
Kakak Bryan yang sudah mengetahui notif pesan singkat di ponsel Himawari seketika mulai bersedih. Terlebih setelah mendapat jawaban dari bibir kecil Himawari ,apalagi saat ini Himawari mulai berbohong kepada Kak Bryan.
Padahal pesan tersebut bukanlah dari Abang Gamma.
Himawari bingung karena pesan Kak Langit sangatlah penting jadi dia merasa pasti ada sesuatu yang akan di sampaikannya.
"Hoaaaammm."
"Hoaaaammm."
Dia berpura-pura menguap beberapa kali, agar Kak Bryan bisa merasa kalau Himawari sudah mengantuk.Namun Kak Bryan mengabaikan tindakkan itu, malah dia menikmati acara dari televisi sambil tertawa cekikikan.
"Hi...hi...hi..."
"Aduh, bagaimana ini kenapa Kak Bryan tak bisa di bohongi?" batin dari Himawari yang sedang di tunggu oleh Kakak Langit di depan gang rumahnya.
Kak Bryan malah asyik menikmati acaranya, dan sambil memakan camilannya. Himawari semakin tidak tahu harus berbuat apalagi.
"Aduh, kalau aku menyuruh Kak Bryan pergi, dia tidak akan mau aku harus bagaimana??" batin Himawari lalu gelagatnya kebingungan terlihat semakin aneh, karena tidak terbiasa berbohong .
Kak Bryan ingin Himawari mengakui karena dia sudah lebih dulu mengetahui, kalau saat ini gadis kecil ini membohonginya. Berharap kalau Kak Langit tidak akan mengejar gadis kecil itu lagi.
"Kau berani membohongiku, dasar gadis kecil siapa yang mengajarimu?" batin Kakak Bryan lalu dia pura-pura menyandarkan tubuhnya di atas sofa, dengan sedikit menutup matanya.
"Kau mengantuk, bagaimana kalau tidur di kamar Abang Gamma." ide Himawari untuk berusaha membuat Kak Bryan terkecoh.
"Bagaimana kalau aku tidur disini saja, dan aku rasa aku tidak bisa mengendarai mobil, dan tak mau pindah." ucap Kak Bryan dengan menutup kelopak matanya.
"Nanti kau di marahi Abang Gamma, ayo aku bantu." bujuk Himawari dengan nada lirih jika Kak Bryan tertidur di kamar Abang Gamma ia bebas menemui Kakak Langit yang saat ini sedang menunggunya.
"Kau jangan bohong, aku kesal denganmu!!" protes Kak Bryan dengan membuka kedua kelopak matanya yang indah.
Dia pun terlihat marah besar karena Himawari sudah membohonginya. Karena dia tak sadar kalau Kak Bryan yang sudah mengetahuinya .
"Apa maksud kakak?, aku tidak paham." ucap Himawari dengan resah, namun masih tetap berpura-pura kalau tidak tahu ucapan Kakak Bryan yang bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Aish, gadis ini kau membuatku sebal." protes Kakak Bryan dengan bersungut, lalu dia mulai memegang tangan Himawari.
"Dengar, balas chat Langit bilang kau tidak bisa menemuinya." ucap Kak Bryan dengan memandang mata Himawari yang saat ini kebibgungan.Mimik ekspresi yang terkejut.
"Kakak sudah tahu?,maafkan aku ya." ucap dari Himawari pada Kak Bryan.
"Kau tidak usah meminta maaf, namun aku tak suka kau berbohong, berjanji jangan kau ulangi." ucap Kak Bryan menatap Himawari dengan tajam, kedua alisnya tertekuk.
"Tapi kak, dengarkan aku dulu Kak Langit itu baik, lagipula kasihan dia Kak Bryan."ucap lirih Himawari dengan nada memohon.
"Dengarkan, Langit suka padamu, sekarang kau harus bisa menjaga jarak ,atau mungkin?" ucap Kakak Bryan yang terpotong tiba-tiba.
"Hem, atau mungkin apa??" tanya Himawari
"Kau menyukai Langit??" tanya Kak Bryan lalu menatap Himawari dengan lekat.
"Ehm, aku tidak tahu aku menganggapnya teman kak." suara lirih dari Himawari yang mulai menyeruak di bibirnya,tapi terdengar berbeda di telinga Kak Bryan.
