Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Drama Sarung Yang Tak Ada Habisnya


__ADS_3

“Ken, bangun!” Dika berteriak dengan suara yang sedikit tertahan, dia melempar bantal ke wajah Ken. Alih-alih bangun, Ken justru menggeliat memutar tubuhnya membelakangi Dika sembari memeluk bantal guling. “Ken, aku bilang bangun!” Kali ini sebuah tendangan mendarat di pinggang Ken.


Mendapat dua kali serangan siapa yang tetap bisa memejamkan mata. Ken langsung merangkak menjauh, mengerjapkan mata dan menguap beberapa kali. “Kenapa sih, Tuan?” Berbalik dengan mata yang setengah terbuka.


Ini masih pagi, kenapa kau harus mengajakku berduel begitu? Sungguh aku tidak tertarik adu kekuatan denganmu, Tuan Muda, batin Ken.


“Kau dengar itu, Ken? Bunyi apa itu?”


“Apa?” Ken menggaruk kepalanya, rambut lurusnya benar-benar kusut. Acak-acakan. Mungkin akibat bermandikan keringat semalaman penuh.


“Dengar coba!” Dika menggeram kuat. Berbeda dari Ken, mata Dika terbuka sempurna. Dia sudah bangun, duduk di tepi ranjang dengan sarung yang tidak terpasang dengan benar.


“Apa?” Ken masih tidak fokus, nyawanya masih belum terkumpul sempurna.


Suara apa yang kau maksud, Tuan? Pagi-pagi buta sudah ribut, batin Ken.


“Apa-apa terus! Buka telingamu, dasar budeg!”


Untuk yang kedua kalinya sebuah tendangan mendarat di kaki Ken, bahkan kali ini disertai umpatan.


Ya Tuhan, apa salah dan dosaku? Kenapa aku punya Boss yang seperti ini? Berduit sih berduit, tapi kalau menyusahkan begini buat apa? batin Ken mengumpati Dika. Yakinlah Ken hanya berani mengumpati Dika di dalam hati. Seumur hidupnya dia tidak akan bisa mengatakan itu secara langsung.


“Memangnya bunyi apa, sih, Tuan?” Ken memusatkan pendengarannya, mencari bunyi yang dimaksud Dika. Bunyi yang membuat tidur ayamnya terganggu.


Beberapa detik berlalu, Ken baru tahu dari mana sumber bunyi itu. “Oh, itu mah suara Mertua, Istri, dan Adik Ipar Anda yang sedang bergelut di dunia kuliner.” Ken tersenyum lebar setelah berhasil menebak. Seharusnya sudah berakhir ‘kan? Dia bisa melanjutkan tidurnya, memluk kembali bantal guling yang teronggok di lantai.


Ternyata Ken salah besar, Dika justru memukul lengannya. Sepertinya apa yang Ken ucapkan tak ada benarnya di mata Dika.


“Kau pikir jam berapa sekarang?!” Dika menunjuk jam bulat yang tergantung di dinding.


Kalakuan Dika mirip seperti dirinya yang terkejut ketika pertama kali mendengar keributan di rumah ini. Beruntung Dika tidak bangun dan meraih sapu yang berada di sudut pintu, mungkin jika Dika melakukannya maka Ken kan mendapat pukulan dari gagang sapu.


“Jam setengah empat pagi, Tuan Muda.” Ken menjawab malas.


“Tuh ‘kan. Ini baru jam setengah empat.”


“Lalu masalahnya di mana, Tuan Muda?”


“Aku takut ada maling, Ken.”


Benar, Tuan Muda seperti kloningan diriku yang menganggap ada maling, Ken membatin sembari tertawa puas.


“Percayalah, Tuan Muda, itu bukan maling. Itu benar-benar pergulatan di dapur, sudahlah lebih baik kita tidur lagi.” Bersiap memungut bantal guling.


“Mana ada yang bergelut di dunia kuliner jam setengah empat pagi begini, Ken* Kau pikir aku bodoh?!”


“Ada, Tuan Muda, ada. Sungguh.” Menunjukan dua jarinya.


“Siapa?”


