Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 129 "Janji itu Berat"


__ADS_3

"Kau tahu aku sangat merindukanmu,apa kau tak merindukanku?" tanya Kak Bryan kepada Himawari dengan menggengam lembut ke dua tangannya yang kecil itu.


"Dengarkan, maukah kau berjanji tidak akan meninggalkanku lagi, aku tak mau kehilangan lagi orang yang aku cintai." permohonan dari Kak Bryan dengan lirih, serta dengan suara yang penuh perasaan mendalam.


Dia menatap wajah gadis kecil dengan pipi gembil, matanya yang masih nanar dan juga berkaca-kaca karena dia juga sedih mamanya Kak Bryan meninggal dunia tapi Himawari tak berada di dekatnya saat itu.


Namun Himawari tidak bisa menjawabnya. Dia membisu karena ada perasaan bimbang takut akan menambah luka yang mendalam jika ia berjanji tidak dapat menepatinya.


Untuk sejenak mereka berdua memilih untuk diam, dan tidak bersuara .Kak Bryan memberi waktu pada gadis kecil dengan penuh harap.


Setelah untuk beberapa saat Kak Bryan lalu menggenggam jari jemari Himawari dengan lembut dan menatapanya lekat-lekat.


"Dengar, kenapa kau diam?, apa kau punya seorang pria yang menyukaimu disini?" tanya Kak Bryan dengan memandangi wajahnya itu.


"Tidak Kak, namun aku takut berjanji sangat berat bagiku, butuh keberanian untuk itu, dan jika aku sampai ingkar aku..." ucap Himawari dengan berkaca-kaca dia ragu akan janji yang akan ia lontarkan juga tidak meneruskannya.


"Kenapa tidak di lanjutkan?, aku ingin sekali mendengarnya." ucap Kakak Bryan memelas pada Himawari.


"Sebenarnya aku takut janjiku itu, hanya akan membuat luka pada Kakak." jawab Himawari.


Himawari menundukan wajahnya yang kalut, dan ragu karena takut janjinya nanti membuat terluka Kak Bryan, dulu waktu SMA dia tidak bisa mengambil keputusan dan apalagi saat ini ada Kak Langit sedang menunggu di kedai ibunya untuk bertemu , setelah sekian lama mereka tidak bertemu .


Kak Bryan mengangkat dagu Himawari lalu ia pun memandang ekspresi wajahnya ,dengan tatapan teduh dan hangat, karena Himawari bimbang tidak bisa mengambil keputusan.


"Dengar dulu aku mundur, bukan karena aku tak lagi menyukaimu, namun karena aku takut Abang Gamma." ucap Kak Bryan dengan mata yang teduh, memandangnya.


"Namun, kali ini aku sudah dewasa juga aku sudah bisa mengambil keputusan sendiri, aku harap kau tak meninggalkanku."ucap Kakak Bryan dengan penuh perasaan padanya, dan Himawari sangat takut hanya memberi Kakak Bryan kekecewaan.


"Aku tidak seperti dulu, aku akan selalu ada di sisimu." janji Kakak Bryan dengan mengecup kening Himawari.


"Apakah kau masih menyukaiku ?, dan apa kau tak merindukanku??" tanya Kak Bryan.


Saat menunggu jawaban Himawari ponsel Kak Bryan bergetar." Drrrt...ddrrrrt...drrrt..."


"Sebentar ya, aku angkat ponselku dulu."


"Hallo, iya ada apa?" tanya Kak Bryan...

__ADS_1


"Kau dimana?, aku menunggumu untuk rapat penting hari ini, kenapa kau melarikan diri ??" tanya seorang pria di ponselnya dengan sebal


"Sebentar aku akan kesana, kenapa tak sabar sama sekali?"ucap Kak Bryan dengan sebal.


"Aisssh, Akuuuu tidak mau tahuuu cepatlah keeesiniiii !!!" teriak pria itu sampai terdengar Himawari dia pun menutup ponselnya.


"Maaf ya Himawari setelah aku mengantar , aku tak bisa mampir lain kali pasti mampir, karena aku mau rapat." ucap Kak Bryan dan memutar kunci mobilnya, dan melajukannya dengan kencang.


Himawari hanya mengangguk dia merasakan lega karena Kak Bryan tidak bertemu dengan Kak Langit yang saat ini ada di kedai ibunya.


Beberapa menit saja sudah sampai di depan kedai ibunya Himawari.


"Aku pamit dulu ya." ucap Kak Bryan pamit dengan terburu-buru dan dia langsung pergi ke arah berlawanan.


