Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Derita Gadis Desa (Part 2)


__ADS_3

🌸Aku tidak pernah berharap hidupku akan seperti Cinderella.


Diangkat dari penderitaan dan dihujani banyak cinta.


Atau seperti Snow White yang diselamatkan oleh pangeran tampan berkuda putih.


Dan memberinya begitu banyak cinta kasih.


Tidak berharap hidupku akan sempurna sebagaimana ratusan kisah dongeng yang sudah ku tamatkan sewaktu kecil dulu.


Aku hanya berharap bisa dicintai, walau hanya sedikit saja🌸


“Kinaaaaarrr...!!”


Kinar terperanjat dari lamunannya, tubuhnya yang lemah bersandar di tembok kamar Dika. Pakaiannya yang basah sudah hampir mengering, mungkin sebotol air yang disiram Dika ke tubuhnya sudah terserap habis, masuk ke dalam pori-pori tubuh Kinar. Tergopoh Kinar menekan handle pintu dan belari masuk ke dalam kamar suaminya, ah mungkin lebih tepatnya kamar Tuannya. “Iya Tuan.” Kinar menjawab dari balik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Hanya terdengar suara gemericik air.


“Apa kau sebodoh itu? Di mana handuknya?” Dika terus berteriak.


Ya Tuhan, hanya karena handuk sampai sepahit itu kalimat yang keluar dari mulutnya. Batin Kinar.


Kinar memutar kepalanya mencari di mana handuk sialan yang telah membuatnya di caci maki.


Setelah menemukan handuk yang dicarinya Kinar segera meraih handuk itu, mengetuk pintu kamar mandi dan mendorongnya sampai terbuka setengah bagian.


“Apa aku harus bangun hanya untuk mengambil handuk itu?!” Dika terus berteriak,


Kinar menghela napas, berat. Ia harus menguatkan dirinya sendiri, saat ini tidak ada siapa pun di sisinya. Tidak ada Ayahnya yang selalu melebarkan pundak untuk Kinar bersandar ketika kelelahan menghadapi beratnya cobaan hidup, tidak ada Mirna yang selalu memberikan pelukan hangat ketika Kinar menangis, pun tidak ada Manda yang selalu menghibur dengan tingkah konyolnya ketika Kinar bersedih. Tidak ada. Saat ini hanya ada dirinya yang harus kuat menjalani takdir yang kejam ini. Seorang diri menghadapi kejamnya perlakuan Dika.


Kinar kembali mendorong pintu kamar mandi, kali ini membukanya penuh. Nampak Dika sedang berendam di dalam bak mandi, tubuhnya terlihat berkilauan di bawah sorot lampu kamar mandi. Laki-laki tampan dengan dada bidang, lengannya berotot, rambutnya yang basah masih meneteskan air, jatuh satu-persatu mengenai pundaknya, kaki jenjangnya tertekuk, hanya menampakkan bagian paha dan betis.


Wajahnya terlihat sangat tampan, tubuhnya benar-benar terbentuk dengan sempurna.


Sepertinya Tuhan benar-benar mencintai laki-laki ini, Dia memberikan segalanya kepadamu. Bahkan mengirimkan wanita bodoh sepertiku yang bisa kau perlakukan sesuka hatimu. Batin Kinar.


Kinar memalingkan wajahnya, dia tidak tertarik barang sedikit pun dengan tubuh Dika. Kinar menyodorkan handuk itu tanpa melihat ke arah Dika.

__ADS_1


Dika menerimanya, mengambil kasar. Keluar dari dalam bak mandi, melingkarkan handuk yang diberikan Kinar. Lalu berjalan keluar. “Apa kau ingin berdiam di dalam kamar mandi?!” Dika terus berteriak, Kinar heran apakah pita suara Dika benar-benar kuat. Siapa yang tahu, mungkin saja Dika memiliki cadangan pita suara, bukankah itu jelas terlihat karena Dika selalu saja berteriak setiap kali memerintah.


“Ah.” Kinar berjalan keluar, memegang handle pintu kamar mandi dan menutup rapat.


Dika sedang berdiri di depan kaca berukuran besar yang memantulkan seluruh bayangan tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tubuhnya hanya di balut handuk yang melingkar dari pinggang sampai bagian atas lutut. Tubuh bagian atasnya masih setengah basah.


Ah.. aku bisa sakit mata melihat pemandangan tidak senonoh ini. Batin Kinar.


