
Rayan menceritakan semua kepada Himawari kalau dia adalah utusan dari Ayah Kak Langit.
Karena penyakitnya itu semakin hari tambah parah. Maka menyuruh orang mendekatinya dan juga putranya.Namun ternyata Kak Langit kebetulan mengetahuinya, terpaksa Rayan itu mencoba membujuknya agar mau pulang.
Tapi ternyata Kak Langit tak mau pulang, dan menolaknya mentah-mentah. Himawari hanya menyimak semua perkataan dari Rayan,tetapi Kak Langit masih belum tahu perihal penyakit Ayahnya yang mematikan. Karena umur dari Ayah Kak Langit yang hanya menghitung hari.
Himawari pun memutuskan untuk secepatnya memberi tahukan pria yang saat ini duduk di dalam kedainya itu. Setelah mereka berdua selesai berbincang Himawari paham keadaan Rayan maka dia tidak memarahinya.
Saat mereka berdua berjalan masuk dengan beriringan,ternyata Kak Langit berada di dekat dinding dan mendengar semua ucap mereka berdua. Dia pun menundukkan wajahnya saat ini. Merasa kalau Himawari selama ini sudah menghianatinya. Bersekongkol dengan ayah yang ia benci sejak meninggalkannya dengan ibunya dahulu. Tanpa berpamitan Kak Langit pergi pulang dia marah besar pada Himawari.
"Aduh gimana ini Rayan?,aku harus mencoba mengejarnya." ujar Himawari dan naik taksi mengejar kepulangan Kakak Langit dan dia sedang marah besar saat ini.
Beberapa saat dia pun sudah ada di rumah Kak Langit, memencet bel hingga beberapa kali namun pintu rumah tidak di buka, sama sekali tidak ada yang membukakan pintu .
Himawari menggu hingga Kakak Langit mau membukakan gerbang rumahnya, sama saat dia mau membuka pintu hatinya untuk ayah nya yang saat ini sedang sekarat. Karena dia punya penyakit yang parah.Mungkin kematian hanya tinggal menunggu hari saja.
"Aduh, kenapa Kak Langit seperti anak kecil ya??, hemm haaa.." Menghela nafas panjang.
"Padahal Ayahnya sudah sakit keras, kenapa dia masih tak mau memaafkannya??" gerutu Himawari berdiri di depan gerbang rumahnya.
Sudah satu jam lama nya Himawari pun lelah berdiri, maka dia memutuskan untuk duduk di depan gerbang beralaskan sendal miliknya.
"Aku tidak membawa dompet, dan aku juga tidak membawa ponsel, sialaann...!" dia pun mengumpat sendirian saja di depan gerbang rumah Kak Langit.
"Gimana ini?,haaa.." menghela nafas panjang lagi, dia pun kali ini merutuki kesialannya .
Duduk seperti seorang gembel yang berada di depan rumah orang, tidak membawa dompet, juga tak membawa ponselnya itu, bagaimana caranya untuk menghubungi seorang nanti.
__ADS_1
"Ya Tuhan, mana habis ini bertambah gelap lagi..." gerutunya lagi merutuki kebodohannya.
Ternyata di sampingnya kini ada mobil hitam yang terparkir, dan cahaya lampu yang amat terang itu, membuat silau mata Himawari .
Saat mobil terbuka ternyata Rayan keluar, dari mobil tersebut dan melihat wajah Himawari memelas karena dia tak membawa ponsel, duduk di depan gerbang yang tertutup rapat .
"Apakah, tuan muda tak membukakan pintu gerbang sejak tadi?" tanya Rayan sembari mendekat.
Himawari hanya menggelengkan kepalanya. Rayan paham dengan keadaannya, dia pun memencet bel rumah berkali-kali agar Kakak Langit risih dengan suaranya. Namun selama setengah jam tetap tidak ada orang yang mau membuka gerbangnya. Nihil dan tak berhasil sama sekali. Himawari duduk di bawah dan merasa putus asa, tapi beruntung ada Rayan.
