Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 170 "Apartemen"


__ADS_3

"Iya ,baiklah aku temani kakak saja, apakah kau sangat lelah?" tanya Himawari dan dia meringis ke arah Kak Bryan.


"Tentu saja, namun saat aku melihat wajah dan seyumanmu mendadak semua lelah itu menguap, dan hilang..." Jawab Kak Bryan lalu ia tersenyum dengan amat sumringah sekali


"Idih... Gombal kak, kau makin pandai sekali apakah disana kau selalu menggoda banyak gadis??!" telisik Himawari dengan mengernyit kan kedua alisnya itu, sembari memukul dada Kak Bryan namun dengan pelan.


"Ha.. Buat apa aku menggoda banyak gadis?" ujar Kak Bryan menggoda.


"Mereka yang menggodaku..." ujarnya sambil menggoda Himawari agar dia makin cemburu dengan perkataanya itu.


Himawari menekuk wajahnya dan mencibir kan bibirnya ke arah Kak Bryan, namun dia hanya membalasnya dengan mengecupnya tepat di kening sembari melingkarkan lengan di pinggang Himawari .


"Sudahlah, aku hanya bercanda..." ujar Kakak Bryan, agar Himawari tak marah kepadanya.


Beberapa menit kemudian dan mereka sudah tepat berada di apartemen milik teman Kakak Bryan. Himawari duduk sofa di depan televisi dan Kak Bryan pergi ke arah kamar mandi dia ingin membersihkan badannya, sementara sembari menunggu Kak Bryan membersihkan badan dia pun ingin membuatkan makanan , mungkin juga setelah turun dari pesawat Kak Bryan lapar.


Himawari membuka kulkas dan ternyata tara tidak ada isinya, yang ada hanyalah minuman kaleng, telur , dan makanan ringan saja.


"Ha...Pria macam apa ini kenapa tidak ada apa-apa di dalam kulkasnya??" gerutu gadis itu, dia pun memesan makanan cepat saji dari ponsel miliknya.


Sesaat dia berdiri tepat di depan dapur Kakak Bryan yang sudah bersih memeluknya gadis itu dari belakang.


"Hem, aku merindukanmu." ujar Kak Bryan, sambil mengecup pucuk kepala dan mencium aroma shampoo, dan parfum Himawari.


"Ehm, tentu saja aku juga." jawab Himawari dan memutar badanya hingga mereka saling berhadapan.


"Apa saja yang kakak lakukan disana?, dan kenapa lama sekali??" tanya Himawari lirih dan lembut, dia pun agak mendongak ke atas karena tubuhnya yang agak pendek dari Kak Bryan.


"Ehm, tentu saja aku bekerja aku tak sempat jalan-jalan karena sangat sibuk sekali." ujar Kak Bryan, lalu dia pun melingkarkan kedua lengannya dan mengangkat tubuh Himawari ke atas dapur agar tak mendongak padanya.


"Duduklah, ehm kenapa kau terlihat makin kurus dan kecil?" tanya Kak Bryan sambil mengamati tubuh Himawari.

__ADS_1


"Masak kak?, aku rasa tidak." sanggahnya.


"Ehm, aku rasa lebih kecil tubuhmu itu, dan bagaimana tentang yang kita bicarakan ??" sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya.


"Maksudnya kak?" tanya Himawari.


"Ya kita menikah, aku kan sudah bilang,jika menikah kita sederhana saja tak usah mewah dan aku ingin secepatnya kau mau??" tanya Kak Bryan dengan memandang wajah gadis kecil itu bersemu kemerahan di pipinya.


Himawari pun mengangguk dan tersenyum karena malu berkata iya. Maka Kakak Bryan langsung memagut bibir ranumnya,kemudian bibir mereka saling bertautan,beberapa menit kemudian dia menatap wajah merah semu di wajah gadis itu.


"Apakah habis ini kita kerumahmu?" tanya Kak Bryan, dengan menggendongnya dan membawanya duduk di sofa.


"Kakak mau apa?, apakah kakak akan bilang kalau besok kita menikah?" tanya Himawari dan dia menatap wajah tampan Kak Bryan.


"Tentu saja, kita menikah besok." jawab Kak Bryan dengan serius.


"Apaaaa!?" teriak Himawari terkejut padahal dia hanya bercanda tetapi Kakak Bryan amat serius dengan kata-katanya.


"Kenapa terkejut?, lihat bola matamu hampir loncat .." ujar Kak Bryan.


Himawari menggaruk rambutnya dan mulai menggelengkan kepalanya, dia amat heran kenapa pria di sampingnya ini sangat suka menggodanya. Kak Bryan tersenyum dan dia mengecup lembut kening gadis itu.


"Tentu saja aku akan bicara dengan ibumu,ya masak aku bertindak bodoh, ibumu itu pasti khawatir jika kau pergi kemari sendirian saja." ujar Kak Bryan dan menatapnya hangat, lalu ia merasa agak kepanasan.


"Kenapa khawatir kak?,aku sudah berpamitan tadi kerumah kakak." jawab Himawari polos.


"Bukan itu maksudnya." ujar Kak Bryan, dan mengalihkan perhatiannya dengan yang lain.


"Kau ini amat polos, jika kita berdua saja aku ini adalah singa yang siap menerkam dirimu kapan saja." batin Kak Bryan, dia beberapa kali menghela nafas panjang.


"Ting...tong...ting...tong..." suara bel berbunyi.

__ADS_1


"Hem, siapa itu?" tanya Kak Bryan sembari berjalan ke arah pintu apartemen.


"Aku memesan makanan, tadi di kulkas tak ada apa-apa coba lihat apa sudah datang??" ucap Himawari pada Kak Bryan.


Kakak Bryan membuka pintu ternyata benar memang kurir makanan sudah tiba di depan pintu membawa semua pesanan Himawari.


"Ini uangnya, makasih ya..." ucap Kak Bryan.


"Sama-sama ." jawab Kurir makanan dan pergi


Sedangkan Kak Bryan masuk dan mengunci pintunya, lalu duduk di dekat Himawari.


"Aku lupa mau belanja, jadi kulkasku kosong kau sudah melihatnya rupanya." ujar Kakak Bryan, dan menaruh semua pesanan gadis itu


"Ya sudah, tapi kakak seharusnya belanja dulu lain kali, sekarang kita makan ya." ucap gadis itu, dan membuka mulutnya memasukkan makanan yang ada di atas meja.


"Lain kali yang belanja ya kau saja, kita akan hidup berdua iya kan......" ucap Kakak Bryan dengan tersenyum dan ia melahap makanan yang ada di meja.


"Terserah Kakak lah, tapi sebenarnya aku tak pandai memasak." ujar jujur Himawari pada Kak Bryan yang tidak bisa memasak.


"Lalu tadi kau mau masak apa?, jika tak bisa memasak." tanya Kak Bryan dengan melihat wajah Himawari.


"Ehm, apa ya?, aku kira kalau yang ringan- ringan bisalah." jawab gadis itu asal bicara.


"Jika tak bisa memasak, aku bisa jadi tak usah repot-repot." ucap Kak Bryan dengan lembut, dan menatap wajah Himawari.


"Ehm, iya kak tapi aku akan berusaha belajar untuk memasak." ujar Himawari tertunduk malu, karena wanita harus bisa memasak.


"Sudahlah, ayo kita makan." ujar Kak Bryan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2