Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 137 "Diterima Kerja"


__ADS_3

"Hei, siapa pria yang kau ajak ke kedai bubur ini?" tanya Kak Bryan dengan menatap lekat wajah Himawari yang agak canggung.


"Ehm, itu Kak Langit kak, tapi aku tak sengaja bertemu disini, kalau Kak Bryan aku memang mengajakmu."ujar Himawari sambil memasuk kan satu sendok, bubur ayam ke mulut Kakak Bryan dan terlihat Kak Bryan yang akan marah tidak jadi, dan menahannya seketika.


"Makan dulu, nanti baru berbincang ok."ucap Himawari sembari menikmati bubur ayam.


Mereka berdua lalu menikmati bubur ayam bersama,dengan wajah sumringah Himawari.


Kak Bryan akan marah denganya tidak jadi,di karenakan dengan senyuman manis gadis itu dengan sekali saja.Membuat perasaannya itu seperti tak tega jika marah kepadanya.


"Semoga waktu seperti ini akan terus terjadi pada kita berdua." batin Kakak Bryan dengan pipinya yang kemerahan menatap gadis yang berada di depannya saat ini.


Beberapa menit berlalu mereka berdua sudah menghabiskan dua mangkuk bubur ayamnya.


Begitu pula Himawari dengan badanya yang kecil dan mungil namun nafsu makanya besar


Bubur ayam yang berukuran jumbo itu hanya akan bertahan beberapa jam saja,setelahnya pulang bersama Kak Bryan, dia antar di depan gang rumahnya.Sesudah itu berpamitan akan kembali karena masih banyak urusan kerjaan yang akan dia tanganni hari ini.


"Dengar, nanti aku akan menghubungimu, jika aku akan kemari,sampaikan salamku kepada ibumu ok." pamit Kak Bryan pada Himawari memutar setir mobil ke arah apartemennya dia akan bersiap bekerja.


Sedangkan Himawari di suruh ibunya untuk mengantar makanan,karena pesanan sangat banyak khususnya hari ini untuk makan siang semua para pegawai kantor.


Sepeda motor mini Himawari sudah berada di depan teras kedai ibunya, teman Kakak Bryan bernama Lukman itu mengantarnya siang ini dan buru-buru pamit tanpa mampir ke kedai.


Himawari bergegas masuk kedalam gedung pencakar langit nan megah di kota ini,dengan membawa banyak sekali pesanan di tangan kiri dan kanannya untuk makan siang.

__ADS_1


Walau ada kantin yang terlihat amat mewah, entah kenapa perusahaan ini sangat sering, memesan menu makan siang dari kedai ibu Himawari,hingga hari gadis kecil memberikan semua pesanannya kepada salah satu staf perempuan yang terlihat anggun dan cantik.


Dia memakai baju kantoran dengan rambut yang di potong pendek, sebahu terlihat cantik rapi, dan juga bau parfum mahal tercium dari hidung Himawari.Wanita itu menerima semua makanan yang di bawa gadis kecil itu.


Saat akan kembali Himawari di hadang oleh seorang pria bertubuh kekar,tampan memakai jas lengkap seperti seorang body guard.


Pria itu lalu mempersilahkan gadis pengantar makanan memasukki sebuah ruangan,karena Himawari polos itu tidak terlalu mengetahui maksud dari seorang pria sudah menghadang kepulangannya.Dia masuk di dalam sebuah ruangan yang besar sepertinya adalah sebuah ruangan seorang CEO, atau semacamnya lah.


Himawari di suruh duduk oleh seorang pria itu akhirnya dia pun duduk untuk menunggu, dan sabar sembari melihat-lihat semua sudut dari ruangan tersebut.Saat itu melihat ada sebuah foto seorang anak pria membawa bola basket di tangannya kanannya,berdiri di antara kedua orang tuannya.Seperti pernah melihat wajah anak pria tersebut, tapi dia lalu memalingkan tatapannya ke arah lainnya.Dan melihat foto pria paruh baya dengan tubuhnya yang tegap dengan wajah yang tampan mirip seseorang yang tak lain adalah pria yang beberapa hari yang lalu, sudah bertemu dengan Himawari.


