
Serentak Marta dan Carissa menoleh, buah tangan hasil kebun ibunya itu berserakan. Beberapa lagi seperti bengkuang dan ubi menggelinding.
Ken berjongkok, memunguti satu per satu buah dan sayuran lalu memasukkan ke dalam kresek hitam.
Sementara Kinara hanya berdiri dengan tatapan bingung, mulutnya kelu tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi, Carissa ada di sini. Statusku tidak boleh terungkap, jika tidak Carissa akan berada dalam bahaya, lari ... iya, aku harus lari, maaf, Mah. Sepertinya hari ini bukan hari keberuntungan kita untuk bertemu, batin Kinara.
Kinara memutar tubuhnya, mencoba berlari dengan langkah terseret. Marta berteriak memanggil namanya, teriakan itu tak dia hiraukan.
Saat ini urusan hati dan statusnya tidaklah penting, Kinara tahu status sosialnya dan Dika juga berbeda. Ada baiknya jika yang menjadi menantu adalah Carissa.
Maafkan aku, Mah, aku melakukan ini demi kebaikan kita bersama. Seperti biasanya aku hanya bisa melarikan diri, batin Kinara.
Mungkin hari ini Tuhan tidak mengijinkan siapa pun lari dari tanggung jawab, sandiwara panjang yang melelahkan ini harus segera diakhiri.
Tepat ketika Kinara berlari, Dika datang dari arah berlawanan dan keduanya bertabrakan, Kinara yang bertubuh kecil justru jatuh tersungkur di atas lantai, sementara Dika masih bisa menjaga keseimbangan tubuh dan tetap dalam posisi berdiri.
“Apa kau buta?!” serunya begitu melihat Kinara.
“Aku tidak sengaja, Dika,” ucap Kinara pelan. Sepelan mungkin agar Marta dan Carissa tidak bisa mendengar pertengkaran mereka. “Tolong jangan berteriak!” Meletakan jari telunjuk di bibirnya.
“Kapan kau kembali?!” suara Dika tetap melengking seperti biasanya. Dika berjongkok, mencengkram pergelangan tangan Kinara dan memaksanya berdiri.
“Sakit, Dika!” Menggerakan tangan, berusaha melepaskan diri. “Jangan keterlaluan ... Mamah ....”
Belum sempat Kinara berucap, Dika sudah mencengkram semakin kuat. “Mamah apa? kau mau mengadu pada Mamah, hah?!”
“Ma ... Mamah ada di sini, Dika!”
“Apa kau pikir aku bodoh?!” Melepaskan cengkraman tangannya. “Kau mau mengancamku dengan berbohong, hah? Bagus, sepulang dari kampung kau sudah pintar berbohong!” Berpindah menekan kedua pipi Kinara dengan tangan besarnya, sampai kulit di sekitar wajahnya memerah.
“Cukup, Dika!” Marta berjalan mendekat. “Jadi selama kalian menikah, seperti ini sikapmu kepada istrimu? Apa kau bukan manusia?” Menarik Kinara.
“Tunggu, apa yang baru saja Mamah katakan? Menikah? Siapa yang menikah? Istri? Apa Dika sudah menikah?” Carissa datang dari belakang.
“Maafkan Mamah Carissa, tapi kau harus tahu kebenarannya.”
“Maaah! Jangan, Mah. Aku mohon, Mamah tahu kondisi Carissa,” ucap Dika.
“Kau pikir Mamah sudi ikut bersandiwara denganmu?!” Memapah Kinara. “Kita duduk dulu, Kinara,” pintanya, Kinara mengangguk. “Dan kalian semua, ikuti Mamah.
Kita tuntaskan sandiwara ini. Ah, Ken, kemarilah.” Melambaikan tangan, ketika Ken berjalan mendekat Marta berbisik dan Ken mengangguk lalu berjalan menjauh.
🍃Ruang keluarga🍃
Kinara duduk di samping Marta sementara Dika dan Carissa duduk di depan. Posisi mereka saling berhadapan.
“Mah, apa yang Mamah maksud dengan pernikahan Dika?” Carissa mengawali pembicaraan.
Marta mengangkat pergelangan tangannya dan melihat sudah berapa lama Ken pergi sejak keduanya saling berbisik. “Sebentar, Carissa.”
Tak berapa lama Ken sudah kembali dengan tiga orang dokter pribadi keluarga Mahendra termasuk dokter Amel yang pernah mengobati luka Kinara.
