Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 138 "Mengajak Menikah"


__ADS_3

Beberapa minggu ini Himawari sangat sibuk sekali,karena kedai ibunya itu semakin ramai, dan tentunya dia harus bekerja keras karena ia hanya tinggal berdua bersama ibunya saja.


Pukul 17.00 wib tepat akan menjelang malam dia mengantarkan makanan pesanan seorang pelanggan, dengan kelelahan dia berhenti di depan sebuah rumah mewah. Untuk beberapa detik terkesima dengan pemandangan yang di suguhkan di hadapan kedua matanya itu.


"Ya Tuhaan , rumah siapa ini bagus sekali??" gumam Himawari sebelum memencet bel dia sudah kedatangan yang si empunya rumah.


Seorang pria yang bertubuh jangkung dengan wajah nan tampan hidungnya yang mancung sekali,serta berbalut kaos warna putih dengan celana yang panjang itu berbahan kain jeans warna biru. Nampak sangatlah mempesona.


"Wah... kakak mengerjaiku ya." ujar Himawari dengan menyerahkan pesanan makan yang ia bawa itu pada seorang pria itu.


Sambil meringis Himawari menatap pria itu. Namun karena beberapa saat dia terpesona akan penampilan Kak Langit yang casual dan maskulin itu,dengan bahu bidang serta tubuh tinggi yang menjulang itu.Beberapa detik pun gadis itu tampak agak melamun.


Dengan tersenyum manis dia menggelengkan kepalanya, dan mengajak Himawari masuk ke dalam rumahnya yang mewah .


Menaruh makanan itu di dapur miliknya yang luas, sesekali Himawari masih terkagum saat melihat dapur yang ia lihat seperti ruangan di hotel berbintang lima, yang hanya di milikki oleh para chef kelas atas itu.



"Kau duduk di situ aku mau membereskan ini berjatuhan,maaf ya rumahku agak berantakan dan kau mau minum apa?" tanya Kak Langit sembari mengambili buah dan sayuran yang jatuh di lantai, setelah itu memasukkan ke dalam kulkasnya.


"Terserah kebetulan aku haus sekali." ucap gadis kecil yang bernama Himawari , dengan celingukkan ke semua sudut ruangan yang ia lihat saat ini.


Kak Langit pun mengajaknya ke ruang tengah miliknya yang setiap saat dia selalu berlama- lama betah duduk sambil memandangi alam yang indah nan hijau sebagai hiburannya di kala sedang gundah gulana, ataupun sedang bersedih.



Mereka berdua duduk berdampingan dengan view yaitu pemandangan alam, yang sangat memanjakan kedua mata mereka saat ini.


"Kak, benar-benar indah tempat ini." ujarnya sambil meminum teh hangat dari Kak Langit.


"Benarkah?, bagaimana kalau tinggal disini beserta ibumu?, kau mau?" tanya Kak Langit dengan memandang wajahnya Himawari itu.

__ADS_1


Seketika minuman yang dingin membuatnya tersedak.


"Uhuk...uhuk...uhuk..." Himawari terbatuk.


Sambil menepuk dadanya beberapa kali dia amatlah terkejut dengan ucapan Kakak Langit yang membuatnya salah tingkah, apa maksud dari ucapan tersebut.


"Pelan-pelan ya, kenapa kau tersedak apa ada yang salah dengan ucapanku ini?" tanya Kak Langit dengan wajah polos, membuat gadis ini semakin bingung harus menjawab apa lagi


"Kakak ini, kenapa mengajakku tinggal disini, kakak kan laki-laki, aku ini perempuan mana boleh?" gumam Himawari dengan santainya.


"Yang aku maksud, kau itu tinggal disini tidak masalah jika kau dan ibumu, berada di sini." ucap Kak Langit dengan tersenyum manis.


"Ha... kakak ini menggodaku ya?" tanyanya.


"Aku serius,kau mau menikah denganku,dan aku berjanji tidak menyakitimu dan juga ibu mu, aku sudah dewasa." ucapnya itu sembari menatap dengan pandangan serius, menatap lekat kedua bola mata Himawari.


"Ha... kita menikah??!, aku masih kecil kak, aku ingin membantu ibuku, dan tidak mau terburu-buru." sanggah Himawari pada pria yang tiba-tiba mengajak menikah dengannya.


"Lagipula, apakah kakak itu tak rindu seorang yang sudah lama tak bertemu dengan kakak?"


