Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 78 "Malam Indah"


__ADS_3

Flash back


Beberapa jam yang lalu dikala hujan deras itu datang dengan tiba-tiba, maka suasana siang ini agak mencekam,langit itu berwarna coklat kehitaman di penuhi tetesan air hujan yang turun dengan bebasnya membasahi semua di permukaan bumi ini. Abang Gamma sedang berteduh di bawah sebuah warung bakso tak jauh dari rumahnya, saat ini dia makan siang sambil menunggu hujan yang lebat itu segera mereda , baru ia akan melanjutkan perjalanan untuk pulang, tentunya setelah dia menikmati semangkok bakso hangat yang tinggal sedikit


"Aduh, tiap hari ini kayaknya hujan ya Bang Gamma ?" Ujar dari penjual bakso itu sambil bergumam, dia menatap air hujan tak mereda sama sekali namun malah bertambah lebat .


"Iya Mang, gak papa lagian hujan juga segar aku suka, jadi tak gerah lagi." Jawab Abang Gamma kepada si penjual bakso itu sambil melahap semua sisa bakso miliknya saat itu.


"Berapa ya punyakku Mang totalnya?" Tanya Abang Gamma sambil melirik mangkok yang sudah kosong di atas mejanya.


"Ehm ,sepeluh ribu aja Bang, kok keburu-buru emangnya mau kemana masih lebat hujannya mendingan berteduh dulu." Ujar mamang si tukang bakso pada Abang Gamma karena hujannya masih sangat lebat namun,Abang Gamma ingin menerobos hendak melawan air hujan itu, berbasah-basahan.


"Ya nunggu agak reda sich mang, uangnya ini mang." Abang Gamma sambil menyodorkan uang sepuluh ribu pas tak ada kembaliannya.


"Makasih, oh ya kok mamang sangat lama tak melihat adik Abang, yang kecil itu." Ujar dari mamang tukang bakso pada Abang Gamma.


"Oh, dia sering keluar dan kerja sampingan sama temannya jarang di rumah mang." Ujar Abang Gamma dan melihat hujan agak reda .


"Oh ya mang udahan ya aku mau pulang dulu, dan makasih baksonya enak." Ujar dari Abang Gamma sambil menerobos air hujan namun sudah agak mereda tak selebat tadi .

__ADS_1


"Iya sama-sama!!" Teriak mamang si tukang bakso itu sambil tersenyum melihat Abang Gamma pergi dan terlihat punggungnya saja.


Dalam perjalanan pulang dan terdengar suara dari seekor hewan di telinga Abang Gamma , dia mulai celingukkan mencari asal suara itu.


Namun setelah ia telusuri ternyata ada seekor hewan di dalam parit, yang alirannya semakin derasnya ,ada besi penutup berada di atasnya namun karena kucing itu berpegang erat pada besi kecil berbentuk melingkar maka dia tak terseret arus, namun dia sudah lama berada di dalam parit selama hujan deras tadi, kalau tak segera di selamatkan dia pastilah terbawa arus, dan menghilang entah kemana.


Abang Gamma langsung membuka penutup besi itu, dengan sekuat tenaganya, tak itu saja langsung menyelamatkan kucing itu dari arus parit yang membahayakannya.


"Meow...meow..." Suara kucing itu terdengar lemas karena sedari tadi dia sudah meminta tolong, namun tak ada orang yang mendengar atau mendengarnya namun hanya suara lirih, mengabaikannya saja akibat hujan yang amat deras mengguyur kota ini.


Akhirnya kucing itu pun di selamatkan Abang Gamma dan setelah di mandikan, dan di beri makanan kucing itu mempunyai tenaga lagi .


🌻🌻🌻🌻🌻


"Tok...tok...tok..." Suara ketukan pintu itu dari depan terdengar di telinga Himawari saat ini


Dia pun mengira kalau itu adalah Abangnya tapi kenapa sudah pulang padahal, dia bilang kalau akan pulang terlambat hari ini.


Saat dia membuka pintu rumahnya sangatlah terkejut sekali ,ternyata bukan Abangnya tapi Kak Bryan dengan menatap penuh perasaan pada Himawari saat ini ,karena malam ini ada temaram sinar rembulan,wajah dari Kak Bryan terlihat semakin tampan bermandikan sinar cahaya rembulan yang bulat sempurna itu .

__ADS_1


Pias cahaya itu memancarkan sinar kuning terang membuat, wajah Kak Bryan berseri- seri dan tersenyum amat manis pada gadis kecil yang ada di depannya saat ini.Kak Bryan berjalan maju dan sebaliknya Himawari pun berjalan mundur dengan pelan-pelan.


"Kenapa kakak kemari?" Ujar dari Himawari.


"Ya karena aku merindukanmu, aku mau lihat kamu sebentar, kamu tadi mengirim pesan ya aku sedang sibuk." Ujar dari Kak Bryan pada Himawari sembari mendekatinya .


"Apa yang ingin kakak lakukan ..hmm?" Tanya Himawari sambil berjalan mundur menjauhi.


"Aku tidak berbuat apa-apa kemarilah." Ujar Kak Bryan pada Himawari semakin mendekat.


Lalu Himawari pun tak bisa mundur lagi ada sebuah dinding pembatas di belakang tepat, di punggungnya. Dan Kak Bryan meraihnya secepat kilat mendekatkan tubuhnya kepada Himawari sembari memeluknya dengan erat.


"Sebentar saja ,aku ini sangat merindukan dirimu aku harap kau bersabar ya." Bisik Kak Bryan sambil memeluk tubuh kecil Himawari dengan sangat erat, kehangatan berasal dari pelukkan itu membuat Himawari bingung dan menelan selivanya, tak itu saja wajahnya yang ada tepat di dada Kak Bryan pun mendengar degup jantung yang berirama, dag dig dug itu membuat Himawari semakin bingung lagi .


"Astaga aku bisa gila ini." Batin Himawari dan pipinya mulai memerah, dia malu sekaligus amat senang kenapa pelukkan ini serasa tak mau lepas.Dia pun juga melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kak Bryan.


Cute masih saja tertidur pulas tidak melihat Himawari dan Kak Bryan sedang berpelukkan.


Himawari pipinya memerah dan juga Kakak Bryan, berusaha keras untuk mengendalikkan degup jantungnya sudah sangat tidak stabil.

__ADS_1


Dia merasa ada sengatan listrik begitu kuat menjalar di sekujur tubuhnya, dan perasaan kerinduan yang mendalam padahal baru satu hari ini dia tak bertemu Himawari .


Bersambung...


__ADS_2