
"Tapi, kau yang menyetir bukan?” Kinara ragu.
“Lebih baik kau yang memakainya, Agra. Lagi pula aku duduk di belakang, kau lebih membutuhkan helmnya.” Kinara menolak sopan.
“Sudahlah, Kinara. Jangan berdebat denganku, ok?" Agra tetap memaksa.
"Tapi...." Kinara masih ragu, tidak sampai hati membiarkan Agra bertelanjang kepala ketika menyetir motor gedenya.
"Ayolah." Agra terus memaksa.
“Baiklah.” Kinara tidak punya pilihan lain, dengan berat hati dia menerima helm itu.
“Apa kau tidak punya helm untuk perempuan, Agra?” Kinara membolak-balik helm yang sangat berat dan terlalu rapat itu. Jelas itu adalah helm laki-laki khas anak motor.
“Aku tidak punya, mungkin setelah ini aku akan membelinya.” Agra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Membelinya?” Kinara heran.
“Asal kau tahu, Kinara. Aku tidak pernah mengijinkan siapa pun untuk menaiki motor kesayanganku ini, kau adalah wanita pertama dan satu-satunya. Aku memang sering kencan dengan gadis-gadis, tetapi aku selalu mengendarai mobilku. Tidak sekali pun membawa mereka dengan motorku ini.” Agra menjelaskan.
“Ayolah, Agra. Kau pikir aku anak kecil? Kau tidak bisa berbohong padaku.” Kinara tidak percaya.
“Kau percaya atau tidak itu urusanmu, urusanku hanya menyampaikan apa yang menjadi sebuah kenyataan.” Agra meyakinkan.
Apa yang di sampaikan Agra adalah sebuah kebenaran. Motor yang dikendarainya adalah motor pemberian Almarhum kakaknya, motor yang menjadi kado terindah ketika Agra berulang tahun ke delapan belas. Dan juga menjadi kado terakhir yang diberikan kakaknya. Agra sangat menghargai motornya dan tidak pernah mengijinkan wanita mana pun untuk menaikinya. Untuk pertama kalinya Agra mengijinkan seorang wanita menaikki motornya, dan wanita itu adalah Kinara Amalia.
Kinara hanya bisa membatu diam seribu bahasa.
“Aku memang bukan laki-laki yang baik, Kinara. Aku tida menyangkal hal itu. Tetapi untuk perempuan baik-baik sepertimu aku tidak akan berbohong soal perasaanku, untuk perempuan yang baik bukankah aku harus berubah menjadi baik? Bukankah jodoh itu sesuai dengan cerminan kita.” Agra mengelus bagian lehernya untuk mengurangi rasa malu.
__ADS_1
Kinara terkesiap. Tidak percaya jika perasaan Agra padanya bukan sesederhana seperti yang Kinara pikirkan selama ini.
"Aku bukan wanita baik-baik, Agra. Kau salah besar jika menilai aku seperti itu, kau belum tahu siapa aku.” Kinara menundukkan kepalanya.
Bagaimana mungkin wanita yang menutupi jati dirinya sebagai seorang istri, tidak bisa mengakui statusnya di depan orang lain bisa di sebut perempuan baik-baik? Batin Kinara sedih.
“Apa yang mendasari kau berkata sedemikian keji menghakimi dirimu sendiri, Kinara? Bukankah Tuhan selalu menutup aib hamba-Nya? Mengapa kau dengan mudah berkata jika dirimu bukan wanita yang baik? Dari kaca mataku, kau perempuan terbaik yang pernah aku temui.” Agra serius.
“Aku tidak bisa memberimu alasan. Tetapi aku bisa memastikan padamu, Agra. Aku bukan wanita yang baik. Aku mohon, lebih baik kau buang jauh-jauh perasaanmu padaku, aku takut kau jatuh terlalu dalam sampai tidak bisa bangkit lagi.” Kinara memohon, benar-benar berharap Agra tidak menaruh hati padanya.
“Jika memang aku harus terjatuh ke lubang paling dalam dan gelap sekali pun. Jika itu untuk mencintaimu, aku rela melakukannya. Itu akan sepadan meski belum bisa memilikimu, meski hanya bisa melihat wajahmu. Selalu ada tangan Tuhan untuk menarikku keluar dari lubang yang gelap dan dalam itu, bukan?” Agra bersikukuh.
“Kau tidak mengerti, Agra. Aku sudah....” Kinara menghentikan kalimatnya, melenguh panjang sekali. Berusaha sekuat apa pun, Kinara tidak bisa menjelaskan tentang statusnya pada Agra.
“Kau sudah apa, Kinara? Apa masa lalumu begitu buruk sampai tidak bisa melanjutkan kalimatmu dan menggantungya seperti itu?” Agra menebak.
“Lalu? Dengar, seburuk apa pun masa lalumu. Aku bisa menerimanya, bahkan jika hal itu lebih buruk dari prasangkaku.” Agra kembali meyakinkan.
