
Pukul 15.00 wib ternyata hujan pun akhirnya turun juga, dia membasahi semua jatuh dan berhamburan acak di terpa angin, air hujan yang segar memberi kesejukan pada hawa panas yang terkena terik sinar matahari tadi siang, sekarang di usir berganti hawa dingin.
Guntur serta petir pun berkali-kali terdengar di telinga kami, kilat petir menyambar-nyambar.
Awan hitam yang mengepul itu menuntaskan perasaan sedihnya, menumpahkan air mata kesedihan untuk membasahi Bumi.
Namun sesekali juga angin kencang menerpa seng di atap sekolahan kami, sampai terbang.
"Ngik...ngik...ngik..."
"Wushhhh..."
Jalan raya tadinya ramai lalu lalang banyak kendaraan berjalan menuju tujuan masing- masing sudah agak sepi, mungkin mereka menepi dan ada yang berbalik arah tak jadi berangkat karena hujan sangat lebat sore ini .
Terlihat banyak orang juga yang berteduh di bawah pohon, dan ada juga yang berteduh di bawah tempat kosong agar tak basah kuyup terkena air hujan. Mereka berharap hujan ini agar segera mereda, dan bisa melanjutkan perjalanan yang mereka tuju.
Nampaknya Kak Langit tak membawa mantel maka ia pun berteduh di sebuah gudang yang sedang tutup. Dia pun memarkir motornya di dekat bangku yang ia duduki ,dia berada di teras gudang tersebut kedinginan.
Sepatunya juga basah terkena genangan air kubangan yang mengendap di dekat jalan raya yang ia lewati tadi. Dia pun melepasnya agar kakinya tak kram terkena sepatu yang basah lalu ia memasukkannya ke dalam jok sepedanya.
"Blakkk." Suara jok sepeda yang di tutup.
Dia pun kembali duduk dan menagamati air hujan yang turun. Dia menggigil kedinginan sambil mengusap-usap wajahnya itu yang terkena percikan air hujan semakin lebat.
__ADS_1
Hujan yang mengguyur kota ini semakin lebat tak mau tahu, dia masih saja bermain-main dengan kilatan dan petir juga.
Mungkin mereka itu sedang bosan makanya mereka mengusir kebosanan dengan sedikit memberi hujan lebat yang tak kunjung henti.
Kak Langit sedang melamunkan sosok ibu yang amat ia cintai saat ini.
🌻🌻🌻🌻🌻
Flash back
"Langit kenapa kau tak makan?" Tanya dari Ibunya Kak Langit dengan nada lembut.
Tampak dari Ibu Kak Langit yang cantik sekali dan duduk menghampiri dengan penuh cinta kasih. Tatapan penuh sayang pada putranya itu .
Mereka pun makan bersama di meja makan dan, Kak Langit tersenyum sumringah karena masakkan Ibunya yang lezat itu, membuatnya bisa bahagia dan kenangan itu hanya sesaat.
Pecah karena ada guntur dan kilat cahaya yang tiba-tiba menyambar, dan terdengar di telinganya. Perasaannya itu pun lalu berubah seketika.
"Gluduk.... Clap... Jedeerrrr."
Kakak Langit pun mengusap wajahnya yang basah lagi terkena cipratan air hujan, sembari menatap hujan yang deras, dengan kilat petir yang menyambar-nyambar ,tak jarang guntur berkali-kali ikut andil dalam hujan lebat ini.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
Di sekolah Kak Bryan, Himawari ,Shakira dan Abang Gamma, masih ada di ruang beladiri.
Karena hujan yang lebat mereka memutuskan tidak pulang saja, mereka itu menunggu hujan mereda dan berkumpul bercengkrama, agar sambil menunggu hujan mereda tidak bosan.
"Haaa, hujan lagi kenapa sering hujan? lebat dan petirnya sangat menakutkan." Gumam Shakira dengan merebahkan tubuhnya di atas lantai yang dingin, dia pun menutup kelopak matanya yang indah dan membukanya lalu menatap langit-langit, ruangan itu.
"Biar saja, kalau aku ya suka hujan, lagi pula hawa dingin yang segar mengusir debu dan polusi siang tadi iya kan." Timpal Himawari pada Shakira dengan mengernyitkan alisnya.
Lalu Himawari segera melihat jendela yang berembun, terkena tetesan hujan menurutnya adalah hal yang sangat menyenangkan.
"Apakah kalian lapar? ,bagaimana kalau kita makan sesuatu yang enak dan memesannya." Kak Bryan menawari mereka untuk memesan makanan siap saji sambil tersenyum manis, dan juga terlihat tampan maksimal.
"Ide bagus, aku belum makan." Jawab Abang Gamma dengan tersenyum dan memegangi perutnya yang keroncongan.
"Baiklah Bang,aku akan segera memesannya." Jawab dari Kak Bryan mengeluarkan ponsel miliknya. Segera menjauh.
Saat Kak Bryan pergi,Himawari pun mendekat dan berbisik pada Abang Gamma.
"Abang beberapa hari ini kamu kemana?" Bisik dari Himawari pada Abang Gamma, dia pun menyeringai dengan tatapan penasaran.
Bang Gamma pun terlihat bingung, canggung dan menelan selivanya, dan tidak tahu harus menjawab apa pada Himawari, dia menatap gadis bernama Himawari dengan pandangan terkejut mulut ternganga. Menggaruk kepala berkali-kali dan kebingungan.
Seperti ada hal yang di sembunyikan oleh Abang Gamma pada adik kesayangannya.
__ADS_1
Bersambung...