Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Dika Yang Cemburu Buta (part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca, tolong bijaklah dalam menyikapi adegan kekerasan di novel ini.


Hanya hiburan semata dan tidak untuk dicontoh. 🙏


Happy Reading ❤️


Kinara mencoba mengatur ritme napasnya, belum juga Kinara tenang. Dika kembali menumpahkan semua kecemburuannya kepada Kinara,


Perasaan cemburu yang tidak dia sadari.


Lelehan air mata Kinara tidak membuat Dika mengurungkan niatnya, niat Dika tidak tergoyahkan.


Dika kembali mengunci kaki istrinya, sementara Kinara tidak berdaya dengan tangan terikat dan tenaga yang terkuras habis.


Dika memulai kembali amarah yang sempat terhenti. Dia mencemngkram dagu Kinara, memaksakan hasratnya di bibir Kinara. Menciumi bibir ranum istrinya dengan gairah yang tidak dapat digambarkan.


Kinara hanya bisa merintih kesakitan ketika bibirnya yang terluka terus dijajah oleh Dika, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan berharap Dika melepaskannya.


Setelah puas dengan bibir Kinara, dia beralih.


Kali ini bibirnya bergerak ke pundak Kinara. Dika mendaratkan bibirnya di sana, menyesap kulit Kinara dan menggigit kasar sampai meninggalkan jejak kepemilikan.


Tidak hanya sekali, Dika melakukannya berkali-kali sampai stempel kepemilikan itu memenuhi leher dan pundaknya.


Tiap inci leher dan pundak Kinara menjadi sasaran Dika.


Tidak peduli apakah Kinara menikmatinya atau tidak. Dika terus menggigit dan menyesap kulit putih istrinya, seolah dia ingin memberi tahu ke seluruh dunia jika Kinara adalah miliknya, hanya miliknya.


Termasuk kepada Agra, laki-laki yang telah menyulut amarahnya.


“Bagaimana? Apa laki-laki itu lebih ahli dariku, hah?!” Dika berteriak, suaranya masih dipenuhi kebencian.


Sebenarnya kepada siapa kebencian itu dia tunjukkan? Kepada Kinara yang tidak bersalah? Kepada Agra yang jelas-jelas tidak tahu status Kinara? Atau, kepada dirinya sendiri yang telah menyimpan perasaan untuk Kinara? Perasaan yang tidak dia sadari, tetapi merangkak pasti memenuhi hatinya.


Tidak mendapat jawaban dari Kinara tentu membuat Dika marah. Bibirnya mulai merambat turun, sampai Kinara bersuara lirih sekali.


“Ti...dak, Dika. Aku tidak pernah disentuh laki-laki lain, aku mohon percayalah padaku. Hiksss...” napasnya semakin tercekat, suaranya terbata.


“Hahaha...” Dika terbahak, entah sudah keberapa kali Dika mempertontonkan ekspresi mengerikan sampai membuat Kinara menggigil ketakutan.


“Kita akan tahu secepatnya, sayang!” Mengecup kening Kinara.


Tangannya beringas melepas pakaian yang tersisa di tubuh Kinara, melemparkan begitu saja.


Pakaian yang menjadi pertahanan terakhir Kinara. Begitu buasnya Dika memangsa Kinara, kecemburuan yang tidak dia sadari justru membuat Kinara terluka.

__ADS_1


“Jangan lakukan itu, Dika. Aku mohon, jika tidak aku akan membencimu, Dika. Aku akan terus membencimu, seumur hidupku. Bahkan aku akan membencimu sampai kematian itu tiba, kau akan terdampar di dasar neraka. Kau manusia keji, keji.... hiksss...” Kinara terisak.


Dika tidak peduli, saat ini dia hanya butuh bukti. Bukan air mata apalagi alasan yang tidak berdasar, beberapa saat lagi bukti itu akan jelas.


Gambaran abu-abu itu akan berubah menjadi hitam atau putih setelah Dika melakukan itu.


Dia akan tahu apakah Kinara benar-benar wanita baik-baik, atau sebaliknya.


Begitu tidak sabar Dika melancarkan aksinya.


“Tidaakkkk....!!” Kinara berteriak, mengeluarkan suara terakhirnya.


Hancur sudah, Dika telah merenggut kesuciannya dengan cara yang sangat kejam.


“Shit....!! Kamu masih perawan?” Dika memukulkan tangannya di punggung ranjang. Pertanyaan itu tidak perlu Kinara jawab, karena Dika sudah tahu jawabannya.


Kinara memalingkan wajahnya, merasa jijik dengan dirinya sendiri.


Dika merenggut kesuciannya secara paksa, hal yang seharusnya dia berikan dengan suka rela. Kinara hanya bisa mengutuk dirinya sendiri kenapa nasibnya begitu malang karena harus menikah dengan laki-laki seperti Dika. Tetapi Semuanya sudah terjadi, tidak ada gunany menyesali.


setelah pertempuran itu, Kinara tertidur tidak berdaya.


Dika melepaskan dasi yang mengikat tangan Kinara. Menjatuhkan tubuhnya di samping Kinara yang hanya dibalut selimut tebal.


