
"Memang kenapa?"Tanya Kak Bryan balik.
"Ya karena detak jantung kakak, terdengar di telingaku dengan jelas sekali." Ujar Himawari dengan blak-blakan, membuat Kak Bryan itu terkejut dan tak tahu harus bilang apa atas pertanyaan tersebut.Kelopak matanya pun di gerak-gerakkan beberapa kali tanda ia takut dan bingung sekali.
Kak Bryan menelan selivanya dan jantungnya berlarian di tambah keringatnya menetes di wajahnya , dia pun panik harus menjawab apa pada gadis yang ada di depannya ini.
"Ya , karena ... hm.. hm... maaf tenggorokanku lagi tidak enak." Suara Kak Bryan mengalihkan perhatian dan pertanyaan dari Himawari , dan ternyata di samping Himawari pun ada seekor kucing lucu dan cantik memandang wajahnya saat ini, dia mendongak dengan pandangan fokus, bulu lembutnya terlihat jika di pegang.
"Cute, mana Mentari?" Tanya Kak Bryan dia pun menggendong kucing lucu ini , dan duduk di bangku, sambil mengelus bulu halusnya .
Himawari pun tertegun sesaat melihat kucing yang di gendong Kak Bryan terlihat lucu tapi sayangnya Himawari ini tak begitu menyukai hewan yang berbulu, karena hidungnya agak sensitif, akan bersin-bersin jika mendekati hewan berbulu itu .
"Kau, tak suka kucing ?" Tanya Kak Bryan dia pun mendekat sambil menggendong Cute , mulai berdiri di dekat Himawari .
"Ha.... cih... Ha... cih....!" Suara bersin-bersin Himawari yang terdengar lantang di telinga.
"Oh, kau alergi kucing?" Tanya Kak Bryan lagi.
__ADS_1
"Bukan alergi kucing, tapi bulunya kak." Jawab Himawari sembari menggosok bagian bawah hidungnya yang gatal beberapa kali, hidung dan matanya terlihat agak merah. Bryan pun melepas Cute, dan mendekat ke Himawari.
"Kau alergi, kita pergi ke Dokter?" Kak Bryan memberi perhatian pada gadis kecil itu .
"Endak, kak lagipula aku hanya bersin jika ada hewan berbulu saja." Ujar dari Himawari dan matanya berair hidungnya merah, seperti rona merah jika terkena blush on cosmetik.
"Baiklah kalau begitu."Jawab Kak Bryan.
Tiba-tiba masuklah seorang gadis cantik dia bernama Kak Mentari, designer baju-baju baru yang akan launching bulan depan.
"Eh, Bryan siapa dia?" Tanya Kakak Mentari sambil tersenyum.
"Benarkah hanya, temanmu?" Tanya dari Kak Mentari dan mengamati Himawari , memerah mata dan hidungnya.
"Oh, kenapa kau bisa seperti itu?" Tanya dari Kak Mentari dan memegang pipi Himawari.
"Tak apa-apa hanya, sedikit alergi saja." Ujar dari Himawari dan tertunduk malu , seraya masih memegangi hidungnya .
"Karena Cute..." Gumam dari Kak Mentari
__ADS_1
Himawari mengangguk pelan memandang wajah Kak Mentari, yang cantik serta mau memberi perhatian pada nya. Lalu dia pun hanya bisa menggosok-gosok hidungnya itu yang masih terasa gatal. Matanya juga masih berair.
"Baiklah, aku akan membawa Cute pergi, tapi aku rasa cute sangat suka padamu, daritadi dia memandangimu." Ujar dari Kakak Mentari.
Cute tetap saja memandangi Himawari walau sudah ada di gendongan Kak Mentari.
"Benarkah Kak?" Tanya Himawari sambil menatap Cute.
"Benar, oh ya Bryan ayo kita bekerja ,hari ini banyak pekerjaan yang sudah menunggu." Ajakan dari Kak Mentari pada Kak Bryan.
"Oh, ya aku pergi bekerja kau disini saja nanti aku antar pulang ok." Ucap lirih Kakak Bryan pada Himawari sembari meninggalkannya dari ruang itu, bersama Kak Mentari .
Himawari pun mengerjakan tugasnya mulai merapikan baju-baju yang berserakan karena ulah Yuri, dari ujung satunya ke ujung lainnya.
Beberapa jam kemudian akhirnya dia sudah kelelahan ,mulai duduk dan menyandarkan pungungnya. Sambil mengehela nafas dan melamunkan sesuatu.
Dia sangat kelelahan hari ini dan menghitung kegiatannya yang sangat membuatnya penat, mulai dari berangkat ke sekolah,dan juga ada beberapa nasib sialnya itu yang datang silih bergantian.
"Ha... lelah sekali sepulang dari sini aku akan merebah di kasurku yang empuk itu." Ujarnya sambil menyeringai, kepalanya di sandarkan di belakan sofa yang empuk.
__ADS_1
Bersambung...