
Begitulah pertemuan katiganya berakhir. Setelah mengantar Kinara pulang, Agra dan Allen akan menyusun rencana. Siapa yang tahu jika pertunangan itu hanyalah sandiwara yang disepakati kedua belah pihak. Allen juga tidak ingin bertunangan dan menikah ketika hati Agra masih milik orang lain. Setidaknya, dia lebih memilih untuk mendapatkan hati Agra terlebih dahulu.
Kisah mereka akan dilukiskan oleh takdir Tuhan.
Flashback Off.
Kinara tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara pak Budi memanggil namanya. Ternyata mobil yang dikendarainya sudah menepi.
“Iya, kenapa Pak Budi?”
Melihat jam tangan. “Kita magriban di mana, Nyonya?” tanya pak Budi.
“Di depan ada masjid tidak? Kalau ada kita mampir saja dulu. Pak Budi juga belum makan, kan? Sekalian kita makan dulu.”
Pak Budi terlihat menggaruk kepalanya.
“Kenapa, Pak? Pak Budi belum lapar atau bagaimana?”
Menggeleng. “Bukan begitu, Nyonya. Saya hanya ingin makan singkong goreng buatan adik Nyonya.”
Dahi Kinara berkerut, sesaat kemudia dia tersenyum. “Apa Pak Budi tahu dari Ken kalau Amanda pintar bikin gorengan?”
Pak Budi mengangguk malu. Sebenarnya entah siapa yang bodoh di sini, cerita Ken yang dilebih-lebihkan atau memang gorengan buatan Amanda itu benar-benar enak.
Kinara tertawa kecil. “Baiklah, asal kita sampai sebelum jam 9 malam. Aku rasa Amanda belum tidur. Dia selalu tidur tepat waktu karena harus bangun lebih pagi."
“Itu, apa benar-benar enak? Apa mungkin Ken sedang mengerjai saya?”
“Bapak salah. Gorengan buatan Amanda memang juara.” Kinara mengacungkan jempolnya diikuti senyum lebar.
Pak Budi manggut-manggut, sudah tidak sabar ingin mencicipi gorengan singkong dengan suasana kampung yang tenang.
***
Setelah beberapa meter akhirnya mereka menjumpai masjid. Kinara dan Pak budi mampir untuk sholat magrib. Dekat dengan Tuhan adalah cara terbaik untuk menenangkan perasaan. Kinara memilih menumpahkan segala lara di dalam hatinya. Tidak bisa memiliki orang yang dicintainya, mengikhlaskan laki-laki yang dicintai bersama wanita lain adalah kemalangan hidup yang harus tetap dia syukuri. Karena Kinara percaya, jika setiap kejadian selalu menyimpan arti tersendiri, selalu ada berkah di dalamnya.
Mobil kembali melaju menembus gelapnya malam. Setelah melewati belokan terakhir mereka akan sampai di rumah orang tua Kinara. Pak Budi tersenyum bahagia manakala melihat jam di tangannya baru menunjukan pukul 8 malam. Itu artinya Amanda belum tidur dan dia bisa mencicipi singkong goreng yang selalu dibanggakan Ken.
🍃Rumah orang tua Kinara🍃
Kinara turun dengan langkah terseret, beban hidup yang dialaminya nyaris membuat kinara putus asa. Namun, Kinara tahu dia tidak boleh menyerah. Pak budi mengikuti, berjalan di belakang dengan koper besar milik Kinara.
Tangannya bergetar ketika mengetuk pintu yang sudah lapuk, pintu kayu yang sebagian catnya sudah memutar.
“Iya, tunggu sebentar!” seruan dari dalam rumah itu adalah suara Amanda. Kinara tidak sabar ingin melihat senyumnya yang mengembang ketika keduanya bertemu.
“Kakak?” Amanda berlari memeluk Kinara begitu pintu rumahnya terbuka.
“Amanda, kau?” Kinara menatap takjub melihat penampilan Amanda. “Sejak kapan kau ...,” ucapnya terputus karena Amanda menggelengkan kepala.
“Sudah, Kakak bisa bertanya nanti. Semu pertanyaan akan aku jawab. Sekarang kita masuk dulu.” Menarik lengan Kinara.
“Siapa Manda?” Mirna datang dari belakang.
“Kak Kinar, Bu.”
“Owalah, kapan datang, Kinara? Kok tidak memberi kabar, tahu-tahu sudah datang.” Mirna langsung memeluk Kinara. Putrinya itu terlihat sedikit berisi. “Jalan lima bulan yah?” Mirna megelus lembut perut Kinara. “Naik berapa kilo?”
