
"Ma, apakah benar kau berselingkuh??" tanya Raline dengan wajahnya yang sembab karena sudah menangis seharian membuat wajahnya terlihat kusam dan lusuh.
"Kau bicara apa Raline?, jangan dengarkan pengacara busuk itu !!!!" sambil membuang muka ke arah yang lain, tapi memang benar dia sudah berselingkuh dengan pria muda.
"Jika benar, aku sangat malu maaa,hiks..hiks lalu jika kau seperti itu, aku dengan siapa??" tanya Raline dengan menangis tersedu-sedu duduk di bawah ibunya, menatapnya sendu.
"Jangan dengarkan dia mana mungkinlah, mama ini wanita berkelas, berselera tinggi." jawab Istri kedua mendiang Pak Bara itu, dia masih tak mau menceritakan kebenarannya.
Lalu pengacara itu mengeluarkan banyak foto dan,foto itu adalah bukti dari perselingkuhan nyonya besar itu. Masih banyak lagi buktinya dalam video kebersamaan dengan seorang pemuda yang tampan, dan masih muda.
Namun pengacara tidak memperlihatkannya pada Raline, karena takut nona mudanya itu akan semakin shock.
"Beraninya kau, dasar pengacara busuk, lihat putriku menjadi benci mamanya sendiri !!" pekik nyonya besar yang tidak terima oleh perlakuan pengacara tersebut.
"Aku hanya bicara fakta nyonya, jadi anda tak bisa menyangkal !!" jawab pengacara dengan tegas dan bijaksana.
"Hmm, dasar kau beraninya, aku tidak terima dengan semua perlakuan ini!,aku akan segera melakukan tindakan !!" dengan marah nyoya besar itu membantah surat wasiat dari suami nya tersebut.
"Ma, kenapa kau tak malu sama sekali??, dan lihatlah banyak pelayat yang sedang datang tak bisakah kau menahannya??" tanya Raline.
Wajah gadis itu memerah karena malu akan tindakan mamanya, dengan sikapnya begitu memalukan.Membuat Raline tidak bisa lagi menahan kemarahan pada mamanya.Dia pun menyuruh pengacara itu pergi,dan Raline saat ini ingin berbicara empat mata dengan mama nya. Yang sudah membuatnya amat kecewa .
__ADS_1
"Ma, ayolah Papa baru saja meninggal dunia bisakah dia meninggal dengan tenang?"ujar Raline dengan di selimuti isak tangis.
"Kau tahu Raline, Papamu itu tidak pernah mencintai mama." gerutu dari nyonya besar.
"Jika tidak mencintai mama, maka kenapa kau melahirkan aku??"tanya Raline dan duduk di bawah kaki ibunya tersebut.
"Itu karena mama, dahulu sangat mencintai Papamu, namun dia tetap tak bisa melupakan istri yang dulu." ujar ibu Raline dengan sedih.
Terlihat wanita paruh baya itu menunduk dan dengan pandangan melamun.Mungkin dia itu sedang mengingat masa lalunya dahulu kala. Saat mereka berdua saling mencintai hingga mereka menjalin hubungan tanpa sepengeta huan dari istri Pak Bara yang pertama, yaitu mamanya Kak Langit.Dan juga menikah tanpa persetujuan dari mama Kak Langit.
Mereka berdua juga menjalin hubungan yang terlarang dengan begitu, perselingkuhan pun di balas perselingkuhan kini. Pak Bara merasa menyesal karena sudah meninggalkan dari mendiang istrinya yang dahulu, lebih memilih wanita yang berhati ular ini. Sebelum kejadian kematian Pak Bara sempat bertengkar hebat dengan istrinya yang kedua ini. Karena sudah lama mengetahui perselingkuhannya dengan pria muda. Membuatnya murka dan tak akan memberinya warisan satu peser pun.
Bahwa memang wanita yang tak mempunyai sopan santun, dan berani menyelingkuhinya maka dengan senang ia hanya menyisakkan rumahnya untuk di tinggali mereka berdua.