“Agra, aku mohon. Ini bukan soal masa laluku, ini hanya soal keadaan kita. Kita berdua bertemu di waktu yang salah.” Kinara setengah memohon, mencoba memberikan pengertian kepada Agra.
“Itu artinya Tuhan turut serta dalam kesalahan ini, bukan? Bukankah pertemuan kita atas turut campur tangan Tuhan?” Agra ngotot.
“Agra, cukup! Kita baru bertemu dua kali, sudah pantaskah pembicaraan kita sejauh ini?” Kinara berteriak, tidak tahu harus berkata apa lagi dan harus memberi alasan apa lagi. Agra benar-benar tidak mau menyerah.
“Bahkan seorang pangeran tampan yang menikahi cinderella jatuh cinta dalam hitungan detik, mengapa aku tidak bisa?” Agra memberikan pembelaan.
"Cinta datang bukan karena kita telah lama saling mengenal, Kinara. Cinta datang ketika pandangan mataku jatuh dalam pandangan matamu. Dan hatiku berdebar tidak karuan ketika berdekatan denganmu, bahkan melihat senyummu sudah seperti candu untukku. Lalu aku harus menyebut ini apa jika bukan cinta?" Agra menundukkan kepala.
“Aku bukan cinderella dan kau bukan pangeran, Agra. Aku hanya wanita biasa, tidak sedikit pun aku bermimpi menjadi seorang putri yang hidup bahagia bak di negeri dongeng.” Kinara menunduk, menghapus air mata yang mulai mengkristal di sudut matanya.
__ADS_1
“Derita macam apa yang membuatmu begitu membenciku, Kinara? Aku bisa menanggungnya, asalkan kau memberikan satu alasan padaku. Jika alasan itu bisa aku terima, maka aku akan menyerah mengejarmu.” Agra melemparkan pandangan matanya, jauh menerawang langit lepas.
Aku tidak membencimu, Agra. Tidak, hanya saja waktu yang tidak berpihak kepada kita berdua. Waktu yang begitu tidak berperasaan mempertemukan kita disaat aku sudah menjadi milik laki-laki lain. Batin Kinara menyesal.
Ini bukan soal kebencian atau cinta pada pandangan pertama, ini tentang bagaimana dunia begitu kejam memperlakukan Agra, ketika hatinya bersua pada satu wanita. Dan wanita itu justru menolaknya mentah-mentah, belum juga menjalin kisah cinta. Kinara sudah memutuskan harapan Agra sedemikian kejamnya.
Bagaimana dunia begitu kejam memperlakukan seorang Kinara yang tidak dihargai di rumahnya sendiri, tetapi di puja lelaki lain di luar rumahnya.
"Biarkan waktu yang menjawabnya, Kinara. Tuhan juga masih mengasihiku bukan? Selalu ada cara Tuhan yang tidak bisa kita duga.”
Kinara hanya bisa diam, membisu sejadi-jadinya tidak tahu harus berkata apa. Dari tatapan mata Agra jelas menyiratkan kejujuran dan ketulusan. Tetapi saat ini dirinya adalah seorang wanita yang sudah menjadi istri dari Dika Mahendra, meski Dika mengingkari pernikahan itu dan tidak pernah menghargainya sebagai seorang istri. Tetapi, Kinara harus bertahan dan tetap memperjuangkan amanat terakhir ayahnya.
“Sekarang tersenyumlah dan cepat naik, kita harus berlomba dengan waktu.” Kalimat Agra memecah lamunan Kinara.
Kinara menarik napas dalam, mencoba mengembalikan suasana hatinya. Untuk beberapa saat Agra bisa membuat luka di hatinya yang disebabkan oleh Dika menghilang begitu saja. Setelah perasaannya sudah kembali membaik, Kinara tersenyum simpul.
“Bagaimana cara memakainya? Mungkin aku akan sesak napas dan mati sebelum sampai di kampus.” Kinara mendengus, benar-benar tidak suka dengan helm milik Agra.
Cute... bagaimana aku bisa menyerah untuk mendapatkanmu, Kinara? Gadis sederhana yang bahkan tidak silau dengan gelimang harta yang aku miliki. Bagaimana hanya karena gadis sepertimu, aku bisa tergila-gila setengah mati. Batin Agra gemas.
“Kemari, mendekatlah.” Agra memutar tubuhnya ke samping, sementara posisinya masih duduk di atas motor. Dia memasangkan helm itu pada Kinara, jantungnya jelas berdebar kencang bak genderang perang ketika melihat kecantikkan alami yang terpancar di wajah Kinara.
\=\=\=\=> Bersambung.....
VOTE... VOTE... VOTE... jangan cuma minta up tapi gak mau VOTE 😑😑
Jejaknya mana? Jangan pelit2 kasih VOTE lah.. Rank nya turun lagi tuh, masa sih gak bisa pertahanin rank sampe hari sabtu? 🙄🙄
Plis KLIK LIKE, FAVORIT, RATE BINTANG 5 DAN VOTE SEBANYAK2NYA..
__ADS_1