"Iya hati-hati." jawab Himawari.


Setelah itu Himawari masuk ke dalam kedai, dan mendapati Kak Langit memakai celemek, sibuk memambantu ibunya Himawari, karena banyak pengunjung makan siang.


Alhasil semua itu membuat dua orang itu saat ini kewalahan.


"Ehmm, maaf ya bu aku agak lama, aku akan membantu ibu."ucap Himawari dengan segera membantu ibunya dan juga Kak Langit.


Waktu terus bergulir beberapa jam kemudian, kedai agak sepi Himawari duduk di kursi dan menepuk beberapa kali kakinya yang lelah.


"Aduh, lelah sekali... Bu buatkan aku mie dua mangkuk yang pedas dengan Kak Langit ya." ucap Himawari sambil menepuk kakinya itu beberapa kali ,karena tidak bisa duduk akibat ramainya pengunjung siang tadi.


Kak Langit pun duduk di dekat Himawari lalu ia memandangnya dengan hangat, sembari tersenyum karena melihat Himawari saat ini sudah cukup banginya.


"Kak, apa kakak yang mengirim bunga itu?" tanya Himawari kepada Kakak Langit, melirik bucket bunga darinya di sofa.


"Iya, apakah kau menyukainya?" tanya Kak Langit menaruh nampan sambil tersenyum.


"Tentu saja, bahkan aroma bunganya itu juga jeruk sunkist ya?"ucapnya dan beberapa kali menghela nafas.


"Kemarikan kakimu, aku akan memijitnya ." Kak Langit mulai menarik kaki Himawari di pangkuannya, dan memijitnya kecil.


Setelah beberapa menit ibu Himawari datang membawa dua mangkuk mie pedas beserta minuman dinginnya.

__ADS_1


"Eh, tidak baik memijit seperti itu di kedai, dan kalau ada orang yang tidak suka maka akan jadi bahan gunjingan." ucap Ibu Himawari dan menaruh makanan di atas meja .


"Iya bu, tapi aku benar-benar lelah bolehkah aku habis ini pulang untuk istirahat."Himawari mengeluh karena seharian sudah membantu.


"Baiklah, habiskan dulu mie nya dulu ." ucap ibu Himawari.


"Bu, kak Langit tidak suka makanan pedas, biar dua mangkuk ini buatku saja." ucapnya sambil melahap mie pedas dengan lahapnya.


"Benarkah?, kau ini sama seperti seseorang yang aku kenal, dia itu juga tidak suka makan pedas sepertimu." ujar ibu Himawari pergi ke arah dapur dan mengambil mie yang tidak pedas untuk Kak Langit.


Setelah beberapa menit Himawari dan Kakak Langit menghabiskan mie nya, mereka berdua kekenyangan dengan mengelus perut.


Himawari tersenyum setelah melahap dua mangkuk mie pedas .


"Haaa, kenyangnya .Ayooo kak kita pulang, rumahku tidak jauh dari kedai, cukup jalan ke sana beberapa menit pasti sampai." ajakan Himawari dan menarik lengan Kakak Langit .


"Hati-hati Himawari, ibu pulang agak malam, karena jualan ibu masih agak banyak." ujar Ibu Himawari sambil memasak di dapur.


"Iya, bu." jawab Himawari.


"Bu,saya pamit dulu mau ke rumah Himawari." pamit Kakak Langit dengan menunduk, dia memberi salam kepada Ibu Himawari.


"Iya Langit, kau pergi dengan Himawari ya."


"Baik bu," jawab Kak Langit.


Mereka meninggalkan kedai ibu Himawari dan berjalan menuju ke arah rumahnya.


"Rumahku, di depan situ Kak, tapi agak kecil dan aku rasa Kak Langit akan tahu habis ini." ujar Himawari sembari menunjuk jarinya ke arah depan jalan, dia meringis karena rumah yang ia tinggali sekarang lebih kecil daripada rumahnya yang dahulu.


Dia pun tersenyum kecil karena rumahnya, yang dulu sudah di jual oleh ibunya dan kini harus membeli rumah yang agak kecil lagi.


"Tak apa,aku akan sering ke rumahmu, karena walau rumah kecil yang penting nyaman, dan tinggal bersama ibu." ucap Kak Langit penuh arti, karena tempat tinggal ternyaman jika kita berada di dekat dengan orang tua yang kita cintai.


apalagi berkumpul dengan seorang ibu yang masih peduli dengan kehadiran anaknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2