Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Sesampainya keempat orang itu di rumah sakit pribadi keluarga Mahendra, semua staf dan dokter sudah berbaris sopan untuk menyambut kedatangan Marta. Untuk semua aset keluarga Mahendra yang bergerak dibidang kesehatan masih dipegang atas naman Marta. Bicara kasarnya,


Marta memiliki sekitar 20 % aset keluarga Mahendra dan sisanya sudah berpindah nama atas nama Dika.


Marta yang memiliki gaya seperti remaja 30 tahunan itu lebih senang dipanggil Bu Boss, ali-alih dipanggil Nyonya dan sebangsanya.


"Selamat datang, Bu Boss," sapa para dokter dan staf rumah sakit. Yang disambut anggukan kepala oleh Marta dan senyum simpul oleh Kinara.


Begitu tiba di rumah sakit, Kinara sampai mengedipkan mata dan membuka mulut lebar karena tidak menyangka dunianya yang begitu kecil harus terlibat dengan dunia Dika yang teramat besar, pantas jika hidupnya kurang


beruntung. Dika bahkan sering mengancamnya dengan kekuasaan, mungkin ini baru sebagian kecil dari kekuasaan yang suaminya miliki. Ternyata ucapan Dika itu bukan semata-mata sedang berkhayal atau seperti kata pepatah yang berbunyi ‘tong kosong nyaring bunyinya’.


Semuanya sudah siap, termasuk Kinara dan Dika, keduanya segera masuk ke ruangan mengikuti langkah dokter Amel untuk melakukan pemeriksaan tes DNA guna membuktikan siapa Ayah dari anak yang ada di dalam perut Kinara.


Tes DNA yang dilakukan ketika bayi masih dalam kandungan memang cukup berisiko, tetapi Kinara sudah memantapkan dirinya untuk melakukan itu.


Dokter Amel hanya bisa setuju dengan syarat, Kinara harus patuh menjaga kesehatan, asupan makan, dan berada dalam pengawasannya sebagai dokter pribadi yang ditunjuk untuk merawatnya selama Kinara dalam masa kehamilan.


***


“Semuanya sudah beres, Nak?” Marta bangun dari kursi dan segera menghampiri Kinara begitu dirinya keluar dari dalam ruangan, disusul Dika yang mengekor dari belakang.


“Kapan hasilnya keluar, Mel?” Melemparkan pandangan pada dokter Amel yang berjalan di sampingnya.


“Itu ... kami membutuhkan waktu setidaknya dua minggu sampai hasilnya keluar, Tuan,” jawab dokter Amel sembari menggeser tubuhnya memberi jarak cukup jauh dari Dika.


Dokter Amel yang tidak terlibat hubungan spesial dengan Dika saja bisa merasakan perasaan takut ketika berada didekat Dika, apalagi Kinara yang setiap hari bertemu, bepapasan, dan bertegur sapa. Pikir dokter Amel.


“Baiklah ... mumpung di sini, aku pergi menjenguk Carissa dulu, Mah.” Dika pergi begitu saja tanpa bertanya apakah Marta setuju, atau setidaknya pikirkan bagaimana perasaan Kinara.


Gadis berambut hitam pekat itu baru saja berjuang melawan kesedihannya, memeriksakan anak yang dikandungnya, anak yang jelas-jelas tidak bersalah harus merasakan sakitnya tidak dianggap. Belum kering luka itu, dan Dika sudah menggores luka baru lagi.


Dia pergi dengan angkuhnya meninggalkan Kinara untuk menemui wanita lain, sungguh kekejaman Dika sangat luar biasa. Sepertinya Tuhan lupa memberinya hati, sehingga perilakunya tidak memiliki takaran lagi.


Kinara hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan tatapan nanar memandangi punggung suaminya yang berangsur-angsur menghilang, berbelok ke jalan lain untuk sampai ke ruangan kekasihnya.


Masih ingin mengekangku tapi sudah tidak sabar untuk bersama wanita lain, kau sungguh makhluk Tuhan yang paling jahat Dika, sabar nak, ketika kau lahir kau tidak akan kekurangan cinta dari Ibu, batin Kinara.


“Kinar ... sayang ....” Marta mengguncang pundak Kinara untuk menyadarkan dia dari lamunannya.


“Ah, iya, Mah.” Memutar tubuhnya. “Maaf tadi sedikit memikirkan sesuatu.”


“Jangan banyak berpikir, Nak. Kondisi kandunganmu harus diperhatikan, Dika yang seperti itu tidak usah diambil hati.”

