
Pukul 23.00 wib malam ini nampak Kak Bryan dan Himawari berada di depan teras rumah . Kebetulan Kak Bryan ini mengantar Himawari pulang ke rumahnya, dan Kak Bryan sedang menatap lekat gadis kecil itu sekarang .
"Oh ,ya Aku ingin berbicara sesuatu maukah kau mendengarnya?" Bisik Kakak Bryan yang lirih terdengar di telinganya ,membuat gadis itu pun bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi, hingga Kak Bryan terlihat gugup dan canggung. Himawari menelan selivanya lalu mengedipkan beberapa kali kelopak matanya.
"Apa Kak?" Tanya Himawari dengan tanda tanya besar di fikirannya.
"Sebenarnya aku, sangat gugup, dan aku juga tidak begitu paham kenapa aku seperti ini?" Ucap dari Kak Bryan sambil memandang wajah mungil Himawari, lekat tak berkedip.
Suasana pun semakin canggung sekali tidak bisa menahan perasaanya akhirnya Kak Bryan berusaha mengungkapkan semua isi hatinya.
"Lalu kak?, apakah kakak sakit?" Tanya dari Himawari lagi.
"Tidak, aku hanya kemarilah mendekat." Sambil mendekatkan tubuh Himawari ke badanya yang tinggi menjulang.
__ADS_1
Mereka pun berdekatan dan Himawari yang tubuhnya pendek , kepalanya tepat di dada Kak Bryan yang bidang, mulai lagi ternyata detak jantung Kak Bryan terdengar sangat keras di telinga gadis itu."Dug,dug,dug.,dug" Terdengar amat keras.
Kak Bryan menarik telapak tangan Himawari dan menempelkannya di depan dadanya agar paham maksud dari Kak Bryan. Namun gadis kecil itu hanya bisa diam tidak mengerti apa maksud dari Kak Bryan dengan tiba-tiba.
"Wah... kenapa ini lagi?" Batin dari Himawari dengan sangat gugup, kenapa aku di suruh menyentuh dadanya. Memerah pipinya malu.
"Sebenarnya, aku rasa perasaanku saat ini sungguh kacau, aku sangat menyukaimu ." Kak Bryan pun menyatakan perasaannya pada Himawari, dia hanya terkejut mulutnya ternganga akan peryataan cinta dari Kakak Bryan secara tiba-tiba. Dia hanya bisa diam mematung saja.
"Ayolah, jangan menolak ya, aku tidak tahu lagi harus bagaimana?, lagian kau itu jangan berdekatan dengan Langit." Ucap dari Kakak Bryan sembari menggenggam erat jari jemari Himawari dengan lembut penuh perasaan.
Dan pandangan yang beradu mengakibatkan mereka itu mempunyai perasaan aneh, Kak Bryan pun mendaratkan bibirnya yang merah ke bibir Himawari dengan sangat lembut, lalu memagut penuh perasaan, dan menundukkan kepalanya karena tubuhnya yang tinggi itu.
Sambil menarik tubuh kecil gadis itu, merapat di tubuhnya saling berhimpitan,dengan begitu Kak Bryan semakin leluasa, namun anehnya gadis ini hanya diam mematung tak menolak.
__ADS_1
Dan pasrah akan perlakuannya tersebut.Lalu
Kak Bryan memerah pipinya, namun beberapa detik kemudian,dia mulai merasa tubuhnya itu tiba-tiba sakit, terkena benda keras.
"Buuuuughhhh..." Suara benda jatuh...
Dia pun mulai membuka matanya yang indah, sudah ada di bawa ranjangnya, dia di bawah kasurnya yang mewah, tepatnya terlentang di lantai poreselen yang dingin. Dia pun tersadar bahwa yang ia alami hanyalah mimpi semata bukan kenyataan.
"Sialaaaaan..!!! aku kira itu nyata, dasar..." Kak Bryan mengumpat kecewa akan yang sudah ia alami malam ini mimpi indah, namun hanya tetap mimpi indah tak nyata sama sekali tapi sangat terasa seperti kenyataan baginya.
"Aduh, bagaimana ini kenapa aku seperti ini?" Gumam dari Kak Bryan dia pun merasa galau.
"Bagaimana kalau aku ke rumah Himawari saja?, aku akan menyatakan hari ini pasti dia tak akan menolakku." Ujar dari Kak Bryan dia pun bergegas mengambil kunci mobilnya lalu dia lupa tak berganti baju dahulu, dia hanya mengenakan piyama tidurnya. Tergesa-gesa agar dia bisa cepat menyatakan perasaanya.
__ADS_1
Mulai menyalakan mobilnya melaju dengan kencang ke rumah Himawari. Sambil fokus menyetir menuju rumah seorang gadis, dia berharap malam ini dia pasti akan mendapat jawaban yang memuaskan tak memendam perasaanya lagi. Tak membuatnya tersiksa setiap malam . Memikirkan sampai terbawa dalam mimpinya juga.
Bersambung...