
“Kau jangan egois, Kinar.”
“Hah? Aku, egois? Dika, apakah kau tidak pernah memeriksakan dirimu? Apakah otak dan hatimu itu tidak sedang bermasalah? Kau perkosa aku, lalu kau minta aku meminum pil itu.
Kau nikahi aku, dan kau minta aku menutupi status pernikahanku.
Kau larang aku dekat dengan laki-laki lain, sementara kau mencintai wanita lain. Dalam hal ini siapa yang paling egois, Dika? hikkks... Tidak, Dika.
Aku tidak egois, satu-satunya orang yang egois ad...alah ka...kau.” Kinara terduduk, seketika kedua kakinya terasa kaku, tidak berdaya bahkan untuk menarik satu langkah saja.
Apakah dia benar-benar manusia? Atau iblis berwujud manusia, Tuhan? Hiksss...
“Aku minta maaf, Kinara. Tapi tolonglah, aku tidak ingin kau hamil.” Dika tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk istrinya. Mendebat Kinara sama saja seperti menggali kuburnya, karena dalam hal ini satu-satunya tersangka utama adalah dia.
Mau diputar balikkan seperti apa pun yang salah tetaplah salah.
“Aku juga minta maaf, Dika. Aku tidak bisa.”
“Kau belum tahu siapa aku, Kinara. Aku bisa melakukan sesuatu diluar perkiraanmu, kau turuti aku atau aku akan memaksamu!" Dika mulai mengancam, ketika negosiasi gagal maka cara terbaik adalah penekanan emosi. Salah satunya adalah ancaman, bahkan tatapan matanya terlihat mengintimidasi.
“Aku tidak takut dengan ancamanmu. Kau hanya punya dua pilihan, Dika.
Pertama, biarkan aku tidak mengonsumsi obat itu.
Kedua, kau bunuh saja aku dan semua masalah akan selesai.”
Bangun lagi, tangannya bertumpu pada lengan sofa.
"Jika aku mati, kau bebas bersama wanita mana pun, termasuk dengan cinta pertamamu itu.
Kau juga tidak akan melihat wajah menyebalkan seperti diriku lagi. Bukankah itu maumu?"
Dika berjalan mendekati Kinara, masih dengan tatapan tidak biasa.
“Kau memang wanita keras kepala, tidak bisa diperingatkan!” Mencengkram pergelangan tangan Kinara.
Sakit sekali, Tuhan. Sakit... hiks...
Meski pergelangan tangan Kinara sakit bukan main, tetapi Kinara tidak menangis.
Dia justru mendongakkan wajah sampai keduanya bersitatap.
Tidak ada ketakutan dari binar mata Kinara, mata jernih itu hanya menampakkan kebencian yang dalam.
“Minum ini.” menyodorkan pil itu tepat di wajah Kinara.
“Tidak akan!”
“Aku bilang minum, Kinara.” Dika mengeluarkan satu butir pil.
__ADS_1
“Tidak mau!"
“Minum!" Dika menekan kedua pipi Kinara, memaksa Kinara untuk membuka mulutnya. Kinara memutar otak, dia menggigit bibirnya yang terluka, membuat luka yang sudah mengering dan rapat itu terbuka lagi. Darah segar mulai mengalir di sudut bibirnya.
“Cih.” Dika mendorong tubuh Kinara sampai tersungkur di atas sofa, lalu menendang meja. “Kau benar-benar wanita yang merepotkan!”
Kau benar-benar laki-laki yang tidak punya hati dan terkutuk.
“Baik, aku tidak akan memaksamu lagi. Tetapi jika kau hamil, aku tidak akan memberimu perhatian lebih! Dan satu hal lagi." menekankan dengan jari telunjuk.
"Jangan merepotkan aku!"
Jika aku hamil, bukankah ini anakmu, Dika? Alangkah baiknya jika aku melarikan diri saja, bercerita betapa hidup bersamamu seperti terpenjara di dalam neraka. Aku ingin seluruh dunia tahu,
jika kau adalah laki-laki terkejam. Apakah aku boleh melakukannya, Tuhan?
Apakah mengemban amanah ayahku harus seberat ini?
Aku ingin melepaskan semuanya, lepas dari jeratnya dan berlari dari sisi laki-laki bejad ini. hiks...
“Baik.” Kinara menarik napas dan mengembuskan perlahan, melakukan berulang sembari menguatkan hatinya. “Aku tidak akan menuntut apapun darimu, Dika.”
“Dan ketika Carissa pulang, jangan katakan apa pun, jangan ikut campur urusan pribadiku!” Gertaknya.
“Aku terima syaratmu, dan kau juga tidak berhak ikut campur urusan pribadiku.”
"Aku ini suamimu, Kinara. Aku berhak ikut campur urusamu!"
“Kinaraaaa...!!" Kembali mendekati Kinara, mengangkat tubuh Kinara sampai berdiri dan mencengkram lengannya.
“Kenapa, Dika? Kenapa hatimu sekeras batu, hiks....” memukul dada suaminya, Kinara yang hanya selengan suaminya ketika berdiri sejajar,
sangat menyusahkan dirinya untuk melakukan perlawanan. Terlebih lagi tenaga keduanya tidak seimbang.
