
"Sial...Kenapa kau mau saja?,lagipula untuk apa harus memakai body guard?" tanya dari Kak Langit, dan menggelengkan kepalanya.
"Tuan muda kembalilah,nona kecil kasihan di kantor, banyak karyawan membicarakannya." gumam Rayan, dia menatap wajahnya Kakak Langit.
"Aku kan sudah bilang,tidak tertarik bekerja di kantor, aku sudah bekerja dan bisa mendapat uang sendiri." jawab Kak Langit sewot kapada Rayan. Dia membuang muka ke arah lainnya.
"Oh,Jadi kalian berdua di sini,sudah akrab ya, baguslah kalau begitu ayo kita masuk, makan bersama." ajak Himawari tiba-tiba, membuat mereka berdua menghentikan percakapannya
Mereka berdua tidak bisa berkutik dan masuk secara beriringan, dan duduk di meja makan menunggu makanan tiba dan di hidangkan.
Rayan dan juga Kakak Langit saling menatap agak canggung, Himawari tak menaruh curiga sama sekali pada mereka berdua.
"Kenapa kalian diam saja, ayo makan?!" ujar Himawari melihat mereka berdua saling tatap
Mereka berdua pun menikmati hidangan yang sudah di sajikan ibu Himawari. Setelah bebera pa menit setelah mereka bertiga makan, dan terasa kenyang. Himawari membantu ibunya mencuci piring. Dan ia meninggalkan mereka berdua agak berbincang-bincang.
Kak Langit mengajak Rayan pergi ke tempat supermarket dengan alasan membeli minum.
Maka mereka berdua tiba di supermarket,dan membeli eskrim untuk mendinginkan mulut mereka karena masakan ibu Himawari agak pedas.Rayan pun segera melahap es krimnya.
"Tuan muda, kenapa kau tidak kerja di kantor saja?, lebih baik kalau kau kembali ke rumah dan seperti dulu."ujar Rayan merengek seperti seorang anak kecil, dia mengerucutkan bibir nya ke arah Kak Langit.
"Aku sudah mempunyai rumah, juga sudah kerja, kenapa aku harus kembali?" tanya sinis Kak Langit pun menikmati es krim miliknya .
"Bukan begitu, kasihan Pak Direktur. " ujarnya Rayan dan terlihat bersedih.
__ADS_1
"Cih... Kenapa kasihan?, karena dia kan enak punya segalanya, lagipula istrinya juga sudah banyak kan." gerutu Kakak Langit, terlihat dia semakin geram.
" Makanya tuan muda pulang saja biar tahu, keadaan yang sebenarnya." ujar Rayan dan dia menghabiskan es krim nya.
"Tidak mau, biar dia urus sendiri masalahnya, aku ingin bebas." ujar Kak Langit, merasa dia tidak mau lagi berhubungan dengan Ayahnya, karena sewaktu kecil dia telah di tinggalkan olehnya, maka Kak Langit sangat membenci sosok ayahnya itu yang pernah ada di dalam kehidupanya.
Rayan tak bisa membujuk Kak Langit, dia pun pasrah. Sebenarnya dia ingin sekali putra dari Tuannya itu pulang dan tahu kejadian sebenar nya terjadi, Ayahny hanya tinggal menghitung hari saja. Karena penyakit yang ia derita kini membuatnya sudah pasrah. Dan ingin sekali putranya kembali ke pelukannya untuk terahir kalinya. Agar saat dia meninggal kelak, tidak akan merasa bersalah lagi, saat dia bertemu dengan alamrhum istrinya, ibu nya Kak Langit bisa tersenyum karena banyak dosa dan juga kesalahan yang ia perbuat olehnya.
Kakak Langit saat ini tertunduk lesu, bersedih karena mengingat masa lalu yang dia alami. Betapa kesedihannya tidak berujung semasa ia kecil dulu, saat masih sekolah di tinggalkan oleh ibunya meninggal, karena ayahnya sudah menikah lagi. Harus hidup mandiri sendirian saja tanpa ada kedua orang tuanya. Saat kini ia sudah dewasa malah seenaknya menyuruh menjadi seorang pengusaha seperti ayahnya .
