Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Akhir Segalanya (Part 2)


__ADS_3

Permisi Emak mau jualan bawang dulu 🤣


“Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Ken khawatir melihat ekspresi Kinara.


“Iya ... ak—u baik-baik saja.” Kinara menelan salivanya, memutar tubuhnya sampai berhadapan dengan Ken. “Ini ... apa maksudnya, Ken?” Menunjukan selembar kertas.


Ken terdiam. Tertunduk dalam. Ada interval sekitar 30 detik sampai dia mengangkat kepala dan tersenyum. “Tuan Muda sedang mengabulkan keinginanmu, Nyonya.”


“Keinginanku?”


“Iya, hal yang selama ini Nyonya inginkan. Hal yang sudah Nyonya perjuangkan.”


Kinara mengurut keningnya. Masih meraba kalimat yang diucapkan Ken.


“Tuan Muda dan team kuasa hukum sudah mengurus semuanya, gugatan cerai yang Anda ajukan sudah dibatalkan oleh pengadilan, dan ....” Ken diam lagi.


Apa maksudnya membatalkan gugatan ceraiku? Aku tahu dia berkuasa, tapi apa dia tidak ingin semua kekeruhan ini berakhir? Kenapa sekarang dia yang mengajukan perceraian? Aku benar-benar tidak mengerti pola pikirmu, Dika. batin Kinara.


Membatalkan gugatan cerai yang dilayangkan Kinara adalah hal yang mudah dilakukan seorang Dika Mahendra, tapi selembar kertas yang ada di tangan Kinara itu berarti apa.


“Lalu.” Kinara meletakan selembar kertas itu di atas meja. “Apa artinya sekarang tuanmu yang berbalik menceraikan aku, begitu?”


“Sepertinya Anda sudah salah paham. Tujuan Tuan Muda melayangkan surat perceraian ini justru demi menjaga nama baikmu, Nyonya. Tuan Muda tidak ingin kau diseret ke pengadilan hanya untuk bersaksi atas gugatan cerai Anda, apa lagi Nyonya sedang dalam keadaan hamil.”


“Kenapa tidak sejak pertama saja dia tanda tangani surat cerai dariku?”


“Karena ... saat itu Tuan Muda belum bisa membedakan perasaan cinta di hatinya. Apakah hatinya benar-benar untuk Nona Carissa atau untuk Nyonya.”


“Tapi semuanya sudah terlambat, Ken. Hatiku sudah terlalu sakit. Aku sudah terlanjur membencinya," ucap Kinara. Ada bulir bening yang meluncur tiba-tiba dan jatuh di ujung kertas itu.


“Itulah kenapa Tuan memutuskan semua ini. Menyesalpun tidak ada gunanya lagi, pintu maaf tidak pernah Nyonya buka untuk Tuan. Mungkin ... inilah satu-satunya hal yang bisa Tuan lakukan untuk Nyonya.”


“Jadi? Apa mau tuanmu?"


“Tuan sudah menanda tangani surat perceraian itu. Jika Nyonya menanda tangani di sini.” Ken menunjuk bagian atas nama Kinara dengan ibu jarinya. “Maka kalian berdua resmi berpisah. Namun, untuk menikah lagi Nyonya tetap harus menunggu sampai anak Nyonya lahir dan masa Iddah berakhir.”


“Aku tahu, Ken. Aku juga tidak akan terburu-buru memutuskan untuk menikah lagi. Masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan."


Setidaknya aku harus berpikir jernih, batin Kinara.


“Ada beberapa hal penting yang harus saya sampaikan pada Nyonya.”


“Apa lagi?” Kening Kinara berkerut. Pantas saja berkas yang dibawa Ken sangat tebal. Ternyata isinya bukan hanya surat cerai.

__ADS_1


Ken menggeser tubuhnya, merubah posisi duduk agar lebih nyaman. Ken mengeluarkan beberapa berkas dan menjelaskan satu per satu pada Kinara.


"Silakan Anda lihat berkas yang ini." Ken menyodorkan berkas yang cukup tebal pada Kinara.


Kinara membuka berkas itu. Ada banyak tulisan, pasal, dan kalimat yang tidak Kinara mengerti sepenuhnya. Dia hanya mengerti beberapa point saja, itu terlihat seperti pengalihan hak waris atau semacamnya. Kinara mengernyitkan dahinya sampai kedua alisnya bertaut.


"Aku tidak terlalu mengerti dengan maksud tulisan-tulisan ini, Ken." Kinara masih fokus membalik lembar demi lembar untuk dapat memahami isi berkas.


"Biar saya jelaskan secara rinci, Nyonya." Ken menatap berkas itu. "Ini adalah berkas peralihan aset keluarga Mahendra."


Tangan Kinara berhenti bergerak, dia mendongak dan menatap wajah Ken. "Peralihan aset?" tanya Kinara.


"Iya, Nyonya." Ken menganggukan kepala. "Tuan Muda telah membuat surat wasiat yang disaksikan langsung oleh tim kuasa hukum beliau. Ada banyak point, tetapi saya akan menjelaskan intinya saja. Dan juga ada beberapa point penting yang akan saya rangkum agar lebih mudah diphami. Pertama ...."


"Tunggu ... tunggu dulu, Ken. Berikan aku waktu untuk mencerna semuanya."


Ken mengangguk.


Sepersekian detik kemudian.


"Jadi maksudmu Dika ingin menceraikan aku, lalu memberiku warisan begitu? Atau sejenis harta gono gini?"


