Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Hay, Amanda


__ADS_3

Mobil masih melaju menembus padatnya jalanan kota. Satu per satu bangunan tinggi berdinding kaca itu mulai dilewati.


Hiruk pikuk perkotaan berangsung-angsur menghilang tertelan jarak, berganti dengan hamparan pesawahan menghijau dan kebun di kiri kanan jalan, segerombolan orang sedang bersenda gurau di pinggir jalan sembari menikmati makanan dan minuman.


Ada juga yang sedang berjalan beriringan berbincang sembari menuntun sepeda, pakaian mereka sangat kotor dengan topi di kepala dan cangkul di bagian belakang sepeda. Ada juga yang membawa rumput untuk makanan ternak.


Alangkah damainya hidup di perkampungan, jauh dari hingar bingar kehidupan kota yang kerap kali membuat sakit kepala. Akan lebih baik pula jika Kinara tetap tinggal di sisi ibu dan adiknya, meskipun hanya menempuh pendidikan di universitas biasa setidaknya hati Kinara jauh lebih bahagia.


Pemandangan itu berhasil menyita fokus Kinara, tak henti-hentinya Kinara berdecak kagum dan tersenyum simpul ketika melihat orang-orang desa yang berlalu lalang.


Ken mengurangi laju mobilnya, dia memperhatikan Kinara dari kaca depan mobil.


Kinara yang sedang menatap jalanan pedesaan dengan senyum mengembang di bibirnya itu, Ken tak kuasa untuk menyudahi. Ken membiarkan Kinara untuk menikmati waktunya.


“Kenapa, Ken? Apa kita sudah sampai?” Kinara memutar kepala dan melihat sekeliling. “Apa kau lupa di mana rumahku?”


“Tidak, Nyonya. Bukan itu, saya tidak enak hati mengganggu Nyonya yang sedang menikmati pemandangan. Di depan ada pertigaan. Saya belum tahu alamat sekolah adik Nyonya.”


“Astaga.” Kinara menepak dahi. “Maaf aku lupa, Ken.” Tertawa ringan. “Pertigaan itu kau belok kiri, seterusnya aku akan arahkan.”


“Baik.” Ken mengangguk, dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Adik Nyonya siapa namanya dan usianya berapa tahun?”


“Kau tidak tahu, Ken?”


Ken menggeleng.


“Ketika kau menjemputku apa kau tidak melihatnya?”


Ken menggeleng lagi.


“Hmmm ... pantas saja, aku pikir kau sempat bertemu dengan adikku.”


Ken hanya tertawa kecil.


“Namanya Amanda, Ken. Usianya baru 16 tahun, masih sangat kecil. Yah walaupun sebagian orang menganggap dia sudah dewasa, bagiku dia tetap anak kecil yang manja.” Kinara menunduk.


Ketika Ken datang ke rumah untuk menjemput Kinara, Amanda memang sedang tidak ada di rumah sehingga Ken tidak pernah bertemu dengan Amanda.


“Dia pasti seanggun dan secantik Nyonya.” Ken berusaha mencairkan suasana.


“Tidak, Ken. Kau salah.”


Ken mengelus sudut alisnya.


“Dia lebih cantik dariku, dia lebih tangguh, lebih kuat, dan lebih dari apa yang kau bayangkan, Ken.” Kinara tersenyum lebar ketika membicarakan soal Amanda. “Aku takut kau akan jatuh hati pada Adikku ketika melihatnya.”


“Itu ... sepertinya ....” Ken mengelus lehernya.


“Sepertinya apa? Asal kau tahu saja, Amanda itu memiliki pribadi yang luar biasa. Siapa pun laki-laki yang bisa menaklukan hatinya sudah pasti dia laki-laki yang sangat beruntung.”


Ken hanya tertawa kecil mengiyakan ucapan Kinara.


Nyonya saja sudah membuatku kagum, apa mungkin ada lagi gadis yang lebih tangguh dari Nyonya, yah? Rasanya aku tidak percaya, batin Ken.


***

__ADS_1


Mobil sudah berhenti di depan sekolah Amanda sesuai arahan Kinara. Ken segera menepikan mobilnya dan membuka pintu untuk Kinara.


Keduanya memilih untuk menunggu Amanda di luar, duduk di salah satu gerobak makanan yang terbuka sehingga Kinara bisa melihat jika adiknya keluar. Kinara sengaja tidak memberi tahu Amanda terlebih dahulu jika dirinya akan pulang kampung, ini adalah bagian dari rencananya untuk memberikan kejutan kepada Amanda.


Kinara menghentak-hentakan kecil kakinya di atas tanah bersemen, terlihat jelas kebahagiaan di wajah Kinara karena tidak sabar ingin mendekap Amanda sebagai bukti betapa dia sangat merindukan gadis berambut lurus itu.