“Keluarga Anda. Setiap harinya mertua Anda harus bangun jam tiga pagi karena harus berjualan sarapan. Sebelum jam enam pagi semua makanan harus sudah siap di depan. Ingat tidak ketika pertama datang, Tuan lihat ‘kan ada meja panjang?”


Dika menganggukan kepala.

__ADS_1


“Nah, di meja itulah Mertua Anda menyusun makanan yang dimasak pagi-pagi buta begini.”


Tubuh Ken berangsur turun, menempatkan bantal guling di antara kedua kakinya. Sudah ‘kan? ayo kita tidur lagi, aku sungguh masih ngantuk, batin Ken.


“Apa Kinara dan Amanda juga bangun, Ken?”


Ya Tuhan, tolonglah aku. Sebenarnya ada berapa banyak pertanyaan yang dia punya? batin Ken.


“Tentu saja, Tuan. Nyonya ‘kan membantu Ibunya. Sementara Amanda harus menyiapkan gorengan untuk dibawa kesekolah.”


Semoga tidak ada pertanyaan lagi setelah ini, batin Ken.


“Ke sekolah?” Dahi Dika berkerut rapat. “Kenapa?”


Ternyata masih ada, batin Ken.


“Itu karena Amanda berjualan gorengan di sekolahnya. Menitipkan sebagian gorengan di kantin sekolah, sebagian lagi dijual sendiri ke teman-temannya.”


Glek!


Dika menelan salivanya mendengar cerita Ken. Cerita itu terdengar lebih menyedihkan dari cerita Romeo dan Juliet yang kandas dalam urusan cinta. Karena cerita itu memberitahu Dika, jika dirinya sudah gagal menjadi menantu, suami, dan kakak ipar yang baik.


Dika memalingkan wajahnya, mengusap air matanya. Dia bangun dari ranjang, berjalan melewati Ken yang sedang tidur di lantai.


“Anda mau ke mana, Tuan?”


“Membantu mereka, aku tidak mungkin diam saja di dalam kamar sementara mereka sedang kerepotan begitu.”


“Tidak perlu, Tuan Muda. Jangan mempermalukan diri sendiri Tuan Muda.”


Dika menggeleng.


“Mengulek bumbu misalnya.”


Menggeleng lagi. Selama ini ‘kan semua kebutuhannya dipenuhi oleh pelayan dan pembantu. Kehalian Dika hanya satu, memegang pulpen untuk tanda tangan kerja sama dan memimpin rapat.


“Nah, maka dari itu. Sebaiknya anda diam di kamar, tunggu sampai jam empat lewat 0 menit kita bisa keluar untuk mandi dan pergi ke masjid, kita harus sholat subuh berjamaah.”


“Harus ke masjid?”


“Tentu saja.” Ken melambaikan tangannya agar Dika mendekatkan telinga. “Sholat subuh di masjid adalah perintah langsung dari Mertua Anda. Tuan ingin Mertua Tuan bangga ‘kan?”


Dika mengangguk cepat.


Sebenarnya itu tidak benar, Ken hanya sedang mengarang bebas. Dika ‘kan sedang mencari simpati dari keluarga Kinara, jadi apa salahnya jika dimanfaatkan untuk kebaikan.


“Lagi pula saya masih sangat ngantuk Tuan Muda.” Ken mengucek matanya, dia terlalu lelah. Menyetir mobil dan mendorong mobil. Tidak sampai di situ, dia juga harus berdebat di tengah malam buta dengan Dika hanya karena drama sarung yang tak ada habisnya.


Flashback On.


Setelah Dika dan Ken menerima baju dan sarung dari Mirna. Mereka langsung masuk ke kamar. Pandangan pertama yang terlihat oleh Dika saat pertama kali membuka kamar adalah kasur. Ukuran kasurnya sangat kecil, kasur miliknya bahkan memiliki ukuran empat kali lipat lebih besar.


Hanya ada satu lemari dan meja kecil yang di atasnya tergantung colokan untuk kipas angin dan mencarger handphone. Lampu di kamar itu seperti lampu yang didesain khusus untuk pengantin baru yang akan menikmati malam pertama, redup dan syahdu. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Dika. Dia akan sangat bersyukur jika saja Kinara yang berada satu kamar dengannya, tetapi ini Ken. Bukannya untung malah buntung.

