Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Rahasia Jodoh


__ADS_3

Setelah terbangun pagi tadi, matanya enggan terpejam lagi. Dika memutuskan untuk mengecek beberapa pekerjaan di laptopnya. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah empat pagi. Dika segera mematikan laptop, turun dari ranjang


dan menggeliat beberapa kali sebelum membuka pintu kamar. Ketika keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arah kamar mandi,suara kemerisik air sudah menyambutnya. Dika mengerutkan keningnya. “Siapa, yah? Bukankah semalam ibu bilang mau libur jualan,” gumamnya.


Semalam Mirna bercerita, setiap hari minggu dia libur jualan. Mirna lebih senang menggunakan akhir pekan itu untuk berkebun dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Amanda. Lagi pula sejak tadi dapur juga terasa sangat sepi. Seperti tidak ada aktifitas.


Pintu kamar mandi tertutup rapat. Dia tidak berani untuk mengetuk, takut jika yang di dalam adalah adik ipar atau bahkan mertuanya. Dika lebih memilih menunggu, berdiri sembari menyandarkan tubuhnya di tembok. Klak! pintu


kamar mandi terbuka. Kinara keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah basah. Dika membulatkan matanya, baru bangun tidur saja mantan istrinya terlihat begitu cantik. Terlebih lagi dengan kondisi wajahnya yang setengah basah. Dika sampai menelan salivanya untuk mengendalikan pikiran liarnya.


“Ke-kenapa kau ada di sini?” tanya Kinara begitu keduanya saling berhadapan. Kinara belum terbiasa melihat Dika di rumahnya.


“A-aku hanya ingin cuci muka.” Dika mencari alasan sekenanya.


“Cuci muka? Sepagi ini?”


Dika mengangguk.


“Biasanya kau tidak pernah bangun sepagi ini ‘kan?”


Ayolah, Dika. Jangan menjadi laki-laki pengecut, tidak masalah. Jujur saja, batin Dika menyemangati dirinya sendiri.


Tiba-tiba Dika berjalan mendekat. Menundukan kepala, matanya mencari keberadaan manik hitam milik Kinara. “Kinara ...,” lirihnya. Sontak Kinara menaikan kepalanya. Akhirnya kedua manik mereka saling beradu.


“Kenapa?”


“Sepagi ini aku tidak mungkin hanya ingin membersihkan wajah.” Dika ingin mengaku saja.


“Lalu?”


“Aku ingin menghadap Tuhan. Pemilik seluruh dunia dan seisinya, termasuk pemilik hatimu.”


Kinara memalingkan wajahnya.


“Aku ingin mencuri hatimu, menikung sepertiga malam untuk mendapatkanmu lagi.” Dika bergeser dari tempatnya berdiri. “Kau juga ‘kan?”


Kinara diam.


“Hati siapa yang ingin kau dapatkan, Kinara? Sampai kau bangun disepertiga malammu. Agra?” Dika menebak.


Kinara langsung menatap Dika dengan tatapan tidak suka. Bukankah Kinara sudah pernah bilang sebelumnya, jika dia ingin memutuskan untuk merelakan Agra. Kenapa harus diungkit lagi. “Bukan! Hatiku sendiri. Aku ingin mendapatkan jawaban dari hatiku sendiri, apakah hatiku ini masih milikmu atau tidak.”


Dika tersenyum tipis. Menggeser tubuhnya semakin jauh dan mempersilakan Kinara untuk lewat. Kinara melangkah pelan, samar-samar dia mendengar suara Dika.


“Maka akan kuminta Tuhan memberikan hatimu padaku.”


Deg ...! Jantung Kinara mulai berdegup kencang lagi.


Kamar Dika.


Usai dari kamar mandi Dika segera mengganti bajunya. Mengenakan sarung dan menggelar sajadah. Dia sedang menikmati waktunya bersama Tuhan, berbagi dan berkeluh kesah dengan-Nya. Dika menumpahkan semua harapan yang menggantung tinggi, meminta agar Tuhan mau membuka jalan untuk hubungannya dengan Kinara. Dia memilih sepertiga malam terakhir sebelum adzan subuh berkumandang.


Kamar Kinara.


Tak jauh berbeda dari Dika. Di dalam kamar yang sepi itu pun Kinara sedang terisak, memutar bulatan tasbih secara perlahan sembari menyebut Asma Allah. Harapannya hanya satu, diberikan segala yang terbaik untuk hidupnya, termasuk soal pasangan hidup.


***


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi.


Mirna sedang sibuk di kebun belakang. Amanda sedang mencuci sepeda kesayangannya. Ken sedang bersiap-siap, merapikan semua berkas. Sementara Dika sedang duduk di teras depan rumah bersama Kinara, ditemani secangkir kopi dan susu ibu hamil.