Kinar menundukkan wajahnya, memainkan jemarinya, lalu menggoyang-goyangkan kakinya di atas lantai.


Sementara Dika masih mematung di depan kaca, sedang menikmati ketampanan wajahnya yang telah Tuhan anugerahkan padanya. Tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil, sementara Kinar hanya mematung. Berdiri di belakang Dika, tidak tahu harus berbuat apa.


Untuk apa aku di sini? Jadi patung? Batin Kinar


Dika melempar handuk kecil yang setengah basah karena telah menyerap sebagian air dari rambutnya yang basah. Kinar menangkap handuk itu dengan terburu-buru, hampir saja keseimbangan tubuhnya goyah. Untung tangannnya cekatan bertumpu pada meja kecil yang berada di samping sofa, namun tangannya tidak sengaja menyenggol sebuah bingkai foto sampai bergoyang-goyang hampir terjatuh ke lantai.


Traaak...


Haaah.. kinar menghela napas lega. Untungnya bingkai foto itu hanya jatuh tertelungkap di atas meja.


Hampir saja.


Siapa wanita ini, cantik sekali.


Di bagian bawah foto, tepatnya di sebelah kanan ada sederet huruf yang merangkai kata “wanitaku”.


Deg, Kinar panik. Sampai hampir kembali menjatuhkan bingkai foto itu.


“Apa yang kau lakukan?” Semene-mena Dika mendorong tubuh Kinar sampai tersungkur di atas lantai.


“Itu, aku hanya...” belum sempat Kinar menjelaskan, Dika sudah memakinya berapi-api seolah-olah Kinar telah melakukan sebuah kesalahan besar.


Ngiiiiinggg.....


Telinga Kinar berdenging, pandangan matanya kabur, nampak kunang-kunang berterbangan di depan matanya, kepalanya benar-benar terasa sakit seperti dihantam sebuah batu besar. Setelah itu Kinar tidak tahu apa yang terjadi. Ia justru terdampar di atas ranjang.

__ADS_1


Kinar terbangun dari tidurnya, membuka mata perlahan dan mengerjapkan beberapa kali. Meraba dengan tangannya. Ah.. apa ini kamarku?


Gumamnya.


Kinar duduk di atas ranjang. Menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kinar menguap beberapa kali, ia memperhatikan dirinya sendiri. Baju yang basah itu sudah berganti. Apa yang sebenarnya terjadi?


Kinar kembali bertanya kepada dirinya sendiri.


Kinar mencoba mengingat kembali, tak banyak yang ia ingat. Kinar hanya ingat terakhir kali dirinya hampir memecahkan sebuah bingkai di mana terpajang foto seorang wanita, dengan paras cantik jelita sedang memegang tuts piano. Lalu seketika Dika mendorong tubuhnya dan memakinya habis-habisan, namun Kinar hanya mengingat sebaris kalimat yang begitu menyayat hatinya.


“Lepaskan tangan kotormu dari bingkai itu.” kalimat itulah yang membuatnya tak sadarkan diri.


Ahhh.. aku yang kotor ini benar-benar tidak tahu malu. Bisa-bisanya aku menyentuh barang berharga miliknya.


Kinar tidak peduli siapa wanita di dalam foto itu, hanya saja kalimat yang keluar dari mulut Dika tidak pernah ada manis-manisnya. Dika benar-benar seperti si pahit lidah.


Kinar menarik kedua kakinya, membuat sprai di kasurnya ikut tertarik dan terlihat kusut. Ia memeluk kedua kakinya, membenamkan wajahnya di antara kedua tempurung lututnya. Kinar menangis tersedu, menumpahkan segala lara yang dialaminya di dalam kamar kecil yang sebelumnya merupakan sebuah gudang alat-alat musik yang sudah tidak terpakai.


Tidak. Aku tidak akan kalah oleh laki-laki apatis itu, aku harus menyelesaikan pendidikanku secepat mungkin. Meraih cita-citaku untuk lalu memberikan hidup yang layak untuk Ibu, dari jerih payahku sendiri. Demi ibu.


Kinar bergumam di sela tangisnya, ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.


\=\=\=Bersambung 💕💕


Terus dukung Author yah..


Jangan lupa klik Like 🖒


Tinggalkan komentar 💬


Klik Favorit ❤


Beri Tip dan Vote yang banyak


Beri bintang 5

__ADS_1


Dan follow akun author


makasih 😍😍🤗


__ADS_2