Ken melirik dan memperhatikan tingkah Kinara, sesekali Ken tersenyum karena malu. Kinara lebih bahagia bertemu dengan adiknya daripada menghabiskan uang suaminya.


Apa Nyonya harus sesenang itu? Sepertinya dia sangat merindukan adiknya, aku jadi penasaran seperti apa adik Nyonya, apa benar lebih cantik dari Nyonya? batin Ken.


Setelah menunggu kurang lebih satu jam dan satu porsi siomay sudah mendarat di perut Kinara dan Ken, beberapa siswa mulai berlarian keluar dari gerbang sekolah.


Nampaknya sudah jam pulang sekolah. Kinara sumringah, matanya mulai berkaca-kaca membayangkan akan seperti apa reaksi Amanda ketika melihatnya ada di sekolah.


Seorang gadis berkulit putih dengan wajah menawan melambaikan tangan pada salah satu temannya yang pergi lebih dulu, gadis itu adalah Amanda.


Dia sedang menuntun sepeda berkeranjang depan, sepeda andalannya untuk pergi sekolah. Jarak sekolah dan rumah memang tidak terlalu jauh, itulah kenapa Amanda lebih suka naik sepeda daripada naik kendaraan umum.


Amanda berjalan mendekat, rambut yang dikuncir ala ekor kuda itu berayun ke kiri dan ke kanan ketika dia berjalan. Tas gemblok yang sudah lusuh itu menempel sempurna di bahunya.


“Nyonya apakah itu Amanda?” Ken menunjuk Amanda.


“Iya, itu adikku.” Kinara mengangguk. “Lihat, dari kejauhan saja dia sangat cantik,” ucap Kinara bangga.


“Lalu mengapa Nyonya masih berdiam diri di sini?” Ken bangkit dari duduknya dan berniat menghampiri Amanda. “Ayo kita temui Amanda, Nyonya pasti sangat merindukannya, bukan?”


“Tunggu dulu, Ken.” Kinara memicingkan matanya untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar atau tidak. “Aku melihat sesuatu yang aneh di sepedanya.”


Ken menatap tajam sepeda yang sedang didorong Amanda. “Apanya yang aneh, Nyonya? Aku rasa tidak ada yang aneh, itu hanya sepeda biasa. Seperti sepeda perempuan pada umumnya.”


“Perhatikan bagian depan sepedanya, Ken.” Menunjuk keranjang sepeda.


“Iya, ada tumpukkan plastik dan kotak makanan di dalam keranjang itu. Apa kau bisa melihatnya, Ken?”


“Iya, aku melihatnya. Maaf, Nyonya, tapi aku masih tidak mengerti maksud dari kalimatmu.” Ken memilih untuk duduk lagi di samping Kinara.


“Tunggu beberapa menit lagi, Ken.” Kinara menundukan kepalanya. “Jika dugaanku benar seharusnya sudah ada yang datang.”


Ken menurut dia menunggu beberapa menit seperti apa yang dikatakan Kinara. Amanda juga terlihat berhenti, memarkirkan sepedanya di bawah pohon yang rindang sementara dirinya memijat kecil betisnya.


Lima menit berlalu, seorang Ibu paruh baya menghampiri Amanda dan menyerahkan kotak makanan kepada Amanda. Kotak makanan yang sama seperti yang ada di keranjang depan sepedanya. Amanda nampak tersenyum lalu mengelus dadanya, dia menerima uang yang sudah dimasukkan ke dalam plastik es. Jumlahnya tak banyak, hanya terlihat gulungan uang dua ribuan dan beberapa koin.


Perempuan itu pergi, Amanda segera mengikat kotak yang berisi gorengan itu di bagian belakang sepedanya, mungkin ada lima gorengan yang masih tersisa.


Ken tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan dua orang itu, tetapi jika dilihat dari situasinya jelas sekali Ibu-ibu itu menyerahkan uang dari hasil jualan yang dititipkan Amanda. Mungkin dia adalah Ibu kantin.


“Nyonya ... apakah ....” Ken menatap Kinara dan Amanda secara bergantian. Dia tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya, takut itu akan menambah luka di hati Kinara. dia sudah bisa menebak sendiri keadaan Amanda tanpa perlu bertanya.


Kinara menundukkan kepalanya, bahunya naik turun seirama air mata yang jatuh menetes. Kinara terisak. “Dia jualan gorengan, Ken. Apa selama ini keluargaku kekurangan uang sampai adikku harus berjualan?”


“Nyonya, apakah aku harus menghampiri adik Nyonya? Sepertinya dia akan segera pergi,” ucap Ken.


“Tidak, jangan. Aku tidak ingin dia melihatku yang seperti ini. Amanda berjualan gorengan, bagaimana mungkin gadis kecilku harus bersusah payah berjualan. Tuhan ... takdir macam apa yang kau berikan pada keluargaku? Tidak cukupkah aku saja yang menderita?” Kinara menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya semakin menjadi. “Aku sudah memberi kartu tanpa limit itu pada ibu, kenapa hidup mereka masih seperti ini. Aku sudah menjual kebahagiaanku, seharusnya mereka bahagia, kan?”