__ADS_1


“Kita tidur di mana, Ken?” Pertanyaan itu langsung keluar begitu Dika memperhatikan sekeliling.


“Di kasur ini, Tuan. Memangnya di mana lagi.” Ken sudah duduk di atas kasur sembari melepaskan jas dan kemejanya.


“Kita berdua? Tidur di kasur itu?”


Ken mengangguk. “Iya, ‘kan hanya ada satu kasur, Tuan.”


Memangnya aku harus tidur di mana lagi, Tuan?


“Kemari.” Dika melambaikan tangan, Ken bangun dan berjalan mendekati Dika. “Aku tidak mau tidur satu kasur denganmu.” Dia berjalan ke kasur dan mejatuhkan tubuhnya di atas kasur, melebarkan kedua kaki dan tangannya. “Ini saja sterlalu sempit, mana mungkin aku berbagi ranjang yang super kecil denganmu. Itu tidak akan pernah terjadi!”


“Lalu, aku tidur di mana?”


“Terserah kau saja. Kau bisa tidur di situ, atau di situ.” Dika menunjuk beberapa ruang kosong di lantai. Ken hanya bisa menelan salivanya, tidak percaya jika dirinya harus berurusan dengan kelakuan Dika yang seperti ini. “Atau mungkin di mobil.” Dika tertawa puas.


Saran terakhir yang diberikan Dika malah membuat Ken sakit kepala. Bagaimana mungkin dia tidur di dalam mobil?


Akhirnya Ken memilih membuka lemari, mencari apa pun yang bisa dia gunakan untuk alas tidurnya di lantai. Beruntung Ken menemukan selimut tebal, setidaknya itu bisa digunakan. Ken nyaris terlelap ketika Dika memanggil namanya.


“Ken.”


“Kenapa lagi, Tuan Muda?”


Apa kau itu robot, Tuan? Kau tidak lelah kah? Sebaiknya pergi tidur dan temui Nyonya besok, segera ajak rujuk agar kita segera pulang ke mansionmu yang mewah itu. Semakin lama di sini aku juga yang akan repot, batin Ken.


“Bagaimana cara menggunakan sarung?”


Ya Tuhan, sebaiknya kutuk aku jadi batu saja. Apa aku harus mengajarkan cara menggunakan sarung padanya, tinggal lipat-lipat saja kan beres, gerutu Ken di dalam hati.


Ken bangun dengan malas, melihat Dika yang telentang membuatnya sakit kepala. Lenguhan panjang lolos dari mulutnya. “Anda harus bangun, Tuan. Mari saya ajarkan, melipat dan menggulung.”


Setelah ini saya akan membuat chanel you tube dengan judul ‘Tutorial Menggunakan Sarung’ mungkin saja ada ribuan Tuan Muda diluar sana yang juga tidak bisa menggunakan sarung.


Dika menurut, dia bangun dan sudah menanggalkan celana mahalnya. Tidur dengan celana yang basah bukanlah pilihan yang terbaik. Jika memungkinkan lebih baik dia tidur dengan hanya dibalut selimut.


“Jadi pertama-tama begini, letakan tangan di sini, dilipat di sini, dilipat lagi, digulung, jadi.” Ken tersenyum ketika sarung sudah menempel sempurna di pinggangnya. “Bagaimana, mudah ‘kan?” Ken mendongakan kepala untuk melihat hasilnya, dia nyaris terbahak ketika melihat Dika menggunakan sarung yang kedodoran. Beruntung dia masih bisa menahan tawanya.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya drama sarung pun berakhir. Dengan sangat telaten Ken mengajarkan Dika.


Flashback Off.


Dika dan Ken memutuskan untuk tidur lagi dan akan bangun sesuai arahan Ken jam empat lewat sepuluh.


Bersambung......


.


.


Keuwuan Dika yang berusaha mendapatkan hati Kinara baru dimulai, dan sikap manis Ken ketika bertemu dengan Amanda.


.

__ADS_1


.


Masuk 10 besar, malem emak up lagi. Jadi buruan Vote yang banyak.


__ADS_2