
Malam ini Kakak Bryan keluar mencari udara yang segar sekalian untuk mendinginkan hati nya yang sedang tidak mood, dia agak sebal karena Himawari itu sedang memilih untuk merawat Kak Langit daripada keluar bersama dia,walaupun sudah lama mereka tak bertemu
Malam indah ini terlihat amat cerah padahal waktu yang cocok untuk keluar mengajaknya keluar.Kak Bryan sesekali menghela nafasnya agak sebal. Sambil sesekali dia mengamati keadaan di sekitar.Lalu tiba seorang pria yang memakai jas bewarna hitam.
"Hei, kenapa kau bermuka masam?, bukankah kau sedang berkencan?" tanya pria itu lalu dia duduk di samping Kak Bryan.
"Hmmm haaa..apanya yang kencan, kalau dia sedang merawat pria lain bukan kekasihnya." ujar Kak Bryan dan memanyunkan bibirnya itu
"Oh, apakah kau yang tidak salah paham?,dan bagaimana kalau gadis itu sedang selingkuh di belakangmu?" ucap pria berjas hitam itu .
Dia pun melonggarkan dasinya dan melepas jasnya.Sambil menatap wajah Kak Bryan yang terlihat sebal dan juga merengut.
"Tapi,dia merawat orang yang kecelakaan,dan mana bisa dia berselingkuh di dalam rumah sakit." ujar Kak Bryan membuang muka dan bertambah sebal.
"Aku hanya memberitahumu saja,kenapa kau malah marah padaku Bryan?"sambil menepuk beberapa kali pundak Kakak Bryan.
"Aku itu mengajakmu kemari agar kau itu bisa menemaniku,kenapa kau malah memperkeruh suasana??, ckk" ujar Kak Bryan dengan sebal.
"Aku hanya berkata jujur, yang ada di dalam benakku saja, kenapa kau sewot??" tanya dia.
"Lukman, kau pernah menyukai gadis tidak?" tanya Kakak Bryan dengan memandangnya lekat-lekat. Ternyata pria yang memakai jas hitam itu bernama Lukman, dia adalah teman Kak Bryan yang saat ini setia padanya.
"Tidak, aku tidak pernah menyukai gadis, dan aku rasa aku ingin melajang saja." ucap pria yang bernama Lukman itu dengan entengnya sembari menatap lekat wajah Kak Bryan.
"Kau saja tak pernah menyukai gadis, kenapa kau bisa memberi saran padaku?" ujarnya lalu dia menjitak kepala Lukman.
"Pletaaak..."
"Sialaan, kenapa kau ini mengajakku kemari malah menjitakku??" protes Lukman sambil menyeringai dan mengelus kepalanya.
__ADS_1
"Aku ingin kau menemaniku saja, aku ingin menjitakmu juga." ujar Kakak Bryan dengan tersenyum miring.
"Siaaalaaan, bagaimana kalau kita pergi ke diskotik?" tanya Lukman sambil menyeringai dan tersenyum miring.
"Kenapa harus ke diskotik?,entar kau mabuk dan aku harus repot,tak mau." jawab Kakak Bryan dengan ketus dan sewot.
"Lalu kita kemana?" tanya Lukman penasaran
"Ehmmm, kemana ini sudah malam,dan aku juga lapar kita cari makan saja." ujar dari Kak Bryan sembari masuk ke dalam mobilnya, dan diikuti dengan Lukman.
Lukman adalah pria berusia sama dengan Kakak Bryan usianya masih 23 tahun, dengan wajah agak oriental mata sipit, kulitnya putih, tingginya itu sekitar 180 cm, namun Lukman mempunyai rambut agak ikal. Walaupun dia bukanlah keturunan tionghoa dia asli warga Indonesia namun dengan wajahnya, serta ia berkulit putih maka semua orang mengira jika ia adalah keturunan dari tionghoa.
Lukman itu kerja sebagai eksekutif di sebuah perusahaan, sedangkan Kak Bryan berteman dengannya mulai mereka menjadi mahasiswa sampai sekarang mereka bekerja. Kak Bryan adalah pengusaha dan dengan brand bajunya yang sudah terkenal dimana-mana.
