Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Harga Diri Kinara


__ADS_3

“Kinara ....” lirihnya.


Beberapa orang masih berkerumun sembari memegang benda tipis persegi panjang dengan kamera menyala untuk mengabadikan peristiwa yang akan mereka posting di sosial media. Dibumbui berbagai macam kalimat penghakiman yang berlebihan seolah mereka sendirilah yang paling benar dan paling tahu.


“Nathan!” Agra mencengkram kuat besi pembatas pakaian.


“Iya, tuan muda.”


Seorang laki-laki yang dipanggil Nathan mulai mendekat,


dia tak kalah tampan dari Agra.


Nathan sudah berdiri di depan Agra. Dia adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Agra.


“Urus semua orang yang merekam dan memotret kejadian tadi, jangan sampai ada satu gambar pun yang beredar. Aku tidak akan membiarkan nama baik Kinara ternoda,


berikan kompensasi kepada mereka untuk menghapus foto-foto itu,"


Agra memerintah sementara Nathan mengangguk mengerti.


“Dan jika mereka banyak bertingkah, gunakan cara kasar, apa pun itu jangan biarkan satu foto pun lolos. Mengerti, Nath?!” Agra menekankan kalimat terakhir untuk menjadi peringatan bagi Nathan.


“Baik, tuan muda.” Secepat itu Nathan sudah memerintah bawahannya untuk mengurus beberapa orang yang memotret.


Bukan hal yang sulit untuk Agra melakukan hal itu, terlebih lagi dia merupakan salah satu pemilik saham terbesar di pusat perbelanjaan itu.


Beberapa saat kemudian.


“Tuan muda.” Nathan membungkuk sopan, dia masuk ke dalam ruang tunggu VVIP setelah memastikan semua masalah teratasi.


"Bagaimana?" Agra sedang menyandarkan tubuhnya di punggung sofa dengan cahaya lampu yang temaram.


Dia tidak ingin Nathan melihat betapa berantakan penampilannya saat ini.


"Semuanya sudah beres, tuan muda," ucap Nathan.


"Bagus, kau bisa mendapat bonus untuk itu, Nath." Agra meletakan kedua telapak tangannya di wajah dan mengacak-acak rambutnya.


"Tidak perlu, tuan muda. Itu adalah tugas saya," ucap Nathan sembari membungkukan setengah badannya.


"Terima kasih, Nath. Jika tidak ada yang mau kau katakan lagi, kau bisa keluar sekarang," ucap Agra.


“Ada, tuan muda. Laki-laki itu adalah, tuan muda dari keluarga Mahendra. Dia adalah Dika Mahendra.”


“Dari mana kau tahu, Nath?”


“Saya pernah bertemu dengannya, tuan muda, sempat bersitatap beberapa kali ketika perusahaan kita menanda tangani perjanjian kerja sama.”


“Dia sudah menikah, Nath?”

__ADS_1


“Setahuku belum, tuan muda," jawab Nathan.


“Lalu wanita di sebelahnya?”


“Tentang itu aku tidak tahu, tuan muda. Yang pasti belum ada berita tentang pernikahan tuan Dika Mahendra.” Lanjut Nathan.


Lalu apakah kau benar-benar wanita seperti itu Kinara? batin Agra.


“Jika bukan istrinya, mungkinkah.” Nathan ragu-ragu, Agra melempar tatapan membunuh seketika Nathan menundukkan kepalanya.


Meski tempat itu minim cahaya, tapi tatapan mata Agra terasa sangat jelas.


“Maafkan saya, tuan muda.” Menyadari kesalahannya Nathan segera meminta maaf. Dia tidak ingin suasana hati Agra semakin kacau.


“Kumpulkan semua data tentang keluarga Mahendra.” Dika mengeratkan kedua jemarinya.


Nathan hanya mengangguk, dia tidak ingin salah bicara lagi.


Nampaknya wanita ini memiliki posisi berbeda di hati Agra. Tidak seperti mantan-mantan kekasihnya, yang seperti orang sambil lalu. Hanya melepas penat lalu saling melupakan.


“Terutama selidiki wanita itu. Namanya, Kinara Amalia.”


Aku percaya padamu, Kinara. Aku melihat ketulusan di matamu, wanita sepertimu tidak mungkin naik ke atas ranjang laki-laki hanya karena kilauan emas dan permata. Setidaknya aku harus menuntaskan keyakinanku padamu, batin Agra.


