
Sepertinya siang ini cuaca sedang tidak bersahabat. Musim panas sudah berlalu, dan musim hujan pun datang.
Hidup di negara dengan dua musim saja tidak terlalu merepotkan seperti negara dengan empat musim. Kendalanya hanya ada dua.
Jika musim panas tiba maka sebagian daerah kerap kali mengalami kekeringan dan sumber air bersih yang susah di dapat. Jika memasuki musim penghujan maka sebagian daerah harus bersiap dengan agenda tahunan yaitu banjir. Tapi toh, seperti apa pun kondisinya tetap saja ini adalah tanah air yang selalu dicintai.
Kebetulan hari ini sudah masuk musim penghujan, tadi pagi Kinara sudah membawa jas hujan di jok motornya dan payung lipat untuk jaga-jaga. Dia tidak tahu kapan hujan akan datang.
Terbukti, baru sepuluh menit dia sampai di minimarket dan sudah berganti shift dengan teman lainnya, hujan sudah turun cukup lebat. Beruntung tidak disertai kilat dan petir, sejak kecil Kinara sangat takut dengan kilatan cahaya ketika hujan berpetir datang.
Kaca tokonya sudah berembun, Kinara memilih duduk di kursi pembeli, dia meletakan kedua tangan dan kepalanya di meja.
"Mau kopi?" Alisa berjalan mendekat sembari meletakan secangkir kopi di atas meja.
"Mantap nih." Kinara mengacungkan jempolnya.
"Orang bilang hujan itu 90 % teringat mantan, 5% teringat jemuran, dan 5 % sisanya teringat mie instans dengan telor mata sapi di atasnya." Alisa mengusap mulutnya yang sedikit menganga.
"Lalu kau juga sama 90 % teringat mantan?" tanya Kinara.
"Ah, tidak ada." Raut wajah Alisa tiba-tiba berubah datar. Sepertinya keinginan untuk menikmati semangkuk mie instan sirna sudah.
Meski sudah berteman cukup lama, Kinara belum mengetahui banyak hal tentang kehidupan Alisa. Begitupun sebaliknya, mungkin belum saatnya dua orang itu saling terbuka.
"Kau sendiri bagaimana, Kinara?" tanya Alisa.
"Aku?" Kinara menunjuk wajahnya dan Alisa mengangguk. "Aku tidak memiliki kenangan apa pun dengan hujan, aku justru takut ketika hujan." Kinara terbahak.
"Petir dan kilat?" Alisa menebak.
"Dari mana kau tahu?" Kinara balik bertanya.
"Klise, kan? Hampir semua wanita takut petir dan kilat," jawab Alisa santai. "Aku mau buat mie instans, kau mau?"
"Boleh. Kasir gimana?" Kinara menunjuk meja kasir.
"Hujan, mana ada pelang
gan." Alisa tersenyum lebar. Dia sudah berjalan ke deretan rak mie instans dan meraih dua mie untuk dimasak.
***
Hari ini giliran Alisa yang berjaga di meja kasir, Kinara bisa sedikit santai karena barang-barang di rak sudah rapi dan pelanggan juga belum berdatangan.
Memangnya siapa yang ketika hujan lebat begini datang ke minimarket? Yah, kecuali di teras toko, sudah ada beberapa orang yang sedang berteduh.
Sudah satu minggu sejak kedatangan Carissa. Semuanya berjalan lancar, kecuali kejadian hari itu di meja makan.
Selepas kejadian itu Kinara tidak pernah kesiangan lagi, dia tidak mau terlibat dalam situasi antara hidup dan mati seseorang.
Dika juga sudah menunjukan bagaimana caranya menjadi kekasih yang baik untuk Carissa. Sesekali dia sengaja mempertontonkan adegan romantis ala drama Korea yang sering membuat Kinara mengelus dada karena merasakan perasaan sakitnya tidak dihargai.
Namun Kinara tidak tahu harus mengakhiri keadaan ini dengan apa, terakhir kali karena kecerobohannya yang tidak bisa mengendalikan perasaan, Carissa hampir berada dalam bahaya.
Sudah satu minggu pula Agra tidak masuk ke kampus. Kinara sempat menghubungi Agra, Mengirim beberapa pesan whatsapp, Kinara khawatir kalau-kalau Agra sedang sakit atau mengalami kesulitan karena ikut campur urusannya dan Dika.
