Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 128 "Terpuruk"


__ADS_3

"Kau sekarang tinggal dengan ibumu saja?" tanya Kak Bryan sambil menyetir.


"Iya, aku hanya berdua saja, dan sudah sekitar delapanan bulan berada di daerah sini kak." ucap Himawari sembari melihat ponselnya yang bergetar sedari tadi.


Dia mengambil dari saku celananya,dan lalu membaca pesan dari seorang pria tampan dia adalah Kak Langit, seorang pria yang sedang menunggunnya di kedai ibunya.Sambil makan siang, ingin sekali mengobrol bersamanya.


"Aduh, kenapa terulang kembali masalahnya, Ya Tuhaaannn, bisa gilaaa aku,kenapa selalu seperti ini?" batin Himawari galau karena hal ini terulang kembali,Kak Langit dan Kak Bryan akan bertemu dan bersiteru lagi jika mereka berkumpul menjadi satu.


"Aku harus bagaimana lagi ini?, ehm kalau begitu aku harus punya cara agar Kak Bryan tidak bertemu Kak Langit." batin Himawari .


"Kak, apa sudah lama tinggal di daerah sini?" tanya Himawari pada Kak Bryan dia menatap wajahnya dari samping.


"Aku tidak tinggal disini, aku tinggal di rumah ku yang dulu, namun aku tinggal di apartemen temanku untuk sementara." ucap Kakak Bryan dan dia pun tetap fokus menyetir .


"Aku kira kakak akan menetap disini." ujar gadis kecil di sampingnya dengan penasaran.


"Hem, kau mau aku menetap disini?" tanya Kakak Bryan sambil menepikan mobilnya di bibir jalan yang agak sepi.


"Hem... haaa..." menghela nafas.


"Maksudku..." ucap Himawari.


"Apa kau, menyuruhku menetap di hatimu?" ucap Kak Bryan dengan tersipu malu, dengan pipi merah meronanya.


"Oew, bukan itu maksudku, maksudku kakak apakah akan tinggal disini untuk waktu yang lama?" ujar Himawari sembari kebingungan .


"Tentu saja, aku akan membeli rumah disini saja, jika aku tahu kau tinggal di daerah sini." ucap Kak Bryan dengan serius menanggapi pertanyaan Himawari.


"Kau tahu aku sangat senang bisa bertemu denganmu, setelah sekian tahun lamanya aku mencarimu." ucap Kak Bryan, menatap wajah kecilnya Himawari dengan perasaan senang.

__ADS_1


"Kakak mencariku, maaf ya karena selalu saja menyusahkan kakak." permintaan maaf gadis kecil itu terdengar menyakitkan namun juga sangat menyedihkan.


"Kak, bagaimana kabar mama kakak?" tanya Himawari pada Kak Bryan dengan tatapannya yang nanar .


"Aku akan menceritakannya padamu, beliau itu sudah meninggal dunia 2 tahun yang lalu." ucap Kak Langit membuka suara dengan air mata yang langsung meleleh begitu saja, di kedua matanya yang indah dan teduh itu.


🌻🌻🌻🌻🌻


Flash back


Dua tahun yang lalu, ada kejadian yang amat menyedihkan saat peringatan hari kematian dari adik Kak Bryan perempuan. Mama Kakak Bryan yang di ajak ke makamnya mengalami shock berat, dia sangat sedih sekali sehingga membuat Mamanya terserang sakit jantung dengan tiba-tiba. Maka mau tidak mau harus segera di larikan ke rumah sakit.


Namun tepat pada pukul 15.00 wib sore hari. Hujan deras mulai mengguyur kota dengan seenaknya, dia memberi guyuran air hujan itu dengan lebatnya.Seperti seolah mengetahui perasaan seorang pria tampan yang berusia 21 tahun itu, saat ia masih menjadi seorang mahasiswa dan Hujan lebat beserta beberapa kilatan petir yang menyambar-nyambar serta angin bertiup agak kencang.


Saat di dalam mobil ambulance mama Kakak Bryan pun sudah mengalami shock berat,dari mulai sesak nafas, detak jantung yang lemah, juga saat dalam perjalannya menuju ke rumah sakit terdekat.