“Lima kilo.” Kinara tersenyum lebar sembari mengangkat kelima tangannya.
“Alaaaa.” Mengibaskan tangan. “Baru lima kilo, itu tetangga sebelah hamil 4 bulan sudah naik 10 kilo.”
Kinara membuka mulutnya karena kagum dengan pola pikir Ibunya. Padahal baru naik lima kilo saja dia sudah merasa gemuk.
“Bagaimana kabarmu? Sehat?”
Kinara mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.
“Loh kok malah nangis. Sudah, duduk dulu.” Membimbing Kinara untuk duduk di kursi. “Manda, buatkan teh hangat untuk kakakmu.”
__ADS_1
“Bu, kemari.” Kinara meminta ibunya mendekat, lalu dia berbisik. Mirna mengangguk.
“Sekalian singkong sama pisang gorengnya.”
“Iya, Bu.” Amanda langsung menghilang di dapur begitu mendapat perintah dari ibunya.
Sementara Pak Budi yang duduk di depan Kinara hanya bisa tersenyum malu. Semua ini gara-gara, Ken. Semenjak Ken bercerita tentang singkong goreng buatan Amanda, pikiran pak Budi jadi terbayang-bayang bagaimana rasanya.
“Laki-laki atau perempuan?” tanya Mirna begitu mereka sudah duduk di kursi.
Mirna sudah tahu dengan kondisi kehamilan Kinara, hanya belum tahu jenis kelamin calon cucunya. Dia juga tahu tentang Kinara yang menggugat cerai Dika. Mirna yakin, ada alasan besar yang mendasari Kinara melakukan itu. Kinara bukan anak yang mudah mengambil keputusan tanpa memikirkan dengan matang.
“Laki-laki, Bu.”
“Alhamdulillah, Ibu mau punya cucu laki-laki. Tapi hasil USG kan kadang salah, itu anak tetangga di USG katanya hamil anak perempuan, eh pas brojol malah anak laki-laki.”
Ini tidak akan salah, Bu. Karena aku bukan hanya melakukan tes USG, tapi lebih dari itu. Aku bahkan melakukan tes DNA karena menantu Ibu ragu anak siapa yang ada di dalam perutku, sama seperti dia ragu ketika aku masih suci atau tidak. Meskipun begitu, aku sudah memaafkannya, kulakukan agar Bapak tenang di alam sana, batin Kinara.
Mirna memang tidak tahu sedikitpun tentang duka yang dialami Kinara, bahkan tidak tahu kejelekan Dika. Dan dia tidak perlu tahu, karena ketika Mirna tahu mungkin dia akan sangat marah dengan kelakuan menantunya.
“Kau mau menginap lama?” Mirna melirik koper besar yang ada di samping kaki Pak Budi.
Kinara mengangguk. “Mungkin sampai aku melahirkan. Aku ingin hidup di kampung saja, Bu.” Kinara terisak. “Biarpun aku harus berjualan gorengan, itu lebih baik.”
Mirna menarik napas dalam lalu mengangguk.
Beberapa saat kemudian amanda sudah kembali dengan dua gelas teh hangat dan sepiring singkong goreng. Setelah puas menikmati itu Pak Budi pamit pulang.
Kinara ingin menyendiri dulu, tidak diganggu apa pun atau siapa pun, termasuk keberadaan pak Budi yang mungkin akan menjadi mata-mata untuk Dika.
***
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Amanda sudah tidur nyenyak, sementara Kinara dan Mirna masih duduk di ruang keluarga ditemani secangkir teh dan gorengan buatan Amanda.
“Bu.”
“Iya, kenapa, Nak?”
Mirna menoleh, ketika mata mereka beradu Mirna segera menganggukan kepalanya.
“Menurut Ibu, hal apa yang paling penting bagi seorang istri?”
Kening Mirna berkerut, kenapa pertanyaan itu seolah mewakili keadaan putrinya saat ini. mirna menarik napas panjang sebelum berucap, “Harga diri. Baik seorang istri maupun seorang wanita, yang penting bagi mereka adalah harga diri.”
“Lalu apa yang penting bagi seorang suami?”
“Kedudukan. Seorang suami harus memiliki kedudukan yang tinggi, karena dia harus melindungi, memimpin, dan menjalankan bahtera rumah tangga agar tidak terjerumus dalam kehancuran. Suami sebagai tulang punggung, dan istri sebagai tulang rusak. Keduanya harus saling melengkapi.”
“Bagaimana jika harga diri seorang istri dihancurkan oleh suaminya sendiri?”
Mirna diam.
