
Malam hari pukul 00.10 wib Himawari yang saat ini merebah diatas kasurnya yang kecil dan sempit, namun nyaman itu pun tak bisa tidur, karena fikirannya masih melayang dan hatinya juga gundah dia masih tak bisa habis fikir, kenapa teman sekelasnya itu bisa seperti itu, ada perasaan ketakutan sangat hebat jika dia melihat hujan deras diiringi dengan petir bersahut-sahutan .
"Hem, kenapa bisa begitu?,apakah Kak Langit mengingat sesuatu yang menyedihkan?" Dan gadis bernama Himawari ini pun bergumam sendiri, dalam fikirannya masih bingung dan ada rasa yang campur aduk tak karuan .
"Jangan-jangan Kak Langit takut hujan karena suara petirnya." Gumam Himawari sambil menganggukan kepalanya beberapa kali .
"Atau dia, pernah melihat pohon tersambar petir, atau juga ehm.... apa yah?" Gumamnya lagi sambil berfikir keras,
"Tak tahulah." Sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Masih saja mengingat-ingat kejadian saat di gudang Coffee milik Pak Baek. Dia tak bisa memejamkan matanya karena sangat sulit walau sudah berusaha sekuat mungkin, dan menutup kelopak matanya berkali-kali lalu yang ia dapatkan hanya tambah pusing tak bisa memejamkan matanya yang kecil dan bulat sempurna .Sesekali ia pun mengamati hujan di luar apakah sudah reda atau belum .
"Hemm, ternyata hujannya reda, semoga Kak Langit tak takut lagi." Batin dari Himawari sambil tersenyum dan merebahkan dirinya di atas kasurnya yang kecil namun nyaman.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻
Disisi lain Kak Bryan yang ternyata diam-diam mengintip, ketika Himawari memeluk Kakak Langit di dalam gudang Coffee, kemudian ia juga tak bisa tidur memikirkannya kenapa dia tak pernah tahu perasaan apakah ini.
Yang membuatnya sangat risau, saat dalam kegelapan tadi ternyata Kak Bryan lari dengan secepat kilat namun yang ia dapati hanyalah gadis kecil memeluk seorang pria, yang bukan dirinya . Membuat dia berfikir tidak jernih, dan dia pun pergi ke dapurnya mencari minuman hangat, agar fikirannya bisa jernih kembali.
Saat dia duduk dan meminum teh Camomile dia pun bergumam dengan dirinya sendiri .
"Apa yang aku fikirkan?,ehm kenapa aku tak bisa tidur, dan kenapa gadis itu memeluk pria sembarangan?" Kak Bryan Bergumam dengan dirinya sendiri , lalu meminum teh Camomile yang ada di meja.
"Kenapa, aku harus berfikiran terlalu jauh, lagi pula kenapa lampu padam mereka tak keluar malah berpelukkan?" Gumamnya lagi.
"Ahhhh.... apa yang kufikirkan?,bukankah ini hal gila." Gumamnya lagi sambil meminum secangkir teh , yang ternyata cangkirnya itu sudah kosong, dia lupa kalau sudah minum semua isi dalam cangkir tersebut.
"Siaalannn, ternyata tehnya sudah kosong." Umpat dari Kak Bryan dan mengurucutkan bibirnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻
Kak Langit yang sedari tadi sudah kelelahan, dan penat menjalani semua aktivitasnya pun terlelap di buai mimpi, karena dia mempunyai jadwal yang sangat padat seharian, membuat dia sudah tak kuat menahan rasa kantuknya itu, Dia pun tidur di ranjang kecil di belakang Coffee Shop milik Pak Baek.
Terbuai mimpi indah seperti bayi meringkuk dan di dampingi guling, selimut yang sudah berserakkan di bawah lantai, hujan yang deras
Pun di usir dengan hawa yang sangat dingin menggigit, hanya ada sisa-sisa tetesan air hujan dan juga genangan air coklat keruh, di tiap lubang, dan rongga-rongga jalan .
Menyisakkan untuk beberapa pohon berdiri menjulang di tepian jalan raya, serta aspalt yang sedari siang tadi menyerap hawa panas, dingin seketika di susupi air hujan jatuh dari Langit . Namun awan hitam masih ada dan masih mengintai dari balik celah jendela ini.
Bersambung...
Karya ini hanyalah fiksi dan imaginer author saja harap bijaksana dalam membaca serta menyerap sisi positif dari bacaan Trimakasih
__ADS_1