__ADS_1


“Iya, Mah.” Tersenyum tipis. “Kedepannya aku akan lebih tenang lagi.”


Sekalipun melihat Dika bermesraan dengan Carissa di depanku, aku juga tidak boleh terbawa emosi, batin Kinara.


“Sekarang, ayo kita pulang.” Meraih lengan Kinara dan mengapitnya. “Kau tidak perlu pindah dari mansion sebelum hasil tes DNA itu keluar.”


“Maaf, Mah, sepertinya aku tidak bisa melakukan itu.” Dengan berat hati Kinara harus menolak keinginan mertuanya. “Jika terus tinggal bersama Dika dalam satu atap, aku takut aku akan terus tertekan dan itu mungkin akan membahayakan keselamatan anakku, Mah.” Menunduk dalam. “Mungkin juga keselamatanku, aku bisa depresi jika harus berlama-lama dengannya.”


“Tapi, Kinara ....”


“Mamah juga tahu ‘kan bagaimana sikap Dika padaku? Mamah melihatnya sendiri, ‘kan? Kebencian Dika padaku tidak akan pernah hilang, Mah. Aku lebih baik hidup di gubug reot, tapi aku bahagia. Daripada aku hidup di dalam istana emas tapi menderita. Aku seperti makan hati berulam jantung, aku tidak sanggup, Mah.”


Marta diam untuk beberapa saat, kemudian kalimat kembali meluncur dari mulutnya. “Kalau begitu bolehkan Mamah meminta sesuatu padamu, Nak?”


Keduanya sudah berada di dalam mobil.


“Apa, Mah?”


“Bolehkan Mamah menyediakan rumah untukmu, Nak?”


Kinara terperanjat, dia segera menggelengkan kepala pertanda tidak mau. Namun Marta memaksa, tatapan matanya sangat sedih.


“Tolong kabulkan keinginan Mamah, Kinar. Sekali ini saja. Mamah belum melakukan banyak hal untukmu, Mamah belum sempat memberi perhatian kepadamu selayaknya Ibumu. Kau tahu jika Ibu mertua juga memiliki kedudukan yang sama selayaknya Ibu kandung, bukan?”


“Kalau begitu berikan kesempatan kepada Mamah untuk melindungimu sebagai seorang Ibu.”


“Tapi ....” Menundukkan kepala. “Bagaimana jika Dika sampai tahu keberadaanku dan membuatku tertekan lagi,” ucapnya dengan suara bergetar, “Aku hanya ingin tenang menikmati masa kehamilanku ini.”


“Tidak akan! Meskipun Mamah tahu Dika memiliki kekuasaan yang lebih, tapi Mamah juga masih memiliki sisa-sisa kekuatan untuk sekadar menghalanginya mengganggumu.”


“Bagaimana jika dia mengikutiku?”


“Mamah sudah menyiapkan boddyguard yang bertugas menghalangi Dika untuk menemuimu.”


“Mamah yakin? Bukankah Dika adalah anakmu, Mah?” Tersenyum getir, sekuat apa pun Kinara menutup mata kanyataan jika Dika adalah putranya juga tidak bisa diabaikan, tidak ada Ibu yang mau berperang dengan anaknya sendiri. Sebejad apa pun kelakuan anaknya itu, mereka tetap memiliki ikatan darah yang kuat.


“Jangan lupakan satu hal, kau juga menantuku, apalagi kau sedang mengandung. Sampai detik ini Mamah masih yakin jika anak yang ada di dalam perutmu adalah cucu Mamah, keyakinan seorang Ibu tidak pernah salah, Kinara.”


Mah, terima kasih untuk semua kepercayaan yang kau berikan padaku. Bagaimana bisa kau dan dia begitu berbeda? Padahal kalian memiliki darah yang sama, tapi dia ... dia jahatnya sudah seperti iblis, batin Kinara.


“Bagaimana dengan kampusku, Mah?” tanya Kinara.


“Kau tetap bisa melanjutkan kuliahmu, dan satu hal yang perlu Mamah ingatkan. Jika Agra ingin mengunjungimu, usahakan dia tidak datang sendirian. Bawa serta teman perempuanmu.”

__ADS_1


Aku hanya punya Alisa, haruskah aku berkata jujur padanya, batin Kinara.


“Mah ... aku ....” Bagaimana Kinara bisa mengatakan tentang laki-laki lain di depan Marta yang jelas-jelas adalah mertuanya. Marta mungkin akan merasa sedih.