Walaupun demikian Kak Bryan masih tetap berusaha untuk mengembangkan bisnisnya agar lebih luas lagi, bisa berkembang terus sampai ke manca negara.Maka dengan itu dia akan puas dan karirnya akan terus tetap melejit. Kak Bryan mulai SMA sudah menjadi seorang pengusaha yang mandiri, terlepas ia dari semua orang tuanya.Dan menjadi pribadi yang baik hati, dia tak pernah sombong tidak pernah juga mau mencari tahu keberadaan ayahnya yang sudah menikah lagi dengan gadis pilihannya.Dengan tega meninggalkan dirinya sendiri mulai dahulu. Mengubur dalam - dalam ingatan suram supaya dia bisa hidup dengan tenang dan damai.
🌻🌻🌻🌻🌻
Setelah Ayah Kak Langit keluar dari ruangan itu, Kak Langit masuk kedalam kamar mandi dan tidak keluar selama beberapa menit.
Himawari merasa khawatir sekali maka ia segera mengetuk pintu kamar mandinya.
Saat akan mengetuk pintu malah Kak Langit keluar dengan mata yang amat sembab, dan terlihat kalau habis menangis.
"Bagaimana kalau kita pergi ke luar cari angin Kak, aku rasa kakak hanya memerlukan udara segar ."ajak Himawari lalu mereka berdua pun keluar ruangan untuk mencari udara segar.
Kakak Langit yang memakai kursi roda itu di dorongnya Himawari untuk menyusuri lorong rumah sakit, dan sampailah di sebuah taman dengan pemandangan yang sangat indah.
Bermandikan cahaya bulan dan bintang yang berpendar indah sekali di atas langit, dengan berbagai macam bunga di taman mereka pun merasa seperti malam ini memberi hiburan agar tidak terlalu larut akan kesedihan.
__ADS_1
"Kau tahu aku membenci Papaku,karena dia mempunyai istri yang banyak." ucap Kakak Langit dengan serius kepada Himawari, dia menundukkan wajahnya yang tampan.
"Aku juga tak mau jika aku menjadi seorang pengusaha." ucap Kak Langit dengan wajah yang bersedih, wajah tampanya tertekuk dan merasa kalau kejadian tadi perlu di ceritakan kepada Himawari.
"Aku juga muak, jika pria tadi terus menerus ingin menemuiku."gerutu dari Kakak Langit .
Himawari memilih diam tidak menjawab,dia hanya menjadi pendengar setia kalau gadis yang berada di sampingnya tidak menambah beban. Himawari takut memberi saran dan juga jawaban yang salah takut menyakiti hati Kak Langit. Dan memilih diam cara agar bisa sedikit mengurangi perasaan sedihnya dan beban Kak Langit malam ini.
"Kenapa kau diam?" tanya Kak Langit sembari melihat wajah Himawari yang tertekuk,karena ia merasa tidak enak jika dia memberi saran atau menjawab pertanyaannya.
"Tidak Kak, aku hanya ingin kakak bisa cerita dengan bebas aku akan mendengar dengan setia." ucap Himawari, dia duduk di samping Kak Langit.
"Sudahlah,semua ceritaku itu hanya membuat muak, aku terus tidak menyukai masa laluku, lebih baik kita cerita yang lain."sambil senyum menatap Himawari, menutupi perasaannya yang masih bersedih jika mengingat kejadian masa lalunya dengan ayahnya, dengan pergi meninggalkan begitu saja ibu Kakak Langit.
"Baiklah kak... " balas Himawari
"Kruuuk..." bunyi perut Himawari lalu ia pun meringis karena malu perutnya sedang demo.
"Kau lapar?, ayo kita keluar cari makan?"ajak Kak Langit kapada Himawari dengan ramah dan sopan.
"Tidak, kan kakak masih sakit gimana kalau kita pesan aja?,kan lebih mudah." ucapnya sambil tersenyum manis agar mau menuruti kemauan Himawari.
"Kalau ndak, habis ini aku makan di rumah aja kakak tidak keberatan kan aku tinggal, besok aku akan kemari lagi." ucap Himawari dengan lembut dan lirih agar mau di tinggal olehnya.
"Aku nanti sendirian, bagaimana kalau kau menungguku saja?" ujar Kak Langit memohon agar Himawari mau menginap di rumah sakit
"Ehmmmm.... gimana ya?" ujar Himawari dan terlihat agak muram.
Jika ia tak pulang pasti ibunya akan khawatir besok pagi seperti biasanya dia membantu ibunya untuk berbelanja di pasar,dan ibunya Himawari tidak bisa mengendari motor.
__ADS_1
"Besok pagi aku harus membantu ibuku kak, dan besok pasti kembali lagi, jadi habis ini aku harus pulang ya." Himawari memelas agar Kakak Langit mau di tinggal olehnya .
Bersambung...