"Ehm, Ayah Kak Langit misalnya."


Mendengar ucapan Himawari dia pun segera tidak memberi balasan akan pertanyaan itu. Kakak Langit memalingkan wajahnya,tertekuk untuk beberapa saat karena orang yang mulai di bicarakan Himawari itu, membuatnya sedih dan juga merasakan sesak di dadanya .


Karena hal itu mereka berdua saling diam, dan tidak berbicara sepatah kata pun, hanya duduk berdampingan tanpa membahas satu kata pun, selama satu jam lamanya.


Hingga ponsel Himawari bergetar karena ia mendapatkan panggilan masuk yang secara mendadak,membuat gadis itu terkejut akan keheningan yang tadi sempat ia rasakan saat ini pecah karena getaran ponsel miliknya.


"Drrt...drrt...drttt...drrt...." saat akan membuka ponselnya Kak Langit pun mengambil ponsel Himawari dan mematikannya secara tiba-tiba


"Kak... kenapa kau matikan ponselku itu ??, Kak Bryan sedang meneleponku!" ucap dari Himawari agak sebal,akan perlakuan tersebut

__ADS_1


"Aku ingin kau mendengarkanku perkataanku sebentar saja." ucap Kakak Langit memohon.


"Hemmm haaaa..." menghela nafas panjang


"Baiklah aku akan mendengarnya." tuturnya.


"Aku sangat membenci Papaku, jadi jangan kau membahasnya di hadapanku." ucap Kak Langit sambil merasa agak kesal, lalu dia pun menatap wajah Himawari dan memegangi ke dua pundaknya.


Menatap dalam-dalam wajah gadis kecil itu.


"Dengar Kak Langit, walaupun kau membenci dia, aku rasa kau harus sedikit membuka hati kepada Ayah kakak." saran Himawari itu pada Kak Langit, karena memang kebenarannya itu adalah Ayah Kak Langit sedang sakit parah .


Maka hidupnya tak akan lama lagi, Himawari merasa bersalah namun juga tidak mau, jika dia mengingkari janjinya kepada Ayah Kakak Langit. Tidak akan memberitahu kalau saat ini pria paruh baya itu sedang sakit keras dan tidak akan lama bisa bertahan hidup di dunia


"Seharusnya kau berada di pihakku, kenapa kau malah membela pria tua itu?!" tanya Kak Langit yang tak rela jika Himawari merasa iba pada Ayahnya.


"Aku bukan berada di pihak siapa-siapa,lebih baik kakak segera memaafkan Ayah Kakak." saran Himawari sembari menggenggam erat jari jemari pria itu,sambil memberi dukungan agar Kak Langit bisa memaafkan kesalahan ayahnya yang sudah lama tidak termaafkan olehnya.


"Tidak mau, aku hanya akan hidup sendiri,dan dia sangat bahagia dengan banyak istrinya." sanggah Kak Langit menatap lekat wajahnya.


"Kakak kan tidak pernah berbincang padanya, siapa tahu dia tidak sama sekali seperti yang kakak fikirkan?"saran Himawari dan mengelus punggungnya dengan lemah lembut agar dia mau membuka hatinya.


"Hem, kau tidak akan paham dengannya,dia selalu haus kekuasaan hingga rela melepas diriku dan juga mama." ujar Kakak Langit dan sembari menahan tangisnya yang akan pecah


"Hemmm haaa... betapa teganya dia dengan enaknya menelantarkan aku dan mamaku." sembari mengusap air mata yang menetes.


"Mungkin saja saat ini, Ayah kakak menyesal akan perbuatannya." ucap lirih Himawari dan mengusap lembut air mata Kak Langit yang jatuh di kedua pipinya.


"Kau tahu apa?, biarkan saja dia menikmati kekuasaanya itu sebagai seorang pengusaha, aku benci!!!" ucapnya Kakak Langit dengan menundukkan wajahnya tang tampan di bahu Himawari, dan berlinang air mata kesedihan .


"Oh, karena itu Kak Langit tidak mau manjadi pengusaha, karena dia trauma Ayahnya itu sendiri." batin Himawari dengan mengelus punggung Kak Langit yang lebar , dengan halus.

__ADS_1


Seketika Kak Langit menumpahkan perasaan sedihnya,dengan berlinang air mata di pipinya menundukkan badanya yang tegap dan tinggi itu ke bahu Himawari yang kecil namun kuat .


Bersambung...


__ADS_2