
Setelah pelajaran olahraga selesai Himawari pun duduk di dalam kelas, sambil meminum air putih, dia mulai mengistirahatkan kakinya , ternyata Kak Langit juga ikut nimbrung dekat gadis ini memberikan sesuatu dan melayang kan senyuman yang manis, dan tatapan yang hangat.
"Ini buatmu ya aku melukisnya sendiri, tadi malam aku menyelesaikannya." Suara Kak Langit terdengar sangat lembut di telinga.
"Benarkah? wah... bagus sekali terimakasih Kak Langit." Sambil menerima lukisan bunga matahari dari Kak Langit .
"Oh iya, apa Kakak Langit pandai melukis?" Tanya dari Himawari sambil mengamati lukisan bunga matahari dari Kak Langit.
"Tidak begitu, hanya hoby saja." Jawabnya irit.
"Ehm, bolehkah aku bertanya kenapa Kakak waktu itu takut hujan atau guntur?" Tanya dari Himawari sambil menatap wajahnya, tiba-tiba agak bersedih serta muram.
"Ehm, karena..."Suara lirih Kak Langit sambil tertunduk lemas.
__ADS_1
"Cerita saja kak , aku rasa Kakak hanya perlu teman bicara." Tanya dari Himawari sambil menatap lekat wajah Kak langit yang tampan.
"Sebenarnya, aku ini pernah trauma dengan suara petir, dan guntur, serta hujan yang lebat maka dari itu aku...." Penjelasan Kak Langit terdengar agak ragu, dan juga nada bicaranya sedih , dia muram kemudian juga tak mau tuk melanjutkan penjelasannya.
"Baiklah oh ya, nanti kalau kakak sudah mau bercerita aku mau mendengarnya." Suara dari Himawari lirih sambil menepuk pundak Kak Langit yang menunduk.
Kak Langit hanya bisa menenunduk bersedih dan tak mau bercerita, dia sangatlah bersedih kemudian wajahnya mulai memerah, seakan dia akan menitihkan air mata, tapi Himawari yang mengetahuinya, dia pun mulai mencari akal untuk menghiburnya .
"Aku tadi saat berangkat ke sekolah melihat pria berjalan menuju halte , dia itu terbentur keras karena sibuk melihat hapenya." Ujar dari Himawari membuat lelucon garing namun dia tetap tak tertawa .
"Bagaimana ini kenapa aku?, membuat pria ini tambah bersedih ."Gumam Himawari di dalam hatinya .
Akhirnya pun pelajaran terahir pun di mulai yaitu pelajaran Bahasa Indonesia, Guru yang hadir mengajar adalah Bu Mursinah dia Ibu guru yang kurang menyukai Himawari, lalu baginya anak bandel agak sulit di kendalikan.
"Kamu maju gadis kecil, Ibu mau tahu sudah belajar belum?" Tanya dari Bu Mursinah dia menyeringai dengan tatapan tajam, sudah hafal Himawari tak akan bisa mengerjakan soal yang di papan tulis.
__ADS_1
"Tentu saja aku, sudah belajar Bu, namun apa saya harus mengerjakannya di depan?" Tanya Himawari ketakutan karena dia tidak begitu tahu, soal yang ada di papan tulis.
"Tentu saja anak nakal."Jawab Bu Mursinah.
"Bagaimana kalau saya yang menggantikan, karena saya sekalian biar tidak mengantuk." Suara Kak Langit sambil mengacungkan jari telunjukknya ke atas.
"Oh, tentu saja tidak anak tampan, biar anak nakal itu maju sendiri!" Protes Bu Mursinah dengan sebal, dia berharap agar Himawari mau mengerjakan tugasnya di depan dengan begitu, gadis ini tidak terlalu bermalas-malas an.
"Baiklah," sambil maju kedepan, namun saat dia berjalan ternyata, terpeleset karena ada benda kecil seperti mainan yang membuat dia hilang keseimbangan tubuhnya.
"Sreeeeet debuk." Dia pun jatuh dan kepalanya saat itu juga terbentur meja di sampingnya.
"Duuuug..."
"Hahahahaha." Tawa teman-teman satu kelas
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh," ujar Yuri sambil tertawa terbahak-bahak.
Bersambung...