
“Apa aku akan peduli jika kakimu berdarah atau tidak?” Dika menyeringai puas. “Jika kau tidak kuat dengan sikapku, kau bisa angkat kaki dari mansion ini.”
Kinara melenguh panjang lalu bangkit dan merapikan pakaiannya yang kusut. “Bermimpilah sepuas yang kau bisa, Dika. Yang pasti aku tidak akan menyerah dan membuatmu tersenyum bahagia bersama wanita itu.” Kinara berlalu pergi meninggalkan Dika, dia menghilang di balik pintu kamar.
Dika mengepalkan tangannya dan menghantam tembok kamarnya. “Sial, harus dengan cara apa agar gadis itu menyerah dengan pernikahan ini."
Begitu sampai di dalam kamar, Kinara menyapu bersih air mata yang mengalir di pipinya. Bukan karena rasa perih pada jari kakinya, lebih dari itu karena Dika tidak menghargainya sedikit pun sebagai seorang istri.
“Ayah, apa kau tahu? Ternyata tingginya pendidikan seseorang tidak menjamin tinggi pula kebaikkan hatinya.
Bukti yang paling nyata adalah menantu yang ayah pilihkan untukku, dia tidak pernah menghargai aku sebagai istrinya sedikit pun. Apa ayah bahagia dengan pernikahanku? Jika ayah bahagia, maka aku pun ikut bahagia. Hikss.. hiks...” Kinara mengeluh diiringi isak tangis.
Dia tahu pasti, mengeluh tidak akan memberi jalan keluar.
Tetapi mengeluarkan unek-unek di hatinya bisa mengurangi beban berat yang diberikan Dika.
“Coba ayah lihat, dia bahkan menendang kakiku hanya untuk memintaku membersihkan kamarnya. Apa dia tidak punya mulut untuk membangunkan aku? Atau tidak punya tangan untuk mengguncang tubuhku?
Mengapa harus menendang kakiku? Hiks...” Kinar semakin terisak, dia kembali menyapu air mata yang megalir tanpa bisa dikompromi.
“Ayah lihat, aku bahkan sedang memungut pakaian kotornya.
Entah aku ini istrinya atau pelayannya. Bahkan kamar seorang pelayan mungkin lebih besar dari kamarku sekarang.” Kinara mulai memungut satu persatu pakaian kotor yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam keranjang baju.
Kinara mulai membersihkan kasur, merapikan beberapa buku yang berserakan di atas lantai dan mengembalikan ke rak buku yang ada di kamar itu.
Kakinya terus terayun, matanya waspada mencari apa pun yang bisa dia rapikan. Kali ini pandangan matanya mulai tertuju pada bagian tembok, ada banyak potret wanita di kamar Dika.
Di atas nakas, di rak buku, dan di beberapa bagian lainnya. Dari yang memiliki ukuran paling besar, sedang, sampai foto berukuran kecil pun ada di dalam kamarnya. Seketika pandangan mata Kinara mulai kabur, dia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Kinar kembali terisak,
kali ini bukan hanya air mata yang tidak bisa dikompromi, tetapi dadanya juga terasa sesak.
Kinara menekuk kedua kakinya, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di antara kedua tempurung kakinya. Kali ini bukan untuk terlelap tidur, melainkan untuk menangis tersedu menumpahkan segala lara yang dilukiskan Dika di hatinya.
__ADS_1
“Bagaimana mungkin ada laki-laki yang begitu kejam sepertinya, Tuhan? Dia tidak hanya menyimpan nama wanita lain di hatinya, tetapi memasang potret wanita lain di kamarnya. Argghhhh.. hikss...” Kinar memukulkan tangannya ke bagian dada, melakukan berulang berharap rasa sakit di hatinya bisa terobati.
“Ah... sakit sekali.
Sampai hati kau memintaku membersihkan kamarmu, Dika. Sampai hati kau membuat aku melihat bagaimana suamiku memasang potret wanita lain di kamarnya, sementara tidak ada satu pun wajahku di sini. Sampai hati,
kau benar-benar manusia yang tidak memiliki nurani, Dika. Hiksss...” Kinara membeku, sepersekian menita ia kembali mengusap air matanya, mengatur ritme napasnya. Kinar bangkit dari lantai, melangkah mendekati kaca berukuran besar yang menampakkan seluruh pantulan tubuhnya, Kinara fokus pada bagian matanya.
Setelah memastikan wajahnya tidak lagi memperlihatkan kemuraman, Kinara melangkah ke arah pintu. Menekan handle pintu,
lalu keluar dari dalam kamar untuk mencari kemoceng dan sapu. Tergesa Kinara menuruni anak tangga. Matanya berkeliling mencari siapa pun yang dijumpainya.