Pria itu pun sekarang duduk di sofa tepat di depannya.Sedang mengamati gadis kecil itu.


"Selamat siang,jadi kau gadis yang bernama Himawari itu." ujar pria itu dengan suara serak dan menggelegar. Suara khas baritonnya dan serak-serak basah sama dengan suara dari Kakak Langit.


"Selamat siang tuan." jawab Himawari sedikit canggung.


dengan wajah agak sedikit sedih.


"Iya tuan,jika saya bisa membantu maka saya akan membantu tuan."ucap Himawari dengan sopan, sembari menundukkan wajahnya.


"Bekerjalah di perusahannku, kau tidak usah melakukan interview ataupun hal yang lain."


"Cukup hanya bekerja saja, lalu melakukannya dengan baik." ucap pria paruh baya itu dengan pandangan teduh memohon pada gadis kecil itu. Dan meminum teh hangat yang terhidang di meja.


"Minumlah tehnya gadis kecil." ucap pria itu.

__ADS_1


"Terimakasih tuan saya tak haus, kalau boleh tahu ,apakah alasan saya harus bekerja di sini dan kenapa saya bisa masuk begitu saja?" tanya dari Himawari sembari menatap pria tampan, berusia sekitar 56 tahun itu.


"Sebenarnya aku ingin sekali Langit menjadi seorang penerusku, seorang pengusaha aku ingin dia menjadi Direktur di sini." ucap pria itu dengan bersedih menatap nanar wajahnya gadis kecil itu, dengan sedih.


"Tapi aku pernah mendengar kalau Kak Langit tak mau menjadi pengusaha tuan." ucapnya dengan lirih dan sopan,karena Kakak Langit sudah sangat sering bercerita kalau dia tidak mau bekerja di perusahaan, apalagi menjadi seorang pengusaha.


"Aku tahu maka dari itu tolonglah aku gadis kecil, bekerjalah di gedung ini,maka dia akan mau bekerja menggantikan aku." permohonan pria paruh baya itu terdengar sangatlah tulus dengan menitihkan air matanya.


"Umurku hanya tinggal sedikit,aku rasa anak itu masih marah padaku gadis kecil,maka dari itu aku minta bantuanmu."ucap pria itu sambil mengusap pipinya yang berlinang air mata.


Himawari hanya bisa diam terpaku dan tidak bisa berkata-kata karena di satu sisi,dia tidak mau membuat Kak Langit bingung,di satu sisi dia kasihan dengan seorang ayah ini, tepat di depannya saat ini sedang menangis meminta bantuannya.Beberapa menit kemudian gadis ini membuka suaranya.


"Bolehkah saya berfikir dulu tuan?" tanya dari Himawari sembari menundukkan kepalanya tidak tega dengan ucapan seorang ayah yang memohon bantuan padanya.


"Kalau bisa kamu menerimanya, aku yakin jika kau mau bekerja disini Langit akan menerima menjadi pengusaha,dan menggantikan aku." permohonan seorang ayah kepada seorang gadis saat ini.


"Baiklah,saya mohon berikan saya itu waktu tuan." jawab gadis itu sembari berpamitan .


"Ingat, jangan bilang pada Langit kalau aku saat ini sedang sakit." ucap pria paruh baya itu,sembari terlihat di wajahnya sudah putus asa,tidak tahu harus berbuat apalagi supaya putra tunggalnya akan kembali menggantikan posisinya.Karena usianya tak akan lama lagi.


"Aku mohon gadis kecil, aku akan berhutang budi padamu." ujar pria paruh baya itu sambil mengelap air mata di pipinya mengalir deras.


Himawari hanya bisa menganggukkan kepala dan keluar dari ruangan CEO dengan gontai.


Dia pun memasuki lift itu,ada seorang gadis yang melihatnya tak begitu senang menatap Himawari keluar dari ruangan yang tak semua orang bisa memasukki sembarangan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2