“Aku juga memiliki hak yang sama, jika kau melarangku ikut campur urusan pribadimu. Maka kau tidak berhak ikut campur urusan pribadiku. Kita berada dalam satu kapal, mari kita tenggelam bersama, atau selamat bersama. Semua keputusan ada di tanganmu, hikss...” Mendongakkan wajah lalu mengusap kasar air mata di pipinya dengan punggung tangan.
“Aku tidak setuju. Tidak!” melepas Kinara, Dika melangkah mundur dan memukul punggung sofa. Menumpahkan segala kemelut di hatinya, sebenarnya apa yang aku inginkan? Batinnya.
“Jadi, kau ingin memiliki aku. Juga ingin memiliki wanita itu? Agar aku bisa kau gunakan di atas ranjang? Lalu wanita itu bisa kau gunakan untuk menyenangkan hatimu, begitu?
Kau terlalu serakah, Dika. Kau serakah, hiks... Orang serakah sepertimu akan kehilangan segalanya dalam waktu cepat!” Menatap tajam, manarik napas pelan.
“Kau tahu kenapa dunia menciptakan karma? Karena agar orang yang hanya bisa manyakiti mendapatkan kesempatan yang sama untuk disakiti.”
“Lancang sekali bicaramu, Kinara! Kau pikir kau itu siapa, hah?” Membentak.
"Aku ini istrimu. Istrimu, hiks..."
Ceraikan aku, Dika. ceraikan aku. Hampir saja kalimat itu terucap, sampai bayangan ayahnya yang terbaring di rumah sakit berkelebat di kepala Kinara.
__ADS_1
Tubuh ringkih itu, bahkan sebelum menutup mata dan mengembuskan napas terakhir, beliau hanya meminta Kinara untuk menjadi istri yang baik.
Hanya itu permintaanya, lalu bisakah Kinara lari? Kinara menggigit bibirnya, menutupi mulut dengan telapak tangan.
Jika aku menyerah, aku yang kalah. Jika aku pergi, kau yang tertawa. Ini 'kan tujuanmu? Membuat aku tidak kuat dan menyerah. Mimpi saja Dika, bermimpilah sepuas hatimu.
Aku hanya berusaha mempertahankan rumah tanggaku, sampai aku mencapai batas kesanggupan.
Aku tidak akan menyerah. Batin Kinara.
“Kita sepakati dari sekarang, Dika. aku tidak akan ikut campur urusanmu, terserah kau mau dekat dan mencintai siapa pun. Dan kau tidak akan ikut campur urusanku, terserah aku mau dekat dengan siapa pun. Jadi jangan gunakan perasaan cemburumu itu untuk memperk*sa aku lagi!"
“Kinaaaraa....!" Dika meraih gelas kosong di atas meja dan melempar ke lantai.
Orang serakah sepertimu memang harus dilawan, Dika. Kau ingin menguasai aku di bawah ketiakmu, tetapi kau juga ingin mendapatkan yang lain. Cih...
“Berlaku saat ini.” Kinara menatap tajam.
“Masuk ke dalam kamarmu, Kinara! Sekarang!" Dika mengangkat tinggi-tinggi telunjuknya. “Ken, bawa dia pergi!"
Ken yang berada tidak jauh dari Dika segera berhambur mendekati Kinara.
“Nyonya, mari masuk.” Ken menggelengkan kepala memberi peringatan. Cukup nyonya, jangan dilanjutkan lagi. Kurang lebih seperti itu bahasa tubuhnya.
“Kenapa, Ken?”
“Ini demi kebaikanmu, Nyonya. Percayalah, ayolah nyonya.” Ken membungkuk, mempersilakan Kinara untuk kembali ke kamarnya.
Kenapa harus tergesa-gesa, Ken? Ada apa? aku pernah menerima perlakuan lebih dari ini. batin Kinara.
“Sial... sial... memangnya kenapa kalau dia dengan laki-laki lain? Dia juga sudah tidak perawan, memangnya ada laki-laki yang mau memakan barang sisa.” Dika menendang, memukul, melempar apa pun yang ada di sekitarnya.
Kinara melirik, meski tidak mendengar kalimat yang diucapkan Dika tetapi Kinara bisa melihat kelakuan suaminya. Dia sempat ketakutan melihat Dika yang histeris, apa jadinya jika Ken tidak datang. pikirnya.
“Kau sakit, Dika.” lirihnya.
“Nyonya, jangan katakan itu lagi! Anggap saja hari ini saya tidak pernah mendengar kalimat itu.”
Memangnya kenapa, Ken? Kau tidak lihat kelakuannya? Bukankah dia terlihat seperti orang sakit? Lagipula aku menyetujui semua syaratnya, kenapa dia harus begitu marah ketika aku mengajukan syarat yang sama?
\=\=\=\=\=> Bersambung......
Tinggalkan jejak cinta kalian.. KLIK LIKE, FAVORIT, RATE BINTANG 5 DAN VOTE YANG BANYAK.... 😊❤️
Terimakasih atas dukungan dan tips dari kalia n sangat berarti bagi Author.
Jangan lupa Mampir di novel Romance Fantasi..
REINKARNASI DUA BINTANG... karya AGUS PRIATNA.. DIJAMIN SERU.... 🙏❤️
__ADS_1
salam Author A.L