Aku tidak menyangka akan kembali ke tempat ini lagi? Tapi sekarang apa? Kenapa Bu Bos dan Carissa ada di sini juga? batin dokter Amel sembari menatap Marta dan Carissa bergantian.
“Mah, untuk apa mereka datang?” Dika bangkit dan menatap tajam tiga dokter yang masih berdiri.
“Kau tahu mereka siapa, bukan?” Tersenyum sinis. “Dokter terbaik di rumah sakit keluarga Mahendra, duduklah Dika. Mamah perlu memberimu didikan yang tegas.”
“Mah, kau tahu aku tidak pernah melawan kehendak Papah dan Mamah. Selama ini aku selalu menjadi anak yang baik, aku tidak ingin menyakitimu Mah.”
“Kau sedang mengancamku? Mamah yang sudah mengandung dan melahirkanmu?” wajah sedih.
Hal ini selalu berhasil untuk membuat Dika merasa bersalah.
“Bukan seperti itu, Mah. Bisakah kita tidak melibatkan Carissa dalam hal ini?”
__ADS_1
“Tidak bisa! Kau, Kinara, dan Carissa harus bertanggung jawab sampai akhir.”
“Tidak apa-apa, Dika.” Mengelus lengan Dika. “Kita selesaikan saja semuanya, aku juga penasaran sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Kinara.”
“Tapi, Carissa.” Dika menatap Carissa.
“Tidak apa-apa.” Carissa tersenyum.
Kinara menundukkan kepala dalam.
“Apa kau sering melihat pemandangan seperti ini, Nak?” Mengelus bahu Kinara.
“Tidak, Mah.” Mendongakkan kepala. “Baru kali ini mereka terlihat akrab, sebelumnya tidak seperti ini.” Menggigit bibir bawahnya. “Biasanya mereka terlihat tidak saling mengenal.” Memaksakan diri untuk tersenyum.
Aku tidak perlu mengatakan semuanya, biarlah, cukup aku saja yang merasakannya, batin Kinara.
“Apa kau pikir Mamah bodoh, Kinara?” Merengkuh kepala Kinara. “Mamah bahkan tahu di mana kau tidur, maafkan Mamah Kinara. Maafkan Mamah yang sudah gagal mendidik Dika.”
Menggeleng dalam pelukan Marta. “Tidak, Mah. Ini bukan salah Mamah.”
“Maafkan Mamah, Kinara.” Membelai kepala Kinara.
“Ini bukan salah, Mamah.” Kinara terisak. “Bukan salah, Mamah.” Suara Kinara semakin melemah dengan napas tersengal.
“Carissa, apa kau tidak tahu apa pun tentang hubungan Dika dan Kinara?” Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Marta yang kontan membuat Carissa terkesiap.
“Aku ... aku hanya tahu Kinara adalah kekasih Ken, Mah. Selebihnya aku tidak tahu apa hubungan Kinara dan Dika,” ucap Carissa.
“Carissa, Mamah minta maaf, Nak. Dengan berat hati Mamah harus mengakhiri semua ini, jangan berpikir Mamah tidak menyayangimu. Mamah sangat menyayangimu seperti anak Mamah sendiri, kau dan dika sudah tumbuh
besar bersama. Sejak kecil kalian sudah menghabiskan banyak waktu, Mamah dan Papah bukannya tidak mencintaimu, kami sangat mencintaimu. Tapi Papah Dika memiliki pandangan lain untuk memilih seorang pendamping hidup untuk Dika.”
“A ... apa maksud, Mamah?”
“Mah, tolong jangan lakukan itu.” Dika memohon.
“Carissa, aku ... aku tidak tahu harus memulai semuanya dari mana,” ucap Dika terbata.
“Tidak, biar Mamah yang mengatakan semuanya,” ucap Carissa, “Katakan, Mah, beri tahu semuanya padaku.”
Marta mengangguk. “Kau yakin siap untuk mendengarnya, Rissa?”
“Bukankah tiga dokter yang datang kemari adalah untuk semua ini? Jika aku terkejut dengan semua kenyataan yang akan aku dengar, setidaknya Mamah bisa melakukan pertolongan pertama padaku, bukan?” Tersenyum lembut. “Aku juga perlu tahu kebenarannya, Mah.” Menganggukan kepala.
“Jangan, Mah.” Melepaskan diri dari pelukan Marta. “Carissa itu sedang sakit, Mah,” ucap Kinara dengan tatapan memohon.
