Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Seperti Suami Istri Sungguhan


__ADS_3

Jangan lupa like dan vote 🌷🌷


Bersiaplah, kalian akan merasa sedih, kasihan, dan lucu ketika membaca bab ini 🤣😂


“Berapa lama lagi?” Kinara menepuk punggung Dika.


“Apanya?”


“Berapa lama lagi kau akan memelukku? Lihatlah semua pengunjung memperhatikan kita.” Menepuk semakin keras.


“Satu menit lagi, yah. Aku mohon, satu menit saja.” Dika tidak peduli dengan tatapan orang lain, bila perlu dia akan berteriak dan mengatakan kepada dunia ‘Dia istriku’. Namun sepertinya itu tidak bisa dia lakukan. Saat ini bisa memeluk tubuh istrinya saja adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.


Kinara melihat jam tangan yang berdetik di pergelangan tangannya dan menghitung mundur. “Lima, empat, tiga, dua, satu. Lepaskan. Sudah satu menit berlalu.”


Dengan sangat terpaksa Dika melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat wajah istrinya lalu berucap, “Apa kau tidak merasakan apa yang aku rasakan?”


“Memangnya apa yang kau rasakan?” Kinara balik bertanya.


“Debaran di hatimu. Tidakkah hatimu berdebar ketika aku memelukmu, Kinara? Karena jantungku berdegup sangat kencang ketika memelukmu. Apa kau tidak merasakan hal yang sama?”


“Tidak.” Kinara menggeleng, tidak ada keraguan sedikit pun ketika mengatakan itu. Kinara juga tidak sedang berbohong atau ingin membalas sakit hatinya pada Dika, tetapi itulah yang dia rasakan. Tidak ada getaran apa pun.


“Apa aku sudah tidak memiliki tempat lagi di hatimu, Kinara?” lirihnya. Dika memutar tubuhnya membelakangi Kinara, dia menyeka air mata yang hampir saja jatuh. “Ah, maaf. Sepertinya aku terlalu terbawa suasana.”


Sudah habiskah kesempatanku untuk singgah di hatimu lagi, Kinara? batin Dika.


“Jadi, kapan kita mulai belanja?” Kinara mendorong troli yang baru berisi beberapa makanan ringan yang sempat dia beli ketika bersama Alisa.


“Segera. Berikan padaku.” Mengambil alih troli. “Aku saja yang dorong, kau sedang hamil.”


“Yasudah.”


Kinara, tidak adakah setitik saja cinta di hatimu? Sejak kapan hubungan kita jadi semenyedihkan ini? batin Dika.


Kinara berjalan di depan sementara Dika mengekor dari belakang.


“Mau ini?” Dika menunjuk makanan ringan. “Ini keripik singkong, kau suka, ‘kan?”


“Emmm ... dari mana kau tahu aku suka itu?”


“Itu, aku melihatnya di kardus bersama dengan mie instans. Untuk yang ini kau suka ‘kan?” tanya Dika memastikan.


Kinara mengangguk. “Iya, aku suka rasa ....” Belum sempat Kinara menyelesaikan kalimatnya Dika sudah menyambar.


“Lada hitam, kau suka keripik singkong rasa lada hitam.”


“Iya.” Kinara tersenyum.


Tuhan, seandainya kau memberiku kesempatan untuk tetap melihatnya tersenyum, batin Dika.


“Kita beli yang banyak.” Dika sudah memasukan 20 bungkus keripik singkong ke dalam troli.


“Ini, satu, dua ....” Kinara menghitung jumlah keripik yang diambil Dika. “Astaga ini terlalu banyak Dika, memangnya untuk apa kripik singkong sebanyak ini?” Kinara mengambil beberapa dan berniat meletakan kembali kripik itu di rak sampai tangan Dika bergerak cepat.

__ADS_1


“Jangan, biarkan saja.” Tangan Dika dan Kinara saling bersentuhan. Kinara segera menarik tangannya, sementara Dika sempat membelai lembut punggung tangan Kinara. “Kau bisa berkata banyak jika aku membeli pabriknya, ini baru beberapa bungkus. Jadi ini tidak banyak.” Dika tersenyum. “Apa aku perlu membeli pabriknya untukmu?”


Kinara tertawa ringan. “Kau pikir aku hanya akan makan kripik singkong? Cih, akan sekurus apa tubuhku nanti. Segitu saja mungkin bisa aku nikmati sampai lahiran nanti.”


Ya Tuhan, berapa kali aku harus jatuh cinta padanya baru Kau percaya padaku? Aku selalu jatuh cinta setiap kali melihat dia tersenyum dan tertawa. Rasanya aku hampir gila ketika menahan hasrat untuk mengecup bibirnya yang tipis itu, batin Dika.


“Tunggu, jangan jalan terlalu cepat. Kau melewatkan banyak makanan ringan. Kau tidak mau ini?”


Kinara menggeleng.


“Ini bagaimana?”


Menggeleng lagi.


“Ini? Yang ini? Yang itu? Yang di sana? di situ?”


Dika terus menunjuk beberapa makanan di rak. Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kinara kecuali gerakan menggelengkan kepala.


Apa dia sedang puasa bicara? Pelit sekali, batin Dika menggerutu.


“Baiklah jika kau tidak ingin semua ini. Setelah ini kita ke rak obat-obatan.” Dika berjalan melewati Kinara.


“Eh, obat-obatan?”


“Iya.” Dika menganggukan kepalanya. “Harus beli!” imbuhnya mantap.