“Suami itu kan pakaian bagi istrinya, kalau suami menghancurkan harga diri istrinya ya salah.”
“Apa suami itu berhak mendapatkan maaf?”
“Memaafkan bukan hanya tugas seorang istri ataupun suami, tetapi tugas semua orang. Karena menyimpan dendam sama seperti menyimpan bara api di dalam dada, lama kelamaan akan membakarmu juga.”
“Jika sudah memaafkan apa harus kembali bersama?”
“Memaafkan kan kewajiban. Sementara kembali atau tidak kan pilihan.” Mengelus punggung tangan Kinara.
“Bu, maafkan aku.” Tiba-tiba Kinara bersimpuh di kaki Mirna memuluk kedua lutut Ibunya.
“Kenapa, Kinar?” Mengelus puncak kepala Kinara.
“Aku sudah bercerai dari Dika, Bu. Aku gagal mempertahankan rumah tanggaku,” katanya dengan suara lirih.
Mirna menarik napas panjang dan mengembuskan napas perlahan.
__ADS_1
“Sudah resmi?”
“Emmm ....” Kinara mengangguk.
Mirna sedikit terperanjat. Seorang istri yang sedang hamil bisa mengajukan gugatan cerai jika suami melanggar beberapa point.
“Apa suamimu ringan tangan, Nak?”
Kinara terisak. 'Iya' begitu ingin Kinara mengeluarkan kata itu dengan suara lantang. Naumun, gagal. Dia menggelengkan kepala. “Tidak, Dia bukan suami yang ringan tangn. Dika tidak pernah memukulku.”
“Apa dia selingkuh?”
“Tidak, Bu. Dia laki-laki yang sangat setia."
“Tidak memberimu nafkah lahir dan batin?”
“Bukan itu, dia memenuhi semua kebutuhanku. Lahir batin, tidak pernah memukul, tidak pernah selingkuh.”
“Lalu?”
“Aku ... aku hanya sudah tidak tahan hidup satu atap dengannya.”
Kau pikir ibu bodoh, pengadilan agama hanya akan menyetujui berkas perceraian jika memang ada yang salah dengan pernikahan kalian. Apa kau sedang menutupi aib suamimu? batin Mirna.
“Ibu hanya perlu tahu jika keputusan kami untuk berpisah adalah karena salah kami berdua. Bukan hanya salah Dika.”
“Surat cerainya sudah keluar?”
Kinara menggeleng.
“Loh?”
“Aku belum tanda tangan, Bu.”
“Berarti masih bisa rujuk, kan?"
“Eh?" Menyeka air matanya. "Ru ... rujuk?”
"Iya rujuk. Perceraian kalian resmi secara agama, tapi belum secara negara. Nah kalau Dika bilang 'Kinara ayo kita rujuk' terus kamu jawab 'Ayo Mas'. Selesai perkara." Mirna tersenyum lebar.
"Tapi ... aku tidak ...,"
“Jangan buru-buru menjawab tidak mau.” Mirna bangun. “Suamimu tidak pernah selingkuh, tidak ringan tangan, menghormatimu, menjaga martabatmu, menafkahi lahir batin. Apa salahnya kalau rujuk.” Tersenyum. “Kecuali suamimu melanggar point yang ibu sebutkan tadi. Apa suamimu melakukan salah satunya?”
Iya, dia melakukan semua hal yang Ibu sebutkan. Sekali lagi keinginan untuk mengucapkan kalimat itu dia urungkan.
Kinara lebih memilih menggeleng dengan berat hati. “Tidak," katanya lirih.
“Ya berarti bisa rujuk.”
Kenapa malah aku yang terjebak begini? batin Kinara.
Mirna tersenyum getir. “Derita apa yang kau alami selama ini, Nak?” gumamnya.
***
Waktu menunjukan pukul 23.30 malam. Kinara dan Amanda sudah tertidur lelap di kamar masing-masing. Sementara Mirna masih terjaga, obrolannya dengan Kinra beberapa waktu lalu membuatnya tidak bisa memejamkan mata.
Mirna memilih tidur di ruang keluarga, baru saja matanya hendak terpejam suara ketukan di balik pintu mengagetkannya.
"Siapa yang bertamu tengah malam begini?" gerutunya.
Mirna segera mendekati pintu, memegang sapu di tangan kirinya sementara tangan kanannya dia gunakan untuk menggeser gorden, mengintip guna melihat siapa yang datang.
"Loh itu kan ...,"
Bersambung....
.
__ADS_1
.
Silakan penasaran. Kalau nggak mau penasaran, Vote Vote Vote yang kenceng 🤣