Biar bagaimanapun Agra selalu ada ketika Kinara susah, setidaknya Kinara pun harus membalasnya.
Namun tidak ada satu pun balasan pesan dari Agra, padahal pesan itu terkirim dan terbaca. Bahkan telepon dari Kinara pun tidak pernah diangkat.
Di tengah derasnya hujan tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berwarna silver berhenti di depan tokonya. Kinara menoleh, memutar kepalanya dan melihat siapa yang datang, siapa tahu saja itu Agra.
__ADS_1
Kinara menggaruk kepalanya, mobil itu sertinya tidak asing. Karena hujan yang cukup lebat Kinara tidak bisa melihat siapa orang di dalam mobil itu, plat mobilnya pun tidak jelas.
Sudahlah, Kinara tidak peduli. Dia kembali asik dengan smartphonenya, berselancar di media sosial untuk menghilangkan kejenuhan selama menghadapi kelakuan Dika.
Klaak ... pintu toko terbuka. Kinara bangun dan menyambut pelanggan pertamanya setelah pergantian shift.
“Selamat siang, selamat datang di ....”
“Kinaraaa ....” tiba-tiba Carissa berhambur memeluk Kinara.
“Ca ... Carissa? Bagaiamana kau bisa ke sini?” Kinara mendorong pelan tubuh Carissa untuk melepaskan pelukannya.
“Aku bosan di rumah terus, jadi aku minta Dika mengantarku ke sini. Siapa tahu aku bisa membantumu.”
Memangnya apa yang bisa kau bantu, Carissa? Jari jemarimu biasa menekan tuts piano, sementara kerjaan di sini cukup melelahkan, batin Kinara.
“Tokonya sepi, apa belum ada pelanggan?” Dika menarik salah satu kursi dan duduk di sana sembari memangku kakinya.
Memangnya kau peduli apa, sih? Kau saja tidak pernah bertanya kabarku, kenapa sibuk bertanya soal toko milik bosku? Kinara menggerutu kesal.
Tentu saja dia lakukan di dalam hati, jika kalimat itu keluar bisa jadi penyakit Carissa kumat.
“Ini karena hujan yang cukup lebat, jadi belum ada yang datang,” ucap Kinara. "Memangnya siapa yang hujan-hujan begini mau ke minimarket kecuali suami yang beli susu atau popok buat anaknya," Kinara mendengus.
Mana ada jenis suami seperti itu, memang kau melihatnya di mana? batin Dika.
“Kinara, bagaimana dengan hubunganmu dan Ken?” tanya Carissa tiba-tiba.
Kinara diam untuk beberapa detik, keheningan menguasai ketiganya. Hanya terdengar gemerisik hujan.
Baiklah, aku harus berakting lagi. Satu, dua, tiga, ok aku siap, batin Kinara.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa, hanya ingin menyerah saja.”
“Apa tidak ada kesempatan untuk, Ken?”
“Tidak ada, menyerah artinya menutup semua kesempatan yang ada. Dan aku tipe wanita yang tidak suka memberikan kesempatan lagi setelah menutupnya rapat-rapat.”
"Kau belum bisa memafkan Ken?"
"Kata siapa? Aku sudah memafkan Ken, Carissa. Jauh sebelum Ken meminta maaf, tetapi memaafkan bukan berarti bisa menerima kembali 'kan?" Kinara tersenyum getir.
“Hmmm ... benar juga. Sepertinya laki-laki yang berani menyakiti dirimu akan menyesal seumur hidup," ucap Carissa.
"Aku juga berharap demikian." Tatapan mata Kinara tertuju pada Dika.
"Oh iya, hampir lupa. Aku dan Dika akan segera menikah.” Carissa mamutar kepalanya dan menatap penuh cinta ke arah Dika.
“Me ... menikah?” tanya Kinara terbata. Sebenarnya Kinara sudah tahu rencana pernikahan itu, tapi Dika belum melepaskannya. Bagaimana mungkin keduanya menikah sementara Kinara masih menjadi istri sah dari Dika.
"Iya, aku sudah bicara dengan Papah dan Mamah," ucap Carissa.
Tak kalah terkejut dari Kinara, Dika pun sama terkejutnya. Keduanya memang berencana menikah, tapi kapan pernikahan itu terlaksana masih belum dibicarakan lagi.
Terlebih lagi saat ini kondisi keduanya tidak memungkinkan untuk melaksanakan pernikahan, apalagi ibunya Dika tidak akan setuju. Mungkin akan menjadi orang pertama yang menolak pernikahan Dika dan Carissa.