Pak Bara ingin Raline akur pada kakaknya itu, dengan demikian Perusahaan akan di kelola oleh Kak Langit jika ia mau, tidak memaksa.
Namun karena ibu Ralin adalah wanita yang tamak maka dia sudah memikirkan cara yang buruk untuk menyingkirkan Kak Langit.
"Kau pikir kau bisa seenakmu akan makan harta dengan bebas, dan bisa menguasai perusahaan ," ujarnya dengan penuh amarah dan kebencian namun hanya di hatinya saja, sorot matanya terlihat tajam menyala.
"Ma apa yang kau pikirkan?" tanya Raline.
__ADS_1
"Tidak Raline mama hanya lelah, mama mau ke kamar dulu, untuk banyak tamu pelayat kau saja yang menemuinya ok..." ujar ibu nya Ralin dan berjalan ke arah Kamarnya.
Dia masuk ke dalam kamarnya, menguncinya rapat-rapat,setelahnya mengambil wiskey di dalam gelas menenggaknya. Beberapa kali menyalakan pemantik rokok dan mengusap kasar wajahnya yang cantik, namun dengan perangainya yang seperti seekor ular berbisa, siapa saja tidak akan tahan dengan wanita seperti ini. Di dalam kamar dia pun berubah menjadi wanita bebas dan tidak punya rasa sedih. Padahal di hari kematian suaminya dia seharusnya merasa kehilangan.Wanita ini pun merasa sebaliknya sangat bahagia,karena tak ada lagi yang dapat mengganggunya.
Dan membuat hidupnya kini bebas seperti seekor kupu-kupu, bebas hinggap kemana saja dia akan pergi.
"Dasar tua bangka sialan, kau hanya memberi rumah ini saja padaku, kau lebih memilih anak mu dengan wanita itu !!" umpatnya lalu dia membuang puntung rokok di tangannya.
Melemparkan tubuhnya ke atas kasur yang lebar dan sangat luas itu. Beberapa kali bibir nya yang berpoles lipstick merah maroon itu menggerutu karena tidak terima sama sekali dengan perlakuan mendiang suaminya.
Akan membalas dendam atas semua yang ia dapat, dan menghapus semua rasa kesalnya dengan membalas dendam pada putra yang ia benci. Putra tunggal dengan istri pertama Pak Bara. Setelah dia mempunyai cara dia menghubungi seseorang kepercayaannya dan menyuruhnya untuk bertindak sesuai yang ia perintahkan.
Di ruang tamu begitu banyak tamu yang hadir melayat saat ini, tetapi mereka berbisik-bisik karena tidak adanya kehadiran sang empunya rumah. Istri dari Pak Bara yang kedua malah masuk kedalam kamarnya mengunci rapat.
Sekarang Raline lah yang menemui banyak para tamu pelayat, karena Raline tahu mama nya itu akan marah besar jika di paksa untuk ke depan ruang tamu.Maka dia memilih untuk membiarkan sikap mamanya,saat ini masuk dalam kamarnya tidak mau menemui tamu pelayat.Padahal yang hadir banyak sekali dari kolega, teman bisnis Pak Bara, kerabat jauh.
Dari berbagai pulau, mereka menyempatkan hadir karena menghormati mendiang yang sangatlah baik hati kepada mereka.Selama hidup Pak Bara di kenal pembisnis yang baik dan suka membantu siapa saja,tak pandang bulu. Maka banyak yang segan dan hormat kepadanya. Para kerabat jauh juga begitu tak pernah ketinggalan, karena saat ada kesulitan Pak Bara sangat ringan tangan pada semua orang. Mau membantunya dengan ikhlas.
Banyak orang pelayat menangis histeris, akan kematian Pak Bara orang sebaik itu haruslah mempunyai nasib yang naas, karena mereka tahu kalau Pak Bara meninggal dunia karena terkena penyakit serius sudah sangat lama.
Bersambung...
__ADS_1