“Mamah tahu itu, tapi sebuah kebohongan kecil akan menjadi besar jika terus ditutupi, Kinara. Percayalah, Mamah akan melakukan yang terbaik untukmu.”
“Maaah ...,” ucap Kinara dan Dika bersamaan. Keduanya saling tatap, bedanya Kinara menatap Dika dengan penuh kebencian sementara tatapan mata Dika, sejak kapan tatapan matanya berubah? Tidak ada lagi kebencian dari tatapan matanya kepada Kinara.
“Cukup, Kinara. Aku juga berhak tahu, terima kasih atas perhatianmu. Tapi, aku tidak mungkin hidup dalam kebohongan. Sudah sejak lama aku curiga dengan hubungan kalian berdua, Kinara selalu menatapmu dengan kebencian. Sebenarnya apa yang terjadi?” Melihat Dika. “Sudahlah, aku tidak akan mendapat jawaban apa pun darimu.” Menoleh dan melihat Marta. “Sebenarnya apa yang terjadi, Mah?”
Marta menarik napas panjang. “Sebenarnya, Dika dan Kinara mereka berdua adalah pasangan suami istri. Keduanya sudah menikah selama lima bulan, ini permintaan terakhir Papah sebelum beliau meninggal, Kinara adalah anak dari teman baik Papahnya Dika.”
“Tu ... tunggu, Mah.” Napas Carissa mulai tersengal. “Aku masih belum mengerti, jadi Kinara adalah istri Dika?”
Marta mengangguk.
“Tapi kenapa Dika tidak mengatakannya padaku? Kenapa kalian justru bersandiwara dengan melibatkan, Ken?”
Wajah Carissa mulai pucat, ritme napasnya mulai berantakan, keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya, bahkan bicara pun mulai terbata. Dika panik, tetapi dokter Amel sudah berdiri di belakang Carissa sembari menganggukan kepala.
“Kenapa, Kinara? kenapa, Dika? Kenapa kalian tega membohongi aku? Kalian pikir ini lucu, hah?!”
“Tidak, Rissa. Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan ....” Dika berusaha menenangkan. “Ini karena ...,” ucapnya terputus.
“Tidak apa? Ap ... apa, Dika?” Kondisi Carissa mulai melemah.
__ADS_1
“Ini karena kami tidak saling mencintai, Carissa. Satu-satunya wanita yang dicintai Dika adalah dirimu, bukankah kau sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri. Di dalam kamar utama, menurutmu ada berapa banyak fotomu yang terpajang di sana? Tidak ada satu pun fotoku, bahkan foto pernikahan pun kami tidak memilikinya. “Kinara terisak, ada jeda sekitar 20 detik sampai Kinara kembali membuka mulutnya.
“Jika kau tidak percaya, masuklah ke dalam ruang kerja Dika. Ruangan itu tidak pernah aku masuki sekalipun, kau tahu kenapa? Karena di dalam ruangan itu hanya ada fotomu. Atau kau bisa melihat ruang musik yang tetap terjaga, tak tersentuh oleh tangan kotorku ini.
Itu adalah bukti paling nyata jika dia hanya mencintaimu, bahkan Dika tidak ragu mengatakan jika aku ini kekasihnya Ken.” Tersenyum getir. “Aku tak ubahnya bola yang bisa dia lempar ke mana pun dia mau, sesuka hatinya, sepuas inginnya. Seperti itulah kedudukanku di dalam hati Dika, tidak berarti sama sekali.” Mengusap kasar air matanya.
Carissa menggigit bibirnya, kedua tangannya mengepal, bahunya berguncang hebat. Dia memejamkan mata untuk beberapa saat dan berucap, “Lalu aku harus bagaimana?”
“Tidak ada, kau tidak perlu melakukan apa pun, Carissa.” Tersenyum. “Mah ....” Memutar tubuh dan menghadap Marta. “Aku minta maaf, tapi aku sudah tidak kuat lagi.” Menunduk.
“Apa maksudmu, Kinara?” Marta menggengam kedua tangan Kinara. “Mamah tidak mau mendengar kau bicara yang tidak-tidak.”
“Cukup, Kinara. Jangan bersandiwara dan berpura-pura baik, apa kau masih belum puas, Kinara?! Setelah semua masalah ini, apa lagi yang kau inginkan?”
Kinara tertawa kecil. “Iya, aku masih belum puas.” Membuka tas dan mengeluarkan map. “Aku baru puas setelah kau melihat ini, hal yang sangat aku inginkan.” Melempar map coklat ke atas meja. “Bukalah, Dika.”