“Ehem ... Aku harus segera pulang, Kinara. Sebenarnya, tidak begitu banyak pekerjaan yang menungguku. Yah , seperti yang kau tahu, Ken sudah mengurus semuanya, tetapi aku tidak enak jika berlama-lama di sini ... sedangkan status kita.” Dika tersenyum getir sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bukan lagi sepasang suami istri.”

__ADS_1


Kinara meraih gelas susu dan meneguknya perlahan.


“Keputusanku masih sama, Kinara. Aku ingin kita rujuk, membina kembali rumah tangga yang Insya Allah sakinah, mawaddah, warahmah. Bersamamu.”


Kinara menggigit bibir bawahnya dengan mata berkaca-kaca.


“Jadi, maukah kau pulang bersamaku. Ke rumah kita, sebagai istriku, ibu dari anak-anakku.” Dika menoleh, menatap Kinara dengan tatapan sedih. Segala harapan, duka, lara dan perjuangan tergambar jelas di sana.


Sepersekian menit keduanya hanya saling pandang, lalu perlahan Kinara menggelengkan kepalanya pelan. Meski pelan, Dika sudah tahu apa arti dari gerakan kepala itu. Dika menarik napas dalam dan mempersiapkan hatinya untuk menerima apa pun keputusan Kinara.


“Maafkan aku, Dika. Meski aku sudah meminta petunjuk kepada Tuhan, aku tetap tidak menemukan jawabannya. Aku tidak bisa kembali denganmu. Maafkan aku.” Kinara terisak, kedua tangannya mengepal dan bergetar di atas pangkuannya.


Dika memalingkan wajahnya, nampak mengusap air mata yang nyaris keluar dari pelupuk matanya. “Baiklah.” Tersenyum tipis. “Aku terima keputusanmu. Semoga ini yang terbaik untuk kita berdua. Aku akan sering menghubungimu dan aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu.”


“Apa kau akan sering berkunjung ke sini? Sepertinya aku akan di kampung sampai melahirkan.”


Dika menggeleng sembari tersenyum. “Aku tidak bisa sering-sering mengunjungimu, mungkin beberapa waktu ke depan aku akan sangat sibuk,” ucap Dika.


Karena beberapa hari lagi, aku harus segera pergi ke Jerman. Mungkin aku akan sangat merindukanmu nanti, batin Dika.


“Kau harus jaga dirimu. Jaga pola makan yang sehat dan jangan lupa istirahat. Ok.” Dika mengacungkan jempolnya diikuti senyum lebar. dia berusaha menguatkan dirinya di depan Kinara. Sungguh aktor yang hebat. Dika lalu bangun dari kursi.


Ken sudah menyambutnya di depan pintu dengan pakaian rapi. “Sudah siap, Tuan Muda?”


“Sudah, Ken.”


Dika langsung berpamitan dengan Mirna. Meraih tangan dan mencium punggung tangan mertuanya. “Titip Kinara ya, Bu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untuk putri Ibu. Aku juga minta maaf belum bisa membahagiakan Ibu dan Amanda. Semoga kalian selalu sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan.”


Mirna membelai puncak kepala Dika yang sedang membungkuk mencium tangannya. “Semoga kau menemukan kebahagiaan yang sejati, Nak. Percayalah, rahasia jodoh hanya diketahui oleh Tuhan.”


Dika menatap wajah Mirna, Amanda, dan Kinara secara bergantian sebelum memutar tubuhnya. Dia melambaikan tangan dan segera menghilang di balik pintu mobil.


Di dalam mobil.


“Ken ....”


“Percepat penerbanganku ke Jerman.”


“Baik, Tuan.”


“Seperti yang aku katakan tadi. Sebelum kita pulang, belokkan mobil ke pemakaman. Aku ingin minta maaf pada Bapak.”


Ken mengangguk.


Sepersekian menit mobil sudah berbelok ke sebuah pemakaman desa di mana Ayah Kinara dikebumikan. Dika berjalan dengan perasaan hancur, menyeret langkah kakinya. Begitu sampai dia langsung membelai nisan Ayah Kinara, menangis meminta maaf di atas pusara yang tidak lagi basah.


“Pak, saya benar-benar minta maaf. Saya telah lalai menjaga putri Bapak. Saya tidak bisa menepati janji saya untuk menjaga Kinara. Tidak bisa memenuhi amanat terakhir dari Bapak, tetapi saya akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Kinara dan cucu Bapak. Bapak akan segera punya


cucu, laki-laki, Pak. Semoga kelak cucu Bapak menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab.” Dika menundukan kepalanya dalam. Air matanya sudah menganak sungai, menyesali setiap perbuatan buruknya terhadap Kinara, bahunya sampai berguncang hebat.


Jedeeeer ... tiba-tiba warna langit berubah menghitam dengan kilatan petir di atas sana. Ken segera berlari, membuka mobil dan mengambil payung untuk melindungi tubuh Dika. Hujan pun mulai turun.


Bahkan langit saja mengerti dukaku, tetapi kenapa Kinara tidak mengerti? batin Dika.