“Ah, bibi Ane.” Kinara berlari menghampiri bibi Ane yang kebetulan sedang membersihkan ruang keluarga.
“Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” Bibi Ane tersenyum dan tubuhnya setengah membungkuk.
“Di mana kemoceng dan sapu, aku membutuhkannya.” Kinara tidak ingin basa-basi, lebih cepat keluar dari kamar Dika akan lebih baik untuknya.
“Aku membutuhkan sapu dan kemoceng, ada?” Kinara mengulangi permintaannya, kali ini bibi Ane tidak salah dengar. Kinara benar-benar memintanya untuk membawakan sapu dan kemoceng, dua benda yang tidak boleh disentuh oleh Nyonya muda di rumah ini.
“Tetapi, Nyonya...” Bibi Ane masih ragu untuk memberikan dua benda itu.
“Ini perintah dari, tuanmu. Tolong bawakan kemoceng dan sapu untukku.” Senjata terakhir yang bisa digunakan Kinara hanyalah nama Dika.
Sesuai perkiraan, begitu mendengar kalimat terakhir dari Kinara, bibi Ane hanya mangangguk dan tergesa mengambil dua benda yang diminta Kinara.
Sepersekian detik bibi Ane sudah kembali dengan kemoceng di tangan kirinya dan sapu di tangan kanannya.
“Ini barang yang anda minta, nyonya.” Bibi Ane mengulurkan dua benda itu dengan sangat sopan. Meski hatinya dipenuhi tanda tanya besar, namun dirinya yang hanya seorang pengurus rumah tidak memiliki keberanian yang cukup untuk bertanya lebih jauh pada Kinara.
“Terima kasih, Bi.” Begitu kemoceng dan sapu berada di tangannya, Kinara kembali memacu langkah sedikit berlari menyusuri ruangan kemudian menaikki anak tangga sampai tubuhnya kembali menghilang di dalam kamar Dika.
“Aku tidak peduli dengan potret wanita lain di kamar suamiku, aku hanya perlu menunduk dan tidak melihatnya. Aku harus segera membersihkan kamar ini dan keluar dari dalam ruangan terkutuk ini.” Kinara menggerutu,
__ADS_1
sementara tangannya mulai sibuk menyapu lantai. Namun matanya kembali melihat foto wanita itu.
“Haaah...”
Kinara melenguh panjang. “Aku tidak bisa melarikan diri seperti seorang pengecut, aku harus bisa menghadapi kenyataan yang ada di depan mataku.” Kinara mulai berjalan mendekati foto-foto yang tergantung rapi di tembok kamar Dika.
“Wanitaku."
"Kecintaanku."
"Kekasihku.'
Kinar bergantian memandangi foto wanita itu dan membaca tulisan di bagian bawah fotonya.
“Wah laki-laki egois itu bisa begitu lembut memberikan panggilan sayang pada wanita ini. Siapa yah namanya, yah? aku lupa.” Kinara kembali berkeliling mencoba mencari tahu nama dari wanita yang fotonya bertebaran di kamar suaminya.
Kinara menarik sudut bibirnya ketika menemukan salah satu foto dengan nama di bagian bawahnya. “Carissa Kaylee, namanya cantik sekali seperti wajahnya. Pantas jika laki-laki itu begitu memujamu, apa Kaylee itu nama besar keluargamu?” Kinara menatap dalam potret Carissa.
“Jika kau adalah wanita dan kecintaannya, lalu aku ini apa?" Kinara menunduk dalam.
"Sudahlah, jalan Tuhan memang sama. Yang membedakan hanya tikungan dan batu kerikilnya saja, mungkin saat ini kerikil yang aku pijak menyakiti hatiku, tetapi siapa yang tahu hari esok. Saat ini yang terpenting bagiku hanyalah, aku harus menuntut ilmu sebaik mungkin. Meraih cita-citaku dan membahgiakan Ibu dan adikku.”
Kinara kembali membersihkan kamar Dika. Sesekali matanya terpaku pada potret wanita itu.
"Aku tidak akan merebut tempatmu, bahkan tidak berniat merebutnya darimu. Tetapi aku harus mempertahankan statusku, status yang menjadi amanat terakhir ayahku. Aku tidak peduli siapa dirimu dan dari mana asalmu. Yang pasti saat ini aku belum bisa menyerah." Kinara tersenyum getir.
\=\=\=>Bersambung 💕💕
Ingat VOTE yah.. jangan cuma minta up tapi gak kasih VOTE, ok.
Please, Klik Like.. Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺
Author sangat berterim kasih jika kalian bersedia membantu Author untuk mempromosikan novel Author, bik di Fb, wa, ig atau di novel2 lainnya, mari dukung author yah 🤗🤗
__ADS_1