Dika mengernyitkan dahi, meraih map coklat itu dengan perasaan berdebar. “Apa ini?”
“Bukalah, setelah itu kau akan tahu apa isi di dalamnya.”
Dika membuka pengait map itu dan mengeluarkan isinya. “Apa maksudnya ini, Kinara?!” seruan itu terdengar sangat marah.
“Kenapa? Ini yang kau inginkan sejak dulu, bukan? Berpisah dariku dan menikah dengan Carissa, sekarang aku sedang mewujudkan keinginanmu itu. Tanda tangani itu, dan kita resmi berpisah.”
“Tidak ... aku ...,” ucap Dika terbata.
“Kenapa, Dika? Jangan katakan kau menyesal dan mulai mencintaiku?” Menatap penuh amarah.
Dika tertawa terbahak. “Mana mungkin, berpisah darimu adalah suatu keberuntungan untukku.”
Tapi mengapa hatiku merasa tidak menginginkan ini, batin Dika.
“Baguslah, karena sekalipun kau menyesal. Itu tidak akan ada gunanya, karena aku tidak akan pernah menarik surat perceraian itu.” Kinara tersenyum puas.
“Kinara, apa kau tidak kasihan dengan Mamah?” Marta membelai lembut punggung tangan Kinara. “Mamah tidak ingin kalian berpisah,” imbuhnya.
“Maafkan Kinara, Mah. Tapi ini adalah jalan terbaik untuk kami berdua, daripada kami saling menyakiti. Rumah tangga kami memang sudah tidak sehat, Mah.”
“Tidak bisakah kau pikirkan lagi, bukankah wajar jika di dalam pernikahan terjadi salah paham dan perselisihan. Kau kan tahu perceraian sangat dibenci Tuhan.”
Sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi, Mah, tapi sepertinya kau perlu tahu bagaimana perlakuan Dika selama ini padaku, batin Kinara.
Kinara tersenyum lembut, dia membuka tas slempang dan mengeluarkan map satu lagi. “Setelah Mamah melihat isi di dalam map ini, Mamah boleh memutuskan semuanya.” Menyodorkan map kepada Marta. “Selain menempatkan aku di kamar paling kecil itu, dia juga mamasukan aku ke dalam kampus Royal dengan status beasiswa, semua itu Dika lakukan demi menutupi statusku sebagai istrinya. Jika setelah semua yang aku katakan Mamah tetap berpikir aku perlu memepertahankan rumah tanggaku. Aku akan menurutinya.” Tersenyum getir.
Marta terkejut mendengar ucapan Kinara, selama ini dia pikir Kinara baik-baik saja. Marta segera membuka map pemberian Kinara dan melihat isi di dalamnya. Satu per satu semua bukti yang dikumpulkan Kinara dan Agra di lihat oleh Marta, hasil visumlah yang membuat Marta meradang. Tangannya bergetar, Marta berjalan mendekati Dika dan melempar map itu tepat ke wajah anaknya. “Kau keterlaluan, Dika. Sepertinya Mamah salah mendidikmu!”
Semua bukti itu berceceran, mata Dika membulat.
Dari mana kau mendapatkan semua ini? Siapa yang ada di belakangmu, Kinara? Apa Agra? Laki-laki sialan itu, batin Dika.
“Mah.” Kinara berdiri. “Aku minta maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk Mamah, aku bahkan belum sempat berbakti padamu sebagai mana menantu yang menyayangi mertuanya.”
Membungkukkan badan.
“Dan ... maafkan aku Carissa atas semua kebohongan yang aku buat, setelah semua kejadian ini dan kami berpisah kau boleh hidup bersama dengan Dika. Aku harap kau tidak membenciku, Carissa.”
Carissa terkejut mendengar ucapan Kinara, hal itu membuat emosinya tidak stabil. Emosi yang tidak stabil sangat berbahaya bagi penderita penyakit jantung, dan itu yang sekarang dirasakan Carissa. Tubuhnya mulai bereaksi berlabihan, napasnya semakin pendek.
“Aku ...," ucap Kinara terputus, tiba-tiba pandangan matanya kabur dan kepalanya terasa berat. "Bruuug ...." Kinara pingsan.
\=\=\=>Bersambung....
Mari kita bernyanyi... kumenangissss... membayangkan.... betapa kejamnya dirimu atasss diriku.... uwwoooow...
Ini Dika pas ditinggal Kinara 🤣😅
__ADS_1