Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Aku Tidak Mau Ditindas


__ADS_3

“Gigi dibalas gigi dan mata dibalas mata, kau tahu pepatah itu bukan? Tamparanmu sudah aku balas, jadi kita impas.


Kita tidak memiliki hutang apa pun, jangan mencari gara-gara denganku.” Kinara mencengkram kuat tangan Laura.


“Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tetapi karena kau sudah menghina ibuku. Aku tidak punya pilihan lain, jangan pernah menyebut nama ibuku dengan mulut jahatmu itu.


Jangan kau pikir aku yang datang dari desa dan terlihat kampungan ini hanya bisa diam ketika kau hina, hanya bisa pasrah ketika kau lukai.


Aku tidak selemah pikiranmu, Laura.” Kinara melangkah mundur, sementara Laura hanya mengigit bibir bawahnya dan berlalu begitu saja sembari menggerutu di dalam hati.


Sial.. aku pikir gadis kampungan itu lemah dan mudah ditindas. Ternyata aku salah, cihh...


Kinara terisak.


Lagi-lagi kalian meragukan didikkan Ayah dan Ibuku, kalian tidak tahu apa pun dan kalian berani menghakimi aku sedemikian kejam.


“Maafkan aku, Kinara. Jika bukan karena aku, mungkin kau tidak akan mengalami hal ini.” Agra mendekat. Tangannya bergerak mendekati wajah Kinara. “Kau tidak boleh menangis hanya karena wanita seperti Laura, air matamu terlalu berharga untuknya.” Agra menyeka air mata di pipi Kinara.


“Jangan lakukan itu, Agra. Orang-orang akan semakin memperhatikan kita.” Kinara menepis pelan tangan Agra.


Agra mengerti. “Baiklah, sekarang temui Alisa. Sepertinya dia sudah menunggumu.” Agra menunjuk Alisa yang sedang tertegun, diam seribu bahasa menyaksikan kedekatan Kinara dan Agra.


Dari kejauhan, Allen yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa meremas kuat ujung bajunya dan menggit bibirnya. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu.


“Allen, kau tidak bisa diam saja. Kita harus memberi pelajaran gadis miskin itu.”


“Benar, Allen. Jika tidak Agra akan semakin jauh darimu.”


Beberapa temannya ikut berpendapat, Allen hanya diam membisu. Tetapi terlihat cukup jelas jika Allen memiliki rencana jahat.


Kinara menghampiri Alisa diikuti Agra dari belakang.


“Alisa, aku butuh bantuanmu.” Kinara duduk di samping Alisa. “Agra?” Kinara melirik Agra yang ikut duduk di sampingnya.


“Apa aku tidak boleh ikut medengarkan? Siapa tahu aku bisa membantumu.” Agra tersenyum.


Kinara menggeleng. “Terima kasih, Agra. Tapi ini urusan pribadiku, aku harap kau bisa mengerti.”

__ADS_1


Agra terdiam, hari ini terlalu banyak hal buruk yang terjadi pada Kinara. Agra tidak ingin membuat Kinara semakin kesusahan.


“Baiklah, setelah kau tiba di rumah tolong kabari aku. Harus, mengerti?” Agra memaksa, menekankan intonasi suaranya pada kalimat ‘harus’.


Kinara hanya mengangguk. Kinara melepaskan jaket milik Agra dan menyodrokannya. “Jaketmu.”


Agra berdecak. “Ckkk... Untukmu saja. Kau lebih membutuhkannya.”


“Aku tidak membutuhkannya.” Kinara ngotot.


“Menurutlah, Kinara. Kau mau pergi dengan Alisa, bukan? Alisa itu naik motor, selain rambutmu yang akan berantakkan karena tertiup angin tubuhmu juga butuh perlindungan. Kenakan jaket ini.” Agra berlalu pergi,


Kinara menatap punggung laki-laki yang sedang berjalan semakin jauh. Laki-laki itu sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, demi siapa?


Apakah demi Kinara yang bahkan telah menipunya mentah-mentah. Entahlah, Agra hanya mengikuti kata hatinya dan menerima takdir cintanya.


“Sepertinya Agra benar-benar jatuh hati padamu, Kinara.” Kalimat Alisa memecah lamunan Kinara, cepat-cepat ia mengalihkan pandangan matanya dari punggung Agra.


“Ah, itu hanya perasaanmu saja, Alisa. Kau tahu bukan, aku ini siapa dan Agra itu siapa. Kita berdua umpana langit dan bumi, pembeda kasta di antara kita berdua sangat jelas.” Kinara menepuk pundak Alisa.