Jika ia mau pulang nanti berencana nebeng pria berkaca mata itu.
"Rayan pinjam ponselmu itu dong bolehkan?" rengek Himawari pada Rayan, ternyata dia memberikannya dengan percuma.
Setelah itu Himawari memberi pesan kepada Kak Langit agar dia mau keluar dari rumahnya Berharap pesan darinya akan di bacanya .
Setelah mengirim pesan dari ponsel Rayan, ia meminta Rayan agar mengantar pulang, dan pria itu menyetujuinya. Berharap Kakak Langit sedikit bisa berfikir jernih. Bahwa ayahnya itu membutuhkan sekali dukungan putra tunggal nya itu, yang sudah lama di rindukannya.Dan sedikit memberi waktu agar bisa menerima keadaan bahwa ayahnya hidup di dunia tidak lama lagi.
Himawari kini sudah pulang ke rumahnya,dan begitu juga Rayan saat ini berada di kediaman Pak Bara, tuan besarnya itu.
"Bagaimana apa dia mau pulang?" tanya Pak Bara, dan dia sedang duduk di kursi rodanya.
"Maafkan saya tuan besar, nona Hima sudah membujuknya namun tetap tuan muda tidak mau pulang, bahkan dia mengabaikan nona kecil itu." Rayan pun melaporkan kejadian tadi pada bosnya,dengan menundukkan badannya
"Baiklah kau boleh beristirahat." jawab Pak Bara dia pun ingin di tinggal sendirian saja , dia juga sudah merasa putus asa.
Kini Ayah Kak Langit menatap ke arah jendela, terlihat tamannya yang begitu sangat luas, di tumbuhi berbagai macam tanaman.Mulai dari berbagai macam bunga, bahkan buah-buahan juga tumbuh di taman . Dengan warna-warni begitu memanjakan semua yang memandang nya. Sayangnya keindahan itu tak di rasakan lagi oleh sang pemilik taman yang luas itu.
__ADS_1
"Aku rasa aku akan mati sebelum meminta maaf pada putraku sendiri.Aku akan bertemu dengan ibumu dengan perasaan yang masih mengganjal. Dosaku ini begitu besar hingga aku tak di maafkan oleh putraku sendiri ..."
Beberapa saat kemudian ada seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun masuk ke dalam ruangan Pak Bara.
"Papa kenapa kau itu bersedih?, kan ada aku disini hmm..." ujar gadis ,dia pun memberikan segelas minuman hangat dan beberapa obat agar ayahnya bisa meminum obat resep dari dokter biasanya.
"Terimakasih ya, Papa akan meminumnya, tapi tolong panggil Rayan kemari sebentar." ujar Pak Bara agar gadis itu mau memanggil Rayan untuk pergi ke ruangannya sebentar .
"Baiklah Pap, aku akan memanggil Rayan." ucap gadis itu lalu dia pun keluar ruangan hanya untuk memanggil Rayan.
Namun ternyata Rayan tidak ada di ruangan nya, entah ia pergi kemana. Gadis itu harus berkeliling rumah mewah dan besarnya itu .
"Dimana sich Rayan...!!, sebel dech tadi aku lihat dia ada di sini." gerutunya dengan sebal.
Setelah berkeliling area rumah mewahnya itu tetap tak menemukan Rayan, padahal dia tadi baru saja dari ruangan Pak Bara.
"Rayan sialaaaan, kemana perginya pria yang menyebalkan itu!?" gerutunya, sambil berjalan tergopoh-gopoh .
Beberapa menit kemudian dia melihat Rayan dari kejauhan saja, ternyata pria itu sedang memberi arahan kepada bodyguard lainnya.
"Dari tadi aku keliling, ternyata dia ada disini huuu sebalnya..!" rutuk gadis itu, dan berjalan mendekati Rayan.
"Rayaaaaannnnnn..!!!" teriak gadis itu dengan suaranya yang bisa saja memekikkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
"Ada apa nona??" tanya balik Rayan sambil memegangi telinganya yang hampir pecah .
Bersambung...
__ADS_1