Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 88 "Lukisan Punggung 2"


__ADS_3

Di belakang mereka berdua pun yang sedang asyik bersenda gurau, ada seorang pria yang bernama Kak Langit, dia mentap sangat sedih melihat Himawari sangat akrab dengan Kakak Bryan. Dia pun menghela nafasnya beberapa kali ingin rasanya Kakak Langit yang berada di dekatnya saat ini ikut tertawa lepas tanpa beban bersama gadis kecil itu.


"Kenapa aku sangat sedih sekali?,dan kenapa aku harus memandangi mereka berdua dari belakang saja?" Kak Langit membatin, lalu dia pun pergi dengan langkah agak gontai .


Berjalan agak lemas dan sangat sedih sekali, ada perasaan yang tidak rela jika Himawari itu sedang tersenyum bersama pria lainnya.


Kak Langit tak menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis kecil bernama Himawari itu.


Masih belum mengetahui perasaanya yang sesungguhnya saat ini, namun dia itu masih merasakan perasaan sesak, sedih, gundah dan gulana berjalan di atas pasir pantai ini.


"Siaalaan ,kenapa aku bisa sesedih ini apa yang terjadi padaku?, lebih baik aku mencari udara segar." Kak Langit bergumam sendirian


Dia pun menelusuri jalanan berpasir dengan langkah gontai,sesekali dia melihat deburan ombak bersahut-sahutan di sekitar pantai itu.


Lalu tepat di bawah pohon kelapa tinggi yang menjulang, ada seorang pria asyik melukis dia menyelesaikan lukisannya dengan menikmati pemandangan senja , matahari sedang turun bersembunyi,merona kemerahan tapi untuk pria agak tua ini adalah moment pas melukis keindahan Alam yang terjadi setiap hari, saat pergantian sore menjelang malam.


Kak Langit amat terkejut akan keindahannya, karena di lukisan terlihat ada dua orang yang duduk berdampingan seperti Kak Langit dan Himawari, salah satu menyandarkan kepala di bahu sang perempuan,tampak mereka berdua memandang keindahan air laut, bersama dan ada sinar sunset di depannya sangat indah.


"Pak bolehkah saya bertanya?" Kak Langit bertanya dengan suara yang sopan kepada Pak Pelukis tersebut.


"Silahkan anak muda, ada apa?" jawab pria itu lalu melihat wajah Kak Langit yang sangatlah tampan, dia menatapnya lekat dan penasaran

__ADS_1


"Ehm, bolehkah aku membeli lukisan ini, dan kalau boleh berapa harganya?" Kak Langit itu berniat untuk membeli lukisan sang Pria ini.


"Sebenarnya aku tidak menjual, karena kau suka buatmu saja, lagipula aku tadi melihat ada dua orang di tepi pantai." dan pelukis itu menamatkan wajah Kak Langit yang hampir mirip dengan seorang pria yang tadi ia lukis.


"Kebetulan lukisan ini, modelnya adalah aku dan temanku." Kak Langit lalu memandang lukisan itu sangat terkesima sangat indah .


"Benarkah?,kalau begitu lukisan ini buatmu saja tak usah memberiku uang." pelukis itu memberikannya dengan percuma pada Kak Langit.


"Terimakasih ya Pak, kau sangat baik." Kak Langit menerima lukisan itu dengan sangat senang sekali.


Kak Langit sangat senang sekali karena hal ini adalah obat penawar, akan kesedihannya.


Dalam lukisan itu sama persis keadaan sore tadi ,Kak Langit pun duduk di atas pasir tetap memandangi lukisan yang indah itu, temaram sinar matahari semakin memudar,menghilang bersama suasana malam yang dingin, tetap ada suara deburan ombak terdengar sangat keras di telinga para pengunjung .Mereka juga terlihat akan pulang kembali dan mengemasi semua barangnya, ada juga yang masih betah membuat tenda di bibir pantai, mereka masih tak mau meninggalkan pantai yang indah ini .


"Kenapa lukisan ini membuatku senang?,haa kenapa orang tadi bisa pas." Kak Langit mulai membatin, berbicara sendiri lalu ia tersenyum lagi, menatap sebuah lukisan yang berada di tangannya saat ini.


🌻🌻🌻🌻🌻


Kak Bryan dan Himawari sedang menikmati suara deburan ombak ,dan Kak Bryan mulai memegang jemarinya dengan lembut,mereka berdua saling menatap satu sama lainnya,lalu ditemani deburan ombak menikmati suasana.


Amat indah dan sangat romantis pipi kedua orang ini memerah seketika,dan Himawari sangat malu di pandangi wajahnya saat ini .

__ADS_1


"Hei, kau mau pulang? apa kita tinggal disini saja hehehe." Kak Bryan menggoda Himawari lalu terkekeh, dengan sangat senang sekali.


"Ehm, tidaklah kita pulang saja kalau liburan kita bisa pergi kesini lagi." Himawari protes pada Kak Bryan dia pun tersenyum dan juga tersipu malu.


"Anginnya sangat kencang, ayo kita kembali dan melihat apa yang mereka lakukan?" Kak Bryan mengajak Himawari kembali melihat Kak Bram dan Shakira, dia pun berdiri lalu ia membersihkan sisa-sisa pasir yang berada di celana nya.


Lalu membantu Himawari berdiri ,dan ikut membersihkan baju dan rok Himawari yang terkena pasir pantai ini.


"Sudah bersih ayo kita kembali kak." Himawari dan Kak Bryan berjalan meninggalkan pantai.


Mereka berdua menuju warung tempat ketiga temanya sedang asyik makan, saat kembali hanya ada Shakira dan Kak Bram, namun dia tak melihat Kak Langit ,Himawari celingukkan mencari kemanakah Kak Langit berada,yang tak nampak batang hidungnya saat ini.


"Kemana Kak Langit kau tak melihat?" sambil celingukkan ke sekeliling karena masih tidak menemukannya.


"Aku kira tadi dia ikut mencarimu, kau tidak bersamanya?" Shakira pun balik bertanya ke Himawari sambil melihat arah sekitar.


"Tidak, aku dan Kak Bryan makan es krim saja di tepi pantai." Himawari menggaruk rambut beberapa kali, dia memutuskan akan mencari Kak Langit, karena hampir malam dan akan gelap,dia menghawatirkannya.


"Aku mencarinya saja,sudah hampir gelap." Himawari mulai melangkahkan kakinya akan mencari Kak Langit, namun lengannya saat ini di tahan oleh Kak Bryan,dia menatapnya dengan pandangan intens tajam, berusaha menghentikan Himawari .


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2