“Jadi, mengapa hari ini kau bolos kuliah?” tanya Alisa.


Alisa membetulakan kacamatanya. “Motor bekas?”


“Iya.” Kinara menatap dalam. “Apa di sekitar sini tidak ada yang menjual motor bekas? Aku membutuhkan motor itu untuk ke kampus dan juga untuk mencari pekerjaan. Aku harus bekerja paruh waktu.” Kinara menjelaskan.


“Oh, baiklah. Biar aku antar. Ayo...” Alisa bangkit diikuti Kinara.


Keduanya sudah dalam perjalanan menuju dealer motor, Alisa mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang. Sementara Kinara memilih untuk menjadi penumpang yang baik.


Sepanjang perjalanan Kinara menjelaskan tentang alasannya bolos kuliah, setiap kali Kinara bercerita bagaimana Agra menjemputnya dan tentang makan siang di warteg, jaket yang Agra berikan, semua hal itu merujuk pada satu keyakinan di hati Alisa jika Agra benar-benar jatuh hati pada Kinara.


Beberapa saat kemudian.


Alisa menepikan motornya, memarkir di depan dealer motor.


Pelayan dealer motor itu segera berhambur menyambut Alisa dan Kinara sembari tersenyum manis. “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”

__ADS_1


“Tuh.... Buruan.” Alisa menyikut tangan Kinara.


“Iya, sabar dong.” Kinara membalas menyikut Alisa. “Begini, mbak. Saya mau membeli motor bekas.” Kinara malu-malu mengatakannya. Pelayan itu tersenyum mengerti.


“Mari ikuti saya.”


Setelah cukup lama bertanya dan mempertimbangkan, akhirnya Kinara memilih salah satu motor matic bekas berwarna merah.


Kinara membeli motor itu dengan uang tabungannya. Tidak sepeser pun menggesek uang di kartu yang di berikan Dika.


Wanita mandiri yang tidak ingin mengandalkan suami yang bahkan menganggapnya musuh, wanita luar biasa yang tidak ingin ditindas dan tidak akan menindas.


Itulah Kinara.


Motor itu bisa langsung digunakan. Kinara juga sudah membeli helm, dan sekarang sedang mengikuti Alisa ke tempat kerjanya.


Ternyata selain kuliah Alisa juga bekerja paruh waktu di salah satu mini market, dan kebetulan mini market tempat Alisa bekerja sedang membutuhkan pelayan.


Kinara merasa Tuhan selalu memudahkan jalannya, kecuali satu hal. Semua hal yang berkaitan dengan Dika selalu berujung air mata untuknya.


“Terima kasih, Alisa. Kita berpisah di sini saja, aku bisa pulang sendiri.” Kata Kinara begitu keduanya keluar dari mini market. Mulai miggu depan Kinara sudah bisa bekerja di salah satu mini market yang berlokasi tidak jauh dari kampus.


Karena uang tabungan miliknya sudah menipis, mau tidak mau Kinara harus bekerja lebih keras lagi untuk bertahan hidup dan meringankan beban ibunya.


“Memangnya, kau sudah tahu jalanan di sekitar sini?” Alisa bertanya ragu.


“Sudah.” Kinara jelas berbohong, tetapi akan lebih sulit jika Alisa mengetahui di mana Kinara tinggal.


“Syukurlah, kalau begitu aku pulang yah, Kinara.” Alisa mengenakan helmnya. “Hati-hati di jalan, Kinara. Kabari aku jika sudah sampai di rumah.” Alisa melambaikan tangannya.


Keduanya sudah bertukar nomor telepon, Alisa benar-benar gadis yang baik. Dia bahkan bersusah payah untuk meyakinkan pemilik toko jika Kinara adalah seorang pekerja keras.


“Daaah...” Kinara membalas lambaian tangan Alisa.


\=\=\=> Bersambung......


Please, klik LIKE, FAVORIT, VOTE, KOMENTAR DAN RATE BINTANG5... ❤️❤️

__ADS_1


Novel ini masih jauh banget ranknya.. like nya juga masih sedikit.. bagi para readers di harap kerja samanya.. yg belum like silakan Like.. yg lupa like..bisa boom like.. vote juga yg banyak.. 😍😍🤗🤗


Author sangat berterima kasih jika kalian mu membantu mempromosikan novel author.. baik di IG.. FB.. MAUPUN DI NOVEL LAINNYA.


__ADS_2