Seluruh tubuh Kinara dipenuhi warna merah di tiap jengkalnya, warna merah yang menegaskan milik siapa Kinara.


Menyesal? Iya, Dika sangat menyesal.


Perlahan dia membelai rambut panjang Kinara, pipinya masih basah karena air mata yang mengalir sepanjang Dika menumpahkan hasratnya.


Dika mengelus pipi Kinara. Membelai lembut ujung bibir Kinara yang terluka karena keganasannya.


“Maafkan aku, Kinara.” Perlahan-lahan bibirnya jatuh di kening Kinara diikuti telapak tangan yang mengelus kepala Kinara.


“Ini juga pertama kalinya bagiku. Aku tidak tahu mengapa aku bersikap seperti ini.”


berbisik lirih,


meraih tangan Kinara.


Pergelangan tangan Kinara terluka, memerah karena luka yang bertindih-tindih, selain karena cengkraman tangan Dika juga karena kekejaman Dika yang mengikat kedua tangannya dengan dasi.


“Maafkan aku.” Mengecup punggung tangan Kinara dan memeluknya.


Dika mengendurkan pelukannya, berangsur-angsur turun dari ranjang dan mendekati tembok. “Sial, sial, sial...” Dika memukulkan tangannya di tembok kamar.

__ADS_1


Sesekali melirik tubuh istrinya, tubuh yang bersih dan suci itu sudah tidak ada lagi. Ternoda olehnya hanya kerena kecemburuan yang tidak berdasar.


Dika berjalan, memungut kaus rajut milik Kinara yang dilemparnya beberapa saat lalu dan meletakan di atas sofa.


Dia hanya bisa menundukan kepala, tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Dika kembali berjalan mendekati ranjang dan mencium kening Kinara lalu kembali berjalan menjauh, menekan handle pintu dan keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian.


Kinara membuka matanya. “Aku sudah kehilangan kesucianku, Tuhan. Hikssss... tetapi aku bersyukur karena telah memberikan bukti yang akan menyiksa batin laki-laki itu, seumur hidupnya.”


Kinara bangun menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang dengan kedua kaki tertekuk, meringkuk kesakitan, menangis dengan napas tersengal. Seluruh tenaganya habis, tetapi Kinara tetap memaksakan diri untuk bangun.


Sedikit demi sedikit Kinara menggeser tubuhnya, turun dari ranjang, meraih kaus miliknya yang diletakkan di atas sofa, mengenakan kembali menggunakan sisa-sisa kekuatannya.


“Tidak ada bedanya dengan korban pemerk*saan, hahaha... Apa aku baru saja diperk*sa oleh suamiku sendiri? Tuhan, kejam sekali takdir hidupku. hikss... jika aku menyerah apakah Kau akan memberiku jalan untuk menghilang? Pergi sejauh mungkin dari laki-laki jahat sepertinya. Hikss...”


Kinara melangkah keluar dari kamar Dika dengan gontai, merambat berpegangan pada tembok, kursi, pada apa saja yang bisa dia jadikan tumpuan.


“Kau mau ke mana?” Dika datang dari belakang, Kinara tidak bisa berlari ataupun melawan Dika. Tubuhnya hanya bergetar ketakutan mencoba menjawab pertanyaan suaminya.


“Ka...mar.” Jawba Kinara terbata, tangannya masih bertumpu pada tembok kamar.


“Aku antar.” Dika memutuskan untuk memapah tubuh Kinara.


Kinara pasrah, kekuatannya sudah habis tak bersisa. Biarlah, apa pun maumu aku tidak akan melawan. Inilah takdirku, bertemu denganmu dan menjadi istrimu. Pikir Kinara.


Begitu keduanya sampai di kamar Kinara, dia menatap sekeliling lalu menendang pintu kamar Kinara. Kembali menyapukan pandangan matanya, setelah sekian lama Dika baru menyadari jika kamar Kinara benar-benar kecil. Bahkan lebih kecil dari kamar mandinya, ranjang kecil itu bahkan tidak akan nyaman ditiduri oleh satu orang.


Kamarmu kecil sekali, kenapa aku baru menyadarinya.


Tetapi aku juga tidak bisa membiarkanmu tinggal di kamar utama, kamar itu hanya untuknya.


Apa yang aku katakan? Aku baru saja berhubungan suami istri di kamar itu. sial...


Batin Dika selalu berperang, akhir-akhir ini sering terjadi pergulatan pendapat di hatinya. Terkadang Dika sendiri merasa lelah menuruti kemelut hatinya.


Menyadari raut wajah Dika yang silih berganti antara bingung, marah, dan kasihan. Kinara tidak mau mengambil risiko lebih besar lagi, perlahan tangannya menarik lengan baju Dika. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Kinara pikir itu cukup untuk membuat Dika terbangun dari lamunannya.


\=\=\=\=> Bersambung......


Tinggalkan jejak kalian.. klik Like, Favorit, Vote yang banyak dan Rate bintang5....🙏🙏❤️❤️


Jangan lupa Mampir di novel Romance Fantasi..

__ADS_1


REINKARNASI DUA BINTANG karya AGUS PRIATNA.. DIJAMIN SERU.... ❤️❤️


__ADS_2