"Lalu kau menganggapku apa??" tanya dari Kak Bryan ke Himawari dan menggenggam lembut jari jemarinya.
"Jika kau selalu ada di sampingnya, maka dia mengira kalau kau menyukainya." protesnya.
"Lalu bagaimana dengan aku ini?, kau akan meninggalkanku??"Kak Bryan lalu mengambil ponsel Himawari dan menyerahkannya.
"Sekarang balas, kalau kau tak bisa menemui dia." ujar Kak Bryan marah karena tidak mau ada salah paham lagi.
"Tapi..."
"Cepatlah, agar dia tidak menunggumu jika dia masih tetap seperti itu jangan salahkan aku jika aku menghajarnya saja." ucap dari Kak Bryan mencoba meyakinkan Himawari.
Akhirnya Himawari pun memberi pesan kalau dia tidak bisa menemui Kak Langit yang saat ini menunggu di depan gang rumahnya.
Dengan perasaan terpaksa karena Kak Bryan membuat Himawari tidak bisa menemuinya.
Kak Bryan tidur di sofa Himawari meringkuk, dan beberapa menit kemudian Abang Gamma sudah tiba, dan membawa banyak makanan tak itu saja Kakak Langit ternyata di ajak ikut masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Hem, Bryan tidur sayang sekali aku bawa banyak makanan." ucapnya lalu Kak Langit pun duduk di samping Himawari.
"Maafkan aku kak." ujar Himawari sembari menatapnya dengan berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, aku tak ingin sendirian boleh aku ikut mengobrol dengan Abang Gamma?" tanya Kak Langit pada Himawari yang saat ini menatapnya dengan pandangan iba.
"Boleh, aku pergi ke kamar mandi dulu." pamit Himawari pergi ke kamar mandi.
Kakak Langit dan Abang Gamma mengobrol dengan memakan makanan, yang dia bawa.
Satu meja di penuhi dengan berbagai macam makanan saat ini.Mereka berdua asyik sekali mengobrol dengan terbahak-bahak tertawa lepas.
"Ha...ha...ha...ha..." tawa Abang Gamma.
Terlebih Abang Gamma karena ia kelelahan setelah pulang bekerja, dengan sesekali dia melihat ke arah Kakak Bryan yang meringkuk di atas sofa tertidur dengan lelap.
"Kenapa dia tidak bangun padahal suaraku keras??, apa telinganya rusak?, ckk dasar." gerutu Abang Gamma yang sebal karena tak bisa membangunkan Kak Bryan .
"Abang Gamma bisa mengobrol denganku, lagipula aku juga suka jika ada teman untuk berbincang." ucap Kakak Langit meyakinkan.
"Baiklah, lagipula kenapa jam segini sudah tidur sayang sekali ya kan, padahal banyak makanan." sambil memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
Beberapa menit kemudian Himawari duduk di samping Kak Bryan dengan berganti piyama bergambar bunga matahari.Dia pun memakan camilan yang ada di atas meja sambil melihat televisi,Kak Langit tersenyum manis menatap wajahnya Himawari sumringah, yang sedang mengunyah makanan di mulutnya .
Kak Bryan tetap terlelap di buai mimpi indah, mungkin kelelahan karena sedari siang mau berkeliling dengan Himawari.
Abang Gamma mulai mengernyitkan kedua alisnya, menatap wajah Kak Langit dan juga adiknya. Setelah itu dia pun membuka suara.
"Hei kemarilah, pijitlah punggungku, aku lelah sekali, ayolah adikku yang manis." Abangnya berulah menggoda adik kecilnya , dia yang ingin bersantai sejenak pun mengerucutkan bibirnya.
"Maaf aku juga lelah, gimana kalau abang saja yang memijitku?" ujar Himawari dengan sebal, karena melihat wajah Abang Gamma yang meledek dia tidak percaya begitu saja.
"Aku, benar-benar lelah kemarilah." sambil memberi tanda jari telunjuknya di gerak-gerak kan, agar Himawari mau memijitnya.
"Tak ...mau.. wleeekkk." ledek Himawari tak mau.
__ADS_1
Bersambung...