“Jika sampai besok pagi kau belum mendapatkan semua data mereka, berikan surat pengunduran dirimu, Nath. Bekerjalah dari sekarang dan selesaikan tugasmu, jangan mengecewakan aku.”


“Baik, tuan muda.” Nathan tidak yakin apakah dia bisa menerobos sistem keamanan Dika Mahendra, mencari informasi rahasia keluarga besar seperti Dika bukanlah perkara yang mudah.


“Tunggu.”


Nathan menegakan tubuhnya. "Ada apa, tuan muda?"


“Beli semua baju yang sempat di pilih oleh Kinara," gumamnya.


Kinara? Ah gadis itu, batin Nathan.


Nathan mengerti, dia membungkuk dan keluar dari dalam ruangan. Dia segera menghampiri SPG dan memintanya membungkus semua pakaian yang sempat disentuh Kinara.


"Sudah beres, tuan muda." Nathan masuk ke dalam ruang tunggu dengan dua buah kantung belanjaan.


"Bawa kemari."


Nathan mengerti, dia segera mendekat dan menyerahkan kantung belanjaan itu. Agra segera membukanya, semua model baju yang ada di dalam kantung itu adalah baju dengan lengan panjang dan leher tertutup.


Kau ingin menutupi bekasnya, Kinara? Bekas lak-laki itu, batin Agra.


***


🍃Mansion Dika🍃

__ADS_1


“Selamat datang, tuan muda. Selamat datang, nyonya.” Beberapa pelayan sudah berbaris rapi begitu mengetahui mobil Dika memasuki gerbang utama. Termasuk pak Budi dan bibi Ane.


Kinara mengangguk pelan diiringi senyum tipis di bibirnya, dia sedang berusaha menetralisir perasaannya. Ini bukan salah pelayan-pelayan itu, semarah apa pun Kinara, dia tetap harus berada dalam koridor yang pantas.


Tidak melibatkan orang lain dalam masalah pribadinya adalah prinsip hidup Kinara.


Sementara laki-laki di sampingnya yang tak lain adalah suaminya.


Wajah Dika tak ubah seperti cucian yang belum kering. Kusut dan terlihat menyebalkan, membuat yang menyapa tidak berani untuk sekadar menatapnya.


Ada apa dengan tuan muda? Apa mereka bertengkar? Kenapa wajahnya kusut begitu?


Mungkin seperti itu sekelebat pertanyaan yang bergelayut di kepala mereka semua. Terserahlah, Kinara tidak peduli, yang jelas dia sudah berusaha bersikap ramah.


“Masuk ke dalam kamarmu! Aku tidak ingin berdebat lagi!”


Setelah mengucapkan itu Dika meninggalkan Kinara begitu saja, dia melangkah menaiki satu persatu anak tangga dengan ekspresi wajah tak terbaca.


Dan Kinara tidak peduli itu, tanpa disuruh sekalipun dia juga tidak ingin berdebat dengan Dika.


Kinara ingin segera masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di balik selimut tebalnya, kembali meringkuk seperti biasanya. Si ulat bulu yang malang.


Nyatanya semua harapan yang menggantung tinggi itu terjerembab sampai ke dasar. Harga diri yang dia bangun sedemikian rupa hancur tak berjejak.


Seperti debu yang tertiup angin, entah pergi ke mana bersama arah angin berembus.


Dika menghancurkan segalanya, andai Dika mengatakan jika dirinya adalah seorang istri. Setidaknya Kinara masih memiliki secercah kepercayaan diri ketika bertemu dengan Agra, tapi sekarang? Sudahlah, semuanya sudah berakhir.


Brak ...!!


Kinara membanting kasar daun pintu kamarnya.


Dia tidak peduli jika kamarnya hancur sekalipun.


Kinara langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur, untuk beberapa saat dia terisak. Suaranya teredam karena bantal, tetapi hatinya merasakan kesakitan yang luar biasa.


Sampai perlahan matanya mulai terpejam dan dia terlelap dalam waktu cepat.


Bersambung...


.


.


.


Jadi kalau kalian sayang dan suka dengan novel ini mending kalian like dan kasih vote yang banyak. Ingat, simbiosis mutualisme.


Kalian butuh cerita yang bagus dan menghibur, author butuh Like dan Vote. Jadi kita sama2 menguntungkan, ok ❤️

__ADS_1


Salam sayang dari emak kece semangatoon 🤣


__ADS_2