“Tu-Tuan Muda, bukankah itu Nyonya?” Ken menunjuk Kinara yang sedang berdiri di pintu masuk pemakaman.


Dika langsung menoleh, dia mendapati Kinara sedang berjalan mendekatinya dengan baju panjang dan kerudung. Dika bangun, berlari sempoyongan menghampiri Kinara. “Berikan payungnya padaku, Ken.” Mengambil payung dari Ken.


“Kinara, kenapa kau ada di sini?” Segera memayungi tubuh Kinara. Sedangkan tubuhnya sendiri dibiarkan terkena air hujan.


10 menit sebelumnya.


Flashback On

__ADS_1


Kinara terduduk sembari terisak menatap mobil Dika yang semakin jauh dari pandangan matanya. Amanda berjongkok, berusaha membantu sembari memapah tubuhnya untuk kembali ke ruang keluarga.


Ruang keluarga.


“Mas Dika mau pergi ke Jerman, Kak. Kemungkinan tidak akan kembali ke indonesia dalam waktu dekat.” Amanda menyodorkan segelas air putih untuk Kinara.


“Kakak juga sudah berusaha, Manda, tetapi Kakak tidak mendapat jawaban apa pun.” Meraih gelas itu dan segera meneguknya.


“Manda takut. Kakak bukannya tidak mendapat jawaban, tetapi Kakak sedang mengingkari jawaban itu sendiri. Bukankah Kakak merasa kehilangan? Hati Kakak sakit? Itulah jawabannya, Mas Dika adalah orang yang Kakak cintai.” Amanda berjalan ke kamar dan membuka lemari baju miliknya. “Pakailah, Kak. Ini kerudung pemberian Bapak. Ayo kita ringankan beban Bapak dengan menutup aurat, semoga dengan begitu Allah pun meringankan beban Kakak.”


Amanda menyodorkan kerudung segi empat berwarna coklat muda pemberian ayahnya sebelum meninggal. Kinara menerima kerudung itu dengan tangan gemetar, seketika air mata jatuh di atas permukaan kerudung.


“Kinara, jika kau dan Dika memang berjodoh. Sejauh apa pun kalian lari, pada akhirnya kalian akan betemu juga di titik yang sama. Sekuat apa pun kalian menolak, pada akhirnya kalian tetap akan bersama. Jika kalian memang berjodoh, sekalipun ada ribuan tangan yang menghalangi, kalian akan tetap bersama. Namun, jika bukan jodoh sekalipun ada ribuan tangan yang mendorong, kalian tidak akan pernah bersama.”


Kinara terisak. Mirna langsung memeluk tubuh anaknya, lalu membelai perut Kinara. “Anak ini butuh seorang Ayah, Nak. Dan Dika adalah ayah yang baik.”


Kinara semakin terisak. Mungkin benar apa yang dikatakan Ibu dan Adiknya, dia hanya terlalu egois. “Tapi Dika sudah pergi, Bu,” lirihnya.


“Coba kamu hubungi Dika atau Ken. Suruh mereka balik lagi.”


Kinara mengangguk. Dia segera menekan nomor Dika dan Ken. Namun, sangat disayangkan nomor keduanya tidak ada yang aktif. Kinara menggelengkan kepala.


Mirna melenguh panjang. “Yasudah, besok kau susul Dika ke kota.”


“Tidak perlu, Bu. Kak Kinar, ayo ikut aku. Semoga kita tidak terlambat.” Amanda meraih pergelangan tangan Kinara.


“Kita mau ke mana, Manda?”


“Mengakhiri segala kesulitan Kak Kinar dan Mas Dika.”


Kinara mengernyitkan keningnya.


“Sudahlah, ikut saja.” Amanda mengedipkan matanya.


Kinara mengangguk.


Sebelum pulang, Ken sudah memberi tahu Amanda soal Dika yang akan berangkat ke Jerman, dan sebelum itu mau berkunjung dulu ke makam Ayahnya.


Flashback Off.


“Kenapa kau ada di sini, Kinara? Sekarang sedang hujan, ayo aku antar kau pulang.” Dika mengusap wajahnya yang basah karena air hujan.


“Aku mau pulang.”


“Iya, ayo kita pulang.”


“Aku mau pulang.” Kinara terisak. “Pulang ke rumah kita.”


“Tunggu, apa maksudmu? Kau bersedia rujuk de-denganku?”


Kinara menganggukan kepala. “Iya, aku bersedia.”


“Allahu Akbar.” Dika langsung melakukan sujud syukur. Lalu berakhir dengan memeluk tubuh Kinara.


Bersambung...


.


.


Eciiie, yang rujuk. Akang kendang kalau emak bilang rujuk, rujuk yah.


.

__ADS_1


.


Saatnya gunakan jempol kalian. Jangan lupa LIKE, KOMENTAR POSSITIF, DAN VOTE.


__ADS_2