“Untuk apa? Aku tidak boleh minum obat sembarangan, dokter Amel sudah memberiku obat khusus ibu hamil.”


“Leher? Memangnya kenapa dengan leherku?” Kinara memeriksa lehernya kalau-kalau ada yang salah. Tidak ada. Kinara tidak menemukan apa pun, dia juga yakin lehernya tidak bermasalah. “Leherku baik-baik saja.”


“Kau dari tadi terus menggeleng, Kinara. Aku takut lehermu akan patah, sebaiknya kita beli krim urut atau koyo. Itu agar lehermu lebih lentur ketika menggeleng nanti.”


“Hahaha ....” Kinara tertawa terbahak, dia sampai memegangi perutnya untuk menahan tawa. “Kau marah gara-gara itu? Astaga ... memang tidak ada yang aku inginkan di rak itu. Mau bagaimana lagi. Kau lucu sekali, Dika.” Tawanya semakin keras sampai deretan giginya terlihat.


Tuhan ... aku tidak kuat, astaga dia lucu sekali ... ahhh ... cute, batin Dika.


Dika memukul kepalanya berkali-kali untuk menahan diri agar tidak berlari ke hadapan Kinara dan mencubit kedua pipi istrinya yang mulai mengembang.


“Kau kenapa?” Kinara bangun dan menedekati Dika. “Sepertinya kau yang sakit?”


“Tidak, aku baik-baik saja. Ayo jalan lagi. Jadi kau benar-benar tidak butuh koyo?”


“Ya tidaklah. Akukan baik-baik saja, cih ....” Kinara memaju mundurkan bibirnya.


Oh, Tuhan ... bisakah kau tidak bertingkah seperti anak kecil, Kinara? Aku bisa tidak tahan ... tarik napas Dika, kau harus kuat. Harus! batinnya.


Tak terasa keduanya sudah berbelanja cukup banyak makanan. Kinara hanya mengira-ngira. Dia tidak tahu pasti apa saja yang dibutuhkan di rumah, tapi setidaknya beberapa sudah terbeli. Hanya satu lagi yang belum terbeli yaitu susu Ibu hamil.


“Kau minum yang mana?” tanya Dika begitu keduanya sudah sampai di rak susu ibu hamil.


Cih, susu untuk anakmu sendiri saja kau tidak tahu. Lihat, Nak, itulah Ayahmu. Memangnya apa lagi yang dia tahu selain marah-marah. Ayo kita kerjai Ayahmu, Nak, batin Kinara.


“Aku tidak tahu.”

__ADS_1


Seketika Dika menoleh ketika mendengar jawaban dari Kinara. Dia sudah memegang satu kotak susu ibu hamil dengan ekspresi tidak percaya, matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka.


“Kau yakin tidak tahu? Lalu selama ini kau minum susu apa? Beruang?”


“Ya ... aku minum susu ibu hamil, tapi tiba-tiba saja aku tidak ingat susu mana yang aku minum.” Kinara tersenyum santai, itu terlihat licik di mata Dika.


Dika berjalan mendekat dan tiba-tiba saja berlutut. “Hey, anak Ayah.” Dika memegang perut Kinara dan mengelusnya lembut. “Apa kau sedang mengerjai Ayah? Kau sedang bekerja sama dengan Bundamu?”


“Bunda? Siapa Bunda?” Kinara berjalan mundur satu langkah.


“Kau, siapa lagi. Panggilan Bunda lebih cocok untukmu, kan? Ayah dan Bunda. Bagaimana?”


“Ada yang lain?”


“Emmm ....” Dika nampak berpikir keras. “Daddy and Mommy?”


Kinara segera menyilangkan tangannya di dada. “Tidak.”


“Kenapa?”


“Aku takut anak kita bukan memanggilku dengan sebutan Mommy tapi Mummy. Kau bisa bayangkan itu? Dia akan berteriak ketika pulang bermain dan memanggilku 'Mummy ... Mummy where are you?'.” Kinara sampai bergidik membayangkan anaknya akan memanggil sebutan Mummy. Dia mengelus kedua lengannya.


“Tidak mungkin, kita ‘kan bisa mengajarinya.”


“Pokoknya tidak, Ibuku juga pasti tidak setuju dengan panggilan kebarat-baratan begitu.”


“Bagaimana dengan Abi dan Umi?” Dika menawarkan pilihan ketiga.


“Tidak, tidak. Jangan yang itu juga.”


“Ayah Bunda saja. Itu pilihan yang paling baik.” Itu sudah final, Kinara tidak mau panggilan lainnya. hanya ada dua pilihan. Yang pertama Ayah dan Ibu atau yang kedua Ayah dan Bunda. Jauh di dasar hatinya Dika juga setuju dengan panggilan itu, Ayah dan Bunda terdengar lebih nyaman di telinganya.


Kenapa kita jadi seperti sepasang suami istri sungguhan? Padahal gugatan ceraiku saja sedang bergulir di pengadilan, batin Kinara.


Bersambung....


.


.


Bersiaplah Ayah Dika, penderitaanmu belum seberapa. 😏🤣 Jangan menebak-nebak ending di novel emak, karena kalian nggak pernah tau kejutan yang akan emak berikan.


.


.


Jadi yang sering Vote biar emak rajin up. Ok.


.


.


Vote yang banyak, masuk 10besar sore emak up lagi. Penasaran kan Kinara ngerjain Dika kayak apa lagi 😅🤣

__ADS_1


__ADS_2