Ken menggaruk kepalanya sembari tersenyum. Kalimat harta gono gini yang baru saja diucapkan Kinara terdengar aneh di telinga Ken. Karena pembagian harta gono gini terjadi apabila harta yang dimiliki keduanya adalah hasil jerih payah mereka. Sementara dalam kondisi ini Dikalah yang memiliki segalanya.


Ken tersenyum senang. Ternyata Kinara memang berbeda dari wanita pada umumnya. Alih-alih menuntut pembagian harta gono gini, Kinara justru menolak dengan mantap pembagian aset itu.


"Ini bukan seperti yang Anda pikirkan, Nyonya. Dengarkan saya dulu, setelah itu Nyonya bisa mengambil keputusan. Apakah Nyonya mau menerima atau menolak." Ken tersenyum dan dijawab anggukan kepala oleh Kinara.


"Baik, akan saya bacakan. Pertama. Selama masa kehamilan seluruh biaya hidup Nyonya di tanggung oleh Tuan Muda. Baik sandang, pangan, dan papan. Nyonya dilarang menerima pemberian atau bantuan secara materil dan imateril dari siapa pun kecuali dari Tuan Muda."


"Tapi ... aku ...," ucap Kinara terputus.


"Saya tahu, Nyonya hanya menerima bantuan dari Ibu Boss, bukan? Tapi setelah hari ini Bu Boss akan menghentikan semua bantuan untuk Nyonya. Nyonya bisa mengembalikan kartu tanpa limit yang diberikan Bu Boss, dan mulai hari ini Nyonya hanya diperbolehkan memakai uang milik Tuan Muda."


"Aku tidak bisa menerimanya, Ken." Kinara menggelengkan kepala.


"Saya mohon, Nyonya. Tolong berikan kesempatan untuk Tuan Muda, agar bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Meskipun semuanya sudah berakhir, tapi setidaknya inilah yang bisa Tuan Muda lakukan untuk Nyonya." Nada suara Ken terdengar lebih rendah, permohonan Ken terdengar sangat tulus.


"Baiklah aku terima ...."


Ken tersenyum. "Kedua, setelah Nyonya dan Tuan resmi bercerai, maka Tuan Muda sebagai Ayah dari anak yang ada di dalam perut Nyonya akan bertanggung jawab sepenuhnya. Baik memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan kepada putranya. Semua kebutuhan putra Anda akan ditanggung oleh Tuan Muda, termasuk masa pertumbuhan dan pendidikan. Sekalipun Nyonya sudah menikah, Tuan akan bertanggung jawab penuh terhadap putranya."


Ken membalik halaman berkas.

__ADS_1


"Keeen! Aku tidak bisa menerimnya, aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap anakku!"


Ken tersenyum tipis. "Bukankah itu juga anak Tuan? Artinya Tuan berhak memberinya nafkah dan kehidupan yang layak. Terlepas dari kebencian yang Nyonya rasakan kepada Tuan Muda, dia tetaplah Ayah dari anakmu, Nyonya. Darahnya tetap mengalir di tubuh putramu."


Deg ....


Kinara terdiam, kalimat Ken tidak bisa dibantah. Diam adalah pilihan terbaik. Kinara menelan salivanya, mengigit bibirnya yang bergetar. Ada desir kesedihan yang memaksa masuk ke dalam hatinya.


"Ketiga. Selama Nyonya belum menikah, semua kebutuhan Nyonya tetap ditanggung oleh Tuan Muda."


Kinara terisak, bahunya mulai berhuncang. Dia meremas daster yang dikenakannya.


"Ini belum selesai, Nyonya. Nyonya akan jauh lebih terkejut ketika mendengar point berikutnya. Apa yang akan saya sampaikan mungkin bisa membuat Nyonya merubah pandangan terhadap Tuan Muda. Dia tidak seburuk yang anda pikirkan." Ken menunduk dalam. Memutar tubuhnya sampai membelakangi Kinara untuk menyeka air matanya, seorang Ken saja tak kuasa menahan kesedihan. Bagaimana dengan Dika?


"Tidak masalah, sampaikan saja apa yang ingin kau sa ... sampaikan," ucap Kinara terbata dengan napas berat.


"Baiklah. Keempat, ketika usia putra Tuan Muda sudah menginjak 18 tahun. Maka seluruh aset keluarga Mahendra akan jatuh ke tangan putra Anda. Seluruhnya, baik aset yang bergerak atau pun tidak bergerak. Termasuk mainsion yang saat ini ditempati Tuan Muda. Putra Nyonya akan menjadi pewaris tunggal atas kekayaan keluarga Mahendra."


"Arggg ...." Kinara terisak, kepalanya tertunduk dalam.


🍃Di dalam mobil🍃


Melihat Kinara menangis. Dika berniat membuka pintu mobil, berlari ke arah Kinara dan memluk tubuh istrinya. Namun, urung dia kembali duduk, terdiam dalam kesepiannya.


Dika meraba permukaan kaca mobil, membelai kaca itu seolah sedang membelai kepala istrinya.


"Jangan menangis, Sayang. Aku lakukan semua yang terbaik untukmu, untuk anak kita. Aku mohon, sudahi derita hidupmu. Berjalanlah maju, mulailah cerita baru, kau berhak bahagia meskipun tanpa hadirku. Jangan menangis, permata hatiku. Aku sangat mencintaimu, lebih dari mencintai diriku sendiri," ucap Dika diiringi isak tangis.


Hujan turun semakin deras, menjadi saksi atas kesedihan dua anak manusia.


Bersambung....


.


.


Awas ajah kalau votenya nggak kenceng 🤣🤣 Emak mogok update 😜


.


.


Nakanak emak mah bae2, pasti ngerti buat Vote.

__ADS_1


__ADS_2