“Kau menyukai Agrka, ‘kan?” Menundukan kepala. “Mamah bisa melihatnya di sorot matamu, Kinar. Ini bukan salahmu, ini salah anak Mamah, jadi Mamah tidak boleh menghakimi dirimu. Mamah tidak pernah tahu sedalam apa luka yang Dika gores di hatimu, apakah masih bisa diobati atau tidak. Tapi yang pasti, jika pun di antara kalian harus berakhir ....” Menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. “Mamah harap kau tetap bersedia menganggap Mamah ini mertuamu, jangan menjauh dari Mamah dan jangan jauhkan Mamah dari cucu Mamah.”


Kinara terisak, air mata mengalir begitu saja ketika dia mendengar ucapan Marta. Keduanya saling berpelukan untuk menghabisi segala derita yang mengungkung mereka. Kinara larut dalam pelukan Marta sampai mobil yang mereka naikki sudah berhenti di depan mansion.


Kinara kembali hanya untuk mengambil koper, tanpa disangka Pak Budi dan Bibi Anne sudah berdiri di depan pintu dengan koper di tangan masing-masing. Kinara mengernyitkan dahi, dia lalu melirik Marta.


“Mah ...,” ucap Kinara.


Apakah Mamah ingin memecat Pak Budi dan Bibi Ane, yah? Tapi kenapa? Memangnya mereka salah apa? Setahuku keduanya adalah pegawai yang baik, batin Kinara.


“Mah ....” Kali ini Kinara menatap dalam manik hitam milik Marta, dia mencoba mencari tahu jawaban dari tatapan mata itu.


Marta hanya tersenyum. “Kau bingung?” tanya Marta dan Kinara mengangguk.


“Bibi Ane dan Pak Budi akan ikut pindah bersamamu, ke rumah barumu. Pak Budi akan bertugas sebagai supir pribadimu, beliau yang akan mengantarmu ke mana pun kau ingin pergi. Dan Bibi Ane akan menyiapkan segala keperluanmu di rumah, dan satu lagi. Di sana juga sudah ada beberapa pengawal seperti yang Mamah janjikan, untuk keamananmu. Dokter Amel juga akan sering mengunjungimu.” Meraih jemari Kinara. “Jangan ditolak, yah. Anggap ini bentuk permintaan maaf Mamah karena kelakuan Dika.”


Mata Kinara berkaca-kaca lagi, air mata menggenang di pelupuk matanya. Marta merengkuh tubuh itu dan untuk keduanya kalinya mereka menangis bersama.


Kinara sudah mengabulkan keinginan Marta, dia tinggal di rumah yang sudah disiapkan oleh mertuanya itu.


Bibi Ane juga sangat menjaga asupan makan Kinara, tetapi Pak Budi tak banyak berperan karena Kinara tetap memilih menggunakan motor maticnya untuk pergi pulang kampus dan ke minimarket. Pak Budi sampai merangkap jadi tukang kebun demi mengisi waktu luang.


Rumah yang dipersiapkan Marta tidak terlalu besar, sesuai permintaan Kinara. Namun sangat layak untuk ditinggali, setidaknya dia tidak harus tinggal di kamar kecil yang engap lagi seperti ketika di mansion Dika.


***


14 hari sudah berlalu sejak tes DNA itu dilakukan. Dua minggu terasa sangat lama bagi Kinara yang sudah merindukan kebebasan dan hari ini adalah hari yang dijanjikan dokter Amel untuk melihat hasil tes DNAnya.


Kelima orang itu sudah berkumpul di ruang keluarga di mansion Dika, iya kali ini Carissa turut serta menjadi saksi bagaimana kelanjutan kisah Dika dan Kinara.


Sekitar satu minggu yang lalu Carissa keluar dari rumah sakit, dan dia tetap tinggal di mansion Dika. Marta sudah meminta Carissa untuk pergi dari mansion Dika, tapi Dika melarangnya.


Carissa tidak lagi menempati kamar utama, dia tinggal di kamar tamu. Setidaknya masih sangat layak untuk ditempati, tidak seperti kamar Kinara dahulu.


“Baiklah, saya sudah memegang hasil tes DNA kalian, amplopnya masih disegel. Saya sendiri pun belum tahu bagaimana hasilnya, semoga hasilnya sesuai seperti apa yang kita harapkan.” Dokter Amel membuka amplop putih persegi panjang itu, dia segera mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.


“Semuanya sudah siap? Mari kita lihat.” Menatap satu per satu orang yang duduk di depannya, dokter Amel menarik napas dalam, dia membuka selembar kertas itu dan membaca hasil tes DNA Kinara.


“Hasilnya adalah ....”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2