Kinara menoleh, menatap Ken dengan mata berair. Kedua pipinya basah karena air mata yang tumpah tanpa permisi, Ken memalingkan wajahnya tak kuasa menatap Kinara. “Katakan, Ken! Apa ibuku tidak pernah menggunakan kartu yang diberikan Dika? Seharusnya setiap bulan laporan penggunaan kartu itu bisa diketahui, kan?”


Ken diam untuk beberapa saat.

__ADS_1


“Jawab aku, Ken!” Kinara berteriak, beberapa orang sampai harus memperhatikan keduanya.


“Iya, kau benar, Nyonya. Ibu tidak pernah menggunakan sepeser pun uang yang ada di dalam kartu itu.” Ken menunduk dalam.


“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, Ken?! Aku bersusah payah untuk bertahan hidup dari uang yang kuhasilkan sendiri demi menghindari menggunakan uang manusia terkutuk itu, tetapi setidaknya Ibuku tidak harus melakukan hal yang sama.”


“Aku minta maaf, Nyonya. Aku pikir Nyonya mengetahuinya.”


“Kau pikir darimana aku mengetahui hal ini? Setelah menikah, ini kali pertama aku pulang. Setelah menikah aku dilarang menghubungi Ibuku sendiri tanpa persetujuan Dika, lalu dari mana aku bisa tahu tentang ini, Ken?!”


“Aku ....” Ken mengedarkan pandangan matanya, tidak terlihat lagi Amanda di sekitar situ. Ken bangkit dari kursi. “Nyonya, di mana adikmu?” tanya Ken panik. “Kau boleh memarahiku habis-habisan, tapi apakah boleh setelah aku menemukan adikmu?”


“Seharusnya dia ke arah sana.” Menunjuk. “Aku akan menghampus air mataku terlebih dahulu lalu menemuinya.”


“Baiklah.” Ken bergegas memacu langkahnya, menengok ke kiri dan ke kanan. Dia berjalan cukup jauh sampai dia melihat Amanda yang sedang duduk di tepi trotoar sembari menyedot es tebu miliknya.


Ken mendekati Amanda dengan napas terengah. “Akhirnya aku menemukanmu, Amanda.”


“Si ... siapa kau?” Amanda terkejut, dia bangun dan melihat sekeliling.


Ada banyak orang di sini, jika laki-laki ini penjahat seharusnya dia tidak berbuat nekad, kan? batin Amanda.


“Hay, tenang. Kau Amanda, kan?”


“Ya, aku Amanda. A ... ada perlu apa, yah?” Amanda memundurkan tubuhnya beberapa langkah untuk menghindari Ken.


“Aku, Ken.” Ken mengulurkan tangannya, dia memperhatikan amanda dengan seksama. Melihat dari atas sampai bawah. Anak remaja yang seharusnya sedang bermain bersama teman-temannya lebih memilih membantu perekonomian keluarga. Bukankah itu hal yang luar biasa? Nampaknya apa yang dikatakan Kinara adalah fakta.


“Emmm ....” Amanda memilih untuk diam, dia tidak menanggapi apa yang dikatakan Ken apalagi menjabat uluran tangannya.


“Tidak perlu takut, Manda. Apa kau tidak pernah mendengar namaku?”


Siapa sih laki-laki ini, bagaimana mungkin aku tidak takut jika kau tiba-tiba datang seperti itu, seperti mau memalak uangku saja, batin Amanda.


“Kenendra,” ucap Ken.


Kenendra? Siapa Kenendra? Aku tidak kenal, tunggu Ibu pernah menyebut jika asisten Mas Dika bernama Kenendra, apa mungkin ? batin Amanda.


“Apa kau asisten pribadi Mas Dika?” tanya Amanda ragu-ragu.


“Iya, akhirnya kau mengingatku, Amanda.” Ken tersenyum tipis.


Setelah menjelaskan semuanya pada Amanda, Ken dan Amanda segera menemui Kinara. Kinara tidak banyak bertanya tentang Amanda yang berjualan gorengan, Kinara hafal sifat Amanda. Dia tidak ingin membuat Amanda sedih.


Akhirnya Kinara dan Amanda pulang bersama dengan mobil yang dikendarai Ken. Sementara sepeda Amanda diletakan di atas mobil. Perduli setan apakah mobil itu akan rusak atau tidak, Kinara tidak peduli.


\=\=\=> Bersambung...


.


.


Jangan lupa like dan VOTE yah nakanak emak 😚


.


.

__ADS_1


Itu yg suka minta up tapi nggak kasih like san VOTE tolong tenggelamkan 😂😂😁


__ADS_2