang. “Kau duduk di situ.” Menunjuk ujung ranjang.
“Tidak ada.”
“Ti-tidak ada?”
Kinara mengangguk.
“Lalu bagaimana aku bisa membantumu mengeringkan rambut?”
“Tuh.” Kinara menunjuk sebuah kipas angin berdiri yang ada di samping ranjang.
“Kipas angin? Cara mengeringkan rambut model apa ini?” Dika mengusap wajahnya.
“Yah, memang begitu caraku mengeringkan rambut.”
“Tunggu. Aku akan meminta Ken untuk menghubungi orang rumah. aku akan menyiapkan semua kebutuhanmu. Termasuk hairdrayer.” Bagaimana aku mengeringkan rambutmu hanya dengan kipas angin?
Kinara hanya bisa diam. Dilarang pun akan percuma, dia justru tersenyum bahagia. Sepertinya benar apa yang Dika katakan dulu, dia belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya Kinara dan Dika pun sudah keluar dari dalam kamar. Keduanya di sambut oleh Mirna, Ken, dan Amanda yang langsung menatap mereka dengan tatapan
mencurigakan. Mereka meletakan singkong goreng yang ada di tangan mereka ke piring, lalu mengacungkan kedua jempol mereka secara bersamaan. Seolah ingin berkata ‘Ciiie ciie ....’ tapi tidak bisa diucapkan. Namun, semua itu tergambar jelas di wajah mereka.
Bersambung....
.
.
Bang, keringin rambut emak juga dong, Bang.... 😅
.
__ADS_1
.
Yuk mana jempolnya, saatnya kalian bayar emak pake KLIK LIKE BAB INI, TINGGALKAN KOMENTAR POSITIF, BAGI VOTE (berapa pun vote kalian emak bahagia), DAN YANG PUNYA KOIN BOLEH BAGI KOINNYA BUAT EMAK.