"Mamaaa.... bangunlah aku masih disini, aku akan setia menjagamu." sambil menggoyang badan mamanya yang sudah tidak bernafas.


"Mama, bangun kau masih memilikiku, aku akan selalu setia menunggumu." ucapnya sambil menitihkan air mata yang meleleh begitu saja.


"Hiks..hiks...hiks.."


Kakak Bryan masih tidak rela kalau Mamanya yang ia cintai itu, harus meninggalkan dirinya sendirian. Dan tidak menyisakan apa-apa lagi untuknya.Dia merasa kesepian hidup sendiri, karena adiknya meninggal dan kini mamanya.


Terlebih saat ini peringatan hari kematiannya adik Kak Bryan, Mamanya pun ikut menyusul.


Alangkah bersedihnya pria tampan itu, tanpa di temani seseorang dia harus merasakan beban sebesar itu. Di tanggungnya sendiri.


Tak berselang lama, kemudian saat prosesi pemakaman mamanya , air matanya mulai mengucur dengan deras dengan hujan yang turun di atas permukaan bumi sebagai saksi.

__ADS_1


Seakan dunia ikut memberi waktu Kak Bryan untuk bersedih, dengan menjatuhkan hujan deras sebagai saksinya.Jatuh tak beraturan di muka bumi ini, ikut bersedih dengan peristiwa tersebut.


"Mama, aku sayang sekali, kenapa sekarang kalian meninggalkanku sendiri saja?" ucap Kak Bryan di samping pusara Mama, dan adik saat ini menangis, dengan tubuh basah kuyub


Beberapa orang memilih kembali pulang, dan hanya ada Kak Bryan berada di dekat makam itu,merasakan sesak di dadanya atas kejadian yang menimpanya itu. Sangat bersedih dan perih karena di tinggal mamanya , padahal ia sangat menyayangi mamanya, walaupun dia setiap hari harus merawatnya, tidak paham kalau Kak Bryan adalah anaknya.


Walaupun demikian Kakak Bryan sangatlah setia dengan mamanya. Rela merawatnya setiap hari mengunjunginya beliau di rumah sakit. Agar mengetahui perkembangan mama nya yang depresi karena kehilangan adiknya yang perempuan.Tetap mau merawatnya dan setia menjenguk di sela-sela kesibukkannya.


🌻🌻🌻🌻🌻


"Hiks...hiks... begitulah ceritanya aku terpuruk, dan tidak tahu harus bagaimana?, aku juga sempat mencarimu." ujar Kak Bryan dengan pipinya yang basah terkena lelehan air mata.


"Hiks... hiks...hiks... "menangis sesenggukkan lalu Himawari pun memeluk Kak Bryan yang sedang bersedih, mengingat kepergian sang mama tercintanya.


"Maafkan aku kak, aku tidak bisa menemani mu saat itu." ujar Himawari sembari mengelus punggung Kak Bryan dengan kedua bola mata nya yang berkaca-kaca.


Untuk beberapa saat Kak Bryan menangis di pelukkan Himawari saja, karena dengan itu pria yang tampan dengan tubuh yang tegap serta bermata indah merasakan ketenangan.


Setelah beberapa saat Kakak Bryan merasa agak tenang, maka ia melepas pelukkan dari gadis kecil itu. Menatapnya lekat-lekat dia merasa menemukan separuh jiwanya yang telah meninggalkannya.


"Kau tahu aku sangat merindukanmu,apa kau tak merindukanku?" tanya Kak Bryan kepada Himawari dengan menggengam lembut ke dua tangannya yang kecil itu.


"Dengarkan, maukah kau berjanji tidak akan meninggalkanku lagi, aku tak mau kehilangan lagi orang yang aku cintai." permohonan dari Kak Bryan dengan lirih, serta dengan suara yang penuh perasaan mendalam.


Dia menatap wajah gadis kecil dengan pipi gembil, matanya yang masih nanar dan juga berkaca-kaca karena dia juga sedih mamanya Kak Bryan meninggal dunia tapi Himawari tak berada di dekatnya saat itu.


Namun Himawari tidak bisa menjawabnya. Dia membisu karena ada perasaan bimbang takut akan menambah luka yang mendalam jika ia berjanji tidak dapat menepatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2