"Tunggu, maksudmu kedua orang tuamu?" Dika terlihat panik, menatap Carissa dengan tatapan serius.
"Iya." Carissa mengangguk.
__ADS_1
"Ka ... kapan kau menghubungi mereka?"
"Dua hari yang lalu, aku tidak mengatakannya karena ingin memberimu kejutan."
"Kejutan? Maksudmu kejutan apa?"
"Satu minggu lagi Papah dan Mamah akan pulang ke Indonesia." Carissa mengelus punggung tangan Dika. "Setelah itu kita akan membahas soal pernikahan kita."
"Kenapa kau melakukannya tanpa bicara terlebih dahulu denganku, Rissa!" serunya terdengar marah, Carissa bingung.
"Kenapa? Kau tidak suka? Apa aku salah?" Mata Carissa mulai berkaca-kaca, sedikit saja bentakan bulir bening itu akan meluncur bebas.
"Tidak! tidak, sayang." Dika mengelus kepala Carissa. "Aku tidak marah, sungguh. Tenangkan dirimu, ok." Dika mengelus bahu Carissa.
"Aku pikir kau marah." Carissa memukul dada Dika.
"Tidak, sayang. Kemarilah." Dika merengkuh tubuh Carissa dan menenggelamkan dalam pelukannya sembari menepuk lembut punggung Carissa.
Kinara memalingkan wajahnya, meskipun sudah terbiasa melihat kemesraan Carissa dan Dika. Tetap saja pemandangan di depannya tidak enak dipandang mata.
Setelah kondisi Carissa cukup tenang, dia kembali menatap ke arah Kinara.
"Kau mau membantuku mengurus semuanya 'kan, Kinara?" tanya Carissa.
"Emm ... Iya." Kinara tersenyum getir, memangnya jawaban apalagi yang bisa dia berikan pada Carissa selain 'Iya'.
"Kapan rencananya?" tanya Kinara.
“Sebenarnya kami ingin menikah lebih awal jika saja bukan karena aku harus berobat ke Inggris. Tapi aku tidak mau menunggu terlalu lama, Kinara.” Carissa menundukan kepalanya.
"Kau tahu sakitku ini bukan sakit kepala yang bisa sembuh begitu saja, 'kan? Aku menderita sakit jantung bawaan. Jika ada sedikit saja guncangan yang membuat aku terkejut, mungkin saja aku ... yah, kau sudah melihatnya sendiri bukan?" Carissa menghentikan ucapannya, tangannya bergerak untuk menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
Kinara menunduk dalam, dia juga tidak tahu harus berkomentar apa. Mungkin diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
“Sayang, kita tidak perlu buru-buru. Sebaiknya kau selesaikan dulu kuliahmu.” Dika berusaha membujuk Carissa. Dia membantu Carissa menyeka air matanya, sekali lagi Kinara memalingkan wajahnya.
Tidak ada pemandangan yang lebih menyakitkan selain melihat suaminya sendiri bermesraan dan bersikap lembut pada wanita lain tepat di depan matanya. Sementara terhadap dirinya, Dika berlaku kasar tak ubahnya musuh bebuyutan.
"Tapi Papah dan Mamah mau pulang," kata Carissa.
Shit! Aku harus bagaimana? batin Dika.
"Aku yang akan mengurusnya." Dika bicara asal, tidak mungkin baginya melarang orang tua Carissa untuk datang.
“Tapi aku tidak ingin menunggu terlalu lama, Dika. Biar nanti aku hubungi Mamahmu, yah?” ucap Carissa.
“Jangan!” ucap Kinara dan Dika bersamaan.
“Kenapa?” Carissa mengernyitkan alisnya. “Apa ada yang sedang kalian sembunyikan?” Carissa menatap curiga.
“Tidak bukan seperti itu, Carissa.” Kinara mengibaskan tangannya. “Hanya saja sepertinya kau terlalu terburu-buru, bukankah lebih baik dibicarakan berdua dulu dengan Dika."
Apa yang sedang aku katakan? Kenapa kesannya aku menyarankan kalian menikah? Aku hanya tidak ingin membuat Mamah sedih jika mengetahui semuanya, batin kinara.
\=\=\=> Bersambung....
.
.
Ok, emak udah up lagi. Like dan Votenya yang kenceng yah ❤️😘
__ADS_1