Rayan tak berani membujuknya lagi, maka ia mempunyai cara akan menceritakan kepada Himawari saja, agar secepatnya bisa merayu dan membujuk tuan mudanya, agar dia mau kembali ke rumah Tuan besarnya.
Mereka berdua pun kembali ke kedainya ibu Himawari,membawa satu kantong camilan dan juga es krim kesukaan Himawari.
"Kalian sudah kembali, kenapa Kakak Langit tampak sangat sedih?" tanya Himawari dan memeriksa isi kantong plastiknya, ternyata ada es krim kesukaannya.
"Kak jangan melamun, kenapa kau terlihat bersedih?" tanya Himawari dengan lirih .
Tapi Kak Langit tetap diam tidak mendengar ucapan Himawari, dia menggodanya dengan menempelkan tangannya yang dingin di pipi nya, agar dingin tangannya bisa membuatnya menoleh ke arahnya.
"Kau menggodaku?" ujar Kak Langit dan mulai menoleh ke arah wajah Himawari.
"Habis, di tanya malah melamun... Jika ada masalah kau boleh cerita padaku?" usul gadis itu, dan menjilati es krim yang ada di tangan nya itu, sambil melihat ke arah Kakak Langit .
"Aku hanya agak lelah saja, karena kedainya seharian sangat ramai." ujar Kak Langit, dan masih berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya pada Himawari.
__ADS_1
Dia lalu tersenyum seolah tidak ada hal yang terjadi padanya. Himawari pun mengernyitkan
kedua alisnya ke arah Rayan, namun laki-laki yang memakai kacamata tebal menundukkan wajahnya saja.Himawari menaruh rasa curiga pada mereka berdua sejak kembali dari toko supermarket. Lalu mengajak Rayan ke arah yang tidak terlihat Kak Langit.
"Ada apa dengan kakak Langit kenapa dia bersedih??" tanya Himawari kepada Rayan.
"Ehm, aku tak tahu ,kami hanya membeli di supermarket kemudian kembali kesini saja." ujar Rayan pada Himawari, namun dia tidak kehabisan cara, lalu dia pun menggertaknya tidak akan berteman dengannya lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku tak mau berteman denganmu lagi." gertak Himawari pada Rayan.
"Jangan begitu nona kecil, kenapa tidak mau berteman denganku lagi?" tanya Rayan dan ia mengerucutkan bibirnya ke arah Himawari .
"Tak mau, soalnya kau kan tidak mau cerita padaku ,ya sudah." gertaknya lagi lalu dia pun membuang mukanya berjalan pelan masuk ke dalam rumah.
"Baik-baik aku akan menceritakannya." ucap Rayan dengan nada terpaksa, karena Rayan tak bisa berbohong.
Rayan menceritakan semua kepada Himawari kalau dia adalah utusan dari Ayah Kak Langit.
Karena penyakitnya itu semakin hari tambah parah. Maka menyuruh orang mendekatinya dan juga putranya.Namun ternyata Kak Langit kebetulan mengetahuinya, terpaksa Rayan itu mencoba membujuknya agar mau pulang.
Tapi ternyata Kak Langit tak mau pulang, dan menolaknya mentah-mentah. Himawari hanya menyimak semua perkataan dari Rayan,tetapi Kak Langit masih belum tahu perihal penyakit Ayahnya yang mematikan. Karena umur dari Ayah Kak Langit yang hanya menghitung hari.
Himawari pun memutuskan untuk secepatnya memberi tahukan pria yang saat ini duduk di dalam kedainya itu. Setelah mereka berdua selesai berbincang Himawari paham keadaan Rayan maka dia tidak memarahinya.
Saat mereka berdua berjalan masuk dengan beriringan,ternyata Kak Langit berada di dekat dinding dan mendengar semua ucap mereka berdua. Dia pun menundukkan wajahnya saat ini. Merasa kalau Himawari selama ini sudah menghianatinya. Bersekongkol dengan ayah yang ia benci sejak meninggalkannya dengan ibunya dahulu. Tanpa berpamitan Kak Langit pergi pulang dia marah besar pada Himawari.
__ADS_1
"Aduh gimana ini Rayan?,aku harus mencoba mengejarnya." ujar Himawari dan naik taksi mengejar kepulangan Kakak Langit dan dia sedang marah besar saat ini.
Bersambung...